
“Eh bentar ya semua, mau nelfon ayah dulu.”
“Okay Gav,” jawab Fahmi mengacungkan jempol. Keempat remaja tersebut sebenarnya sudah ada di mall itu sejak lama, namun antrian di salah satu restoran cepat saji itu sangat panjang karena banyak pengunjung berdatangan di akhir pekan.
Gavin melangkah mendekati kaca pembatas agak jauh dari restoran cepat saji tempat teman-temannya makan.
Tuutttt…
Klik..
“Gavin, kamu sudah sampai di kota U?”
“Iya Pa, sejak tadi sih, tapi ini baru mau makan siang.”
“Haduh kamu ini kan papa bilang begitu sampai sana langsung telfon papa.”
“Hehe maaf maaf.”
“Yasudah, pakai saja kartu papa untuk bermain dengan teman mu sepuasnya, jangan pulang terlalu larut.”
“Baik pa.”
Klikk…
“Nathannn, sini...!”
Gavin kaget mendengar suara yang tidak asing di telinganya namun ia tetap dalam posisi menghadap ke arah sebaliknya.
‘Itu suara Halina kan? Kenapa Halina ada disini?’ gumam Gavin dalam hati.
Seorang pria bermasker melirik sebentar ke arah Gavin. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah pacarnya. “Halina.”
‘Halina? Beneran?’
“Tumben kamu manggil aku begitu? Biasanya ‘Haleyy…’ kan?”
“Kata mu kamu nggak suka?”
“Yaudah yuk masuk ku kenalin ke temen-temen ku.”
Dua remaja itu masuk ke salah satu restoran daging di samping restoran cepat saji tempat Lilia dan teman-temannya makan.
Gavin dengan langkah ragu melangkah melintasi restoran daging itu untuk memastikan apakah suara perempuan yang didengarnya itu Halina yang ia kenal atau bukan.
Gavin menghentikan langkahnya di persimpangan yang mengarah ke toilet. Ia tampak terkejut. ‘Tampilan Halina beda sekali, tapi aku bisa ngenalin dia dari gelang yang biasa ia pakai… Tadi pacarnya? Kenapa dia tadi seolah sengaja memanggil nama Halina dengan suara yang keras? Kenapa Halina disini?’
Lamunannya buyar begitu ada panggilan masuk dari Lilia.
Klik..
“Gav kamu dimana? Ini makanannya udah datang.”
“Aku ke toilet bentar, sebentar lagi aku kesana.”
“Okay.”
Klik…
Gavin menghela nafas panjang, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan teman Lilia itu.
‘Apa Reza tau sesuatu?’ tanya Gavin dalam hati.
__ADS_1
Laki-laki bermata coklat keabuan itu membenarkan topi yang ia pakai lalu melangkah keluar dari toilet tersebut menuju tempat teman-temannya berada.
“Lu ke toilet nggak bilang-bilang Gav, tau gitu gue ikut,” ucap Fahmi menggerutu.
“Yaelah tinggal ke toilet sendiri.”
“Gue nggak tau toiletnya dimana… .”
“Yaudah nanti aja habis makan,” sahut Gavin dengan ekspresi datar.
Keempat remaja itu makan bersama sambil sesekali mengobrol. Namun Gavin lebih sering diam karena masih kepikiran dengan Halina yang dilihatnya tadi.
“Habis ini kita langsung ke pantai Gav?” tanya Lilia memastikan.
“Istirahat disini dulu sampai jam 3, agak sorean baru ke pantai biar nggak terlalu panas.”
“Asik bisa lihat-lihat dulu,” ucap Mia senang.
“Emang mau belanja? Disini barangnya mahal-mahal loh,” ucap Fahmi mengingatkan.
“Ih kan gue bilang lihat-lihat doang.”
Lilia tertawa melihat dua sejoli yang lebih sering terlihat berdebat itu.
“Boleh berpencar lagi nggak? Aku mau lihat-lihat alat tulis,” tanya Lilia kepada Gavin.
“Hmmm gimana kalau berdua aja? Biar Mia sama Fahmi, terus kamu sama aku?”
“Boleh sih.”
“Setuju,” jawab Fahmi bersemangat.
Lilia hanya tersenyum geli. Ia kagum dengan Gavin yang begitu peka memberikan waktu berdua untuk Mia dan Fahmi.
“Siap,” jawab Mia cepat.
Keempat remaja itu melangkah ke arah yang berbeda. Gavin menemani Lilia menuju ke bagian yang menjual alat-alat tulis. Ia bermaksud membelikan sesuatu yang berguna sebagai hadiah ulang tahun Gavin.
“Ehmm, Gavin kamu nggak mau keliling kemana gitu?”
“Nggak, kenapa emang?”
“Aku agak kurang nyaman kalau diikutin waktu milih mau beli sesuatu,” ucap Lilia ragu.
“Hmm aku nggak bakal ngikutin kamu kok, ada barang yang mau aku beli disana kebetulan deket sama bagian penjual alat tulis. Kalau udah selesai dan aku belum, kamu samperin aja ya?”
“Oke.”
Lilia segera masuk ke toko yang menjual alat tulis. Ia tampak serius memikirkan benda yang mungkin bisa berguna untuk Gavin.
‘Hmm? pensil ajaib?’ gumam Lilia dalam hati. Ia tertarik dengan sebuah pensil yang dipajang di etalase tersebut.
“Silahkan dipilih kak,” ucap karyawan toko itu.
“Ini pensil ajaib fungsinya apa ya kak?” tanya Lilia penasaran.
“Oh ini pensil tulisannya tidak terlihat kak.”
Lilia tampak bingung. “Terus dipakai untuk apa?”
“Wah kakak ini tidak tau ya pensil ini sedang populer saat ini? Tulisan yang ditulis menggunakan pensil ini memang tidak langsung bisa dibaca kak, tulisannya baru terlihat saat di dekatkan ke api.”
__ADS_1
“Wahh, lucu juga. Saya mau satu deh,” ucap Lilia dengan ekspresi senang. Ia juga membeli tempat pensil berwarna abu yang dengan desain sederhana.
‘Hmmm masa ini doang?’ gumam Lilia dalam hati.
Matanya melihat ke sekeliling lalu fokus pada sebuah tas yang mirip dengan tas yang dipakai oleh Gavin.
‘Wah tumben ada tas dengan desain karakter kayak gini,’ gumam Lilia dalam hati. Gadis bermata coklat itu langsung mengambil tas kecil berwarna hitam dengan desain karakter anime kesukaan Gavin.
Lilia segera membawa tas tersebut ke arah kasir. “Permisi, apa bisa tolong bungkuskan semua ini dengan kertas kado?”
“Oh bisa kak, tunggu ya.”
Lilia mengangguk, ia ingin berterimakasih kepada Gavin yang selalu mencoba menghiburnya saat sedih.
“Mau ditambahi tulisan kak?” tanya karyawan toko itu.
“Ehmm boleh deh, apa ada kertas untuk kartu ucapan?”
“Ini kak bisa dipilih,” ucap karyawan toko tersebut sambil menyodorkan berbagai kertas ucapan dan meminjamkan bolpoint. Lilia mengambil salah satu kartu ucapan berwarna biru pastel lalu mulai menulis ucapan untuk Gavin.
“Ini kak,” ucap Lilia sambil menyerahkan secarik kartu ucapan.
“Baik.” Karyawan toko tersebut lalu mulai merapikan bungkusan itu.
Lilia segera membayar semua barang yang dibelinya lalu memasukannya ke dalam tas agar tidak dilihat oleh Gavin. Barang kecil lain yang dibelinya dibiarkan ditenteng begitu saja dengan tangannya.
Gadis bermata coklat itu segera keluar dari toko alat tulis tersebut namun ia tidak sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh.
Lilia langsung buru-buru bangkit dan meminta maaf. “Maafkan saya karena kurang memperhatikan sekitar.”
Laki-laki bermata hazel itu melihat Lilia dengan ekspresi kaget. Lilia juga kaget dengan orang yang ada di hadapannya itu. Ia bisa mengingat laki-laki itu dengan jelas karena pria bermata hazel itu mengingatkannya pada Julio.
Pandangan mata Lilia beralih ke arah perempuan di samping pria bermata hazel itu. Ia mengenali perempuan tersebut. ‘Kak Elena?’
Ketiga orang itu diam dengan ekspresi kaget masing-masing. Lilia bingung harus bersikap kenal atau tidak dengan wanita yang pernah menolongnya itu.
“Ah kamu, Lilia ya? muridnya Julio?” ucap Elena memecah keheningan.
Lilia memaksa tersenyum. “Iya… selamat siang kak.”
“Kamu sedang apa disini?”
“Saya sedang berlibur bersama teman-teman saya.”
“Oh begitu.”
“Ehmm… saya dengar pak Julio kecelakaan, apa keadaan beliau sudah membaik?”
Elena diam sejenak lalu menghela nafas dengan ekspresi cemas. “Udah lewat masa kritis tapi mungkin masih dalam tahap pemulihan.”
“Oh begitu… .”
“Lilia!”
Lilia menoleh ke arah Gavin yang memanggilnya lalu berpamitan kepada Elena. “Saya permisi dulu.”
“Oh iya, silakan….”
Lilia segera melangkah menuju Gavin dengan ekspresi bingung.
‘Dulu aku juga pernah bertemu dengan mereka saat pesta pernikahan tante ku… Pria itu yang dipanggil Jun kan? Apa dia bersaudara dengan Julio?’
__ADS_1
...◆◇◆◇◆...