Blue Scandal

Blue Scandal
37 - Lelah


__ADS_3

Julio memasuki rumah mungil yang ada di kecamatan E itu. Ia menyalakan lampu lalu segera membereskan barang-barang yang akan dibawa. Ia memastikan tak ada barang yang berhubungan dengan Notus yang tertinggal di rumah itu.


Laki-laki berkacamata itu menjadi lebih waspada karena beberapa kejadian baru-baru ini.


Drrtttt…


Klik


“Lu dimana?”


Julio menghela nafas, ia melihat ke arah jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30.


^^^“Masih disini, ada urusan mendadak di sekolah.”^^^


“Jun… lu kan tau lu harus sampai di Semarang malem ini.”


^^^“Mungkin gue sampe sana  jam 10 an.”^^^


“Yaudahlah, jangan sampai lewat dari jam 12.”


Klik


Julio memasukkan ponselnya ke saku jaket. Ia menghela nafas panjang lalu segera keluar dari rumah mungil itu.


Guru muda itu mampir sebentar ke tempat penjual nasi goreng. Ia lagi-lagi melihat jam, dengan cepat ia menghitung kecepatan yang dibutuhkan jika harus sampai di Semarang jam 10.


Julio juga membeli beberapa minuman, roti dan tisu yang mungkin diperlukan oleh ayah Lilia. Setelah tiga bungkus nasi goreng pesanannya jadi, Julio langsung menuju ke puskesmas.


Julio turun dari motornya sambil menenteng makanan dan benda lainnya, ia langsung masuk ke ruangan tempat ayah Lilia dirawat.


Tok..tok..


Julio mengetuk pintu yang tetap terbuka itu. Budi dan Lilia menoleh.


“Ini saya belikan makanan. Saya tidak tau harus membeli apa jadi saya pilih nasi goreng yang biasanya disukai semua orang.”


Budi tampak terkejut dengan pemberian Julio. “Waduh pak, saya padahal sudah merepotkan anda karena harus bolak-balik mengantar Lilia. Sekarang malah dibelikan makanan juga.”


Julio tersenyum. “Anda harus tetap makan dan cepat sehat agar putri anda bisa tenang.”


Lilia yang disebut seperti itu menjadi malu. Namun ia hanya diam.


Budi tertawa, ia merasa senang ada guru baik yang begitu perhatian. “Baiklah saya akan makan semuanya supaya cepat sehat.”


Julio tersenyum lalu menyerahkan satu kantong plastik lagi kepada Lilia.


“Kamu juga makan ini, bawakan juga untuk ibumu. Semua harus tetap makan walau merasa tidak lapar.”


Lilia menerima satu kantong plastik itu. Ia hari ini benar-benar merasa tidak enak karena merepotkan guru itu.


“Kalau begitu mari saya antar,” ucap Julio lagi.


Guru muda itu sebenarnya merasa agak cemas karena melihat jam tangan. Lilia pun berpamitan dengan ayahnya. Budi mengangguk dan berterimakasih kepada Julio.


“Tolong antarkan sampai rumah ya, sampai Lilia masuk ke dalam rumah pokoknya.”


Julio tersenyum, memahami kekhawatiran orang tua satu anak itu. “Saya mengerti. Kami kembali dulu.”


Julio dan Lilia pun keluar dari puskesmas itu. Guru muda itu kali ini membawa dua helm.


“Pakai ya.”


“Tumben pak?”


Julio menghela nafas. “Hmmm begini, sebenarnya malam ini saya sedang agak terburu-buru, jadi saya akan mengendarai motor dengan cepat. Maafkan saya tapi tolong rahasiakan ini dari ayahmu, beliau pasti marah jika tau… .”


Lilia tertawa melihat guru itu khawatir akan dimarahi ayahnya. “Baiklah saya tidak akan bilang, tapi pak Julio tetap harus berhati-hati ya.”


Julio mengangguk setuju. Lilia pun memakai helm yang dipinjamkan gurunya itu lalu membonceng di bagian belakang.


Julio sebenarnya ingin memakai mobil, hanya saja pasti siswanya itu akan bertanya-tanya tentang mobilnya itu.


Setelah keluar dari area puskesmas, Julio membuka suara. “Saya akan lebih cepat, kamu tolong pegangan tas saya, jangan sampai jatuh.”


“Siap pak.” Lilia pun memeluk tas besar itu erat. Ia sebenarnya penasaran dengan isi di dalam tas besar itu. Namun ia tak berani bertanya karena Julio mengendarai sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi.


Jarak puskesmas kecamatan dan rumah Lilia yang biasanya ditempuh dengan waktu 20 menit, bisa ditempuh dalam waktu 10 menit oleh Julio.


Sebenarnya Julio bisa lebih kencang lagi, hanya saja ia khawatir Lilia akan takut. Saat memasuki area desa tempat Lilia tinggal, Julio mengurangi kecepatan sepeda motornya.


Seperti yang diminta oleh Budi, Julio mengantar Lilia hingga sampai di depan rumahnya. Ibunya sudah menunggu karena telah diberitahu lebih dulu.


“Lilia pulang Ma.”


“Kamu ini kalau kemana-mana kasih tau Mama dulu.”


“Maaf tadi Lili panik dan langsung nyusul Papa ke puskesmas."


Bu Ani mengalihkan pandangannya ke pemuda yang baru saja melepas helmnya.

__ADS_1


“Permisi bu, saya guru di sekolah Lilia, Julio.”


Bu Ani yang sudah diberitahu lebih dulu dari suaminya tidak banyak bertanya. Coba saja kalau suaminya tidak cerita, pasti laki-laki di hadapannya itu akan diinterogasi.


“Saya sudah dengar ceritanya, terimakasih ya pak, maafkan anak kami merepotkan terus.”


“Tidak kok, Lilia justru yang selama ini banyak membantu saya.”


“Mampir dulu nak.”


“Maafkan saya bu, kebetulan saya sedang terburu-buru malam ini, saya bermaksud untuk langsung pamit.”


Bu Ani tampak kecewa, sebenarnya ia ingin mengobrol lebih lama. “Baiklah, sekali lagi terimakasih ya pak. Hati-hati di jalan.”


Julio mengangguk dan tersenyum lalu kembali menaiki motornya dan melanjutkan perjalanannya ke Semarang.


Lilia dan ibunya pun segera masuk ke dalam rumah. “Mama udah dihubungin Papa?”


“Udah tadi, makanya Mama nggak khawatir. Kamu mandi dulu sana, ceritanya nanti saja."


Lilia menurut, setelah mandi dan berganti pakaian Lilia duduk di ruang tengah lalu menunjuk kantong plastik yang sudah diletakan di meja sejak tadi.


“Itu dari guru tadi, Papa juga dibeliin.”


“Iya tadi Papa mu udah cerita, tapi kenapa guru itu bisa baik banget? Naksir kamu kali.”


“Ih Mama, nggak boleh gitu, beliau kan emang baik sama semua siswanya.”


Bu Ani tertawa. Perempuan paruh baya itu merasa senang karena ada guru baik di sekolah putrinya. Padahal selama ini bu Ani jarang sekali melihat anak muda yang bisa begitu perhatian kepada orang lain.


“Di sekolah pasti banyak penggemar.”


Lilia tertawa. “Iyalah, ada fansclub juga.”


Bu Ani ikut tertawa. Ia pun segera memakan nasi goreng yang dibelikan Julio.


“Perhatian sekali ya, syukurlah kamu dikelilingi orang-orang baik, " ucap bu Ani lagi.


Lilia hanya tersenyum dan meneruskan makan nasi goreng itu.


...◇◇◇...


Julio memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju Semarang. Waktu yang harusnya ditempuh 3 jam perjalanan, bisa menjadi 2 jam.


Tepat pukul 22.12 Julio sampai di area perumahan tempat Elena tinggal. Laki-laki berkacamata itu langsung bergegas masuk ke dalam rumah yang juga dijadikan tempat kos itu.


Lantai 1 dan 2 dijadikan kos umum yang bisa disewa oleh orang lain. Sedangkan lantai 3 dan 4 adalah tempat khusus untuk para anggota ‘family’.


Setelah meletakkan barang bawaannya di kamar, Julio langsung menuju lantai 3 tempat Elena biasa berada. Ia lupa untuk mengubah penampilannya lebih dulu.


Saat itu Elena bersama Ken sedang duduk dengan ekspresi serius di ruangan yang biasa dijadikan tempat berkumpul.


Begitu Julio datang, Elena dan Ken menoleh. Pria keturunan Indonesia Jepang itu tampak bingung.


“Dia siapa, Len?”


Elena melirik ke arah Julio dengan ekspresi menahan tawa. “Oh ini guru dari salah satu sekolah.”


“Hah? Kenapa lu ngundang guru kesini?” tanya Ken bingung.


Julio alias Jun itu ikut duduk tak jauh dari Ken. “Lu belum pernah lihat gue kalau begini ya?”


Elena tertawa melihat ekspresi bingung Ken. “Lagian sih lu kenapa nggak lepas dulu sih tu kacamata sama lensa.”


“Gue buru-buru, yaudah gue ke atas dulu,” ucap Julio lalu berlalu pergi.


Ken masih dengan ekspresi bingungnya. “Siapa?”


“Jun,” jawab Elena singkat.


“Wah, pantes kayaknya familiar gitu.”


Tak lama kemudian Jun datang lagi ke ruangan itu dengan penampilan ‘aslinya’.


“Nah kalau begini gue kenal soalnya mata lu unik,” ucap Ken lalu tertawa.


Jun enggan menanggapi. Ia mengambil salah satu gelas yang tersedia di meja itu dan segera menuangkan cairan berwarna gelap itu ke dalam gelasnya.


“Tuan muda darimana aja jam segini baru dateng?” tanya Ken sambil menyengir.


“Ada urusan mendadak. Ken jangan bercanda terus, gue lagi capek.”


Elena juga menuang cairan di botol ke dalam gelas kecil miliknya. Ekspresinya berubah menjadi serius.


“Agenda besok bahasannya soal kurir yang mati itu. Ayah juga ngasih tau bakal ada pengumuman penting.”


“Gue udah siapin bahannya,” ucap Ken menambahkan.


“Ada bocoran yang nyebut Styx atau EurusZ nggak?” tanya Julio dengan ekspresi datar.

__ADS_1


“Nggak ada, gue cuma dikasih pesan tambahan buat lu… Setelah acara besok, lu disuruh nemuin ayah secara pribadi.”


Ken yang juga baru mendengar itu terkejut. Laki-laki berambut coklat itu melihat ke arah Jun yang ekspresinya datar seperti biasa.


“Lu ngapain lagi sampai dipanggil secara khusus?” tanya Ken penasaran.


Jun sebenarnya merasa tidak tenang, hanya saja ia terbiasa tidak menunjukannya. “Mungkin ada hal rahasia yang perlu gue tau.”


Elena diam, ia sendiri tidak mengetahui maksud ‘ayah’ yang memintanya menyampaikan Julio untuk bertemu, padahal Tommy bisa saja menghubungi Jun langsung.


“Hubungan lu sama ayah sejak itu masih belum membaik ya?” tanya Elena coba mencari tau.


Jun melihat sekilas ke arah Elena dengan ekspresi dingin. Ia jadi ingat kejadian tidak menyenangkan beberapa tahun lalu.


“Mungkin ayah lupa nomer gue,” jawab Jun asal.


Ken yang sedari tadi serius mendengarkan menjadi kecewa dengan jawaban asal Jun.


Elena membuka sesuatu dari dalam tasnya. Ia meletakkan map hitam berukuran besar di atas meja.


“Gue dapet info kalau pihak mereka rombak semua susunan pengurus karena curiga ada mata-mata,” ucap Elena dengan ekspresi serius.


Jun meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya. Lak-laki bermata hazel itu langsung meraih map itu dan mengeluarkan semua isinya.


Jun membaca semua dokumen itu secara singkat. Setelah beberapa saat, matanya terfokus pada beberapa lembar foto.


“Lu tau nggak itu siapa?” tanya Elena.


“Hmm, gue pernah dikasih tau Alex, ini anaknya Andra kan?”


Ken yang mendengar itu langsung kaget. Ia ikut mengamati foto yang sedang dipegang Jun.


“Itu yang katanya calon penerusnya EurusZ? Seriusan? Itu foto lama?”


Elena menggeleng. “Itu foto baru, dia memang masih SMA.”


Ken hanya diam karena terlalu terkejut mengetahui fakta tersebut.


“Ada rumor yang bilang dia terlibat langung dalam peredaran ob*t, tapi sampai saat ini dia belum pernah kesentuh hukum sama sekali.”


Jun tak menanggapi, ia masih fokus memeriksa foto-foto yang diberikan Elena. Tak lama kemudian Jun terkejut dengan salah satu foto itu.


“Len, perempuan ini siapa?” tanya Jun memastikan.


Elena mencoba melihat foto itu. “Hmm mungkin temen sekolahnya tuh anak, kenapa?”


Jun memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit lagi.


“Cari tau tentang perempuan itu… “


Tes…


Jun melihat ke arah benda cair merah yang baru saja menetes itu. Hidungnya terasa basah.


‘Darah?’


“Jun? lu kenapa?” tanya Elena yang segera menghampiri Jun.


Jun memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Brukkk…


Laki-laki bermata hazel itu kehilangan kesadarannya.


Ken panik. “Waduh. Gimana ini Len?”


“Panggil dokter pribadi keluarga lah,” ucap Elena dengan ekspresi tenang. Ia sudah terbiasa dengan hal semacam itu.


Perempuan berambut coklat itu mencoba menghubungi dokter pribadi yang biasa digunakan ‘keluarga utama’nya Tommy.


Elena melihat ke arah jam dinding. Ia sebenarnya khawatir jika orang tersebut sudah tidur.


Klik..


Elena menghela nafas. “Halo, pak, maaf apa anda bisa datang ke tempat Elena?”


“Oh iya mbak, siap,” jawab pria di telfon itu tanpa bertanya.


‘Keluarga’ mereka memang sudah terbiasa memakai jasa dokter secara pribadi untuk menghindari kebocoran informasi mengenai kondisi para petinggi Notus.


Elena menghela nafas. “Bawa Jun ke kamarnya dulu gih,” ucap Elena kepada Ken.


Ken memandang Elena dengan ekspresi kesal. “Gimana mindahinya ke lantai atas? Diseret?”


Elena baru sadar permintaan konyolnya kepada pemuda yang badannya lebih kecil dan lebih pendek dari Jun itu.


“Yaudah ambilin bantal, dibenerin posisinya biar dia tidur di sofa.”


Ken menggurutu namun menuruti perkataan perempuan itu. Tak lama kemudian dokter muda yang dipanggil Elena datang ke rumah itu.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2