
Usai kejadian di pantai waktu itu, Lilia memilih menghindari Julio karena merasa kesal tidak mendapatkan penjelasan apapun. Meski begitu, gadis bermata coklat itu tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun.
“Pak Julio katanya cuti satu minggu,” ucap Gavin dengan ekpresi bingung.
“Cuti tiba-tiba?” tanya Fani.
“Iya, kata pak Darma begitu.”
“Apa itu urusan yang dibilangnya waktu itu?” gumam Fani pelan.
“Mungkin iya, mungkin juga ada hal lainnya."
Lilia tetap diam di tempatnya sambil menulis laporan kegiatan dari divisi yang berkaitan dengan prestasi akademik. Ia tidak ikut berkomentar tentang guru muda yang sedang cuti itu.
Gadis bermata coklat itu sebenarnya masih penasaran dengan perempuan bernama Nina. ‘Kenapa pak Julio dan pak Jerry memanggil ku dengan nama itu saat pertama bertemu? Apa perempuan bernama Nina itu begitu mirip dengan ku?’
“Eh gaes, ada berita heboh terbaru nih,” ucap Mia yang baru saja kembali dari ruang guru.
“Berita apa lagi?” tanya Fani dengan ekspresi malas. Ia mengira apa yang akan dikatakan Mia hanyalah gosip tidak penting.
“Pak kepala sekolah tadi ngasih kabar ke guru-guru, pak Julio katanya sekarang lagi dirawat di Semarang karena kecelakaan.”
“Hah?!” ucap semua anggota OSIS di ruangan itu.
“Serius?” tanya Fani memastikan.
“Beneran, katanya pas lagi ngurus sesuatu gitu beliau kecelakaan.”
Lilia melihat ke arah Mia dengan ekspresi kaget. Ia tidak percaya dengan informasi yang baru didengarnya itu. Meski sedang marah terhadap guru muda itu, ia tetap khawatir.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tidak lama kemudian datang pak Darma.
“Kalian sedang berkumpul?” tanya pak Darma bingung saat melihat semua anggota OSIS yang terlihat ada di ruangan itu.
“Pak, katanya pak Julio kecelakaan?” tanya Fani memastikan.
“Oh, kalian sudah dengar rupanya. Ya, pak Julio kecelakaan, tadi baru saja pak Arman memberitahu semuanya, jadi saya sekalian mau menyampaikan untuk urusan OSIS akan saya pegang sepenuhnya.”
“Bagaimana kondisi pak Julio, pak?” tanya Gavin memastikan.
Pak Darma diam sejenak lalu menghela nafas panjang. “Pak Arman bilang kondisi pak Julio kritis, dia masih menjalani perawatan intensif. Pihak keluarganya tidak memperbolehkan ada yang menjenguk jadi ya semua guru hanya bisa mendoakan saja.”
Semua siswa yang ada di ruangan itu terdiam setelah pak Darma menjelaskan. Dari kalimat guru itu, mereka sudah bisa memperkirakan separah apa kondisi Julio.
__ADS_1
“Sebentar lagi mendekati akhir semester, kalian jagalah kesehatan dan berkendara dengan hati-hati,” ucap pak Darma memberi nasehat.
“Baik pak,” jawab semua anggota OSIS itu kompak. Hanya Lilia, Fani dan Gavin yang terdiam di tempatnya masing-masing.
...◇◇◇...
Sementara itu di tempat lain…
.
.
“Semua sudah diurus Alex kan, Jun?”
“Ya.”
Gadis berambut pendek itu menghela nafas. “Okelah kalau begitu.”
Jun memakai sarung tangan hitamnya dan juga masker. Kali ini ia dan Elena mendapat tugas untuk memantau kegiatan rahasia pihak yang berseberangan dengan mereka.
Akhir-akhir ini memang banyak tersebar laporan orang hilang di wilayah kota U hingga kota T. Beberapa sumber menyebutkan telah terjadi penculikan oleh orang-orang tidak dikenal.
Jun dan Elena bertugas mengamankan kembali cabang wilayah kekuasaan Styx yang ada di bawah Notus. Namun tentu saja hal tersebut tidak bisa selesai dalam waktu satu hari, oleh karena itu Jun meminta dibuatkan skenario apapun itu yang bisa membuatnya izin dari tempat ia mengajar. Tentu saja Alex dengan mudah bisa mengurus semuanya seorang diri. Apalagi jabatannya di sekolah memang jabatan paling tinggi. Sehingga apapun ucapan yang dikatakan oleh pria itu akan dipercaya oleh semua guru.
Jun dan Elena sudah berkeliling namun tidak mendapatkan petunjuk apapun. Tidak ada pergerakan mencurigakan dari orang-orang yang bekerja di bawah naungan EurusZ. Semua transaksi juga dilakukan seperti biasa.
Elena masih fokus dengan Notebook yang ada dipangkuannya. Ekspresinya terlihat serius saat memeriksa beberapa CCTV yang berhasil ia retas.
“Jun, lihat ini,” bisik Elena pelan.
Jun tampak kaget dengan apa yang terlihat dari layar notebook tersebut. Dua orang pria tampak sedang berusaha memasukkan seorang laki-laki remaja yang pingsan ke dalam karung.
“Dimana itu?” tanya Jun memastikan.
“Ini kayaknya di bangunan toko yang udah nggak terpakai itu,” ucap Elena ragu.
Jun bangkit dari tempat duduknya begitupun dengan Elena. Keduanya segera pergi dari cafe kecil di pinggir kota itu.
Dua orang berbadan kekar yang membawa karung besar itu masuk ke sebuah mobil tua berwarna abu-abu. Jun menghentikan motornya tidak jauh dari tempat itu. Setelah mobil tua tersebut melaju, barulah Jun menyalakan motornya lagi dan mengikuti diam-diam dari jarak yang aman.
“Ini jalan ke salah satu rumah milik Adhi kan?” tanya Elena bingung. Ia pernah sekali melalui jalan tersebut saat menemui Adhi terkait permasalahan kebocoran informasi tentang produksi obat beberapa tahun yang lalu.
Jun diam, ia mengernyitkan keningnya. ‘Apa ini memang berkaitan dengan Adhi?’
__ADS_1
“Jun, kayaknya kita nggak bisa ikutin masuk deh karena perlu tanda pengenal kalau kesana,” ucap Elena menepuk bahu Jun.
Pria bermata hazel itu langsung membelokkan motornya ke arah jalan lain lalu menghentikanya tidak jauh dari tempat itu.
“Len, retas semua CCTV yang ada di perumahan ini.”
“Lu mau ngapain?”
“Nyelidikin lah, gue perlu mastiin mereka bawa kemana bocah itu, gue nggak mau laporan berdasarkan perkiraan doang,” ucap Jun dengan ekspresi serius.
Elena memandang kesal ke arah Jun. Ia merasa tindakan rekannya tersebut terlalu berbahaya namun ia juga tidak bisa begitu saja pergi dengan tangan kosong.
“Oke, kalau gue bilang bahaya, lu harus langusng balik.”
“Iya.”
Jun mengeluarkan sebuah earpod kecil lalu memasangkan di telinganya. Setelah memastikan semua CCTV di perumahan itu dimatikan sebagian, Jun langsung memanjat dinding dan menyelinap masuk melalui taman di samping komplek perumahan mewah tersebut.
Elena duduk di bagian taman yang ada di antara jalan di samping komplek itu. Ia fokus mengamati layar notebook tersebut untuk memastikan jalan yang dilalui Jun aman dan tidak masalah.
Saat mendengar suara langkah kaki, Elana langsung mengganti tampilan layarnya ke tab lain yang menampilkan sebuah film yang sedang didownload.
“Permisi… .”
Elena menoleh. “Ya?”
“Anda sedang apa disini?”
“Ah, saya sedang menumpang download film, saya melihat ada fasilitas wifi gratis di taman ini,” ucap Elena sambil menunjuk ke penanda wifi gratis.
Pria yang tampaknya berprofesi sebagai satpam itu melihat ke arah Elena dengan tatapan curiga. “Kalau sudah selesai sebaiknya segera pergi.”
“Ah rencananya saya masih perlu download beberapa video lagi… bukannya ini fasilitas untuk umum?”
Pria itu menyilangkan tangannya. “Memang benar ini fasilitas untuk umum, tapi tempat ini berbahaya.”
“Eh? Kenapa berbahaya pak?”
“Ya bahaya aja kan sepi gini mbak, saran saya sih cepet pulang aja sebelum gelap.”
“Oh oke pak, terimakasih, nanti setelah saya selesai download, saya akan pulang.”
Pria bertubuh kekar itu mengangguk lalu berlalu pergi. Tidak lama kemudian Jun datang dengan wajah pucat. “Kita pergi sekarang Len.”
__ADS_1
Elena menuru tanpa bertanya. Ia segera mematikan notebook nya lalu menyalakan motornya. Kedua orang itu meninggalkan area tersebut dengan tergesa-gesa.
...◆◇◆◇◆...