
Lilia datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Hari ini siswa yang mengikuti lomba cerdas cermat akan berangkat menggunakan mobil milik sekolah.
“Kalian sudah sarapan?” tanya ke Julio ke semua siswa yang sedang berkumpul di lobby sekolah.
“Sudah pak,” jawab keempat siswa itu kompak.
“Lilia?”
Gadis bermata coklat itu memaksa tersenyum. “Hehe, belum pak. Nanti boleh mampir ke Indoapril nggak?”
Julio tersenyum. “Saya sudah bawakan roti dan minuman karena mengira kalian belum makan.”
“Saya tidak usah pak, buat kak Lilia saja,” ucap siswa berkacamata.
“Nanti kalau kalian mau makan, ambil saja ya. Kita berangkat sekarang. Lilia makan di mobil nggak apa-apa kan?”
“Nggak apa-apa kok, terimakasih rotinya,” jawab Lilia sambil tersenyum.
Rombongan itu pun berangkat menuju kota B tempat lomba cerdas cermat dilaksanakan. Selama perjalanan, Lilia makan sambil menyemangati adik kelasnya yang mengikuti lomba cerdas cermat.
Sesekali Julio melirik ke arah Lilia yang duduk di bangku sampingnya. Lagi-lagi pria itu teringat Nina.
“Oh ya pak, katanya habis lomba nanti jalan-jalan kan?” tanya Lilia memastikan.
“Beneran pak?” tanya siswa yang rambutnya diikat dua.
Julio tersenyum. “Benar, saya dengar pantai di kota B sangat bagus, nanti kita mampir.”
“Asikk jalan-jalan gratis,” ucap keempat siswa itu kompak.
Julio tetap fokus menyetir dan membiarkan keempat siswa itu mengobrol dengan Lilia.
Setelah satu jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di SMA 2 Kota B yang dijadikan tempat lomba cerdas cermat kali ini.
“Wah, sekolahnya gede banget,” ucap siswa berkacamata.
“Kak Lilia dulu lombanya juga disini” tanya siswa yang memakai bando.
“Nggak, tahun lalu lombanya di SMA 1."
“Wah pasti lebih bagus… Kapan ya sekolah kita sebagus ini?”
“Mungkin 10 tahun lagi?” jawab Lilia sambil tertawa.
Rombongan itu pun memasuki lobby untuk mengonfirmasi kedatangan. Julio langsung membagikan nomor peserta dan menjelaskan tentang peraturan.
Lomba cerdas cermat kali ini diikuti oleh 32 SMA yang ada di kabupaten itu.
Lomba cerdas cermat akan dilakukan secara beregu. 1 regu perwakilan sekolah terdiri dari 4 siswa. Dalam satu sesi akan ada 4 regu yang mengikuti.
Ada 3 jenis pertanyaan yang akan diajukan. Ada pertanyaan wajib harus dijawab oleh semua regu. Ada juga pertanyaan lemparan dan pertanyaan rebutan.
Jika 2 regu yang memiliki nilai akhir sama, akan diberikan pertanyaan rebutan khusus. Keempat siswa itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Tepat pukul 08.00, panitia lomba mengumumkan agar peserta mulai memasuki ruangan serba guna yang sangat luas.
Rombongan tiap sekolah duduk di tempat yang telah disediakan dan ditandai dengan nomor kursi dan nama sekolah pada masing-masing bangku.
“Duh deg-deg an banget,” ucap salah satu siswa itu.
“Semua orang gugup kok dan itu nggak apa-apa. Tarik nafas panjang terus hembuskan,” ucap Lilia menenangkan.
“Kak, dulu tim kak Lilia siapa aja?” tanya siswa berkacamata.
“Hmm, kalian mungkin nggak kenal sih karena ketiganya udah pindah sekolah.”
“Oh pantesan kakak kelas yang ngelesin kak Lilia doang, harusnya kan gantian sama yang lainnya,” sahut siswa yang memakai bando.
“Hehe, ya mau gimana lagi? Mereka memang harus pindah karena ikut orang tuanya tugas ke daerah lain.”
Keempat siswa itu mengangguk mengerti. Tak lama kemudian nama SMA 1 Harapan Negeri disebut untuk mengikuti sesi kali ini.
Keempat siswa itu maju dengan percaya diri. Lilia pun menyemangati sambil tersenyum.
Begitu keempat siswa itu menuju ke depan untuk mengikuti gilirannya, ekspresi Lilia berubah. Sebenarnya ia masih teringat kejadian sebelumnya dan hatinya masih terasa berat.
Lilia memandang ujung sepatunya dengan ekspresi kosong. Ia lupa masih ada satu orang di dekatnya yang memperhatikan daritadi.
“Kamu lelah?”
Lilia terkejut lalu berusaha mengendalikan ekspresinya. “Eh, nggak kok pak, hehe maaf saya hanya banyak pikran.”
Julio diam sejenak lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ia menyodorkan permen itu ke arah Lilia.
Perempuan itu menerima permen itu dan langsung memakannya.
“Kamu kalau nanti lulus mau jadi aktris?” tanya Julio tiba-tiba.
“Hah? Nggak pak… , kenapa mikir begitu?” jawab Lilia cepat.
“Kamu pandai berakting, bahkan meski suasana hatimu sedang tak baik, kamu tetap bisa tersenyum dan malah menyemangati orang lain.”
__ADS_1
Lilia mengalihkan pandangannya ke adik kelasnya yang sedang mengikuti sesi lomba itu.
“Mereka sedang lomba dan membutuhkan dukungan, kalau saya tidak terlihat semangat tentu akan berpengaruh ke mereka,” jawab Lilia sambil tersenyum.
Julio diam, ia ikut mengamati lomba yang sedang berlangsung.
Setelah waktu berlalu beberapa jam akhirnya pengumuman juara disebutkan hari itu juga.
SMA 1 Harapan Negeri memperoleh juara 3. Tentu saja hal tersebut sangat menggembirakan mengingat sekolah itu bukanlah sekolah terkenal yang memiliki fasilitas lengkap seperti di kota.
“Selamattt!” ucap Lilia riang.
Keempat siswa itu tersenyum lega. Kali ini sekolah mereka kembali memperoleh juara diantara 32 sekolah lain yang ikut serta.
“Kalian keren banget,” ucap Lilia lagi.
“Berkat bimbingan dari Pak Julio dan kak Lilia,” ucap siswa berkacamata sambil tersenyum.
“Kalian mau foto dulu?” tanya Julio.
“Iya dong pak,” jawab semuanya kompak.
Julio tersenyum. Mereka pun berfoto bersama untuk mengenang pencapaian hebat yang telah diraih.
“Seperti janji saya, setelah lomba berakhir ayo mampir dulu ke pantai,” ucap Julio sambil tersenyum.
“Asikk, pak jalan-jalannya boleh lama nggak sekalian lihat sunset,” tanya siswa yang memakai pita.
“Wah nanti saya dimarahin guru lainnya kalau terlambat mengantar kalian pulang.”
“Yahhh…” keempat siswa itu tampak kecewa.
Rombongan itu pun kembali masuk ke dalam mobil dan menuju pantai di kota B.
...◇◇◇...
DI tempat lain, di sekolah…
.
.
Reza sedari pagi mengikuti pelajaran dengan baik dan tak keluar dari kelas meski waktu istirahat tiba. Sejak kemarin ia terus memikirkan banyak hal. Apalagi setelah Gavin memukulnya. Sikap laki-laki bermata hitam itu menjadi aneh
“Za.” Panggil seseorang yang berdiri di ambang pintu kelas.
Reza tetap dalam posisinya menelungkupnya kepalanya di meja.
“Oi! Bangun c*k.”
Reza mengangkat kepalanya. Ia menatap kesal ke arah sumber suara. “Ngapain sih lu? Ganggu orang tidur siang aja.”
“Bisa-bisanya tidur siang… Cabut yok, ke melon.”
“Duluan aja, nanti gue nyusul habis pulang sekolah.”
“Kenapa nggak sekarang aja sih? Mumpung pak Julio nggak masuk.”
Reza diam, ia baru ingat hari ini Julio mengantar siswa lomba cerdas cermat. Ia juga baru ingat Lilia ikut ke kota B itu.
Reza menghela nafas panjang. “Duluan aja, gue udah bolos banyak, Ren.”
Laki-laki yang dipanggil Ren itu tampak tak senang dengan penolakan Reza namun ia tak mengatakan apapun lagi dan keluar dari ruangan itu.
Tak lama kemudian bel jam pelajaran berbunyi. Reza berusaha memperhatikan, tapi hari ini pikirannya sangat sulit untuk fokus.
Usai jam sekolah berakhir, Reza langsung keluar kelas menuju kelas XI B tempat Gavin berada. Laki-laki bermata hitam itu menunggu di bangku koridor kelas.
Saat Gavin keluar dari kelas itu, Reza langsung memanggilnya. “Gavin.”
Gavin menoleh lalu berbicara kepada teman di sampingnya. “Lu kesana duluan ya dri.”
Laki-laki yang diajak bicara itu mengangguk lalu berlalu pergi.
Gavin mendekat ke arah Reza yang sedang duduk di bangku koridor. “Ada apa?”
Fani yang baru saja keluar dari kelas agak terkejut melihat Reza dan Gavin yang sedang mengobrol dengan suasana yang tampak canggung.
“Gav, lu nggak ke ruang OSIS?” tanya Fani memastikan.
“Nanti, duluan aja. Andrian juga udah kesana duluan,” ucap Gavin tanpa menoleh.
Fani mengernyitkan keningnya saat melihat eksresi Reza yang berada tak jauh dari Gavin.
“Oh oke, gue duluan yak.”
Fani pun berlalu pergi. Gavin memastikan sudah tak ada siapapun lagi di ruang kelas itu lalu menyenderkan badannya di tembok.
“Ada apa?” tanya Gavin mengulangi.
“Gue mau minta maaf… .”
__ADS_1
“Ada kemajuan ya sekarang udah bisa minta maaf… Gue juga salah, maaf juga,” ucap Gavin dengan ekspresi datar.
“Lu suka Lilia, Gav?” tanya Reza sambil memandnag ujung sepatunya.
“Ya,” jawab Gavin cepat.
Reza tertawa getir. “Gue harap bisa punya keberanian kayak gitu.”
“Ya gimana, keberanian lu bukannya udah dipake buat berantem semua?” ucap Gavin sambil tertawa.
“Lu nggak ada rencana bilang ke Lilia, Gav?”
“Nggak, nggak semua perasaan harus diungkapin. Gue lebih ngerasa seneng dengan kondisi kayak gini dan berteman sama dia,” ucap Gavin sambil memandang ke arah lain.
“Gue kalah dari lu dalam hal apapun ya?” gumam Reza.
“Jangan minta dikasihani, bukannya biasanya lu selalu pengen keliatan kuat dan keren?”
Reza tertawa. “Sialan lu.”
“Lu kayaknya lagi banyak pikiran sampai ambil keputusan kayak gitu. Sekarang kayaknya udah tenang, lu serius mundur gitu aja sebelum nyoba?”
Reza diam sejenak. “Kayak yang lu bilang, nggak semua perasaan harus diomongin kan? Tiap gue akrab sama Lilia, gue semakin ngerasa takut… .”
“Kenapa?”
“Sisi gelap gue…”
Gavin diam, ia cukup mengerti apa yang dimaksud Reza. “Yaudah berarti lu serius mundur?”
“Iya.. tapi gue nggak tau harus gimana Gav. Gue tetep ngerasa nggak tenang.”
“Nggak tenang gimana?”
“Nggak tau, gue jadi kayak bukan gue yang biasanya. Gue takut makin lama bakal makin nggak bener kalau nggak bisa kontrol diri.”
Gavin tampak berpikir, ia jadi ingat apa yang dikatakan pak Julio.
“Hmmm, kalau gitu gunain waktu luang lu buat kegiatan normal sampai nggak ada waktu buat ngerasa kayak gitu lagi.”
Reza diam sejenak. “Ok thanks nanti gue coba lakuin… Oh iya, gue boleh minta tolong nggak?”
“Apaan?
“Tolong awasin pak Julio. Kalau bisa jangan biarin dia deket terlalu lama sama Lilia.”
Eskpresi Gavin tampak berubah. “Maksud lu apa sih? Nggak ngerti gue.”
“Cuma firasat doang, jagain dia ya?” ucap Reza dengan ekspresi yang belum pernah dilihat Gavin.
Melihat ekspresi Reza yang seperti itu, Gavin merasa tidak enak jika menolak. “Oke.”
Keduanya lanjut mengobrol, Reza mengatakan sempat ingin pindah karena merasa frustasi dengan rasa rendah dirinya. Gavin mendengarkan semua yang diceritakan temannya itu dengan sabar dan sesekali menanggapi.
Tak lama kemudian datang Gio yang baru saja selesai mengerjakan hukuman dari wali kelas.
“Loh? Yang kemaren berantem, sekarang udah akrab lagi,” ucap Gio sambil mendekat.
Reza dan Gavin tertawa. “Biasalah.”
“Lu kenapa kemaren keliatan emosi banget Gav?” tanya Gio yang ikut duduk di seberang Reza.
“Lagi pms,” jawab Gavin sekenanya.
“Btw gimana kepala lu habis dipukulin?” tanya Gavin penasaran.
“Gue mah sembuhnya cepet,” jawab Gio dengan penuh percaya diri.
“Lu tumben keluar dari kelas lama. Nggak ikut bolos kayak yang lain?” tanya Reza penasaran.
“Gue ditandain wali kelas, dihukum tadi disuruh bersihin kelas ditungguin.”
Gavin memeriksa ponselnya. “Eh gue duluan ya, masih ada urusan di OSIS. Kalau ada yang perlu diomongin lagi, chat aja Za,” ucap Gavin lalu berlalu pergi karena ditelfon berkali-kali oleh Fani.
Reza diam ditempatnya. Perasaannya kali ini terasa lebih lega.
“Lu udah baikian sama Gavin? Cepet amat,” ucap Gio heran.
Reza tak menjawab dan justru mengalihkan pembicaraan. “Yuk lah ke melon, yang lain udah pada disana kan.”
Reza bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan. Gio merasa kesal karena tak ditanggapi namun ia tak mengatakan apapun lagi.
Gio cukup bisa mengerti jika dua orang itu bertengkar namun cepat berbaikan karena pertemanan Reza dan Gavin memang sudah terjalin lama.
Hubungan pertemanan ketiga orang itu bisa di katakan unik. Gio satu desa dengan Gavin namun berbeda SMP. Reza berbeda desa dengan Gavin namun satu SMP.
Ketiganya berteman baik meski dengan karakter yang berbeda. Pertemanan mereka mungkin tidak terlalu terlihat karena Gavin fokus di OSIS sedangkan 2 temannya itu sibuk berkelahi dan nongkrong.
Ketiganya memiliki batasan masing-masing dan saling menghargai apapun yang dilakukan satu sama lain. Meski begitu kadang Gavin berharap kedua temannya itu bisa berhenti dari pergaulan yang tidak membawa dampak baik itu.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...