Blue Scandal

Blue Scandal
46 - Penyesalan


__ADS_3

...(❗Triggered warning ❗Mengandung adegan melukai diri sendiri, situasi yang berkaitan dengan kecemasan berlebih dan depresi secara tersirat) ...


Tuuttt… tuuttt… tuutt…


Zora menggigit bibirnya, ia berkali-kali mencoba menghubungi Deon, namun tidak ada jawaban sejak tadi. Rasa pening di kepalanya mengalahkan rasa lapar. Sejak pagi gadis itu tidak makan sedikitpun setelah sebuah video tersebar luas.


Orang yang memberitahunya pertama kali tentang tersebarnya video tersebut adalah sebuah nomor tidak dikenal. Link yang dikirimkan seseorang tersebut membawanya pada sebuah situs yang yang menyajikan berbagai bl*e film untuk penggunanya.


Zora mengenal salah satu video itu. Itu adalah rekaman saat gadis berambut pendek itu melakukan hubungan dengan Deon, kekasihnya. Namun dalam video tersebut yang terlihat hanya wajahnya, wajah laki-laki dalam video itu tampaknya sudah diedit agar tidak terlihat.


Dada Zora terasa sesak, perasaan marah, kesal, bingung dan panik bercampur menjadi satu. Ia tidak menyangka seseorang yang begitu ia percayai dan cintai melakukan hal yang sangat buruk kepadanya.


“B*ngsat!.”


Zora meremas kuat rambutnya, setelah marah ia menangis. Tatapan matanya yang kosong mengarah pada cutter di atas meja belajarnya.


Drrrrrtttt… drtttt…


Tiba-tiba banyak pesan masuk ke dalam ponselnya. Gadis berambut pendek itu membukanya, banyak pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk.


.


Dari: 0812xxxxxx9


Perjamnya berapa dek?


.


Dari: 083xxxxx7


Bisa kasih spesial service nggak?


.


Setelah menghapus dua pesan random yang dibacanya, Zora langsung menghapus semua pesan lainnya tanpa membukanya.


Jari tangannya berhenti saat matanya membaca pesan dari sebuah nama yang ia kenal, Deon.


.


To: Zora sayang


Kamu udah lihat belum? Temen ku heboh banget minta dikenalin kamu hehe.


Jangan terlalu nyalahin aku, salahin aja temen mu, Lilia yang nggak mau bantuin padahal udah ku kasih tau soal video ini hehe.


.


Ekspresi Zora berubah, ia baru menyadari jika laki-laki yang dipacarinya adalah pria brengsek. Keningnya mengernyit. ‘Kenapa dia sebut nama Lilia? Lilia tau soal video itu?’


Amarah Zora semakin membesar, sebenarnya gadis berambut pendek itu mengakui kesalahannya karena ia tidak mendengarkan apa yang sudah dikatakan Lilia saat itu. Namun dirinya yang sedang berputus asa sekarang sedang butuh menyalahkan seseorang.

__ADS_1


Rasa rendah dirinya semakin menjadi-jadi saat ia teringat teman satu sekolahan yang memiliki kehidupan hamonis dan sempurna itu disebut Deon sabagai salah satu penyebab video itu beredar.


Meski tau yang salah adalah dirinya sendiri, Zora menyalahkan Lilia sebagai penyebab beredarnya video itu. Akalnya mulai terganggu dengan emosi dan rasa rendah diri yang tersimpan bertahun-tahun membuatnya pikirannya buta.


Setelah mengirim pesan kepada Lilia, Zora memukul meja belajarnya berkali-kali. Tangannya memerah tapi ia tidak merasakan sakit.


Padahal minggu lalu ia baru saja mencibir tindakan Sella yang memilih mengakhiri hidupnya, tapi sekarang ia justru memikirkan hal yang sama.


Zora paham betul jika sebuah video seperti itu tersebar, tentu saja kehidupannya sebagai perempuan akan berantakan. Kali ini ia baru menyesali tindakannya.


Kepalanya terasa sakit dan tubuhnya terasa lemas karena seharian belum makan apapun. Namun entah kenapa gadis berambut pendek itu tidak merasa lapar.


...◇◇◇...


Di saat yang sama di sekolah…


.


.


Drrrttt...


Lilia menatap ragu ke arah Julio, ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Detak jantungnya bertambah kencang saat melihat notifikasi nama Zora di ponselnya.


Setelah membaca pesan dari Zora, wajah Lilia menjadi pucat, selama beberapa detik ia seolah tidak mendengar apapun.


Gadis bermata coklat itu memandang ragu ke arah Julio. “Pak… ini gimana?”


Lilia menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia jadi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa memang karena ia tidak mau menemui Deon jadinya video itu tersebar?


Ekspresi Julio berubah setelah membaca pesan itu. “Kamu tau rumah Zora?”


Lilia menggeleng, menahan tangis. Suasana hatinya sekarang sedang kacau sekali.


“Hmm, kamu tunggu disini saja, saya akan tanyakan ke Gio.”


Lilia menunduk tanpa menjawab, menggenggam erat kedua tangannya.


“Nggak apa-apa oke? Jangan ikut nyalahin dirimu sendiri, walau harusnya saya nggak menyalahkan siapapun. Ini kesalahan Zora sendiri, jadi kamu jangan menyalahkan diri sendiri.”


Setelah mengatakan itu, Julio langsung berlari menuju ruang UKS. Padahal ia seharusnya tidak terlalu banyak mengurusi tentang siswanya, namun kali ini ia pun bertindak berlebihan lagi.


Saat dalam perjalanan menuju UKS, Julio berpapasan dengan Reza. “Reza, sebentar… .”


Laki-laki yang merasa namanya dipanggil itu menoleh. ‘Tumben Pak Julio kelihatan panik?’


“Ya pak? Ada apa?”


“Kamu tolong ke ruang BK temani Lilia, atau kamu bisa panggilkan Fani untuk menemai Lilia.”


Reza mengernyitkan keningnya. “Ada apa pak?”

__ADS_1


“Kamu kesana saja, saya buru-buru.”


Setelah mengucapkan itu, Julio langsung melanjutkan langkah kakinya menuju UKS. Reza yang bingung pun segera menuju ruang BK seperti yang diminta Julio.


Julio membuka pintu UKS dengan kasar hingga guru yang sedang berjaga terkejut. “Ada apa pak?”


“Gio masih disini kan?”


Srraatt… pembatas dari kain itu disingkirkan paksa.


“Gio, kamu tau rumah Zora dimana?”


Gio membuka matanya perlahan, rasa nyeri pada kepala dan bibirnya mulai membuatnya semakin sadar.


“Haduh pak Julio, biarkan Gioo istirahat dulu," ucap petugas kesehatan.


“Nggak bisa bu… .”


“Ada apa pak?” tanya Gio pelan.


Julio menoleh lalu berbisik ke telinga Gio karena takut petugas kesehatan itu mendengar. “Antarkan saya ke rumah Zora sekarang, saya dapat informasi dia akan… .” Julio menggantungkan kalimatnya lalu menghela nafas.


Gio memandang Julio dengan ekspresi tidak percaya. ‘Eh? Apa pak Julio sudah tau? Siapa yang memberi tahunya?’


Berbagai pemikiran negatif mulai menyerang Gio. ‘Itu pasti sudah tersebar ya? Coba aja aku lebih cepat ngasih tau Zora. ‘


Laki-laki bermata onyx itu turun dari ranjang UKS lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.


“Loh gimana sih pak ini Gio kan perlu istirahat dulu,” ucap petugas UKS.


“Maaf bu, ini darurat… .”


Julio langsung pergi bersama Gio. Petugas UKS itu hanya menatap kepergian keduanya dengan ekspresi bingung.


Rasa nyeri pada bibir dan pelipis Gio sudah tidak dirasakannya lagi. Selama perjalanan, ia juga sudah berkali-kali mencoba menghubungi Zora namun tidak mendapat jawaban.


Tangan Gio mengepal, ia ingin sekali memukuli laki-laki brengsek yang sudah merusak sepupunya.


“B*ngsat… ,” gumam Gio lirih. Julio yang bisa mendengar itu tetap diam dan tidak berkomentar, ia ingin tetap fokus supaya cepat sampai dengan aman.


Saat tiba di rumah Zora, ada banyak warga yang berkerumun di depan rumah bercat hijau itu. Gio pun langsung turun dan berlari memasuki rumah tersebut.


Riuh suasana di tempat itu membuat kepala Gio semakin sakit.


“Ini mana ambulannya nggak datang-datang?” tanya salah satu pria paruh baya dengan ekspresi marah.


“Ada apa to pak?” tanya ibu-ibu lain yang baru bergabung.


Riuhnya suasana itu dikagetkan dengan teriakan seorang pria dari dalam rumah. “Anak nggak guna! nyusahin aja kerjaannya! "


...◆◇◆◇◆...

__ADS_1


__ADS_2