Blue Scandal

Blue Scandal
13 - Razia dadakan


__ADS_3

Setelah kejadian tawuran itu, esoknya Julio mengadakan rapat OSIS untuk membentuk komite kedispilinan yang terdiri dari masing-masing ketua divisi.


Julio membuat aturan untuk siswa sekolah menjadi semakin ketat, siapapun yang terlibat tawuran tiga kali akan dikeluarkan dari sekolah. Kesepakatan tersebut akan diumumkan pada pertemuan siswa yang akan diadakan secara online.


Siswa yang membolos lebih dari tiga kali juga akan dilakukan pemanggilan orang tua ke sekolah. Sikap tegas Julio banyak dipuji oleh guru yang sudah kewalahan mengurus siswa yang sering melanggar aturan sekolah. Namun keberadan Julio banyak dibenci oleh siswa laki-laki yang merasa kebebasannya berkurang.


Sejak kejadian itu, Reza menjadi lebih pendiam. Meski sudah jarang membolos, pria bermata hitam itu tampak jarang terlihat saat istirahat tiba.


“Kenapa lu keliatan nggak semangat gitu, Lil?” tanya Fani penasaran.


“Entah, lagi pms mungkin,” jawab Lilia asal.


Perempuan bermata coklat itu tampak tak fokus dan malas berbicara. Fani yang tak pernah melihat Lilia seperti itu pun hanya bisa menyimpan rasa penasarannya.


“Ku denger OSIS makin sibuk ya?” tanya Halina mengalihkan pembicaraan.


“Yah gitulah gara-gara tawuran waktu itu jadi melebar kemana-mana, tapi bagus sih tindakan preventif dari pak Julio,” ucap Fani dengan ekspresi cemberut.


“Lilia katanya jadi anggota komite kedisiplinan juga ya? Ngapain aja?” tanya Halina penasaran.


“Iya, dapet tugas tambahan periksa daftar absen atau gantian ikut pak Julio keliling ke tempat-tempat orang biasa bolos,” ucap Lilia menjelaskan.


“Wah berarti nggak ikut kelas?”


“Iya, tapi gantian jadi ya nggak terlalu sering juga. Ada jadwalnya dan pak Julio biasanya bakal mintain dispensasi ke wali kelas.”


“Sibuk banget OSIS.”


“Lumayan kan tapi jadi dapat nilai plus karena aktif organisasi.” Fani menanggapi sambil meminum es jeruk yang dipesannya.


Obrolan itu berlanjut hingga bel tanda masuk berbunyi.


... ◇◇◇...


Usai diumumkannya peraturan baru kepada semua wali murid, Julio dan komite kedisiplinan mulai menjalankan tugasnya.


Tugas Lilia semakin bertambah karena masih tetap harus menyiapkan pelatihan untuk siswa kelas 1 yang akan mengikuti lomba cerdas cermat.


Saat istirahat, anggota komite kedisiplinan secara bergantian akan berkeliling untuk mengumpulkan daftar nama siswa yang tidak masuk.


Setiap dua hari sepulang sekolah, Lilia akan memberi les tambahan untuk siswa yang akan mengikuti lomba cerdas cermat.


Reza tak lagi muncul seperti waktu itu untuk mengantarnya pulang. Fani juga masih sibuk menyiapkan pekan olahraga. Sehingga Lilia kadang pulang diantar oleh Julio.


Lilia tetap melaksanakan tugasnya dan tersenyum ramah di depan banyak orang. Hanya saja perempuan bermata coklat itu seperti sedang merasa lelah.


“Hubungan mu dengan Reza memburuk?” tanya Julio tiba-tiba.


“Sejak awal memang tidak sedekat itu kok, pak.”


“Coba saja kamu sapa dia dulu, mungkin dia merasa malu bicara dengan mu.”


“Saya juga tidak tau harus berbicara apa. Haruskah saya melarangnya berkelahi yang sudah menjadi rutinitasnya? Saya tidak ada di posisi untuk melakukan itu.”


“Ada, kamu temannya kan?”


Lilia diam, perjalanan sore itu mengingatkannya kepada sosok orang yang disukainya itu.


“Mungkin itu cara melepas rasa stressnya… ,” jawab Lilia lirih.


Julio diam, ia tersenyum di balik helmnya.


“Oh iya, besok jadwal mu bantu saya. Saya akan adakan razia mendadak saat untuk kelas XI D di pagi hari. Saya sudah memintakan izin kepada wali kelas mu.”


“Yah pak, ketinggalan pelajaran dong saya,” gerutu Lilia.


Julio tertawa. “Kamu tau alasan saya memilih anggota komite kedisiplinan dari masing-masing ketua divisi di OSIS?”


“Karena ya itu tugasnya OSIS?”


“Bukan hanya itu, saya melihat nilai akademik semua anggota OSIS dan setiap ketua divisi memiliki nilai diatas rata-rata. Karena itu menurut saya tidak apa-apa kalau kalian ketinggalan pelajaran karena pasti bisa mengejar lagi,” ucap Julio menjelaskan.


“Tahu begitu saya tidak daftar OSIS.”


Julo hanya tertawa mendengar jawaban Lilia. Guru dan murid itu pun mengobrol sepanjang perjalanan hingga sampai di gapura desa Lilia tinggal.


Semakin lama Lilia merasa semakin nyaman berbicara dengan Julio. Perempuan bermata coklat itu merasa mungkin akan menyenangkan jika ia memiliki seorang kakak seperti Julio.


 


...◇◇◇...


Hari yang tenang pagi itu tiba-tiba berubah karena di jam pelajaran budi pekerti yang diajarkan oleh Julio tampak berbeda.


Julio memasuki kelas bersama Lilia yang membawa kotak berwarna coklat yang terbuat dari kardus.


Beberapa siswa tampak senang namun ada juga yang tampak mengkhawatirkan sesuatu.


“Selamat pagi semua,” sapa Julio sambil tersenyum ramah.


“Pagi pak,” jawab siswa kelas XI D kompak.


Fahmi yang otomatis mengetahui akan ada razia hanya bisa tersenyum melihat teman-temannya yang tampak bingung.


"Silahkan semua siswa maju ke depan,” ucap Julio sambil tetap tersenyum.


Semua siswa menurut meski dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


“Tetap di posisi kalian ya, kebetulan disini ada anggota OSIS lain. Fahmi tolong awasi teman sekelas mu ya. Saya dan Lilia akan mengadakan razia dadakan,” ucap Julio menjelaskan.


Sebagian siswa laki-laki tampak ingin kembali ke kursinya, namun Fahmi menghalau mereka.


Rion menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Waduh.”


Lilia memeriksa satu per satu isi tas setiap siswa di kelas itu. Benda-benda yang tidak berkaitan dengan keperluan sekolah diambil lalu diberi label dengan nama pemiliknya. Setelah itu benda tersebut diletakkan di kotak coklat itu.


Sesekali Lilia tampak terkejut namun ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Setelah semua selesai diperiksa, Julio meminta siswa kembali ke tempat duduknya.


Ekspresi Julio berubah begitu memeriksa isi kotak tersebut. Sedangkan Lilia hanya diam melihat ke arah kelas dengan tatapan canggung.


“Seperti dugaan saya… Untuk nama yang disebutkan Lilia, silahkan menghadap saya saat istirahat nanti.


Julio memberikan daftar nama yang baru saja selesai ditulisnya itu. Lilia pun mulai menyebutkan nama siswa yang tertulis di kelas itu.


“Rion, Zora, Reno, Farhan, Sella… .”


Kelima orang yang disebut namanya itu hanya diam dengan ekspresi cemas.


Setelah melakukan razia dadakan, Julio meminta Lilia untuk menyimpankan hasil sitaan dari siswa itu ke loker miliknya.


Selain itu Julio juga memperbolehkan Lilia kembali ke kelas jika sudah menyelesaikan tugasnya.


Laki-laki bermata coklat terang itu melanjutkan mengajar, sedangkan kelima siswa yang disebutkan namanya itu tampak tidak tenang.


 


...◇◇◇...


Setelah kembali ke kelas, Lilia tampak tidak fokus mengikuti pelajaran yang ada. Setelah membantu Julio mengadakan razia dadakan, Lilia menjadi semakin memikirkan banyak hal.


“Lilia kalau kamu sedang kurang sehat, kamu bisa ke UKS saja,” ucap pak Karni yang melihat Lilia yang tampak tak bersemangat.


“Ah iya, maafkan saya. Kalau begitu saya izin ke UKS dulu pak.”


Pak Karni menggangguk dan Lilia langsung meninggalkan kelas itu dengan ekspresi datar.


Halina yang melihat Lilia tak seperti biasanya menjadi penasaran, begitupun dengan Reza.


Setelah pelajaran selesai, Halina pun langsung ke kelas Fani untuk mengajaknya menemui Lilia di UKS, hanya saja Fani lagi-lagi sudah lebih dulu pergi ke ruang OSIS.


“Halin bentar.”


Halina menoleh dan mendapati Reza sedang berdiri dengan ekspresi canggung.


“Nitip ini kasihin Lilia,” ucap Reza sambil menyodorkan kantong kecil berisi vitamin dan roti.


“Nggak mau, kasih sendiri aja,” jawab Halina tegas lalu segera pergi.


Reza menghela nafas panjang lalu kembali ke kelas dan meletakan kantong kecil itu di laci meja Lilia.


Reza pun keluar dari ruang kelas itu. “Apaan?”


“Tadi pagi kelasnya Rion razia dadakan c*k,” ucap Gio dengan ekspresi cemas.


“Razia dadakan? Serius lu?”


“Beneran, gue denger dari anak kelas D, lima anak kena.”


Reza tampak ikut panik. “Rion bawa 'itu' hari ini?”


“Nggak tau gue, duh ck kenapa sih tuh guru baru makin sesukanya aja.”


Reza menghela nafas panjang lalu duduk di bangku koridor kelas.


“Btw lu deket sama Lilia kan?”


“Kenapa emang?”


“Nah, Lilia kan anggota OSIS dan kadang dia tugas tuh dampingin pak Julio razia, lu bilang ke dia gih kalau pas razia jangan ambil barang tertentu dari anak-anak lainnya.”


Reza memandang Gio dengan ekspresi tidak senang. “Ya nggak bisa lah, lu kira dia sama kayak anak-anak cewek yang lu kenal?”


Gio tampak berpikir. “Ya tapi masa temen sendiri minta tolong nggak dibantuin?”


“Lu minta bantunya apa dulu? Dia itu anak kesayangan guru karena prestasi akademiknya, lu kira dia tau hal-hal macam itu?”


Gio diam menggaruk kepalanya yang gatal. “Terus gimana c*k kalau ada razia terus, gue juga nggak mau dikeluarin dari sekolah.”


“Nanti gue tanya anak osis lainnya kapan ada razia lagi.”


“Lilia?”


“Bukan,” jawab Reza singkat.


“Sementara jangan bawa barang ke sekolah, r*mi juga jangan. Cari aman dulu,” ucap Reza setengah berbisik.


Gio mengangguk mengerti lalu segera pergi menemui temannya yang lain.


Reza tampak sedang berpikir keras. Ia tampak tidak tenang dengan keadaan yang tak pernah ia pikirkan akan terjadi.


 


...◇◇◇...


Di ruang guru saat istirahat…

__ADS_1


Rion, Zora, Reno, Farhan, dan Sella berdiri dengan ekspresi cemas. Julio menghampiri wali kelas XI D lalu membicarakan sesuatu. Pak Karni tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Julio.


“Bu Endah, saya pinjam ruang BK dulu ya,” ucap pak Julio sambil tersenyum ramah.


“Pakai aja pak,” jawab bu Endah cepat sambil melirik ke arah 5 siswa yang sedang berdiri di dekat meja Julio.


“Ada apa pak?” tanya bu Endah pelan.


“Razia dadakan tadi, ada beberapa siswa yang membawa sesuatu yang dilarang,” jawab Julio pelan.


Bu Endah mengangguk mengerti. “Pak nanti setelah selesai, minta Sella untuk tetap disana ya, ada yang ingin saya bicarakan.


“Baik.”


Julio pun menuju loker tempat barang razia disita lalu mendekat kearah 5 siswa tersebut.


“Kita pindah ke ruang BK ya,” ucap Julio singkat.


“Baik pak,” jawab tiga orang siswa sedangkan dua siswa lainnya tampak mengikuti dengan ekspresi malas.


Sesampainya di ruang BK, Julio dan pak Karni duduk kemudian mengeluarkan barang hasil razia itu ke atas meja.


Suasana hening di ruangan itu membuat beberapa siswa lain tampak gugup.


“Kamu merokok Sella?” tanya Julio.


Perempuan itu menunduk tanpa menjawab. Tangannya meremas ujung dasinya. Wajahnya tampak pucat


Julio menghela nafas lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Zora.


“Kamu juga merokok Zora?”


“Nggak pak, itu punya temen,” jawab Zora berkelit.


“Siapa?”


“Temen dari sekolah lain pak.”


“Sebutkan nama dan asal sekolahnya.”


Zora yang semula tampak tenang menjadi bingung. Ia berusaha memutar otaknya agar bisa lepas dari situasi itu.


“Yah pak, nanti saya dimarahin dong.”


Pak Karni menghela nafas panjang. “Zora, kalau kamu tidak jujur kali ini, jika nantinya ditemui masalah serupa, hukuman mu bisa lebih berat.”


“Yah kan emang bukan punya saya pak, temen saya cuma nitip,” ucap Zora meyakinkan.


Julio tampak tak mau berdebat panjang dan tak mengatakan apapun lagi.


“Ini minuman apa yang di plastik, Reno?”


“Ummm, anu pak, obat panas dalam,” jawab Reno berkelit.


Julio membuka tali yang mengikat plastik itu. Tercium aroma khas yang ia kenali. Cairan bening agak kuning itu dituang ke dalam gelas.


“Obat panas dalam?” tanya Julio mengulangi.


Reno hanya menyengir lalu memandang ke arah Rion dan Farhan yang membuang muka karena tak ingin terlibat. Pak Karni tampak geleng-geleng dengan kelakuan muridnya.


Julio mengalihkan pandangannya ke arah Farhan dengan ekspresi kesal.


“Sepertinya saya harus adakan pelajaran khusus tentang bahaya hubungan bebas sebelum menikah,” ucap Julio sambil mengamati dua benda kemasan plastik itu.


Farhan diam dengan ekspresi malu. Sedangkan Julio memijat keningnya, ia tampak cukup pusing meghadapi siswa-siswa tersebut.


“Rion, obat apa yang kamu bawa ini?”


“Obat depresi pak.” Jawab Rion cepat dengan ekspresi datar.


Julio menatap tajam ke arah Rion. “Tanpa merk? hanya botol putih kecil begini?”


Rion membalas tatapan tajam Julio dengan tersenyum. “Ya biar gampang gitu pak bawanya.”


“Beri nomor telfon rumah sakit yang menyarankan kamu resep ini.”


“Yah nggak tau saya pak, tanya ayah saya aja lah,” ucap Rion dengan ekspresi tenang.


Julio diam sejenak, ia tahu bahwa Rion adalah salah satu siswa dengan latar belakang keluarga yang cukup disegani.


“Saya sudah merekam pernyataan kalian. Untuk semua barang ini akan saya sita,” ucap Julio sambil tersenyum.


“Loh pak, itu barang titipan, nanti saya dimarahin temen saya dong.”


“Saya nggak mau tau, kalian sudah melanggar peraturan sekolah. Silahkan kembali kecuali Sella.”


“Udah pak gini doang?” tanya Reno dengan ekspresi bingung.


“Iya, silahkan kembali,” jawab Julio sambil tersenyum.


Reno tampak lega, namun Zora tampak semakin cemas. Sedangkan Sella mematung di tempatnya dengan wajah yang semakin pucat.


Pak Karni memijat kepalanya yang terasa sakit. “Bagaimana ini pak?”


“Nanti kita bicarakan. Oh iya Sella, kamu saya minta tetap disini karena bu Endah yang meminta. Saya dan pak Karni pergi dulu,” ucap Julio sambil tersenyum.


Sella mengangguk mengerti lalu menunduk lagi dengan ekspresi cemas. Julio dan pak Karni pun meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


 


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2