
Lilia merebahkan tubuhnya di atas salah satu ranjang UKS. Ia agak terkejut saat mengetahui beberapa siswa seusianya membawa sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibawa siswa, bahkan sampai ada juga perempuan yang membawa rokok.
Tidak hanya itu, meski Lilia hanya memeriksa sebagian tas siswa dan lainnya diperiksa oleh Julio, perempuan bermata coklat itu bisa mengetahui dari barang sitaan yang ia lihat.
“Lilia?”
Suara yang dikenal Lilia membuatnya langsung menoleh.
“Oh Halin…”
Perempuan bernama Halina itu mendekat lalu duduk di kursi tak jauh dari tempat Lilia berbaring.
“Kamu sakit apa? Lagi dapet?”
“Nggak sih, kayaknya kecapekan aja gara-gara banyak kegiatan dan tugas yang numpuk.”
Halina diam sejenak lalu menghela nafas. “Izin aja kalau emang butuh istirahat.”
“Nggak bisa, kurang dua minggu lagi lomba cerdas cermatnya.”
“Ya kan bisa ganti jadwal kalau kamu emang lagi butuh istirahat.”
Lilia diam, ia membenarkan ucapan Halina. Seharusnya jika ia merasa lelah memang lebih baik istirahat saja.
“Nanti aku coba bilang ke pak Julio.”
Halina tersenyum lega lalu menceritakan tentang Reza yang sempat hampir menitipkan sesuatu namun Halina menyuruh Reza memberikan langsung kepada Lilia.
Lilia hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Halina. Namun pikirannya justru entah sedang memikirkan apa.
“Tadi aku mau ngajak Fani tapi dia udah ke ruang osis duluan, jadi aku dateng sendiri.
“Yah dia juga sibuk sih karena pekan olahraga juga sebentar lagi.”
Keduanya lanjut mengobrol, Halina tampak sengaja membicarakan hal-hal yang lucu agar Lilia tidak fokus ke pikirannya yang memang tampak sedang dipenuhi kecemasan.
...◇◇◇...
Sementara itu Rion, Zora, Reno dan Farhan yang baru saja selesai menghadap Julio dan wali kelas tampak berjalan santai.
“Perasaan gue nggak enak deh yon,” ucap Zora kepada Rion.
Panggilan yoyon adalah panggilan yang biasa dipakai teman-teman dekat Rion termasuk anak setongkrongannya.
Rion yang mendengar kecemasan Zora malah tertawa. “Nggak enak gimana? Mungkin sama aja kan, mana ada guru yang berani panggil ortu gue ke sekolah. Lu kan tau bapak gue salah satu petinggi kep*lisian.”
“Pak Julio mah keras keliatannya doang, buktinya kita langsung dilepas tanpa dikasih hukuman apa-apa,” ucap Reno menimpali.
“Justru itu karena kita nggak dikasih hukuman apapun, gue jadi curiga kalau masalah kali ini bakal gede.”
“Santai dikit dong ra, lagian kita bakal aman karena ada papanya Rion,” ucap Farhan ikut menenangkan.
Zora yang tak tau harus bicara apa lagi akhirnya memilih untuk diam saja. Meski firasatnya merasakan sesuatu yang tidak enak, Zora mencoba mengabaikannya dan meyakinkan dirinya akan baik-baik saja.
Keempat siswa itupun pergi ke tempat berbeda. Zora lebih memilih kembali ke kelas sedangkan Rion, Reno dan Farhan menuju kantin untuk makan siang.
Keempat siswa itu tidak akan pernah menyangka jika Julio bahkan bisa melakukan hal yang lebih ekstrem dari apa yang mereka pikirkan.
...◇◇◇...
Sella masih menunggu di ruang BK seorang diri. Setelah keempat teman sekelasnya pergi, Sella hanya duduk terdiam dengan ekspresi cemas.
Tak lama kemudian datang bu Endah yang membawa beberapa permen.
“Gimana Sella kabarnya?” tanya bu Endah sambil tersenyum.
“Maafkan saya… ,” ucap Sella lirih.
“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya bu Endah penasaran.
“Karena saya melanggar aturan.”
Bu Endah diam dalam waktu yang lama lalu menghela nafas panjang. Perempuan berkacamata itu menyodorkan beberapa permen diatas meja dekat Sella.
“Saya dengar kamu membawa rokok? Kamu merokok?”
Sella tak menjawab. Bu Endah melihat ke arah siswa itu dengan ekspresi sedih.
“Saya tau, kadang rasanya sulit menghadapi masalah dan ingin lari saja dari semua, tapi saya harap kamu bisa memikirkan segala sesuatu dengan lebih hati-hati lagi,” ucap bu Endah lagi.
“Saya tidak tau harus kemana… Saya dengar banyak orang yang merokok untuk melepas stress.” Sella akhirnya membuka suara meski masih tertunduk.
“Lalu? Apa kamu sudah melepaskan stress itu?”
__ADS_1
Sella menggeleng. “Anu, apa saya akan dapat hukuman?”
“Mungkin akan ada pemanggilan orang tua,” jawab bu Endah pelan.
Sella yang mendengar itu langsung membelalakkan matanya karena terkejut. Terlihat ketakutan yang besar di matanya.
“Bu, saya bersedia dihukum apa saja, tapi jangan panggil orang tua saya ke sekolah… ,” ucap Sella memohon dengan ekspresi cemas.
Bu Endah menghela nafas. “Keputusan itu ada di tangan pak Julio sebagai penanggungjawab kedisiplinan.”
“Bu saya mohon… nanti ayah saya akan memarahi ibu saya jika tau saya membuat masalah.”
“Apa saat mencoba sesuatu seperti itu kamu memikirkan resikonya?”
Sella diam, pandangan matanya dipenuhi rasa takut.
Bu Endah sendiri sebenarnya cukup mengetahui permasalahan keluarga Sella. Namun tak ada yang bisa dilakukannya karena lagi-lagi orang luar tak memiliki hak untuk ikut campur terlalu banyak dalam sebuah permasalahan keluarga.
“Maafkan saya, saya salah karena tidak berpikir panjang… Kali ini tolong bantu saya,” ucap Sella memohon lagi.
Bu Endah tampak khawatir. “Saya akan coba berbicara dengan pak Julio tapi saya tidak bisa menjamin apakah orang tua mu akan tetap dipanggil atau tidak. Hanya itu yang bisa saya lakukan.”
“Terimakasih… ,” ucap Sella lirih lalu menunduk lagi.
Bu Endah masih ingin berbicara banyak hal, namun bel tanda jam pelajaran sudah berbunyi. Perempuan paruh baya itu pun mempersilakan Sella kembali ke kelas.
Bu Endah pun kembali ke ruang guru untuk menemui Julio. Di ruang guru itu, Julio tampak sedang berbicara serius dengan pak Karni sebagai wali kelas XI D.
Bu Endah mendekat. “Boleh saya ikut berdiskusi?”
Julio dan pak Karni menoleh lalu mempersilakan bu Endah bergabung.
“Apakah jadi dilakukan pemanggilan orang tua dari kelima siswa tersebut pak?”
“Ya, saya rasa penting untuk membicarakan hal tersebut dengan orang tua mereka,” jawab Julio singkat.
“Apa saya boleh meminta pengecualian untuk Sella?”
Julio mengernyitkan keningnya lalu memandang ke arah pak Karni.
“Saya rasa itu tidak adil untuk siswa yang lainnya, bu,” jawab pak Karni singkat.
“Saya mengerti, tapi saya khawatir justru masalah ini akan semakin membesar jika melibatkan keluarga,” jawab bu Endah dengan ekpresi cemas.
“Membesar? Kenapa begitu?” tanya Julio bingung.
“Bukankah dengan itu harusnya Sella menjadi lebih berhati-hati? Lalu bagaimana dengan siswa lainnya? Apa anda juga akan meminta keringanan untuk semuanya, jika semua keluarga siswa itu bermasalah?” ucap Julio tak mau kalah.
“Apa anda tak memiliki empati sedikit pun? Anda kan sarjana psikologi!” ucap bu Endah emosi.
Pak Karni tampak kaget namun mencoba menengahi. “Bu, saya mengerti kekhawatiran bu Endah, jadi apa bu Endah ada cara yang bisa memberi keringanan kepada Sella tanpa harus membuat yang lainnya iri?”
Bu Endah diam, ia menghela nafas panjang mencoba mengendalikan emosinya.
Beberapa guru yang sedang tak mengajar sempat menoleh ke arah Julio karena mendengar ucapan bu Endah yang keras.
“Lewatkan saya permasalahan kali ini,” ucap bu Endah memberi saran.
“Anda mau saya bersikap tidak tau apa-apa saat siswa melakukan kesalahan? Pendidikan seperti apa yang sebenarnya ingin anda ajarkan?” tanya Julio yang merasa kesal dengan jawaban bu Endah.
“Lalu jika ada seorang siswa yang meminta tolong pada anda karena keluarganya yang rumit, apa yang akan anda lakukan? Anda pikir semua permasalahn bisa diselesaikan dengan pedoman buku kuliah yang anda baca dulu?” Kali ini bu Endah tidak berhasil mengendalikan emosinya.
Pak Karni yang merasa situasi semakin memanas akhirnya ikut bicara.
“Sebaiknya kita beristirahat dulu, saya pikir akan lebih baik jika kita semua membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.”
Julio mengangguk mengerti lalu berpamitan untuk meninggalkan ruangan itu. Laki-laki bermata coklat terang itu cukup terganggu dengan perkataan bu Endah.
Tentu saja ia juga tahu bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi. Julio sangat tahu bahwa tidak semua masalah ada solusinya.
Laki-laki bermata coklat terang itu menghela nafas panjang. Setelah membeli minuman dingin dari koperasi, ia duduk di taman dekat lapangan.
Ekspresi yang biasanya ia jaga untuk selalu terlihat ramah sudah tak terlihat. Tatapan matanya tampak kosong.
“Pak Julio?”
Julio yang terkejut langsung mengatur ekspresinya. “Oh Lilia? Kamu bolos kelas?”
“Saya baru saja dari UKS… ,” jawab Lilia pelan.
“Oh kamu sakit? Apa karena kelelahan? Mau kembali ke kelas? Atau duduk disini dulu?”
“Hahaha…”
Julio tampak kaget dengan Lilia yang tiba-tiba tertawa lepas.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Saya baru kali ini melihat ekspresi pak Julio yang bermacam-macam.” Lilia pun duduk di kursi yang sama dengan Julio.
“Ekspresi saya?”
“Anda biasanya terlihat selalu ramah dan tersenyum, tapi anda tadi tampak sedih dan merasa tertekan.”
Julio menghela nafas panjang. “Ya, sepertinya saya terlalu banyak berpura-pura.”
“Saya tadi sedikit mendengar sedikit dari guru yang sedang berbincang… Sepertinya anda bertengkar dengan guru lainnya?”
“Bukan bertengkar… Saya hanya kurang mengerti situasi siswa.”
“Apa ini terkait razia dadakan?”
“Ya… jika dari sudut pandang mu. Apa yang sebaiknya saya lakukan?”
“Hehe ya mana saya tahu, saya cuma siswa yang tidak tau banyak tentang kehidupan ini…,” jawab Lilia lirih.
“Setiap siswa memiliki kesulitannya sendiri, jujur saya tidak tau harus apa.”
Lilia tersenyum lalu berdiri bersiap kembali ke kelas. “Lakukan seperti yang biasa anda lakukan saja, anda pasti tau hal yang baik diantara pilihan yang ada. Hehe saya kembali ke kelas dulu.”
Lilia langsung pergi dari tempat itu. Julio diam mematung di tempatnya. Laki-laki bermata coklat itu melepas kacamatanya.
Apa yang dikatakan Lilia sama persis dengan apa yang pernah dikatakan seseorang untuknya.
Julio tersenyum namun matanya berkaca-kaca.
“Nina… ,” ucap Julio lirih sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
Laki-laki itu mengusap wajahnya lalu memakai kacamata itu lagi. Ia berkali-kali menghela nafas panjang lalu bangkit dari tempat duduknya.
... ◇◇◇...
Julio memasuki ruang guru itu dengan sedikit lebih tenang. Kepercayaan dirinya yang sempat menurun telah kembali. Ia telah memikirkan segala sesuatu dengan matang agar permasalahan yang ada tidak semakin membesar atau menimbulkan permasalahan yang baru.
Bu Endah tampaknya juga sudah lebih tenang meski masih terlihat rasa cemas pada wajahnya.
Julio duduk dengan tenang di sebelah pak Karni. Guru-guru lain itu tampak tegang memperhatikan sudut ruangan tempat ketiga guru itu berdiskusi.
“Saya sudah mempertimbangkannya secara matang… ,” ucap Julio lalu menghela nafas panjang.
“Saya ingin mendengar pendapat bu Endah dan pak Karni terlebih dahulu,” ucap Julio menambahkan.
Bu Endah mulai mengungkapkan alasan permintaannya untuk membatalkan pemanggilan orang tua siswa.
Bu Endah menceritakan latar belakang keluarga Sella yang sudah dikenal secara pribadi karena berasal dari desa yang sama.
Ayah Sella sering memperlakukan istrinya dengan kasar begitupun kepada anaknya. Bu Endah menyampaikan bahwa mungkin saja apa yang dilakukan Sella merupakan bentuk pelampiasan stress yang dialaminya sejak kecil.
Bu Endah juga mengatakan ada gejala yang mengindikasikan bahwa siswa perempuan berambut pendek itu ada keinginan untuk bunuh diri. Oleh karena itu bu Endah merasa akan lebih baik untuk saat ini tidak ada hal-hal yang bisa memicu emosinya lebih jauh.
Julio mendengarkan penjelasan bu Endah dengan sungguh-sungguh. Sekarang ia cukup mengerti mengapa bu Endah tampak seberusaha itu untuk membatalkan pemanggilan orang tua siswa.
“Saya sebenarnya setuju dengan bu Endah pak, kali ini sebaiknya kita hukum siswa saja. Jika nanti mereka melakukan pelanggaran lagi, baru kita lakukan pemanggilan orang tua siswa,” ucap pak Karni memberi pendapat.
Julio tampak berpikir sejenak. “Saya ada pendapat lain… .”
“Untuk siswa perempuan, saya akan mempercayakan masalah ini kepada bu Endah, begitupun untuk selanjutnya. Jika ada siswa perempuan yang melanggar aturan sekolah, saya akan menyerahkan hal tersebut kepada bu Endah dan tidak akan mengganggu keputusan yang anda buat,” ucap Julio sambil tersenyum.
Bu Endah tampak lega dengan apa yang diucapkan Julio meski itu berarti dia harus berusaha lebih banyak jika ada masalah serupa.
“Lalu untuk siswa laki-laki?” tanya pak Karni penasaran.
“Untuk menghindari iri dari siswa lain, saya yang akan mendatangi satu persatu orang tua mereka.”
Ucapan Julio itu membuat pak Karni membelalakkan matanya karena terlalu terkejut.
Bu Endah pun terkejut dengan apa yang diucapkan guru muda itu.
“Pak Julio serius?” tanya bu Endah.
“Ya,” jawab Julio singkat.
“Tapi pak, orang tua Rion itu… .” Pak Karni menghentikan ucapannya dengan ragu.
“Saya tidak akan melibatkan pak Karni kok, saya akan meminta izin terlebih dulu kepada penanggungjawab kurikulum dan kepala sekolah,” ucap Julio meyakinkan.
Pak Karni maupun bu Endah tidak mengatakan apapun lagi meski rasa cemas terlihat jelas di wajah keduanya.
Julio hanya tersenyum simpul lalu kembali ke kursinya dengan ekspresi tenang.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...