
Seperti yang direncanakan sebelumnya, pagi-pagi sekali Gavin menjemput teman-temannya untuk berlibur bersama ke kota U.
“Gue baru pertama ini ke kota U,” ucap Mia dengan mata berbinar.
“Serius?” tanya Fahmi.
“Iyalah, 3 jam perjalanan kan jauh banget, nggak ada urusan disana juga, emang lu pernah kesana?”
“Belum juga sih, hehe,” jawab Fahmi sambil menyengir.
“Lilia pernah kesana?”
“Ehmm pernah sebelumnya waktu ikut Gavin pas lomba itu.”
“Wihh jadi nggak sabar, katanya pantainya bagus ya?”
“Iya bagus banget.”
Mia menjadi semakin bersemangat, ia mengobrol banyak dengan Lilia selama perjalanan agar tidak bosan.
“Lu udah punya SIM Gav?” tanya Fahmi penasaran.
“Udah baru aja beberapa hari lalu pas KTP gue jadi.”
“Wah udah punya KTP? Wah udah tua,” ucap Fahmi mengejek.
“Tuaan lu lah, gue lahir bulan Oktober, lu Januari, emang lu nggak bikin KTP?”
“Hehe ntaran lah sekalian kalau udah lulus.”
Lilia terdiam mendengar obrolan dua temannya itu, ia baru ingat bulan lalu Gavin berulang tahun. Ia jadi merasa tidak enak.
‘Ehmm apa nanti aku belikan hadiah aja ya?’ gumam Lilia dalam hati.
“Ke pantainya agak sorean aja ya biar bisa lihat sunset,” ucap Gavin sambil tersenyum.
“Boleh tuh, terus kita kemana dulu?”
“Ke Desa Ilmu, tempat jual buku bekas terbesar di kota U, ada buku baru juga sih.”
“Mau cari buku apa emangnya?” tanya Fahmi penasaran.
“Ada deh, kepo banget.”
“Yah lu bertiga suka buku, terus gue ngapain?” tanya Fahmi sambil menghela nafas.
“Ya nggak buku aja, ada cafe sama taman juga disana.”
“Yaudah nanti gue tunggu di cafe aja.”
“Nggak mau nemenin gue?” tanya Mia dengan ekspresi serius.
Gavin tertawa melihat Fahmi yang kelabakan. “Biarin aja Fahmi sendiri, kalau dia ikut kamu muter nanti dia malah nyasar.”
“Emang mau mencar?”
“Iyalah, kan gue perlu cari buku, biar cepet. Satu jam aja nanti disana terus makan siang di mall U.”
“Wah gila udah lu rencanain ternyata?” ucap Mia takjub.
__ADS_1
“Iyalah biar nggak bingung.”
Lilia tersenyum. Ia bisa melihat kesungguhan Gavin yang mengatur perjalanan mereka agar terasa nyaman. ‘Padahal kamu sebaik itu, kenapa dulu aku lebih duka Reza ya?’
“Nahh teman-teman, kita udah sampai,” ucap Gavin dengan nada bicara yang dibuat-buat seolah menjadi pemandu wisata.
“Wih, itu sampai ujung sana penjual buku?” tanya Fahmi heran.
“Iya, surga bagi pecinta buku. Nah cafenya itu, lu bisa kesana,” ucap Gavin kepada Fahmi. Fahmi mengacungkan jempol lalu berlalu pergi lebih dulu. Lilia hanya tertawa melihat Mia yang cemberut.
“Nah kita berpencar aja ya, inget satu jam aja, tapi kalau udah selesai langsung ke tempat Fahmi,” ucap Gavin menjelaskan.
“Oke,” jawab Lilia dan Mia kompak. Ketiga remaja itu segera melangkahkan kakinya ke arah toko-toko buku yang berjajar lalu berpisah di persimpangan.
Saat sedang fokus memilih buku, seseorang mengambil buku yang sama dengan yang ingin diambil Lilia. Kedua orang tersebut bertatapan. “Eh? Pak Jerry?”
Pria bernama Jerry itu tampak terkejut dengan perempuan yang ada di hadapannya itu. “Ah, kamu… Ehmm… Lina?”
“Lilia, pak.”
“Ah iya iya, Lilia… sedang apa kamu disini? Bukannya rumah mu jauh dari sini?”
“Ehmmm, saya sedang jalan-jalan bareng teman saya pak.”
“Oh begitu… .”
Pria itu tampak bingung dengan Lilia yang tampak tidak lagi waspada dengannya.
“Silahkan jika anda mau mengambil bukunya…”
“Oh tidak usah, kamu saja, saya hanya mencarikan buku yang berguna untuk keponakan saya tapi dia sendiri tidak terlalu suka belajar, lebih baik kamu yang ambil.”
“Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Jerry tiba-tiba.
“Eh? Anda sedang terburu-buru?”
“Tidak sih, tapi saya tidak ingin menganggu waktu jalan-jalan dik Lilia,” jawab Jerry sambil tersenyum.
Lilia tampak ragu. “Saya tidak merasa tertanggu kok, ehmm… apa anda ada waktu sebentar untuk mengobrol?”
Jerry terdiam sejenak. “Ya tentu aja, kalau begitu mari mengobrol sambil memilih buku lainnya.”
Gadis bermata coklat itu mengangguk. “Ehmm, ada yang ingin saya tanyakan.”
“Ya? Apakah ini tentang universitas U atau jurusannya?”
“Ehmm bukan, saya akan menanyakan tentang itu lain kali…, waktu itu anda memanggil saya dengan nama Nina kan? Apa orang tersebut sangat mirip dengan saya?”
Jerry terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Ia pikir gadis itu akan langsung melupakan kejadian waktu itu. ‘Kenapa dia menanyakan itu?’
“Hmmm, ya dia sangat mirip dengan mu, tapi sayang sekali saya tidak punya fotonya.”
Lilia mengernyitkan keningnya. ‘Berarti ada kemungkinan Nina yang diamksud pak Julio dan pak Jerry itu orang yang sama ya?’
“Kenapa kamu penasaran soal itu?” tanya Jerry sambil mengambil sebuah buku secara acak.
“Ada orang lain juga yang memanggil saya dengan nama tersebut saat pertama kali melihat saya.”
Jerry terdiam, ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya. ‘Siapa yang memanggilnya dengan nama itu juga? Apa Halina?’
__ADS_1
“Hmm, mungkin saja orang tersebut juga mengenal orang yang sama dengan yang saya kenal,” jawab Jerry sekenanya.
“Nina itu orang yang seperti apa, pak?”
“Dia orang yang kasar, ceroboh dan suka bersikap seenaknya sendiri.”
“Sepertinya dia orang yang menarik… Sekarang dia ada dimana?”
Jerry terdiam sejenak, ia harus mengacaukan informasi untuk gadis di hadapannya itu. “Dia kabur dari rumah supaya bisa hidup bersama kekasihnya.”
“Eh?” Lilia terkejut mendengar jawaban tersebut.
“Hahaha, ya dia memang orang yang suka bersikap sesukanya.”
“Sepertinya anda sangat mengenalnya?”
“Dia salah satu keluarga saya, keponakan yang sangat saya sayangi.”
Lilia terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. ‘Tunggu… apa kekasih yang dimaksud itu pak Julio? Tapi pak Julio bukannya sudah bertunangan dan tunangannya meninggal? Dari cerita pak Jerry sepertinya Nina yang itu masih hidup?’
“Sudah tidak ada yang ingin kamu tanyakan kan? Saya harus segera kembali,” ucap Jerry sambil melihat jam di tangannya.
“Ah maafkan saya menahan anda terlalu lama, terimakasih sudah mau saya tanyai.”
“Hahaha santai saja… .”
Pandangan Jerry beralih ke penjual buku. “Pak, tolong bungkuskan ini, sekalian hitung juga buku yang dibeli gadis ini.”
“Eh pak tidak usah,” tolak Lilia.
“Hahaha, terima saja, gunakan uangnya untuk membeli barang lain.”
“Baik… terimakasih.”
“Sama-sama, saya pergi dulu ya.”
Lilia mengangguk, ia hanya menatap kepergian Jerry tanpa mengatakan apapun.
‘Eh? Lehernya ada tatonya? Memangnya boleh pegawai universitas memiliki tato?’ tanya Lilia dalam hati dengan ekspresi bingung saat melihat tato kecil di leher bagian belakang pria itu.
Gadis bermata coklat itu menggenggam erat bukunya. Ia menjadi semakin bingung dengan sosok Nina yang disebut Julio maupu Jerry.
“Dorr! Ngelamun lagi?” ucap Gavin mengagetkan Lilia.
“Ihh ngagetin aja,” gerutu Lilia.
“Kamu jangan ngelamun di sembarang tempat dong, kalau ada yang jambret gimana? Lagian mikirin apa sih serius gitu?”
“Udah lah yuk balik aku udah dapet bukunya nih,” ucap Lilia mengalihkan pembicaraan.
“Lilia, Gavin! Kalian udah selesai?” tanya Mia yang mendekat ke arah dua temannya itu.
“Udah,” jawab Lilia.
“Yaudah yuk balik, laper banget,” ucap Mia yang tampak kelelahan. Ketiga remaja itu melangkahkan kakinya meninggalkan pasar buku tersebut.
Hal-hal tidak terduga justru akan terjadi saat semuanya terasa baik-baik saja. Ini adalah hari tenang terakhir sekaligus awal dari semua kekacauan yang akan dialami Gavin.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1