
Suasana sore di cafe yang terletak di bukit yang tak jauh dari pusat kecamatan itu sudah ramai sejak jam 4 sore. Saat malam minggu memang banyak remaja yang nongkrong di tempat itu.
Reza duduk di bagian tengah yang ditata seperti setengah lingkaran itu. Tangannya memegang gelas kecil berisi cairan bening kuning keemasan dengan aroma yang khas.
Laki-laki bermata hitam itu mengangkat gelasnya lalu meminumnya perlahan.
“Nggak nyoba yang lain Za? Dari dulu Bint*ng crystal terus.”
Reza meletakkan gelas itu. “Udah biasa sama yang ini mas.”
Laki-laki yang sedang mengelap gelas itu tertawa kecil.
“Kayaknya Reza akhir-akhir ini jarang mau ngumpul deket sama temen yang lain?” ucap mas Nino penasaran.
Reza diam sejenak lalu meminum minuman itu lagi. Rasa pahit yang terasa ringan di lidah itu seperti membawa larut kepenatan pikirannya yang bertumpuk.
“Males aja, mas,” jawab Reza singkat sambil tetap menatap gelas yang dipegangnya.
Nino tersenyum. “Kalau udah ngerasa nggak cocok kenapa masih temenan aja Za?”
Ucapan Nino membuat Reza terdiam. Ia memang merasa tak lagi nyaman berteman dengan teman-temannya itu. Namun ia sama sekali tak memiliki pikiran untuk berhenti berteman dengan mereka semua.
“Nggak lah mas.”
“Bingung mau temanan sama siapa kalau bukan sama mereka?”
Reza diam, mata hitamnya menatap ke arah tempat teman-temannya yang sedang bermain r*mi.
“Iya kayaknya mas. Lagian lebih enak temenan sama orang sejenis kan?”
Tak lama kemudian ada pelanggan lain yang langsung duduk di samping Reza.
“ 1 kaleng sama kayak Reza mas, sekalian gelasnya ya,” ucap perempuan berjaket hitam itu.
Reza tak menoleh dan tetap fokus dengan minuman digelasnya.
“Kenapa nggak ngumpul sama yang lain, Za?”
“Males, lagi pengen sendiri.”
Perempuan duduk menghadap ke arah Reza. Pandangan matanya fokus ke arah wajah pemuda tampan dengan tahi lalat di bawah mata itu.
“Dateng sama siapa ra?” tanya Nino sambil menyodorkan minuman yang dipesan.
“Sama Gio, mas.”
“Lho Gio itu pacar mu tah?”
“Ih bukan mas. Saudara sepupu saya itu.”
“Oalah, mas kira Gio pacar mu.”
“Bukan.”
Reza tetap diam dan mengamati gelasnya. Zora mengangkat gelasnya lalu meminumnya perlahan.
“Za, tadi sore gue lihat Lilia lagi di bakso mas Eco,” ucap Zora sambil tersenyum.
“Terus? Kenapa laporan sama gue?”
“Hahaha, ya nggak apa-apa sih cuma mau ngasih tau aja, soalnya dia bareng pak Julio. Mereka pacaran kah?”
Zora tau Reza sudah menyukai Lilia sejak lama. Meski laki-laki bermata hitam itu tak ingin bicara dengannya, jika itu tentang Lilia, pasti Reza mau membuka suara.
“Jangan nyebarin gosip.”
“Hehe bercanda. Lu sih tiap diajak ngobrol biasanya nggak pernah mau jawab.”
Reza diam, ia sebenarnya kesal namun ia tak ingin memperlihatkan ekspresinya yang seperti itu.
“Enak ya jadi siswa berprestasi yang disayang guru-guru. Dibeliin jajan, makanan, nggak pernah dihukum, nggak pernah diomongin kasar di depan banyak orang... .”
“Ya kalau lu mau gitu jadi siswa berprestasi lah.”
“Hahaha nggak pantes gue.”
Zora mengeluarkan r*kok dari tas kecilnya lalu menyalakannya dan menghisapnya kuat-kuat.
Perempuan berambut pendek itu menyodorkan satu bungkus r*kok itu ke arah Reza.
“Gue lagi nggak nger*kok,” jawab Reza singkat.
Zora tertawa. “Wah? Kenapa emang? Dimarahin Lilia?”
“Ra, jangan ngomong kemana-mana.”
“Hehe sorry.”
__ADS_1
Zora diam, tatapan matanya menatap lurus ke arah rak kayu berisi macam-macam minuman. Ia menghisap kuat r*kok di tangannya itu. Tak lama kemudian Gio datang mendekat.
“Ra, balik yuk, bapak gue nyuruh pulang ck.” Gio mendecakan lidahnya dengan ekspresi kesal.
“Lu mau balik gitu aja abis minum? Gila lu? Bau bego,” ucap Zora sambil meminum minumannya.
“Mas Nino, boleh pinjem baju nggak?”
“Haduh kalian ini. Bentar saya cari dulu.”
Laki-laki yang dipanggil Nino itu keluar dari cafe itu menuju rumahnya yang terletak beberapa langkah di seberang.
“Mas Nino tuh kayaknya nggak cocok usaha ginian deh,” ucap Zora tiba-tiba.
“Kenapa emang?” tanya Gio.
“Terlalu sopan dan keliatan kalem. Biasanya yang punya usaha kayak gini sangar dan kasar gitu kan, ada tato semacam gitulah,” jawab Zora sambil menghabiskan minumannya.
“Jangan dilihat kalemnya doang,” ucap Gio dengan ekspresi datar.
Beberapa orang mengetahui bahwa dulunya Nino yang tampak kalem sekarang sebenarnya dahulu adalah preman. Bekas tindikan dan sisa tato dipunggungnya masih ada. Hanya saja Nino memang tak ingin memperlihatkan itu.
Tak lama kemudian Nino datang membawa dua kaos.
“Kok dua mas?” tanya Gio bingung.
“Loh Zora emang nggak?”
“Saya mah bebas mas. Nggak bakal dimarahin kok hehe.” Perempuan itu tertawa namun tatapan matanya terlihat sedih.
Gio mengganti pakaiannya lalu melipat kaos yang sudah dilepasnya. “Mas, nitip dulu ya? Besok saya ambil.”
“Oke.” Nino mengambil kaos itu dan membungkusnya dengan kresek hitam lalu menyimpannya di laci.
“Gue balik duluan, Za,” ucap Gio lalu menjabat tangan Reza khas salam anak remaja.
Reza memandang ke arah Gio dengan ekspresi serius. “Yakin lu balik?”
Gio tertawa. “Iyalah, bapak gue nyuruh balik.”
“Gue nggak ditanyain Za?” tanya Zora sambil cemberut.
“Nggak,” jawab Reza singkat lalu kembali meneguk minumannya.
Zora tertawa, tapi lagi-lagi ada kesedihan yang terlihat di matanya yang jernih itu. Gio dan Zora pun pergi meninggalkan cafe itu.
“Jangan terlalu dingin ke anak itu Za”
Nino menghela nafas. “Ya tapi jangan terlalu dingin gitu lah. Itu cewek jadi salah pergaulan gini pasti karena nyari pelarian kan? Hiburlah dia sedikit.”
“Semua yang disini bukannya gitu mas? Masa saya harus hibur semua orang yang lagi nyari pelarian?”
Nino tertawa dan tidak berkata apapun lagi. Dua orang itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
...◇◇◇...
Setelah mengantar Zora pulang, Gio kembali ke rumahnya. Sebuah mobil tua berwarna biru tua terparkir di halaman rumah.
Gio menghela nafas lalu memasuki rumah itu dengan ekspresi datar.
“Darimana aja kamu jam segini baru pulang?”
Gio meletakkan helmnya di atas rak yang tak jauh dari tempat ayahnya duduk.
“Biasalah pa, anak muda malam mingguan,” jawab Reza dengan ekspresi datar.
Laki-laki berkacamata kotak yang dipanggil papa itu menghela nafas.
“Jangan terlalu sering kelayapan, jagain mama mu di rumah.”
“Kenapa nggak papa sendiri yang jagain?”
Laki-laki yang sedang duduk itu diam, matanya memandang lurus ke arah Gio yang sedang menatapnya dengan ekspresi datar.
Karena tak mendapat jawaban, Gio pun bermaksud menuju kamar mandi untuk menyuci kakinya.
“Maafin papa… ,” ucap laki-laki itu lirih.
Setelah menyuci kaki, Gio bermaksud kembali ke kamarnya. Sekilas ia melihat ayahnya sedang termangu di tempatnya dengan tatapan mata kosong.
Gio langsung mengunci pintu kamarnya dan memainkan game.
Namun baru beberapa menit bermain game, terdengar suara pintu kamar ibunya terbuka. Lalu samar-samar ia bisa mendengar perdebatan kedua orang tuanya.
Gio menghela nafas. “Sialan!” ucapnya lirih.
Laki-laki bermata onyx itu merasa kesal dengan situasi rumah yang tak pernah tenang jika ayahnya datang.
__ADS_1
“Gio!”
Suara teriakan ibunya mengagetkan Gio. Laki-laki bermata onyx itu tak menjawab dan tetap dalam posisinya.
“Ikut saja papa mu sana!” teriak perempuan itu lagi.
Gio tetap diam, tatapan matanya fokus mengamati lampu yang sudah dimatikan itu.
“Bawa pergi anak mu itu mas! Hiduplah bersama keluarga yang kamu cintai itu!”
Lagi-lagi teriakan itu terdengar melengking. Gio diam, ia tak ingin menjawab atau keluar dari kamarnya untuk menenangkan ibunya. Gio tak ingin ikut campur dengan masalah kedua orang tuanya.
Setelah satu jam kemudian tak lagi terdengar suara teriakan, hanya suara isak tangis yang semakin lama semakin terdengar pelan.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 11 malam. Gio pun mencoba memejamkan matanya setelah menarik nafas panjang berkali-kali.
...◇◇◇...
Disaat yang sama di tempat yang lain...
Klek…
Zora membuka pintu rumahnya dengan hati-hati. Namun ternyata ayahnya masih duduk di depan televisi.
“Tumben pulang cepet.”
Zora meletakkan sepatunya di rak. Matanya menatap ke arah ayahnya yang tak mengalihkan pandangannya dari televisi.
“Iya, soalnya kalau pulang lebih malem nanti nggak ada yang nganter pulang.”
“Kunci sekalian pintunya, mama mu pulang pagi lagi,” ucap sang ayah tanpa ekspresi.
“Iya.”
“Kamu mer*kok?”
Zora mengunci pintu perlahan dan diam tak menjawab apa yang ditanyakan ayahnya.
“Jangan lakukan itu di sekolah, bau r*kok bisa menempel di seragam mu.”
“Ya,” jawab Zora singkat.
Perempuan berambut pendek itu menyuci kakinya kemudian bermaksud langsung menuju kamar.
“Kamu berpacaran?” tanya sang ayah dengan tetap fokus melihat televisi.
“Nggak.”
“Nggak perlu ditutupi, papa cuma mau ngingetin kalau mau melakukan sesuatu jangan lupa pakai pakai pengaman. Jangan sampai menyesal seperti ibu mu.”
“Pa!” Zora tampak kesal dengan apa yang diucapkan ayahnya. Mata perempuan itu berkaca-kaca.
Perkataan ayahnya yang seperti itu selalu membuat hatinya terasa sakit. Zora pun langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Zora tak menghidupkan lampu di kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menutup wajahnya dengan tangan.
Hatinya terasa sakit mengingat bahwa dirinya adalah seorang anak yang sebenarnya tidak diinginkan. Kakek neneknya bahkan tak mau menerimanya karena disebut anak haram.
Tapi memangnya siapa yang mau dilahirkan sebagai anak haram?
Orang tuanya dulu terlibat hubungan hingga hamil dan akhirnya terpaksa menikah. Ayahnya diusir dari rumah orangtuanya dan berusaha bertanggungjawab kepada istrinya.
Setelah menikah, kondisi kehidupan keduanya memburuk dan ayahnya kehilangan pekerjaan setelah Zora dilahirkan.
Ayahnya menganggap bahwa sang anak membawa kesialan untuknya. Sang istri semakin lama merasa lelah hidup dengan kondisi sulit akhirnya memutuskan bekerja sebagai salah satu pemandu karaoke di kota yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya.
Sang ibu akan pulang setiap beberapa hari sekali di pagi hari dan biasanya dalam keadaan mabuk.
Meski begitu, sang ibu sangat menyayangi Zora dan selalu menuruti keinginan putrinya. Rasa bersalah yang dirasakan sang ibu membuatnya tak pernah menegur apapun yang dilakukan anaknya.
Sang ibu selalu memaklumi apapun yang dilakukan anaknya karena menganggap dirinya memang bukanlah ibu yang baik. Dengan memberikan banyak uang dan kebebasan, sang ibu berharap anaknya tidak merasakan kesulitan.
Zora bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil bungkus rok*k di saku jaketnya. Namun ia meletakkan kembali benda itu di meja belajarnya.
Tatapan matanya memandang ragu ke arah meja belajarnya. Zora menghela nafas lalu kembali ke tempat tidurnya dan berusaha memejamkan mata. Meski hidup secara serampangan dan mencari pelarian, sebenarnya Zora juga tidak suka hidup seperti itu.
Zora justru berharap orang tuanya bisa lebih memperhatikannya dan memarahinya jika ia melakukan kesalahan.
Perempuan yang terlihat serampangan dan gampangan bagi teman-teman setongkorongannya itu justru berharap bisa mempunyai alasan yang kuat untuk hidup lebih baik.
Zora selalu iri melihat teman-teman seumurannya yang memiliki orang tua yang baik. Ia iri dengan kehidupan orang lain yang normal.
Perempuan berambut pendek itu kadang mengutuki takdirnya. Bertanya-tanya kenapa ia dilahirkan di keluarga yang seperti itu. Bertanya-tanya kenapa ia tidak memiliki kehidupan sebaik orang lain.
Zora bertanya-tanya kenapa ia disebut membawa kesialan padahal yang melakukan kesalahan adalah orang tuanya.
__ADS_1
Hatinya terasa berat, matanya juga terasa berat. Lambat laun ia terlelap setelah menangis selama beberapa waktu.
...◆◇◆◇◆...