Blue Scandal

Blue Scandal
44 - Ancaman


__ADS_3

.


.


Saat sedang antre membeli es, sekumpulan siswa sekolah lain tiba-tiba datang bergerombol.


“Hai Lilia… .”


Lilia menoleh karena merasa namanya dipanggil. Ia mengamati dengan serius wajah laki-laki yang baru saja memanggilnya. Fani ingin mendekat ke arah Lilia namun ditarik oleh salah satu teman laki-laki itu.


“Bentar dulu cantik, itu kan cuma nyapa doang.”


Fani menatap laki-laki berjaket abu itu dengan tatapan tak senang. Biasanya ia mudah melepaskan diri, tapi genggaman tangan laki-laki itu kuat sekali.


“Masih inget aku nggak?” tanya laki-laki berjaket jeans kepada Lilia.


“Siapa ya?”


Laki-laki itu tertawa. “Yah, masa nggak inget, aku Deon.”


Lilia mengalihkan pandangannya ke arah Fani yang tampak kesulitan. Deon maju mendekati Lilia, gadis itu mundur tapi ada seseorang lainnya yang ternyata sudah ada di belakangnya.


“Jangan teriak, besok malah ada kejutan nggak terduga loh,” bisik Deon di telinga Lilia.


Gadis bermata coklat itu bergidik ngeri merasakan intimidasi dari laki-laki yang dekat sekali, tubuhnya terdiam membeku.


Beberapa pembeli lain melihat namun langsung mengabaikan lagi karena mengira itu adalah situasi biasa bagi remaja-remaja nakal sekarang.


“Udah inget sama aku?”


“Aku nggak pernah kenal kamu ya,” ucap Lilia dengan ekspresi kesal.


“Hihi sombong banget, padahal waktu SMP itu kamu pernah nolongin aku loh.”


Lilia menatap kesal ke arah laki-laki yang semakin mendekat itu. “Jalan-jalan yuk?” bisik Deon lagi.


Lilia diam, nafasnya sekarang terasa berat. Bisikan ditelingnya terasa geli sekaligus membuatnya mual. Ia menoleh berharap ada seseorang yang melihat dan mengusir para perkumpulan laki-laki sialan itu.


“Padahal aku udah cepet-cepet kesini begitu dikasih tau kamu disini, tapi malah diabaikan.”


Deon tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya. “Aku punya sesuatu yang menarik disini, mau lihat nggak?” ucap Deon sambil memainkan ponselnya.


“Jalan sama aku, ku pastiin temen mu bakal aman,” ucap Deon lagi.


“Lilia!”


Semua orang yang ada di tempat penjual es itu menoleh karena mendengar teriakan yang keras.


“Yah, pengganggu dateng. Aku pergi dulu sayang, dateng ke danau N nanti malem jam 19.30, hehe.”

__ADS_1


Deon langsung menjauh begitu melihat Reza mendekat. “Lu ngapain b*ngsat?!”


“Oi santai dong ya mulia Reza hehe, gue cuma nyapa temen lama kok.”


“Nyapa? Temen?” Reza melirik ke arah Lilia yang tampak pucat.


Deon memberi aba-aba temannya untuk pergi. Laki-laki yang sedari tadi memegang tangan Fani juga melepasnya dan beranjak menjauh.


Reza sebenarnya ingin menghajar laki-laki itu, hanya saja saat itu sedang banyak yang melihat. “Lilia, kamu nggak apa-apa?”


Lilia yang sedari tadi membeku di tempatnya menatap ke arah Reza dengan ekspresi takut. Laki-laki bermata hitam itu mengelus kepala Lilia pelan, mencoba menenangkannya.


Fani langsung mendekat. “Lili maaf, aku tadi pengen halangin tapi tangan ku di tahan.” Fani menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah.


“Hei, kamu kenapa? Kamu nggak diapa-apain kan?” tanya Reza lagi.


Mata Lilia berkaca-kaca, itu pertama kalinya Lilia merasakan perasaan tidak nyaman yang berat dan membuatnya seakan kesulitan bernafas.


Reza perlahan meraih tangan Lilia. ‘Kok tangannya dingin?’ ucap Reza dalam hati.


“Lili,” panggil Reza lembut, ia khawatir dengan Lilia yang sedari tadi diam mematung.


“Tarik nafas pelan, nggak apa-apa, mereka udah pergi, aku disini,” ucap Reza lagi.


Lilia menggerakan wajahnya, matanya menatap Reza dengan tatapan yang aneh. “Reza?”


Tes… mata Lilia yang sedari tadi berkaca-kaca dengan tatapan kosong itu akhirnya kembali normal, air matanya jatuh.


“Ugh… hiks… hiks.” Lilia menutupi wajahnya. Sekarang badannya yang gemetar, ia teringat lagi ancaman yang dilontarkan Deon beberapa waktu lalu.


Reza yang bingung akhirnya memeluk gadis itu untuk menenangkan. Laki-laki itu melihat ke arah Fani yang juga bingung.


“Waduh mas, itu temennya tadi digangguin ya?” tanya salah satu pejaga kedai es itu.


“Bapak lihat tadi, kenapa nggak ditolongin?” ucap Reza dengan ekspresi kesal.


“Maaf mas, saya kira temennya, soalnya mereka biasa kesini juga mas.”


Reza diam, membiarkan Lilia menangis, ia sesekali mengelus kepala gadis itu.


Setelah beberapa saat, kesadaran Lilia mulai kembali. Menyadari saat ini seseorang sedang memeluknya di tempat umum membuat ia mendorong pelan tubuh laki-laki itu.


“Emm, makasih, aku udah nggak apa-apa.”


Fani sedari tadi membiarkan hal itu karena ia juga bingung harus apa. Ketiga orang itu berpindah, duduk di bagian kanan kedai itu, dibawah pohon mangga.


“Kamu kenal sama orang tadi?” tanya Reza.


“Cuma sekedar tau sih, dia pacarnya Zora,” jawab Lilia pelan.

__ADS_1


“Hah jadi itu pacarnya Zora?”


“Iya, kan waktu itu pas kamu dateng sama Gio udah ku jelasin.”


Reza memijat dahinya yang tiba-tiba terasa sakit. “Aku pikir bukan Deon yang itu, dia emang sejak lama sampai sekarang terkenal sama rumornya, yang paling baru mungkin kamu belum tau.”


“Apa?”


“Tahun lalu dia lakuin pemerasan ke mantannya, ngancem mau sebar video mereka.”


Lilia terdiam, ia ingat ancaman Deon tadi. Fani yang sedari tadi mendengarkan sebenarnya masih belum paham maksud Lilia dan Reza.


“Terus tadi dia ngomong apa?” tanya Reza.


Lilia mengepalkan tangannya. “Dia minta aku nemuin dia nanti malam jam 19.30, dia bilang temen ku bakal aman kalau aku mau nemuin dia.”


“Temen mu?” Reza mengernyitkan keningnya.


“Apa yang dimaksud itu Zora?” ucap Fani yang mulai memahami arah pembicaraan kedua temannya.


Lilia tersentak, ia mengernyitkan keningnya. “Dia emang pacaran sama Zora, tapi kenapa tuh orang nyuruh aku nemuin dia?”


“Nggak usah dengerin dia, biar nanti malem aku yang kesana,” ucap Reza dengan eksprei marah.


“Kamu kenal Deon, Za?”


“Sekedar kenal karena orang tuanya partner bisnis kakek ku yang di kota.”


Lilia diam, perasaannya tidak enak, apalagi Deon mengatakan tentang keamanan seseorang.


“Pokoknya jangan temuin dia, kalau dia gangguin langsung hubungin aku aja,” ucap Reza menekankan.


Gadis bermata coklat itu hanya bisa menahan rasa kesalnya. Sebenarnya ia tidak ingin berada di situasi yang seperti ini, apalagi hubungannya dengan Reza tidak terlalu dekat.


“Iya,” ucap Lilia setelah berdiam diri lama. Ia segera menghabiskan es yang dibelinya.


“Yaudah yuk balik, ku anter juga kalian biar aman.”


“Za, lu anter Lilia yak, gue mau ke tempat pakde,” ucap Fani dengan ekspresi serius. Ia sebenarnya merasa kesal karena kejadian tadi. Padahal ia sudah belajar beladiri dasar, tapi tenaganya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan genggaman laki-laki tadi.


“Oke.”


Ketiga orang itu beranjak dari tempat duduknya. Lilia dibonceng Reza sedangkan Fani langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


‘Apa aku perlu belajar beladiri ya?’ gumam Lilia dalam hati.


Selama mengantar Lilia pulang, Reza hanya diam di perjalanan. Ia merasa marah, padahal ia sengaja menjauhi Lilia agar tidak ada hal buruk di sekitarnya yang akan berpengaruh ke gadis bermata coklat itu. Namun hal lain justru terjadi saat ia sudah berusaha berubah.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2