
Saat Julio tiba di UKS, Lilia sudah sadar dan sedang berbincang dengan Fani. Guru muda itu menghela nafas lega karena Lilia terlihat baik-baik saja.
“Lilia… Saya dengar kamu pingsan?” tanya Julio dengan ekspresi cemas.
“Oh, sepertinya karena saya kelelahan,” jawab Lilia pelan.
Fani melihat ke arah Julio dengan ekspresi bingung. ‘Kenapa pak Julio kesini dengan ekspresi seperti itu?’
Melihat ekspresi bingung Fani, Julio menghela nafas. Ia baru sadar tindakannya ini mungkin terlihat aneh di mata para siswa lainnya.
Julio mengambil tempat duduk tak jauh dari Lilia dan Fani. “Fani mungkin sudah mendengar sekilas dari gosip yang sedang beredar tentang Zora… ,” ucap Julio membuka percakapan.
Fani melihat ke arah Lilia yang tampak tidak bersemangat. Ia mengernyitkan keningnya. “Apa gosip itu benar?”
Julio menghela nafas, mau tak mau ia harus menjelaskannya. “Saya sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi saya rasa kamu harus tau situasinya supaya kamu bisa menjaga teman mu.”
Fani memandang bergantian antara Lilia dan Julio dengan eskpresi bingung. “Memangnya apa hubungannya gosip itu dengan Lilia, pak?”
“Zora mengirim pesan kepada Lilia, ia mengatakan akan bunuh diri… Karena itu saya dan Gio tadi segera ke rumah Zora. Saya belum bisa memberitahu banyak pihak karena khawatir itu akan menjadi bertambah rumit.”
Fani mengalihkan pandangannya ke arah Lilia. “Kok dia ngirim pesan ke kamu gitu?”
Lilia diam, ia menunduk menggenggam erat kedua tangannya. Fani tiba-tiba teringat dengan ancaman Deon waktu itu, ekspresinya berubah. ‘Eh? Apa Deon ngasih tau Zora jadi dia ngirim pesan gitu karena mau nyalahin Lilia?’
Suasana hening di ruangan itu membuat Fani menjadi canggung. “Ehmm pak, saya tinggal dulu sebentar boleh? Saya lupa kalau tadi Gavin hanya mengizinkan saya pergi sebentar.”
“Ya, silakan.”
“Aku tinggal dulu ya Lil, nanti aku izin lagi kesini.”
Lilia mengangguk lemah, memaksa ekspresinya untuk tersenyum.
Setelah memastikan Fani pergi, Julio mendekat ke arah bangku dekat ranjang UKS. “Apa kamu terluka tadi?”
Lilia menggeleng. “Tidak, sepertinya saya hanya sedikit kaget dan kelelahan.”
Julio mengangguk mengerti. “Jangan memikirkan banyak hal dan jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan karena keputusan mu.”
Lilia masih memandangi tangannya yang menggenggam erat. “Tapi pak, jika waktu itu saya menemui orang itu, mungkin videonya tidak menyebar secepat itu… .”
Guru muda itu memandang Lilia dengan ekspresi kesal. “Lalu kalau kamu menemuinya dan terjadi sesuatu yang buruk ke kamu bagaimana?”
Lilia diam, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Perasaan bersalah mulai mengganggunya meski kesalahan itu sebenarnya bukan karena keputusannya.
“Apa Zora baik-baik saja?” tanya Lilia pelan.
Julio mengepalkan tangannya. “Walau dia menyalahkan mu, kamu masih memikirkannya?”
Lilia semakin mengeratkan tangannya. “Saya tau dia salah dan saya yakin Zora juga menyadari kesalahannya, tapi saya tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya… Mungkin dia begitu karena belum memahami konsekuensi.”
__ADS_1
Julio diam, sebenarnya ia lebih menyalahkan keluarga Zora daripada muridnya itu, hanya saja guru muda itu merasa kesal karena Lilia dilibatkan.
“Lain kali jangan membahayakan diri sendiri untuk orang lain.”
Lilia diam, ia tidak mengatakan apapun setelah Julio mengucap perkataan itu.
Drrrtttt…
Julio melihat ke ponselnya, nama Elena muncul pada panggilan masuk itu. Guru muda itu melihat ke arah Lilia.
“Saya kembali dulu.”
“Baik, terimakasih sudah menolong saya.”
Julio melirik ke arah Lilia sejenak lalu segera meninggalkan ruang UKS tersebut tanpa menjawab ucapan Lilia. Guru muda itu menepi ke samping bangunan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar tempat itu.
Klik…
“Gue udah kirim data anak-anak sialan itu,” ucap Elena dari seberang telfon.
“Oke, thanks.”
“Jun… jangan terlalu terlibat sama masalah siswa lagi, lu kan udah diingetin.”
Laki-laki bermata coklat terang itu menghela nafas. “Sorry… .”
“Gue usahain ini nggak sampai ke telinga ‘Ayah’, tapi sisanya lu urus sendiri.”
“Udah kok, gue dapet akses ke semua akun jadi back up semuanya dah gue hapus, butuh effort lebih yang lumayan nguras tenaga.”
Julio menghela nafas lagi. “Lu minta bonus apa?”
Elena tertawa. “Wah tiba-tiba jadi dermawan, kalau gitu mobil lu yang biru buat gue.”
“Yaudah ambil aja.”
“Gue bercanda hahaha. Well gue nanti minta imbalan kalau emang ada yang gue perlu, sekarang belum ada.”
“Okay, kabarin aja nanti.”
Klik…
Julio menghela nafas panjang lagi. Ia terdiam cukup lama di tempatnya. Ia tau seharusnya ia tidak menggunakan tim nya untuk keperluan pribadi seperti itu.
...◇◇◇...
Esoknya…
.
__ADS_1
.
Kabar tentang Zora yang melakukan percobaan bunuh diri sudah menyebar luas. Namun penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Video yang saat itu sudah menyebar pun telah dihapus dengan usaha keras dari Elena.
Lilia kembali bersikap seperti biasa namun ia sama sekali tidak mengatakan kejadian yang dialaminya kepada siapapun. Ia benar-benar menjaga hal yang memang diminta untuk dirahasiakan. Ia bahkan tidak bertanya pada Julio meski merasa penasaran tentang perempuan yang mengantarnya menemui Deon waktu itu.
“Lil, kamu waktu itu katanya pingsan ya? Sorry, aku nggak bantu apa-apa,” ucap Gavin dengan ekspresi sedih.
“Nggak apa-apa kok, aku cuma kecapekan aja,” jawab Lilia sambil tersenyum.
“Tapi Gav, lu kok kayaknya sibuk bener, kegiatan OSIS kan udah nggak banyak,” ucap Fani penasaran.
“Gue ikut lomba essay pelajar yang diadain Universitas di kota U dan lolos tahap 1, terus kemarin ada arahan khusus pake Zoom, minggu depan disuruh presentasi langsung di sana.”
“Gila, rajin bener lu. Siswa teladan emang beda ya.”
“kota U sama kota T deket kan yak?” tanya Fani lagi.
“Iya, sekitar 10 menit naik motor, kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, nanya doang, Halina sama Reza katanya kerjanya di kota T, gue pengen ikut deh,” ucap Fani sambil tertawa.
“Gue kesana bukan buat main.”
“Yaelah pelit amat, ajak gue lah.”
“Nggak,” jawab Gavin tegas.
Lilia sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan kedua temannya tanpa ikut menimbrung. Setelah kejadian buruk menimpa Zora, gadis bermata coklat itu memang lebih banyak diam dan hanya mendengarkan ketika ada temannya yang sedang berbincang.
“Lil?”
“Ya? Ada apa?”
“Kamu masih nggak sehat?” tanya Gavin dengan ekspresi cemas.
“Sehat kok,” jawab Lilia sambil tersenyum.
Fani juga merasa sikap Lilia akhir-akhir ini agak berbeda. Temannya itu lebih banyak diam daripada berbicara. Beberapa kali Fani juga melihat Lilia tampak sedang melamun.
“Mau ikut ke kota U nggak minggu depan? Habis dari Universitas U ayo jalan-jalan,” ucap Gavin menawarkan. Ia berpikir mungkin saja Lilia sedang lelah dan butuh penyegaran pikiran.
“Iya kalau Lilia ditawarin, kalau gue yang minta diajak, nggak mau,” ucap Fani kesal.
Gavin tertawa. “Lah iya, ayo semua jalan-jalan.”
Lilia hanya tersenyum simpul. Ia sebenarnya tau teman-temannya mengkhawatirkannya yang sedang tidak bersemangat. Namun ia tidak bisa menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Gadis bermata coklat itu menyembunyikan rasa cemasnya rapat-rapat.
Matanya kembali mengamati tangannya yang sedang menggenggam erat. Lilia sama sekali tidak pernah berpikir kejadian lalu itu begitu mempengaruhi mental dan emosinya.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...