
Suasana upacara pagi di akhir bulan Juli itu tampak berbeda dari biasanya. Ada sosok yang baru dilihat siswa sekolah hari itu.
Semua siswa tampak ramai berbisik menebak sosok yang ikut berbaris rapi dengan para guru lainnya.
“Itu guru baru?” tanya Fani penasaran.
“Mungkin,” jawab Lilia malas.
“Wah kalau kayak gini mah gue semangat lah berangkat sekolah.”
Lilia hanya melihat sekilas sosok pria yang sedang ramai dibicarakan saat upacara bendera itu. Pria bermata coklat terang yang berdiri di barisan guru itu tampak sedang tersenyum ramah kepada semua siswa.
“Anak-anak mohon jaga ketertiban dan mengikuti upacara dengan tenang supaya cepat selesai,” ucap pembina upacara tiba-tiba.
Suasana pun seketika langsung hening. Beberapa guru hanya geleng-geleng kepala melihat banyak siswa yang tentu saja membicarakan sosok guru baru itu.
Usai upacara bendera selesai. Kepala Sekolah pun langsung memperkenalkan sosok guru tersebut dan meminta laki-laki dengan baju batik hitam itu untuk memberi sambutan.
“Selamat pagi,” ucap laki-laki bermata coklat terang itu.
“Pagiiii pak!!” jawab siswa kompak yang didominasi siswa perempuan.
Laki-laki itu tersenyum dan justru membuat suasana lapangan itu semakin ramai. Setelah diberi kode oleh Kepala Sekolah, siswa pun diam kembali.
“Perkenalkan, saya Arjuna Juliano, panggil saja pak Julio. Saya akan ditugaskan sebagai guru BK pendamping untuk membantu Bu Endah,” ucap guru tersebut.
“Sekian perkenalan dari saya. Saya harap dapat berkontribusi dengan baik di sekolah ini,” ucap Julio menambahkan.
Laki-laki tersebut langsung turun dari podium begitu selesai memberikan sambutan singkat.
Banyak siswa perempuan yang langsung jatuh hati melihat guru baru tersebut.
Usai upacara dibubarkan banyak siswa yang mondar-mandir di depan ruang guru untuk sekedar melihat guru baru itu.
“Hali, Lili, kalian nggak ada keperluan ke ruang guru gitu? Ajak gue dong,” ucap Fani bersemangat.
Lilia dan Halina tertawa melihat Fani yang begitu bersemangat. Keduanya tahu maksud Fani yang sebenarnya.
“Aku bukan pengurus kelas jadi jarang ada keperluan ke ruang guru,” jawab Lilia singkat.
“Sama,” ucap Halina ikut menanggapi.
“Yahh… eh tapi kalian setuju banget kan pak Julio itu gantengnya diatas rata-rata,” ucap Fani dengan suara riang.
“Iya ya, mukanya kayak blasteran orang Korea nggak sih?” ucap Halina menanggapi.
“Iya juga ya,” ucap Lilia setuju dengan apa yang dikatakan Halina.
Fani tampak masih berpikir. “Tapi namanya tuh nggak ada Korea Koreanya gitu deh, tapi wajahnya emang khas tampang orang Korea.”
“Hmm, mungkin karena ibunya ngefans boyband pas lagi hamil? Tapi tetep dinamain Arjuna kan karena ganteng wkwk” jawab Lilia sekenanya.
Ketiganya tertawa dengan obrolan tak jelas itu dan larut dalam tebakan panjang yang semakin melebar.
“Permisi, kak Lilia? Tadi aku disuruh sampein pesan kak Lilia dipanggil pembina OSIS,” ucap salah satu adik kelas perempuan.
Seperti biasa, saat sedang asyik mengobrol, selalu saja ada yang datang mengganggu.
“Loh yang dipanggil Lilia doang?” tanya Fani protes karena merasa dirinya juga anggota OSIS.
“Iya kak, Pak Darma hanya bilang kak Lilia saja, sepertinya untuk divisi 4,” jawab perempuan berkacamata bulat itu.
“Oh…” Fani mengangguk mengerti dan tak protes lagi.
“Eh Lilia, tolong lihatin pak Julio dong trus ceritain kalau udah balik ke kelas,” ucap Halina lalu tertawa.
Lilia hanya geleng-geleng melihat kedua temannya yang begitu bersemangat karena ada guru baru. Ia pun bangkit dan menuju ruang guru.
...◇◇◇...
Bel masuk berbunyi ketika Lilia menginjakkan kakinya di ruang guru.
Di sekitar tempat duduk pak Darma telah hadir anggota divisi yang sama dengan Lilia.
“Bu Nur, Bu Sri, Pak Damar, ini siswa-siswa saya pinjam dulu ya buat pengarahan,” ucap pak Darma ke arah guru-guru yang bersiap mengajar.
Ketiga guru itu memberikan jempolnya tanpa berkomentar apapun.
Lilia dan teman sedivisinya mendapatkan arahan dari pak Darma tentang kegiatan sekolah dan pembagian tanggungjawab secara khusus.
Benar seperti yang diucapkan Fani, Lilia mendapat bagian mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan prestasi akademik.
Tentu saja itu dipertimbangkan dari nilai akademik Lilia yang merupakan nilai terbaik di angkatannya.
Setelah mendapat arahan panjang lebar dari pak Darma, Lilia pun bermaksud kembali ke kelas. Namun ia tak sengaja menabrak guru baru itu.
__ADS_1
“Eh? Maaf pak, saya agak kurang fokus jalannya,” ucap Lilia buru-buru meminta maaf.
“Nina?”
Lilia menjadi bingung karena mendengar nama asing yang disebut guru itu.
“Maaf?” ucap Lilia lagi.
Julio tampak segera menyadari kekeliruannya. “Oh maaf maaf, saya juga tidak hati-hati.”
Guru itupun langsung kembali menuju tempat duduknya. Lilia yang sempat bingung akhirnya melanjutkan langkah kakinya.
Perempuan itu tak ingin memikirkan kejadian itu, namun aroma parfum dan ekspresi guru baru itu entah kenapa melekat di kepalanya.
Nina?
Lilia teringat jelas ekspresi kaget guru baru itu. Ekspresi seperti melihat sesuatu yang sudah lama tidak dilihat. Ia mencoba mengingat dan memang ia sama sekali tak kenal dengan guru baru itu sebelumnya.
Lilia pun ke toilet terlebih dahulu sebelum kembali ke kelas untuk mengalihkan pikirannya.
...◇◇◇...
Julio memeriksa daftar siswa di sekolah itu. Laki-laki bermata coklat terang itu memperhatikan layar laptopnya dengan serius.
Lilia ya namanya?
Julio beralih melihat jadwal kelas pendampingan budi pekerti yang sudah diberikan oleh penanggungjawab kurikulum.
Sebentar lagi pergantian jam pelajaran dan kali ini Julio lah yang harus mengajar di kelas Lilia itu.
Wah kebetulan macam apa ini? ucap Julio dalam hati.
Julio menghela nafas panjang. Pikirannya jadi bercampur aduk.
“Gugup pertama mengajar pak Julio?”
Suara berat pria paruh baya itu membuyarkan lamunan Julio. Laki-laki itupun langsung mengendalikan ekspresinya.
“Iya pak, apa anda bisa berbagi tips untuk saya?” ucap Julio sambil tersenyum ramah.
Pria yang rambutnya hampir memutih semua itu tertawa.
“Ya enjoy aja pak. Saya yakin pak Julio bisa lah ngasih wejangan (nasehat) yang baik untuk anak-anak. Bapak kan masih muda, justru lebih tau pola didik yang bagus untuk anak muda juga hahaha.”
“Pak Damar, kelas fisika bapak jam ke berapa?” teriak salah satu guru perempuan di ruangan itu.
Orang yang dipanggil pak Damar itu pun menyemangati Julio lalu berlalu pergi menuju ke arah guru perempuan yang bertanya tadi.
Julio menghela nafas lagi lalu bersiap menuju kelas XI A untuk mengajar pelajaran budi pekerti dan norma sosial.
Kedatangan Julio di kelas Lilia disambut cukup heboh oleh siswa perempuan.
Julio menjelaskan materi pelajaran hari itu dengan baik. Sesekali pandangan matanya melihat ke arah Lilia.
Hampir tak ada siswa yang menyadari itu karena Julio melakukannya dengan hati-hati sambil memperhatikan siswa lainnya.
Namun ada satu siswa di ruangan itu yang menangkap perubahan ekspresi Julio.
Reza tampak tak senang dengan kehadiran guru misterius di sekolahnya itu.
Bagaimana tidak? Reza tau bahwa guru itu mengenal kakeknya dan lagi apa yang dilakukan seorang laki-laki lulusan universitas ternama di sekolah yang tak besar itu?
Seperti Reza yang merasakan hal aneh dari guru baru itu. Julio pun langsung mengenali cucu dari salah satu orang terpandang di daerah itu.
Julio hanya menanggapi tatapan tajam Reza dengan senyum ramah yang terlihat sangat adem untuk dilihat siswa perempuan.
Reza membuang muka dan menghela nafas. Entah kenapa keberadaan guru itu terasa mengganggu.
Reza penasaran tentang makna ekspresi guru itu saat melihat ke arah barisan tempat duduknya.
Tatapan mata guru itu bukan seperti tatapan mata biasa dari seorang guru ke muridnya. Namun Reza tak mungkin menegur guru itu hanya berdasarkan prasangkanya saja.
... ◇◇◇...
Reza masih terus kepikiran tentang sosok guru baru itu. Ia merasakan firasat aneh hanya dengan melihat wajah guru yang diidolakan banyak siswa perempuan di sekolahnya.
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, ia pun langsung menuju rumah kakeknya untuk bertanya tentang guru tersebut.
“Tumben kamu datang kesini di hari biasa? Biasanya kamu hanya datang kalau kakek memanggil atau di akhir pekan,” ucap nenek Reza sambil tersenyum.
“Reza pengen nanya sesuatu ke kakek, nek.”
Nenek berambut putih itu mengernyitkan keningnya. “Hmm, kamu ini lupa? Tentu saja kakek mu di hari biasa sedang ada di tempat kerja.”
“Nggak lupa kok, Reza sekalian aja mampir kan kakek kalau hari kamis pulangnya lebih cepat.”
Nenek tua itu hanya tersenyum simpul mengetahui Reza menghafal kebiasaan kakeknya. Ia pun mengajak Reza makan bersama.
__ADS_1
Usai makan Reza langsung menuju ruang keluarga dan menghabiskan waktunya dengan bermain game.
“Kamu nggak mau tinggal disini aja, za?” tanya nenek Reza itu.
“Reza mau jagain ibu, nek.”
Iansa tak bertanya lebih lanjut dan membiarkan cucunya fokus bermain game.
Setelah dua jam waktu berlalu, kakek Reza datang.
“Iansa, apa ada masalah pada kesepakatan dengan Xezian kemarin?”
Perempuan tua yang dipanggil Iansa itu mendekat ke arah pria tua itu lalu berbisik, “Ada Reza datang, kita bicarakan itu nanti.”
Reza yang mendengar itu pura-pura tak mendengar dan tetap fokus dengan gamenya.
Sang kakek pun langsung mendekat ke arah Reza. “Tumben Reza kesini?”
“Oh iya kek, ada yang mau Reza tanyain, tapi nanti aja. Kakek istirahat dulu aja atau ganti baju dulu.”
“Hahaha, bilang aja kamu masih mau main game,” jawab kakek sambil tertawa.
“Hehe tau aja.” Reza pun mengaku dan tetap melanjutkan bermain game.
Sang kakek pun pergi dari ruang keluarga itu dan mengganti pakaiannya. Pria tua itu penasaran dengan apa yang membuat Reza mau datang di hari biasa padahal biasanya sangat sulit jika diminta datang.
Sang kakek pun kembali ke tempat Reza berada.
“Udahan main gamenya?”
“Udah.”
“Mau nanya apa kamu kayaknya serius banget.”
“Di sekolah ku ada guru baru, mulai masuk senin lalu, namanya Arjuna Julio, kakek kenal?”
Kakek tua itu mengernyitkan keningnya, tentu saja ia mengenal nama itu dan tau jika orang tersebut memang menjadi guru.
“Ya, dia salah satu kenalan kakek.”
“Dia orang yang seperti apa? Reza pernah lihat waktu ikut kakek ke Semarang.”
“Kakek cukup kenal, dia dulu jadi salah satu konsultan bisnis di perusahaan mitra kakek.”
“Perusahaan apa?”
Sang kakek menangkap gelagat aneh dari pertanyaan cucunya yang seolah seperti sedang mencari tau latar belakang pria itu.
Kakek yang sudah lama berada di dunia bisnis mulai memahami arah pembicaraan dari cucunya. Pria tua itu entah kenapa begitu merasa bangga atas sikap waspada dan curiga cucunya.
“Ya namanya konsultan bisnis ya macam-macam, memangnya kenapa? Sepertinya kamu tertarik dengan guru itu? Mau nanya langsung?”
Reza merasa kecewa karena tak menemukan apapun dari jawaban kakeknya.
“Nggak ada apa-apa, aku cuma penasaran aja. Katanya dia lulusan terbaik sarjana psikologi tapi kenapa ngajar di tempat kecil?”
Sang kakek tertawa. “Ya mungkin ada rasa pengabdian? Selama kakek kenal, dia orang yang baik.”
Reza diam sejenak, ia tak tau harus bertanya apa lagi jika kakeknya sudah menyebut orang itu sebagai orang yang baik.
“Sebelum diterima jadi guru, dia juga sudah berbicara dengan kakek dan kakek tentu merasa tenang karena dia bisa sekaligus mengawasi kamu,” ucap kakek menambahkan.
“Kakek yang suruh dia jadi guru disini?”
“Hahaha, tentu saja bukan gitu Reza.”
“Lalu kenapa sekolah ini? Dia kan bukan dari daerah ini.”
Sang kakek akhirnya menyerah dengan keras kepalanya Reza dan selalu mengejar dengan pertanyaan yang memojokkan.
“Kakek dengar, orang tua kandungnya tinggal di daerah ini dan ingin mencarinya. Ini rahasia, kamu jangan beritahu siapapun. Kalau kamu nanya lagi kronologi kehidupannya, kakek nggak tau.”
Reza cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan kakeknya, namun ia terlihat lebih lega karena mengetahui hal tersebut.
“Makasih kek.”
“Hahaha kamu ini, udah puas atau mau masih nanya lagi?”
“Nggak,” jawab Reza singkat.
Kakek dan cucunya itu pun lanjut mengobrol tentang hal lain. Tak lama kemudian sang nenek membawa camilan untuk Reza.
Tentu saja apa yang dikatakan kakek tersebut bukan kebohongan. Arjuna Julio memang sedang mencari identitas ayah kandungnya yang tidak pernah diketahuinya sejak lahir.
Hanya saja hal tersebut bukanlah menjadi tujuan satu-satunya yang membuat Arjuna Julio mau mengajar di sekolah negeri dengan gaji yang kecil itu.
Ada hal-hal penting lainnya yang tentu saja tidak akan bisa disampaikan sang kakek ke cucunya.
...◆◇◆◇◆...
__ADS_1