Blue Scandal

Blue Scandal
31 - Cerita rahasia


__ADS_3

Reza terbangun begitu mendengar alarm dari ponselnya. Ia beberapa kali mengerjapkan matanya. Rasa perih di sudut bibir dan rasa ngilu di bahu membuat ia meringis.


Ingatannya tentang kejadian semalam kembali. Ia menghela nafas. Matanya melirik ke arah tangannya yang masih memegang plester luka.


Reza memejamkan matanya lagi. Ia bimbang harus pergi ke sekolah dengan keadaan yang seperti itu.


Tok..tok..


“Reza, kamu nggak sekolah?” ucap ibu Reza dari balik pintu.


Reza tetap diam dalam posisinya, matanya memandang kosong ke arah langit-langit kamarnya.


‘Bolos aja kali ya? Tapi lagi uts… ’ ucap Reza dalam hati.


Laki-laki bermata hitam itu bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamar.


Sang ibu yang melihat wajah pucat anaknya langsung khawatir. “Kamu nggak usah sekolah dulu, tapi kamu sedang uts ya?” ucap ibu Reza dengan ekspresi cemas.


Tangan ibunya hendak menyentuh sudut bibir anaknya yang luka,


“Aw..” Reza meringis, rasa perih itu semakin terasa saat tangan dingin ibunya menyentuh luka itu.


“Diobatin dulu ya?” ucap Diana penuh rasa cemas. Perempuan itu segera mengambil kotak obat yang berada dekat ruang tengah.


Reza mengikuti ibunya sambil melihat ke sekeliling. “Ayah mana?”


Diana membuka kotak obat itu lalu mengeluarkan kapas dan barang lain yang diperlukan.


“Masih tidur,” jawab Diana pelan.


Reza diam, ia membiarkan ibunya membersihkan luka di sudut bibirnya lalu mengolesinya dengan salep.


“Pekerjaan mu nanti gimana?”


“Reza nanti izin dulu… .”


Hening, tak ada percakapan lebih lanjut. Nyeri di bahu Reza semakin terasa, namun ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.


Tepat setelah Diana mengobati luka anaknya, ayah Reza keluar dari kamarnya. Laki-laki paruh baya itu melihat sekilas ke arah Reza lalu langsung pergi ke arah kamar mandi.


“Biar ibu nanti yang izin ke sekolah ya, kamu ikut ulangan susulan aja,” ucap Diana.


“Nggak usah bu.”


“Nanti kamu dicatatnya bolos.”


“Nggak apa-apa.”


“Nggak, nanti ibu ke sekolah.”


Reza diam, enggan menjawab lagi perkataan ibunya.


Saat Diana sedang mengembalikan kotak obat, Reza bangkit bermaksud kembali ke kamarnya. Namun ayahnya yang baru keluar dari kamar mandi menatap tajam ke arahnya.


“Lakukan sesuka mu, asal jangan terlibat dengan pergaulan bebas. Jangan sampai kamu mengonsumsi obat-obatan.”


Setelah mengucapkan itu, Bayu langsung masuk ke dalam kamarnya.


Reza menghela nafas panjang. Ia juga masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Laki-laki bermata hitam itu meraih ponselnya lalu mengirim pesan ke tante Mona untuk izin terlebih dahulu.


Reza teringat perkataan ayahnya beberapa menit lalu. Semuanya sudah sangat terlambat. Ia sudah terjebak dengan hal itu sejak beberapa tahun lalu.


...◇◇◇...


Di sekolah…


.


.


Saat jam menunjukkan pukul 9, ibu Reza telah sampai di sekolah dengan pakaian mewahnya yang berwarna hitam kombinasi warna keemasan.


Perempuan itu berdiri dengan ekspresi bingung. Julio yang kebetulan baru dari ruang tata usaha melihat perempuan itu.


“Permisi, ibu ada perlu sesuatu di sekolah ini?”


Perempuan itu menoleh lalu menundukan kepalanya memberi salam. “Saya ibunya Reza. Maaf, jika ingin menyampaikan surat izin kemana ya?”


Julio mengernyitkan keningnya. “Bisa ke saya, saya guru BK, nanti bisa saya sampaikan kepada wali kelas Reza.”


“Oh begitu, baik, mohon bantuannya,” ucap Diana sambil menyerahkan surat izin itu lalu bermaksud langsung pergi.

__ADS_1


“Anda tidak mau duduk sebentar dulu?” tanya Julio ramah.


Paras perempuan berusia 40 tahun itu masih terlihat muda dan cantik. Perempuan itu sangat mirip dengan Reza.


“Maafkan saya, saya harus segera kembali, Reza masih sakit… .”


“Oh iya maafkan saya.”


Diana langsung pamit dan pergi. Julio sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak tentang keadaan keluarga Reza, namun ia baru ingat tak boleh ikut campur pada urusan siswanya terlalu dalam.


Julio menghela nafas panjang lalu kembali ke ruang guru dan menyerahkan surat izin tersebut kepada wali kelas Reza, bu Sri.


“Kakeknya Reza kesini pak?”


“Bukan kakek Reza, tapi ibunya.”


Bu Sri tampak terkejut. “Serius pak? Ada kejadian apa sampai ibunya datang sendiri? Biasanya yang datang untuk urusan sekolah selalu kakeknya.”


“Saya juga tidak tau bu,” jawab Julio yang juga dengan ekspresi bingung.


“Gimana pak penampilannya? Dulu saya pernah ketemu waktu beliau masih muda, cantik sekali, pakaian yang dipakai juga selalu branded.” tanya Bu Sri penasaran.


Julio enggan menanggapi bu Sri yang sudah bersiap bergosip. “Ya seperti yang bu Sri bilang, beliau memang cantik.”


“Bener kan pak? Anaknya aja ganteng begitu,” ucap bu Sri sambil tertawa.


Julio hanya geleng-geleng kepala mendengar guru itu memuji Reza. Laki-laki bermata coklat terang itu segera kembali ke tempat duduknya.


“Oh iya pak, hadiah untuk siswa yang mengikuti lomba cerdas cermat sudah dibagikan?”


“Belum bu, tadi saya baru saja menemui kepala sekolah dan pergi ke ruang tata usaha. Pak Arman bilang akan memberikannya saat upacara senin depan.”


“Oalah gitu… Yang dapat pesertanya saja ya pak?” tanya bu Sri penasaran.


“Iya, kenapa bu?”


“Itu, saya ingin memberi hadiah juga kepada Lilia, dia kan banyak membantu dalam persiapan lomba,” ucap bu Sri menjelaskan.


Julio tampak berpikir. “Boleh saja sih, jika bu Sri mau memberikan sesuatu nanti saya juga akan ikut juga.”


Bu Sri tersenyum. “Beneran ya pak Julio?”


“Iya,” jawab Julio sambil tersenyum.


Julio mendengarkan dengan sungguh-sungguh namun ia cukup bingung mendengar ada siswa yang disebut memiliki kepribadian sempurna.


“Mungkin terdengar berlebihan ya pak? Tapi beneran loh, anda nggak bakal nemuin siswa seperti Lilia di daerah ini,” ucap bu Sri lagi, kali ini sambil tertawa.


“Saya setuju, siswa baik lainnya memang banyak, namun dengan kombinasi kepintaran seperti itu jarang sekali.. ,” ucap Julio ikut menanggapi.


“Iya kan pak, apalagi cantik sekali, saya juga pengen punya anak seperti itu.”


Julio hanya tertawa mendengar apa yang diucapkan bu Sri.


“Beruntung ya orang tuanya memiliki anak seperti Lilia,” ucap bu Sri lagi, kali ini ekspresinya berubah.


Perempuan paruh baya itu tampak termenung seperti sedang mengenang sesuatu yang tidak enak.


“Kenapa bu?” tanya Julio penasaran.


“Nggak, saya cuma ingat kejadian yang sudah lama sekali terjadi… ,” ucap bu Sri masih dengan ekspresi yang tampak sedih.


“Jika saya boleh tau, apa itu?”


Bu Sri melihat ke sekeliling, guru yang menjaga uts belum kembali, hanya ada 4 guru di ruangan itu. 2 guru lainnya tampak sedang memakai earphone.


“Ini sebenarnya tidak diketahui siapapun pak, jadi setelah saya cerita ini, jangan tanyakan atau mengatakan ini ke siapapun.”


Julio mengangguk mengerti lalu bersiap mendengarkan apa yang diceritakan oleh bu Sri.


Bu Sri mulai menceritakan kejadian 20 tahun lalu, 1998.


Saat itu ibu Lilia, Ani masih tinggal di kota U. Bu Sri dan bu Ani sudah bersahabat sejak di sekolah. Hanya saja bu Ani menikah lebih dulu dan tidak melanjutkan pendidikannya karena keluarganya tidak cukup memiliki biaya.


Bu Ani menikah dengan Budi pada tahun 1995 lalu pada 1997 anak pertama mereka lahir, seorang perempuan cantik yang saat itu diberi nama Nania Isana Rahajo.


Pada tahun kelahiran Nia tersebut, Beberapa negara di Asia sedang dilanda krisis finansial yang membuat banyak negara mengalami permasalahan besar.


Saat Nia berumur 1 tahun pada tahun 1998, terjadi kerusuhan di berbagai wilayah di Indonesia karena adanya krisis moneter.


Di tahun yang sama juga terjadi perdagangan manusia dan eksploitasi pr*stitusi. Banyak masyarakat sipil yang diculik baik masih anak-anak maupun orang dewasa.

__ADS_1


Hal buruk itu juga terjadi pada keluarga bu Ani dan pak Budi. Nia yang masih berusia satu tahun saat itu diculik.


Keadan yang kacau membuat bu Ani dan pak Budi tak bisa berbuat banyak meski sudah berusaha mencari bantuan.


Setelah berbulan-bulan pencarian, Nia tidak juga ditemukan. Bu Ani sempat mengalami trauma akibat kejadian itu dan takut pergi keluar rumah selama bebrulan-bulan. Saat melihat bayi, kadang bu Ani akan menangis histeris.


Setelah perncarian yang tidak membuahkan hasil. Pak Budi akhirnya mencoba ikhlas. Keberadaan anak tersebut tidak diketahui namun setahun kemudian tersebar kabar berita tentang perdagangan anak-anak.


Saat itu harapan bahwa putrinya masih hidup kembali muncul dalam pikiran pak Budi.


Julio mendengarkan dengan sungguh-sunggu apa yang diceritakan bu Sri, namun perempuan paruh baya itu tak melanjutkan ceritanya karena sibuk mengusap air matanya.


“Maafkan saya jika ini membuat anda kembali mengingat kejadian yang buruk… ,” ucap Julio mencoba berempati.


Ia ingin bertanya karena banyak hal yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya, namun Julio merasa tidak enak dengan bu Sri yang tampak sedih itu.


“Tidak apa-apa kok, itu sudah berlalu. Sekarang mereka sudah memiliki putri cantik yang membanggakan,” ucap bu Sri sambil tersenyum.


Julio benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, ia tak dapat menahan rasa penasarannya. “Lalu apakah Nia tersebut masih hidup di suatu tempat?” tanya Julio memastikan.


Bu Sri menghela nafas. “Tidak, gadis kecil itu dinyatakan meninggal, saat itu yang saya tau anak itu sempat akan dijual kepada orang-orang barat yang tidak memiliki anak, namun beberapa bayi yang akan dibawa ke Belanda meninggal, salah satunya Nia itu.”


“Lalu anda bilang Lilia tidak tau hal tersebut, kenapa?”


Bu Sri tersenyum dengan ekspresi sedih. “Orang tuanya mengalami trauma berat dan tak pernah membicarakan hal itu, jadi putrinya sekarang tentu tidak tau dan tidak ada baiknya jika ia tau cerita yang menyedihkan seperti itu.”


Julio diam mematung, setelah mendengar bahwa Lilia mempunyai kakak perempuan, yang pertama kali muncul di pikirannya adalah Nina.


Tunangannya yang sangat mirip dengan Lilia itu mungkin saja memiliki hubungan darah dengan Lilia. Namun saat mendengar penjelasan bu Sri bahwa anak tersebut dipastikan meninggal, Julio seolah kehilangan kesadarannya.


“Pak Julio?” panggil bu Sri bingung saat melihat ekspresi Julio yang terlihat aneh.


“Oh, maafkan saya… saya sangat terkejut dengan apa yang bu Sri ceritakan… ,” ucap Julio tergagap.


“Jangan katakan ini pada Lilia ya pak,” ucap bu Sri dengan ekspresi sendu.


“Saya mengerti, terimakasih sudah menceritakan hal tersebut. Saya tidak tau latar belakang keluarga siswa sekolah ini sangat beragam.”


Tak lama kemudian jam istirahat berbunyi. Semua guru yang mengawasi mulai kembali ke ruangan guru itu.


Bu Sri kembali ke tempatnya dan Julio masih tampak terkejut dengan cerita yang baru saja ia dengar.


Julio mengeluarkan ponselnya yang lain lalu mengirim pesan ke Elena


^^^To : Elena^^^


^^^Tolong cari tau tentang perdagangan bayi di tahun 1998 di kota U.^^^


 


Klik...


Julio mematikan ponsel itu dan memasukannya lagi ke dalam tas. Ia menghela nafas panjang. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul. Ia berharap apa yang ada di pikirannya bukanlah hal yang nyata.


“Pak Julio!”


Laki-laki bermata coklat terang itu terkejut. “Ya pak?”


“Haduh pak Julio ini lagi ngelamun apa? Dipanggil dari tadi kok tidak dengar,” ucap pak Damar dengan ekspresi serius.


“Maaf pak… .”


Pak Damar tertawa. “Haduh pak Julio ini jangan terlalu banyak pikiran, nanti anda cepat tua hahaha.”


Julio hanya tersenyum canggunga. “Tadi ada apa pak?”


“Ini lho, saya mau minta tuker jadwal ngawasin, pak Julio hari ini ngawasinnya cuma sekali kan? Saya dipanggil pak kepala sekolah sekarang."


“Iya pak, boleh. Jadi saya akan mengawasi di jam ke berapa?”


“Loh ya sekarang to pak… ,” ucap pak Damar dengan ekspresi serius.


“Loh sudah masuk pak?”


“Lah pak Julio ini masa bel segitu kerasnya nggak dengar, makanya pak jangan ngelamun terus hahaha. Ini sudah masuk dari 7 menit yang lalu pak.”


“Waduh… .”


Pak Damar langsung menyerahkan tumpukan soal kepada Julio. Julio pun bergegas menuju kelas XI B.


Pak Darma hanya geleng-geleng kepala melihat Julio yang tampak tak seperti biasanya. Guru fisika itu segera meninggalkan ruang guru menuju ruang kepala sekolah.

__ADS_1


 


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2