Blue Scandal

Blue Scandal
33 - Hazel


__ADS_3

Jun masuk ke lobby hotel itu dengan ekspresi serius begitupun dengan Elena. Keduanya menuju resto hotel untuk makan siang.


Hotel tersebut adalah tempat Elena menginap di kota Surabaya saat sedang menjalankan tugas. Daripada disebut menginap sebenarnya lebih cocok disebut sebagai tempat tinggal khusus.


Hotel tersebut merupakan salah satu bisnis milik saudaranya 'ayah' nya Jun. Semua anggota yang bertugas tentu saja mendapat akses khusus sebagai tamu VIP dan bebas untuk tinggal dalam waktu lama.


Elena meminta Jun datang kesana untuk memberikan informasi sekaligus makan siang bersama.


“Itu tadi siswa lu yang mirip Nina?” tanya Elena tiba-tiba.


Jun menghela nafas panjang, “Iya…”


“Lu bilang dia cuma di rumah sama sekolah? Kok bisa disini, kalau ‘mereka’ ketemu tu bocah gimana coba?”


Jun lagi-lagi diam. Penampilan Lilia yang menggunakan gaun putih itu benar-benar serupa seperti Nina.


“Junn.. ,” panggil Elena lagi.


“Sorry… .”


“Hey, fokus dong. Gue tau lu jadi keinget Nina, tapi lu tetep harus mikirin tugas lu kan… ,” ucap Elena dengan ekspresi kesal.


 


Tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan makanan yang dipesan.


“Lu udah lapor ke Adhi soal ‘kurir’nya?” tanya Elena mengalihkan pembicaraan.


“Udah, pak tua itu kayaknya udah nggak bisa tegas soal usahanya,” jawab Jun dengan ekspresi datar.


“Dia masih belum nentuin penerus ya?”


“Belum.”


“Kalau dia meninggal tiba-tiba?”


Jun melihat ke arah Elena dengan ekspresi kesal. Ia sudah terlalu banyak berpikir hari ini dan tak ingin berpikir hal lain lagi.


“Kan 'kalau', bukannya kita harus selalu siap kalau ada kemungkinan terburuk?”


Jun membenarkan ucapan Elena. Segala kemungkinan memang harus dipikirkan agar tidak ada masalah besar nantinya.


“Lu jadi tes DNA?” tanya Elena membicarakan topik lainnya.


“Apa aja yang dibutuhin?”


“Masih punya ikat rambutnya Nina nggak? Kalau ada rambut yang ketinggalan bisa tuh.”


Jun tampak berpikir. “Ada kayaknya di Semarang.”


“Hmmm terus caranya dapetin rambut siswa lu itu gimana?” tanya Elena sambil berpikir.


Jun meletakkan sendok dan garpunya. “Nanti diatur lah…, gue ke toilet dulu.”


Jun bangkit dan langsung meninggalkan Elena yang masih melanjutkan makan.


Jun menyuci tangannya yang tak kotor, hari ini entah kenapa kepalanya terasa sakit. Setelah membiarkan tangannya berada di bawah aliran air selama beberapa wkatu, Jun mematikan keran wastafel itu.


Laki-laki berjas hitam itu melihat pantulannya di cermin. Ekspresi dinginnya itu entah kenapa sekarang tampak dipenuhi oleh kecemasan.


Jun menghela nafas panjang lalu keluar dari toilet itu. Tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit. Ia kehilangan keseimbangannya.


Brukk…


‘eh?’


“Aww…”


Pandangan mata Jun tampak kabur, namun ia mengenali aroma parfum itu.


“Pak? Anda baik-baik saja? Wajah anda pucat,” ucap Lilia dengan ekspresi cemas.


Lilia masih mencoba mempertahankan posisinya agar ia tak jatuh ke belakang.


“Maaf… ,” ucap Jun dengan suara yang dibuat-buat agar Lilia tak mengenali suaranya. Nafasnya terasa berat, pandangan matanya kabur, ia gemetar.


Lilia yang dalam posisi setengah memeluk laki-laki yang tak dikenalnya itu menjadi panik karena orang itu tampak kesakitan.


Lilia melihat ke sekeliling, kebetulan ada satu petugas hotel yang lewat. “Mas, mas… tolong.”


Petugas yang dipanggil itu menoleh. “Saya mbak?”


“Iyalah, mas ini tolongin ada orang mau pingsan.”


Petugas hotel itu mendekat, ia tampak terkejut begitu melihat Jun yang adalah tamu VIP hotel itu tampak sedang kesakitan.


“Aduh gimana ya mbak? Saya panggil nona Elena dulu, jagain dulu ya mbak.” Petugas itu langsung pergi. Lilia tampak kesal namun ia hanya menghela nafas panjang.


“Jangan pergi na… ,” ucap Jun lirih. Tangannya yang tadi tampak lemas mulai memeluk pinggang Lilia.

__ADS_1


“Eh? Pak?” Lilia tampak panik.


“Jangan pergi… , maaf,” ucap Jun lagi.


Lilia diam mematung di posisinya, membiarkan laki-laki tak dikenalnya itu melingkarkan tangan ke pinggangnya dengan erat. Perempuan bermata coklat itu tau orang yang sedang ada dipangkuannya sekarang adalah laki-laki yang tadi sempat dikiranya mirip dengan Julio.


‘Tadi kayaknya baik-baik aja… tapi suhu badannya panas banget sekarang,’ ucap Lilia dalam hati.


Tak lama kemudian Elena datang dengan beberapa petugas hotel lainnya. Perempuan berambut coklat itu terkejut melihat pemandangan di hadapannya.


Lilia menoleh. “Nona temannya bapak ini?” tanya Lilia memastikan.


“Iya.” Elena mendekat bersama petugas hotel.


Petugas hotel itu mencoba melepaskan tangan Jun dari pinggang Lilia, namun itu sulit dilakukan.


Lilia dan Elena berpandangan dengan ekspresi bingung. Melihat pemandangan itu, ide gila Elena muncul. “Biar saya saja, tenaga saya kuat kok.”


Petugas hotel itu menyingkir. Elena mencoba melepaskan tangan Jun dari Lilia sekaligus mengambil beberapa helai rambut Lilia.


“Aww!” Lilia meringis kesakitan karena merasa rambutnya ditarik.


“Eh maaf, tangan Jun sepertinya nyangkut, maaf ya.”


Tangan Jun berhasil lepas dengan sedikit trik dari Elena. Perempuan itu secepat mungkin menyelipkan helaian rambut itu ke saku jas Jun. Setelah itu petugas hotel langsung membopong Jun menuju kamar milik laki-laki berjas hitam itu.


Elena membantu Lilia berdiri. “Maafkan saya, teman saya melakukan hal yang tak pantas.”


“Umm karena sepertinya keadaan beliau sedang tidak sehat, sepertinya ia melakukan itu tanpa sadar jadi tidak apa-apa.”


Elena memperhatikan wajah Lilia dengan serius. “Gaun anda kotor, biarkan saya menggantinya, bukankah anda sedang menghadiri acara pernikahan?”


“Ah tidak apa-apa kok, tidak terlalu kotor,” jawab Lilia yang merasa sungkan.


“Saya tidak enak… Padahal teman saya sudah bersikap kurang ajar, sekarang gaun anda kotor, izinkan saya menggantinya, saya tinggal di hotel ini dan memiliki beberapa gaun yang bisa anda pakai.”


Lilia diam sejenak ia tampak ragu. “Meski begitu, saya tidak bisa meminjam gaun itu, saya hanya sekali ini berada di kota ini.”


“Ah begitu… kalau begitu tidak usah dikembalikan.”


“Tidak, saya tidak boleh melakukan itu, saya menghargai niat baik anda, tapi saya benar-benar tidak apa-apa,” ucap Lilia meyakinkan.


Elena akhirnya menyerah membujuk Lilia. “Baiklah, sekali lagi maafkan saya. Jika anda butuh bantuan di kota ini, hubungi saya. Saya Elena Liora,” ucap Elena sambil memberikan kartu nama.


Lilia menerima kartu nama itu dan langsung pamit untuk segera masuk ke toilet agar bisa membersihkan gaun yang dipakainya.


...◇◇◇...


.


.


Jun membuka mata setelah 3 jam tidak sadarkan diri. Kepalanya masih terasa sakit. Laki-laki bermata hazel itu mengerjapkan matanya mencoba mereka ulang ingatannya yang terputus. Dengan perlahan ia turun dari ranjangnya lalu keluar dari ruang tidurnya.


Elena sedang duduk di sofa sambil fokus mengetikkan sesuatu di laptopnya.


“Len… .”


Elena menoleh. “Udah sadar lu?”


“Hp gue mana?”


“Di meja samping tempat tidur lu kan?”


Jun tampak masih belum sadar sepenuhnya. Ia kembali ke kamarnya lalu mengambil ponselnya.


Setelah memeriksa beberapa pesan, Jun mengambil air kemasan dan meminumnya lalu duduk di seberang Elena yang masih sibuk dengan laptopnya.


“Udah sadar beneran?” tanya Elena lagi.


“Udah mungkin.”


“Lu inget nggak tadi siang kenapa?”


Jun diam, Elena melihat dengan tatapan tajam ke arah laki-laki bermata hazel itu.


“Kenapa emang?” tanya Jun yang agak takut dengan ekspresi Elena. Ia hafal ekspresi temannya itu berarti dia sudah melakukan kesalahan besar.


Elene meletakkan laptop itu di meja di hadapannya. “Lu habis minum atau makan apa sih sampai gila gitu?”


“Gila gimana? Gue cuma minum Ab**nthe dikit tadi pas ketemu Adhi,” jawab Jun santai.


“Pantes, gue denger tu minuman bisa jadi pemicu halusinasi.”


“Nggak, belum ada penelitian yang buktiin itu, makanya gue santai minum. Tadi lu bilang halusinasi… emang gue ngapain?”


“Kalau lu lagi nggak sehat, jangan minum yang kayak gitu dulu deh. Mending lu pingsannya masih di wilayah ‘ayah’, kalau lu pingsan di tempat mereka, besok udah ada kabar duka… ,” ucap Elena dengan ekspresi kesal.


“Gue tadi emang ngapain? Nggak usah ngomong kemana-mana deh, iya gue salah.”

__ADS_1


Elena tampak sebal dengan reaksi Jun. “Lu nggak sadar di depan toilet. Gue nggak tau jelasnya, petugas hotel manggil gue, pas gue sampai tangan lu udah meluk Lilia.”


“Hah?!” Jun terkejut mendengar apa yang dikatakan Elena. “Jangan bercanda Len.”


“Tanya aja Dodo petugas kebersihan,” ucap Elena dengan ekspresi tak senang.


“Baju Lilia kotor gara-gara jatuh. Lu kok bisa-bisanya sih nggak sadar tapi me-“


“Stop… .”


Belum sempat melanjutkan perkataan, Jun sudah memotongnya. Laki-laki bermata hazel itu masih tampak terkejut.


“Hah terserahlah, gue balik ke kamar gue dulu. Kabarin ayah tuh tadi beliau nelfon, gue bilang lu pingsan.”


"Kenapa bilang segala sih?”


Elena tak menjawab, ia bangkit dan membawa laptopnya lalu pergi dari ruangan itu.


Jun mematung di tempatnya, ia samar-samar ingat sempat mencium aroma parfum yang tak asing, tapi saat itu matanya benar-benar buram.


Klek…


Elena masuk ke ruangan itu lagi.


“Gue lupa ngasih tau, tadi gue udah dapet rambutnya Lilia, gue taruh saku jas lu.”


Setelah mengucapkan itu, Elena keluar dari dari ruangan itu.


Jun memegangi dahinya yang masih terasa hangat. Ia mengumpat berkali-kali karena kelakuan bodohnya.


...◇◇◇...


Lilia kembali dari toilet ke area yang menjadi lokasi pernikahan saudara jauhnya itu. Gaunnya yang berwarna putih memperlihatkan dengan jelas warna coklat yang tampak samar.


Lilia merasa aneh karena aroma parfum pria itu seolah menempel di baju yang dipakainya. Wangi parfum yang sangat dikenalnya.


“Itu baju mu kotor kenapa nak?” tanya ibu Lilia.


Lilia yang sedang melamun menjadi terkejut mendengar ibunya yang tiba-tiba bicara.


“Tadi Lilia jatuh ma, hehe.”


“Aduh kamu ini nggak hati-hati sih, nggak ada yang luka kan?” tanya Ani dengan ekspresi cemas.


“Nggak kok ma.”


“Kak Iliii…”


Lilia menoleh ke arah suara gadis kecil yang memanggilnya.


“Kak gendong,” ucap gadis kecil itu sambil merentangkan tangannya.


Lilia berjongkok lalu menuruti keponakannya itu.


“Grace udah gede kok masih minta gendong?” ucap Ani sambil tertawa.


“Gles masih kecil kok,” ucap gadis kecil itu sambil mengembungkan pipinya.


Ani dan Lilia tertawa mendengar jawab dari gadis kecil lucu berwajah bulat itu.


“Kak ili, gles mau lihat om yang matanya bagus tadi,” ucapnya dengan wajah menggemaskan.


“Om yang mana?” tanya Ani sambil melihat ke sekitar.


“Tadi ada orang yang ditabrak Grace waktu dia lari-lari, bukan tamu nikahan sini kayaknya… .”


“Gles mau lihat mata om itu, bagus,” ucap gadis kecil itu lagi.


“Nggak bisa sayang, kita lihat bunga aja ya? Om itu bukan tamunya tante Eri.”


Grace tampak kecewa, Lilia mencoba menghibur sebisanya dengan membawa gadis kecil itu berkeliling.


Pikiran Lilia tak fokus, ia ingat kejadian saat di depan toilet tadi. Penampilan pria yang sebelumnya terlihat sempurna di depan hotel itu tiba-tiba menjadi kacau.


Lilia sebenarnya khawatir dengan kondisi kesehatan pria aneh tersebut. Apalagi ketika laki-laki bermata hazel itu…


“Kak ilii, itu apa?” tanya gadis kecil itu tiba-tiba.


Lilia menoleh ke arah yang ditunjuk gadis kecil itu. Sebuah lampu taman yang unik. Kristal kaca dengan perpaduan warna hijau, coklat dan biru.


“Itu lampu… .”


“Kok bagus? Kayak mata om itu ya. Tulunin gles dulu,” pinta gadis kecil itu.


Lilia menurunkan Grace, membiarkan gadis lucu itu memandangi lampu kristal bulat itu dengan ekspresi senang.


Tak lama kemudian salah satu saudaranya memanggil karena acara sebentar lagi akan ditutup. Grace menurut dan meminta Lilia untuk menggendongnya lagi. Ketiga orang itu pun kembali ke tempat acara pernikahan.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2