Blue Scandal

Blue Scandal
32 - Parfum


__ADS_3

Usai sekolah, Rio, Gio dan kawan-kawannya nongkrong di café melon seperti biasa.


“Reza nggak ikut lagi?” tanya Rion sambil menyalakan korek dan membakar ujung r*kok yang ada di antara jarinya.


“Sakit katanya,” jawab Gio malas.


“Sakit? Seorang Reza? Hahaha. Bisa-bisanya dia bolos pas UTS.” Rion tertawa mendengar jawaban Gio.


Gio tidak menjawab dan tetap fokus dengan gelas di tangannya.


Rion mengalihkan pandangannya ke teman-teman yang sedang bermain kartu lalu memandang Gio yang menjauh dari kerumunan temannya itu.


Rion mendekati salah satu temannya yang duduk di bagian luar café, temannya itu baru saja kalah bermain dan kehabisan uang.


“Eh lu mau gue kasih tau cara dapet uang cepet dan gampang nggak?”


“Mau lah,” jawab Reno semangat.


Rion pun mulai memperkenalkan dan menjelaskan tentang j*di sl*t itu kepada Reno.


“Mau nyoba sekarang? Daftar dulu sana,” ucap Rion meyakinkan.


“Gue nggak punya duit c*k,” jawab Rena kesal.


“Yaelah santai aja, gue isiin dulu saldonya, daftar dulu aja.”


“Beneran?”


“Iyalah, nanti kalau lu menang baru bayar,” ucap Rion meyakinkan.


Reno terlihat senang dengan apa yang dikatakan Rion. Ia merasa diberitahu cara menyenangkan menghasilkan uang. Reno pun segera mendaftar. Saldo tersebut diisikan oleh Rion dengan nominal Rp100.000.


Reno sudah memahami penjelasan Rion dan langsung bermain seperti yang diajarkan temannya itu.


“Menang gue c*k, gila gampang banget,” ucap Reno kegirangan.


Rion tersenyum puas dan membiarkan Reno asik dengan mainan barunya. Ia kembali ke tempat duduknya bersama dengan teman-temannya masih bermain kartu.


“Yon, nggak ada G* gratisan lagi hehe?” tanya salah satu pemuda yang memakai jaket abu.


“Gratis mulu lu maunya, beli lah,” ucap Rion kesal.


Pemuda itu tertawa. “Berapa sih? Mahal nggak?”


Ekspresi Rion tampak senang. “Nggak mahal kok, per 100 gram nya 100k doang.”


“Mahal c*k,” ucap temannya yang lain.


“Ya kan bisa iuran sama yang lain. Jangan disamain kayak r*kok biasalah,” ucap Rion dengan ekspresi kesal.


Semua yang ada disana tertawa. Pemuda yang memakai jaket abu itu kembali bicara. “Yang mau patungan sini sama gue.”


Rion tersenyum senang dengan respon teman-temannya itu. Ada 4 anak lainnya yang ikut turut serta.


“Ntar gue suruh pak botak kasih bonus lah,” ucap Rion sambil tersenyum licik.


Semua yang ada disana tertawa lalu melanjutkan kegiatannya.


...◇◇◇...


Di tempat lainnya…


 .


.


Julio memeriksa berkas yang dikirimkan Elena. Laporan yang didapat Elena berasal dari berbagai sumber termasuk dari dokumen rahasia yang tidak banyak diketahui publik.


Laki-laki bermata coklat terang itu tampak terkejut dengan dua data yang berbeda. Ada satu laporan yang menyebutkan bahwa terdapat  bayi perempuan yang selamat namun tidak jadi dijual karena saat itu pengawasan sedang dilakukan dengan ketat.


Julio mengernyitkan dahinya. ‘Lalu bagaimana dengan gelang yang disebut bu Sri?’ ucap Julio dalam hati.


Julio membuka berkas lainnya. Namun informasi yang didapat Elena tidak menjelaskan secara jelas tentang apa yang terjadi saat itu.


Meski begitu, Julio bisa melihat secara samar bahwa masih ada kemungkinan putri pertama orang tua Lilia yang dimaksud bu Sri adalah Nina yang pernah dikenalnya.


Julio meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu dengan ekspresi serius.


^^^To : Elena^^^


^^^Ada nggak cara buat tes dna kalau salah satu orangnya udah meninggal?^^^


 


To : Jun


Lu mau tes dna sama siapa? Kalau ada bahannya ya tetep bisa sih.


Julio terdiam, entah kenapa kali ini ia merasa cemas. Laki-laki itu tak membalas lagi dan membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja, ia melepas kacamatanya.

__ADS_1


Julio memejamkan matanya namun sebentar kemudian membukanya lagi. Ia baru saja ingat harus melapor ke Adhi tentang beberapa ‘kurir’nya yang melanggar peraturan.


Julio menghela nafas panjang lalu mematikan laptopnya dan memasukkanya ke penyimpanan rahasia.


Setelah mandi dan bersiap, Julio keluar dari rumah mungil itu dengan membawa tas hitam. Motornya melaju menuju ke kota T. Setelah 30 menit perjalanan, motornya masuk ke sebuah kawasan apartemen mewah.


Julio memarkir motornya di basement sebuah apartemen mewah di kota T. Laki-laki bermata coklat terang itu langsung menaiki lift menuju lantai 17.


Tepat di kamar dengan nomor 17A7 Julio berhenti lalu mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya pada bagian bawah gagang pintu.


Pipp…


Bunyi suara mesin yang mengonfirmasi pemilik ruang itu berbunyi pelan. Julio memasuki ruang tersebut.


Julio menekan saklar lampu. Ruangan bernuansa putih hitam itu tampak luas. Perabotan berwarna senada menghiasi dan menambah kesan elegan.


Julio meletakkan tas hitamnya di sofa ruang tengah. Ia menuju ruangan khusus yang menyimpan pakaian dan berbagai aksesoris.


Julio mengambil kemeja hitam beserta setelan celana dan jas hitam.


Setelah berganti pakaian, Julio melepas kacamata dan juga lensanya. Mata aslinya yang berwarna hazel itu menatap pantulan wajahnya di cermin.


Julio memakai jam tangan warna hitam dan sepatu pantofel dengan warna senada. Tak lupa ia memakai parfum dengan kaca berwarna putih transparan itu.


Dengan hati-hati Julio menata rambutnya, ia mengoleskan sebuah krim ke rambutnya dan menatanya sesuai dengan penampilan ‘aslinya’.


Warna rambutnya yang sebelumnya tampak seperti coklat gelap sekarang berubah terlihat seperti hitam dengan campuran biru gelap.


Penampilannya yang sekarang adalah penampilan seorang ‘Jun’ yang disebut sebagai penerus sebuah usaha gelap di kota besar di Jawa Tengah


Jun melihat ke arah jam tangannya. Ia meraih salah satu kunci mobil yang tergantung di ruang itu. Ia keluar dari ruang khusus tersebut dan kembali memakai tasnya.


Laki-laki bermata hazel itu segera keluar dari ruang mewah tersebut.


Saat memasuki lift, seseorang dari lantai lain menyapanya.


“Loh baru datang atau baru mau pergi mas Jun?”


“Dua duanya,” jawab Jun singkat.


“Oh apa ada pertemuan lagi? Pak Alex juga datang.”


Julio menoleh. “Alex? Saya nggak tau…”


Pria berusia 33 tahun itu tampak berpikir. “Oh saya kira memang mau kumpul. Mas Jun nggak mau menyapa dulu? Mereka ada di lantai 19.”


“Nggak, saya ada kegiatan lain, “ jawab Jun dengan ekspresi datar.


Jun sebenarnya penasaran karena ia tak mendapat informasi dari ‘ayah’ bahwa Alex akan datang atau ada acara tertentu. Apalagi petugas itu mengatakan ‘mereka’, tentunya ada beberapa orang yang dikenalnya sedang berkumpul.


Julio memakai kacamata hitamnya begitu keluar dari lift. Ia menekan tombol di kunci mobilnya.


BMW I8 Roadster warna merah yang diparkir di pinggir itu berbunyi.


Jun memasuki mobil itu dan meletakkan tasnya di bagian kursi samping bagian depan. Dengan kecepatan sedang ia keluar dari area apartemen mewah itu.


...◇◇◇...


Jun sampai di sebuah bar privat mewah di kota T. Setelah memarkir mobilnya di basement, Jun langsung masuk ke lounge bar yang mewah itu.


Tak lama kemudian seorang laki-laki berdasi kupu hitam memberi hormat kepada Jun dan mengarahkannya pada sebuah ruangan lain,


Jun memasuki ruangan itu dengan ekspresi datar. Keperibadiannya benar-benar seperti berubah.


Seorang kakek tua sudah ada di ruangan itu terlebih dulu. “Sepertinya saya datang terlalu cepat.”


Jun mengamati jam di pergelangan tangannya, ia tidak telat, seperti yang dikatakan kakek itu, Adhi memang datang lebih cepat.


Julio langsung duduk di seberang kakek tua itu lalu memberikan amplop besar berwarna coklat.


“Beberapa ‘kurir’ anda melakukan pelanggaran,” ucap Jun membuka percakapan.


Kakek tua itu membuka map tersebut dan memeriksa bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan.


Kakek tua itu sesekali tampak mengernyitkan kening, sesekali tampak terkejut dan sesekali menghela nafas panjang.


“Pak botak ya… ,” ucapnya dengan nada kecewa.


“Sepertinya dia juga bekerja dengan pihak ‘mereka’.”


“Apa ada arahan khusus dari Tommy?” tanya Adhi dengan ekspresi lelah.


“Jika bisa, ‘ayah’ ingin hal tersebut bisa sampai ke media untuk memberi peringatan kepada ‘mereka’.”


Adhi diam, wajahnya tampak cemas. Ia mengerti maksud pembicaraan itu. Jika media tau hal ini tentu saja harus ada orang yang ditumbalkan.


“Anda tidak seharusnya khawatir bukan? Tentu saja pak botak lah yang menerima konsekuensinya sendiri,” ucap Jun lagi.


“Bagaimana jika pihak ‘mereka’ menyelamatkan mereka?”

__ADS_1


“Bukankah bagus? Semua jadi bisa jatuh bersamaan,” ucap Jun dengan ekspresi dingin.


Adhi tak menjawab. “Apa anda khawatir hal itu akan berdampak pada anak anda lainnya?” tanya Jun sambil mengamati ekspresi Adhi yang tampak tak tenang.


“Jika bisa, saya ingin menyelesaikannya dengan cara baik-baik.”


Jun tertawa pelan. “Apa ada cara ‘baik-baik’ di industri ini? Atau anda sudah ada niatan untuk berhenti?”


“Bukan begitu… tapi saya memang sedang mengkhawatirkan sesuatu. Apa anda bisa membantu saya mencari tau tentang cucu saya?”


Jun diam sejenak, ia tau yang dimaksud Adhi adalah Reza. “Mencari tau tentang apa?”


“Apa cucu saya terlibat dalam peredaran itu?” tanya Adhi dengan ekspresi tak tenang.


“Kalau yang anda maksud peredaran tentu saja tidak… tapi, saya tidak bisa mengatakan bahwa cucu anda tidak mengonsumsi… ,” ucap Jun sambil memperhatikan botol di atas meja.


Adhi diam, menghela nafas. Ekspresi kakek tua itu tampak semakin lelah.


“Apa anda belum mangatakannya kepada Reza secara langsung tentang usaha anda? Saya pikir dia yang akan meneruskan usaha anda, atau cucu anda yang lain?” ucap Jun lagi.


“Saya mengerti Notus membutuhkan kepastian, tapi saya perlu waktu untuk membicarakan masalah ini… ,” ucap Adhi sambil menghela nafas.


Jun diam, ia tidak suka mengulur waktu lebih lama karena bisa saja terjadi hal-hal lain diluar rencana.


“Baiklah, kalau begitu anda harus hidup dengan baik,” ucap Jun menekankan.


Jun menuang cairan berwarna hijau unik dari botol kaca itu ke gelas kecil yang tersedia lalu meneguknya. “ ‘Ayah yang akan membuat skenario kali ini, jika anda ingin menyelesaikannya sendiri, silahkan hubungi Alex.”


Setelah mengucapkan itu, Jun langsung bangkit dan meninggalkan Adhi di ruangan itu.


...◇◇◇...


Jun mengemudikan mobilnya hingga sampai di pusat kota Surabaya yang bersebelahan dengan kota T.


Mobil BMW I8 Roadster warna merah itu berhenti di sebuah hotel mewah. Jun turun lalu memasukkan kacamata hitamnya ke dalam saku bagian dalam jas.


Jun melihat ke salah satu bagian taman yang luas dari hotel itu. Sebuah acara resepsi pernikahan sepertinya sedang digelar disana.


“Junnn!”


Laki-laki bermata hazel itu menoleh. Elena melambaikan tangannya.


“Wah bawa mobil yang mana hari ini? Merah? Kuning? Biru? Hitam? Kalau bawa yang merah, gue mau minjem dong nanti” tanya Elena sambil tertawa.


“Iya gue bawa, pake aja. Btw, ada acara nikahan disini?


“Iya, saudaranya saudara yang punya hotel kayaknya.”


Jun memandang kesal ke arah Elena karena menjawab dengan jawaban seperti itu.


Tiba-tiba seorang anak kecil yang berlarian, menabrak kaki Jun.


Brukkk…


Bocah perempuan berusia 4 tahun itu langsung jatuh duduk.


“Hey, kamu nggak apa-apa?” tanya Jun sambil berjongkok.


Tiba-tiba ekspresi Jun berubah. Ia mencium aroma parfum yang tak asing. Reflek ia menoleh ke arah belakang gadis kecil yang terjatuh itu.


“Grace, aduh kamu kenapa lari-lari?” Lilia membantu gadis kecil itu berdiri lalu memeriksa lukanya.


Jun memandangi Lilia yang sedang memakai gaun putih dengan rambut yang diikat dan dihias cantik.


“Maafkan keponakan saya pak,” ucap Lilia sambil menunduk.


Jun diam sejenak, ia mengatur suaranya agar terdengar berbeda dan lebih berat. “Ehem, tidak apa-apa…. Kamu jangan berlarian seperti itu ya, bahaya,” ucap Jun sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


Selama beberapa detik, pandangan Jun dan Lilia bertemu, namun laki-laki bermata hazel itu langsung membuang muka.


“Jun?” panggil Elena.


“Sorry, mari masuk,” ucap Jun canggung.


Kedua orang berbaju hitam itu pun meninggalkan Lilia yang mematung sambil menggedondong gadis kecil itu.


“Kak ili kenapa”


Lilia tersadar dari lamunannya. “Eh, nggak… Ayo balik, nanti mama mu nyariin. Jangan lari gitu lagi ya.”


“Iya kak… ,” jawab gadis kecil itu pelan.


Lilia kembali ke tempat pernikahan saudaranya yang diselenggarakan secara outdoor di taman hotel mewah itu.


Lilia diam, entah kenapa saat melihat laki-laki tadi ia seperti melihat Julio, hanya saja kedua orang itu tampak berbeda.


‘Aroma parfumnya sama.. ,’ ucap Lilia dalam hati.


Lilia tampak berpikir keras, mata laki-laki itu terlihat indah. Warna hazel yang belum pernah ia lihat.

__ADS_1


 


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2