
Deon kembali ke kamarnya dengan membawa lampu emergency, ponsel milik Zora dan miliknya. “Maaf ra, aku lama, tadi sekalian nyari ini.”
Deon menyalakan lampu emergency itu dan membuat ruangan yang semula gelap menjadi terang. Zora yang sedari tadi menyembunyikan dirinya di bawah selimut mulai memunculkan kepalanya. “Bawa hp ku juga nggak?”
“Bawa, nih.” Deon memberikan ponsel milik Zora.
Blarrr…
Zora langsung menyembunyikan dirinya di dalam selimut lagi.
“Masih takut walau udah terang gini?” tanya Deon sambil menghela nafas panjang.
“Hmmm, nggak terlalu sih, tapi rasanya lebih aman di dalem selimut.”
Deon melihat ke arah Zora dengan ekspresi aneh. “Kamu jadinya mau nginep atau pulang? Di luar masih hujan sih.”
“Kamu ngusir nih ceritanya?”
“Nggak gitu sayang.” Deon ikut merebahkan tubuhnya lalu memeluk Zora yang ada dalam selimut.
“Aku sih pengennya kamu disini aja, tapi aku nggak mau maksa kamu, nanti dikira aneh-aneh.”
Zora tersenyum. “Aku ngasih tau Papa ku dulu ya.”
Deon menarik selimut yang membungkus Zora lalu memeluk gadis itu dari belakang.
“Udah?” tanya Deon memastikan.
“Udah, aku bilang nginep di rumah Faye.”
“Kenapa bohong?”
“Yakali aku bilang nginep di rumah pacar?”
Deon tertawa kecil lalu mengeratkan pelukannya ke pinggang gadis itu.
Blarr...
Zora tersentak, ia masih kaget jika mendengar suara yang keras. Deon mengelus kepala gadis itu perlahan. “Nggak apa-apa, aku disini.”
Gadis berambut pendek itu berbalik dan membalas pelukan Deon, ia bersembunyi di dada Deon.
“Zora… ."
“Hmm?”
“Kamu kok nggak takut masuk kamar cowok?”
“Emang kenapa? Kan ini kamar mu.”
“Ya justru itu… .”
“Apa sih?”
Deon mencium kepala gadis yang ada di dekapannya itu. “Kan aku juga cowok, Ra.”
Gadis itu tertawa lalu mendongakkan kepalanya hingga wajahnya dekat sekali dengan Deon, namun ia langsung kembali menyembunyikan kepalanya di dada laki-laki itu.
“Hey, jangan menggoda ku terus.”
Deon menggeser tubuhnya hingga wajah Zora ada di hadapannya. Laki-laki bermata hitam itu membelai lembut pipi Zora lalu mendekatkan bibirnya.
Ciuman dari laki-laki itu dibalas hangat oleh Zora. Keduanya baru melepaskan bibirnya setelah beberapa waktu. Tatapan mata Deon mulai berubah. Ia kembali menciumi gadis di dekapannya. Zora terseret pesona laki-laki yang baru dipacarinya sebentar, tanpa ia sadari tangan laki-laki itu mulai bergerak bebas.
__ADS_1
Ciuman Deon berpindah ke leher gadis itu. Zora memejamkan matanya, bahkan saat ada gemuruh lagi ia tidak merasa takut.
Deon menghentikan ciuman di leher gadis itu, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Zora. “Boleh?”
Zora masih memejamkan matanya, ia ingin terus merasakan hal baru yang baginya menyenangkan itu. Gadis itu mengangguk, menyetujui apa yang dimaksud oleh kekasihnya.
Sensasi aneh yang baru Zora rasakan membuatnya lupa akan konsekuensi yang harus dihadapinya nanti jika ia melakukan sesuatu di luar batas tanpa ikatan resmi.
Zora tidak akan pernah menyangka konsekuensi yang akan dihadapinya nanti akan lebih besar dari rasa senang sementara yang ia dapatkan malam itu.
...◇◇◇...
Esoknya…
.
.
Zora membuka matanya perlahan, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamar berawarna putih dengan lampu yang menyala terang. Ia mengerjapkan matanya, mengingat ulang apa yang sudah terjadi.
Perempuan berambut pendek itu merasakan ada sesuatu yang mengenai permukaan kulitnya, ia menoleh. Seorang laki-laki tampan dengan anting hitam di telinga kanan terlihat masih tidur dengan lelap.
Kejadian semalam bisa Zora ingat dengan jelas. Saat dalam kesadaran penuh seperti itu, sebenarnya Zora merasa sedikit takut, tapi ia mengabaikannya.
Zora ingin bangkit dari tempat tidur namun perut bagian bawahnya terasa nyeri, selain itu tangan Deon masih memeluknya meski ia dalam keadaan tidur.
“Jangan bangun dulu,” ucap Deon tiba-tiba. Mata laki-laki itu masih terpejam.
“Nggak sekolah?”
“Bolos aja yuk.”
“Okay.”
Deon membuka matanya, ia tersenyum lalu mencium dahi Zora.
“Kemana?”
“Ke pantai di kota B.”
“Kan jauh.”
“Nggak apa-apa. Kamu katanya pengen ke pantai.”
“Hemm, aku nggak bawa baju ganti.”
“Ku beliin mau?”
“Terus beli bajunya pakai baju apa?”
Deon tertawa lalu mencium pipi Zora. “Pakai baju sama jaket ku dulu nanti langsung pakai kalau udah beli.”
Zora tersenyum, ia benar-benar merasa beruntung. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar itu.
“Kamu mau makan apa?” tanya Deon lagi.
“Terserah.”
“Jangan gitu dong, aku kan nggak tau apa yang kamu suka atau makanan yang kamu benci.”
Zora tertawa. “Bubur ayam gimana? Perut ku agak nggak enak.”
“Oke, nah sekarang kamu mandi duluan gih.”
__ADS_1
“Sekarang?”
“Iyalah, atau mau ku mandiin?”
“Nggak!”
Deon tertawa dengan jawaban Zora. “Yaudah, handuknya udah ada di kamar mandi kok, pilih aja salah satu di laci di atas wastafel.”
“Oke, terus aku kesanya gimana? Selimutnya ku bawa?”
“Jangan dong sayang, nggak apa-apa gitu aja kan aku udah lihat juga.”
Wajah Zora memerah. “Nggak… .”
Deon tertawa. “Yaudah bawa aja selimutnya.”
Zora turun dari ranjang itu dengan melilitkan selimut ditubuhnya. Deon ternyata sudah memakai celana pendek, laki-laki itu hanya tertawa melihat ekspresi kesal gadis berambut pendek itu.
Setelah Zora masuk ke kamar mandi, Deon bangkit dari ranjangnya lalu mengambil satu batang rokok dan menyalakannya, ia tersenyum puas.
Laki-laki bermata hitam itu menuju rak buku, mengeluarkan sesuatu dari jajaran buku yang berbaris rapi, sebuah kamera DSC-W830 dengan ukuran sebesar ponsel digenggam Deon, ia tersenyum lagi lalu menghisap rokoknya kuat-kuat.
Tangan Deon membuka sebuah laci lalu memasukkan kamera tersebut dan menguncinya.
“Deon, baju yang mau kamu pinjemin mana?”
Laki-laki bermata hitam itu tertawa melihat Zora yang menyembunyikan badannya di balik pintu hanya dengan handuk saja.
“Sebentar.” Deon membuka lemari pakaian lalu memilih satu kaos lengan panjang dan satu celana training.
Setelah mengambil satu set pakaian, Deon memberikannya ke Zora dan membiarkan gadis berambut hitam itu menutup pintu kamar mandinya lagi.
Pandangan Deon beralih ke atas ranjangnya yang berantakan, ia tertawa lagi ketika melihat noda merah yang samar di sprei yang berwarna abu-abu.
Drrttt… suara getaran ponsel Deon di meja dekat ranjangnya mengganggu kesenangannya.
Klik
“Videonya mana?”
“Minggu depan aja ya? Keep dulu, biar bisa dapet banyak,” ucap Deon sambil tertawa.
“Yah terus minggu ini nggak upload?”
“Yaelah, lu lah nyari, ntar lu bilang aja butuh berapa atau yang lain aja suruh.”
Suara tawa temannya terdengar nyaring. “Yaudah, transfer sini.”
Klik… Deon langsung mematikan ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang kepada temannya.
“Deon, aku udah,” ucap Zora yang muncul tiba-tiba.
Laki-laki yang dipangil Deon itu tersenyum lalu menghampiri Zora. “Wah, udah wangi.”
“Mandi dulu sana,” ucap Zora yang menolak kecupan dari kekasihnya itu.
“Iya-iya.” Deon tertawa lalu segera masuk ke kamar mandi.
Zora melangkahkan kakinya mendekati sebuah meja tempat ia meletakkan ponselnya, namun matanya tertuju pada sebuah noda pada ranjang di sampingnya.
Perempuan berambut pendek itu terdiam cukup lama. Satu bagian dalam dirinya merasa takut namun sebagian besar perasaan senangnya membuatnya lupa. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa dia akan-akan baik saja selama bersama Deon, karena baginya laki-laki itu sangat baik kepadanya.
Penilaian sepihak saat bunga sedang bermekaran di hatinya tentu membuat logikanya tidak berfungsi dengan baik.
__ADS_1
Perempuan yang selama ini haus akan kasih sayang karena kedua orang tuanya jarang memperhatikan, sekarang merasa mendapat apa yang ia butuhkan.
...◆◇◆◇◆...