Blue Scandal

Blue Scandal
45 - Hari tersebarnya sebuah video


__ADS_3

Malamnya Reza pergi sendirian ke danau N seperti yang disebutkan Deon kepada Lilia.


Deon merasa kesal melihat orang lain yang datang bukan seorang gadis yang ia tunggu, justru laki-laki yang ia benci. “Ya mulia Reza kenapa datang ke tempat ini?”


“Lu tadi siang ngapain?”


Deon mengernyitkan keningnya. “Hmm, cuma nyapa teman lama kok.”


“Teman? Lu gila ya?”


Deon tersenyum sinis mendengar ucapan Reza. “Hahh, nggak seru, ternyata dia nggak sepeduli itu sama temennya ya?”


"Maksud lu apa?"


Deon tertawa. "Nggak apa-apa hehe."


“Jangan gangguin dia.”


Deon tertawa lagi. “Kenapa? Dia kan bukan cewek lu. Oh? Apa lu juga naksir dia?”


Reza menatap dingin ke arah Deon. “Kalau sampai gue denger lagi lu gangguin dia, gue ancurin hidup lu.”


“Bangs*t!” ucap salah satu teman Deon, ia ingin memukul Reza, namun Deon memberi aba-aba untuk tetap diam.


“Oke deh kalau ya mulia Reza udah ngomong gitu. Pfftt tapi walau lu kayak gitu, apa dia juga bakal nerima lu?”


Reza tidak menjawab dan langsung berbalik pergi. Deon hanya tertawa kencang melihat tingkah kenalannya itu.


“Kenapa nggak dipukulin aja sih tuh anak?” tanya Ari, teman terdekat Deon.


Deon tersenyum. “Hmm, jangan dong, ortu gue kan jadi anjingnya Adhi, ntar hidup gue yang repot.”


Laki-laki berjaket jeans itu mengambil satu batang rokok lalu menyalakannya. “Gue nggak tau kalau tuh cewek deket sama Reza.”


“Terus gimana?” tanya teman Deon yang berjaket abu.


“Hemm, gue emang udah lama tertarik sama tuh cewek, tapi gue juga nggak mau hidup gue berantakan cuma gara-gara tuh orang gila ngamuk. Cari yang lain deh, lu ada kenalan cewek cakep nggak?”


“Wah, nggak ada gue.”


“Oh iya ri, cewek yang lu bilang waktu itu masih ada?”


Laki-laki bernama Ari itu tertawa. “Dia gampangan c*k… Waktu dia tau kalau videonya dia dijual malah minta bagian, dia bilang mau aja kerjasama kalau bagiannya dia seimbang.”


“B*ngsat hahaha, player ketemu player.”


“Oh iya, videonya si Zora dah jadi tuh, gimana?”


Deon mengernyitkan keningnya. "Upload satu dulu, dua lainnya simpan dulu."


“Nggak dijadiin ancaman buat Lilia?”


“Sementara jangan dulu, ngamuk ntar anjingnya hehe,” jawab Deon terkekeh.

__ADS_1


“Yaudah ntar malem gue up satu.”


“Kasih judul yang bagus lah.”


“Siap.”


...◇◇◇...


Satu minggu kemudian…


.


.


Suasana sekolah sudah kembali tenang setelah berita menghebohkan tentang kematian salah satu siswa di sekolah itu.


Selama seminggu, guru Bk maupun guru lainnya banyak memberikan nasehat dan meminta siswanya untuk meminta bantuan apabila sedang mengalami permasalahan.


Semua siswa menanggapi itu hanya sebagai angin lalu karena menganggap itu hanya basa-basi saja. Memangnya akan ada guru yang benar-benar membantu permasalahan siswa yang berkaitan dengan keluarga? Tentu saja orang lain tidak bisa sembarangan ikut campur bukan?


Pembicaraan buruk tentang Sella masih terus berlanjut diantara beberapa siswa laki-laki. Hampir tidak terlihat ada siswa yang menunjukkan simpati atas kematian salah satu teman seangkatannya. Bahkan beberapa siswa perempuan ada yang juga ikut membicarakan keburukan gadis cantik itu.


Pembicaraan buruk tentang Sella sudah dianggap hal yang wajar, tidak ada yang benar-benar tahu kehidupan seperti apa yang dijalani gadis cantik itu sebelum ia memilih mengakhiri hidupnya.


Suasana sekolah telah kembali tenang. Siang itu beberapa siswa laki-laki bergerombol dan tertawa sambil membicarakan sesuatu.


“Ini Zora bukan sih?” ucap salah satu siswa laki-laki.


“C*k, dia jadi pemain di film kayak gini sekarang?” sahut siswa laki-laki lainnya.


Lilia mengernyitkan keningnya. 'Film? '


“Lu liat apaan?”


Suara yang tidak asing itu terdengar jelas di telinga Lilia. Meski begitu, ia masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


Bughhh…


Mendengar suara pukulan, Lilia langsung mengintip dari balik tembok itu. Saat itu Gio sudah memukuli salah satu siswa.


Teman siswa yang dipukuli itu mencoba melerai tapi justru terkena pukulan Gio juga. Sekumpulan siswa laki-laki itu sepertinya menjadi emosi hingga mengeroyok Gio. Lilia yang melihat itu menjadi panik.


“Bu Endah ada siswa berkelahi,” teriak Lilia kencang.


Siswa laki-laki yang mengeroyok Gio itu langsung berhamburan pergi meninggalkan Gio yang terduduk lemah di tanah.


Tentu saja tidak ada bu Endah, Lilia hanya berpura-pura, namun justru ternyata ada Julio di dekat sana dan gadis bermata coklat itu tidak mengetahuinya.


Lilia segera menghampiri Gio. “Hei, kamu nggak apa-apa?”


Luka lebam pada pipi dan darah yang mengalir dari sudut bibir Gio membuat Lilia bergidik ngeri.


“Ada apa ini?”

__ADS_1


Lilia menoleh, Julio sudah ada di dekat tempat ia berdiri. “Eh, pak Julio?”


Julio melihat ke arah laki-laki di depan Lilia. Ia berjongkok. “Gio?”


Gio membuka matanya perlahan, rasa amis yang terasa dari darah yang mengalir di bibirnya membuat ia mual.


“Kamu bisa berdiri?” tanya Julio lagi.


“Bisa, pak,” jawab Julio lirih.


Julio memapah Gio perlahan. “Lilia, kamu melihat apa yang terjadi kan? Tunggu di ruang BK.”


“Iya pak.”


Julio segera berlalu pergi memapah Gio ke UKS sedangkan Lilia melangkahkan kakinya menuju ruang BK. Perasaannya menjadi tidak tenang karena ia tadi sempat mendengar sekumpulan laki-laki itu menyebut nama Zora.


Tiba-tiba Lilia teringat ancaman Deon. ‘Apa maksudnya Deon waktu ini ada kaitannya sama ini?’


“Lilia.”


Gadis itu menoleh, Julio masuk ruangan itu lalu duduk di kursinya.


“Gio gimana pak?” tanya Lilia.


“Dia istirahat sekarang. Saya sudah coba tanya tapi dia tidak menjawab, kamu tau sesuatu?”


Lilia mengeratkan tangannya. “Hmmm, saya cuma dengar sekilas dan agak samar pak, tapi tadi ada sekumpulan siswa yang sedang melihat sesuatu dan menyebut nama Zora, lalu Gio sepertinya datang, saya tidak melihat semua karena bersembunyi… .”


“Zora? Apa dia berpacaran dengan Gio?”


“Bukan pak, Zora itu sepupunya Gio.”


Julio mengernyitkan keningnya, ia merasa ada sesuatu yang mengkhawatirkan.


“Ada hal lain? Kamu kelihatannyaa tidak tenang.”


Setelah ragu selama beberap awaktu, Lilia akhirnya menceritakan kejadian dan ancaman yang didapatnya dari seseorang. Julio mendengarkan perkataan gadis bermata coklat itu dengan ekspresi serius.


“Kamu berteman dekat dengan Zora?”


“Tidak sih pak… .”


Julio mengernyitkan keningnya lagi. Dari cerita Lilia tentu ada sesuatu yang sudah dilakukan laki-laki itu hingga memberi ancaman seperti itu.


“Pak, gimana ya? Laki-laki itu sejak dulu terkenal dengan kenakalannya.”


Julio diam, ia ragu. “Ya, pasti nggak ada apa-apa kok.”


Lilia diam, masih menggenggam erat tangannya sendiri. Ia tidak bisa berhenti memikirkan semua kemungkinan terburuk.


Ia berharap semua baik-baik saja namun hal-hal yang terjadi nantinya bahkan bisa jadi lebih buruk dari apa yang pernah gadis itu bayangkan.


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2