Blue Scandal

Blue Scandal
17 - Rahasia


__ADS_3

Lilia diam saja selama pelajaran Fisika berlangsung. Pikirannya entah kenapa terus mengingat ekspresi Julio dan pandangan matanya yang terlihat seperti kehilangan sesuatu.


Tatapan mata Julio yang biasanya hangat itu terlihat agak berbeda. Seolah seperti tatapan mata seseorang yang ingin menangis.


Lilia menghela nafas, ia memang tampak sedang memperhatikan pelajaran, namun kepalanya justru dipenuhi berbagai macam pikiran.


Usai jam pelajaran selesai dan bel tanda pulang berbunyi, Reza langsung pergi begitu saja. Laki-laki bermata hitam itu masih menghindari Lilia. Ia masih tak ingin berbicara dengan Lilia meski sering memperhatikan perempuan bermata coklat itu dari kejauhan.


Lilia juga membiarkan Reza bersikap sesukanya dan tak mengajaknya mengobrol lebih dulu karena tak tau apa yang harus dikatakan.


“Lilia habis sekolah mau ngelesin lagi?” tanya Halina yang sudah memakai tasnya.


“Iya, pengganti beberapa hari lalu.”


“Semangatt ya, aku duluan.”


“Oke, hati-hati di jalan,” jawab Lilia sambil tersenyum.


Suasana kelas itu langsung sepi  begitu Halina pergi. Sekarang hanya tinggal Lilia sendiri duduk di kursinya sambil memandang ke arah luar jendela.


Seseorang mendekat ke arah mejanya lalu meletakkan roti isi srikaya dan minuman dingin kemasan.


“Makan dulu sebelum yang lain datang, saya mau ambil tas saya dulu,” ucap Julio sambil tersenyum.


“Terimakasih pak.”


Julio langsung keluar dari kelas itu. Sedangkan Lilia memandangi roti dan minuman didepannya dengan ekspresi bingung.


‘Bagaimana pak Julio tau roti dan minuman kesukaan ku? Bahkan Fani nggak tau roti apa yang ku suka…’ ucap Lilia dalam hati.


Perempuan bermata coklat itu juga ingat saat Julio juga memberikan permen yang disukainya.


Lilia merasa aneh dengan itu semua. Pikirannya ragu jika itu hanya sebuah kebetulan. Namun jika memang Julio tau, darimana asalnya?


Lilia memakan roti isi srikaya itu dengan pikiran mengganjal. Tak lama kemudian siswa kelas X yang akan mengikuti lomba datang ke kelas itu.


“Kak Lilia, ini mulainya jam berapa?” tanya salah satu siswa perempuan berkacamata.


“Jam 14.00 mulai, kalian bisa makan atau minum sesuatu dulu,” jawab Lilia sambil tersenyum.


Keempat siswa itu tampak lega lalu mengeluarkan bekalnya. Lilia mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan untuk meminta Julio datang lebih lambat.


...◇◇◇...


Julio bersiap akan kembali ke ruang kelas untuk memberikan pelatihan persiapan lomba cerdas cermat. Ponselnya berbunyi, ia pun memeriksa pesan yang masuk lalu tersenyum.


Laki-laki berkacamata itu kembali duduk di tempatnya dan meletakkan kembali tasnya.


“Pak Julio hari ini ngelesin lagi ya?”


Laki-laki yang dipanggil Julio itu menoleh. “Iya pak, untuk pengganti selasa lalu. Jatah saya ngelesin tinggal dua kali lagi, minggu depan pak Darma sudah bisa kembali masuk.”


Pak Damar mengangguk mengerti. “Saya dengar minggu depan anda izin selama beberapa hari, ada acara apa pak?”


“Ada urusan pribadi jadi saya harus pulang ke Semarang.”


“Bukan diberhentikan karena mendatangi orang tua siswa kan pak?” tanya pak Damar khawatir.


“Hahaha, tidak kok. Respon yang saya dapatkan tidak semenyeramkan yang dibayangkan guru-guru lainnya.”


“Loh katanya pak kepala sekolah juga menegur anda kan?”


“Iya, ada orang tua siswa yang meminta jika ada permasalahan diselesaikan di sekolah saja… Padahal hal itu penting dibicarakan dengan mereka, tapi izin saya bukan karena itu.”


“Ya gitu lah pak, orang tua siswa sudah lelah karena pekerjaan dan jarang ada yang memperhatikan anaknya.”


Julio diam, laki-laki bermata coklat terang itu cukup paham kenapa banyak remaja yang salah pergaulan.


“Saya pulang duluan ya, pak Julio,” ucap pak Damar lalu berlalu pergi.


Julio menghela nafas panjang. Ia tau seharusnya tak perlu memikirkan permasalahan siswa terlalu serius karena itu bukan tugas utamanya.


Ruangan guru itu mulai sepi, hanya terdengar bunyi detik jam dinding yang tergantung tak jauh dari tempat duduk Julio.


Saat jam menunjuk angka 2, laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu membawa tas punggung dan segera berjalan menuju kelas untuk memberikan pelatihan.


...◇◇◇...


Usai memberikan les untuk persiapan lomba cerdas cermat, Lilia pulang diantar oleh Julio. Dalam perjalanan pulang itu, keduanya banyak mengobrol.


“Reza tak mengantar kamu lagi?” tanya Julio penasaran.

__ADS_1


“Tidak, saya bahkan sudah lama belum berbicara lagi dengannya.”


“Kenapa? Kan tinggal bicara.”


“Saya masih belum tahu apa yang harus saya katakan dan dia juga selalu menghindar jadi saya tidak bisa menyapanya.”


“Apa perlu saya pertemukan?”


“Tidak perlu,” jawab Lilia singkat.


Julio tertawa, namun saat menyadari rasa nyaman ketika mengobrol dengan Lilia membuat hatinya tiba-tiba terasa berat.


“Oh iya pak, apa sebelumnya anda  pernah mengenal saya?”


“Tidak, saya baru mengenal semua siswa disini ketika saya mengajar disini, kenapa?”


“Saya merasa aneh…”


“Merasa aneh? Tentang saya?”


“Ya, bagaimana anda bisa tau roti kesukaan saya?”


Julio terkejut dengan pertanyaan Lilia. “Roti? Maksudnya? Saya tau roti kesukaan kamu? Memangnya apa roti kesukaan mu?”


Lilia tampak ragu dengan jawaban yang diberikan Julio. “Tidak jadi, sepertinya saya terlalu banyak berpikir.”


Julio menghela nafas lega dari balik helmnya. Ia tak menyangka Lilia akan berpikir sampai ke arah sana.


“Pak, tadi pagi anda terlihat sedih,” ucap Lilia lagi.


“Saya?”


“Ya, anda terlihat sangat sedih. Apa ada sesuatu yang berkaitan dengan pertemuan orang tua siswa?”


“Hahaha, tidak kok, tidak ada masalah tentang hal itu. Saya hanya sedang memikirkan hal lain. Kamu mengkhawatirkan saya?”


Lilia menghela nafas panjang. “Tentu saja saya khawatir. Anda kan biasanya selalu terlihat bersemangat dan ceria.”


“Saya tidak selalu bersemangat setiap hari kok. Oh iya, minggu depan selama beberapa hari saya tidak bisa hadir di sekolah.”


“Wah siswa laki-laki pasti senang jika mengetahui itu.”


Julio hanya tersenyum simpul dibalik helmnya. Padahal ia berharap Lilia akan bertanya kenapa ia tidak bisa hadir.


“Saya hanya memberi peringatan kepada orang tua mereka untuk lebih mengawasi anaknya.”


“Pak Julio tidak menghukumnya?”


“Saya tidak bisa langsung menghukumnya karena pelanggaran baru dilakukan satu kali. Oh iya waktu itu saya dengar kamu sakit ya? Maafkan saya karena malah minta dibantu razia dadakan dan tidak memperhatikan kesehatan mu.”


“Oh itu, awalnya saya sehat sih pak, hanya saja saya agak kaget mengetahui teman-teman seumuran saya memiliki pergaulan yang biasanya hanya saya lihat di tv atau saya baca di novel… “ jawab Lilia lirih.


“Kira-kira apa ya pak alasan mereka melakukan hal-hal seperti itu?” tanya Lilia menambahkan.


“Mungkin pencarian jati diri?”


“Bukankah ada banyak jalan dalam pencarian jati diri? Kenapa memilih hal yang seperti itu?”


Julio diam sejenak mencoba merangkai kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Lilia.


“Karena setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda sehingga jalannya pun berbeda. Apa kamu membenci teman-teman seumuran mu yang seperti itu?”


“Tidak.”


Julio terkejut dengan jawaban perempuan bermata coklat itu. “Kenapa?”


“Saya hanya tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tapi saya tidak begitu membenci orangnya. Saya merasa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, karena saya tidak tau kehidupan seperti apa yang mereka jalani…”


Julio diam setelah mendengarkan jawaban Lilia. Cara pemikiran yang menurutnya bodoh itu sebenarnya sangat dibenci Julio.


...◇◇◇...


Lapangan sekolah pagi itu sudah dipenuhi oleh siswa kelas XI A yang sedang mengikuti pelajaran olahraga.


Sejak awal kenaikan kelas, baju olahraga untuk siswa perempuan telah diganti karena kejadian pada semester sebelumnya.


Meski masih dengan warna senada dengan baju olahraga sebelumnya, bahan yang digunakan kali ini cukup berbeda dan terasa lebih nyaman saat dipakai.


Siswa kelas XI A tersebut berbaris dengan rapi lalu melakukan pemanasan seperti yang dicontohkan oleh guru olahraga.


Setelah pemanasan, pak Bambang meminta siswanya untuk membentuk regu yang berisi empat orang siswa untuk pengambilan nilai.

__ADS_1


Saat sedang membentuk kelompok, Lilia melihat Reza tak bergerak dari tempatnya untuk mencari kelompok sedangkan teman sekelas lainnya tampak sudah membentuk kelompok.


Lilia menghela nafas lalu menghampiri Reza.


“Mau sekelompok?”


Reza menoleh dengan eskpresi datar. “Boleh.”


Tatapan mata keduanya bertemu, namun Reza langsung membuang muka.


Lilia mencoba tak memikirkan itu dan fokus pada penilaian olahraga hari itu. Halina yang melihat interaksi canggung kedua orang itu hanya diam tanpa menanyakan apapun.


Kringg…


Bel tanda jam istirahat tiba berbunyi bertepatan dengan selesainya pengambilan nilai hari itu.


“Lilia, biasanya kamu kayak dekat gitu sama Reza, tapi udah lama ini kok keliatannya kalian kayak nggak saling kenal?” tanya Halina tiba-tiba.


Lilia menghela nafas panjang. “Entah.”


Keduanya berjalan bersama menuju kelas mengambil seragam untuk berganti pakaian. Saat tiba di kelas, di atas meja Lilia ada roti dan minuman dingin.


“Siapa yang naruh ini disini Gin?” tanya Lilia ke salah satu teman di kelasnya.


“Reza tadi.”


Lilia mengambil roti dan minuman itu lalu meletakkannya di meja Reza. Halina yang mengamati ekspresi kesal Lilia tidak berani bertanya apapun.


Lilia pun langsung mengambil seragamnya dan menuju toilet untuk berganti pakaian.


Usai berganti pakaian, saat akan kembali ke kelas, Lilia berpapasan dengan Reza yang tampaknya juga baru selesai berganti pakaian.


“Reza, bisa ngomong bentar?”


Laki-laki yang dipanggil itu diam melihat Lilia tanpa menjawab.


“Halina balik duluan aja,” ucap Lilia dengan ekspresi serius.


Halina mengangguk mengerti lalu kembali lebih dulu ke kelas tanpa mengucapkan apapun.


“Kamu kenapa lagi sih? Bikin orang bingung tau nggak? Sebentar baik, ngilang, ngasih vitamin, makanan, minuman, ngilang lagi… .”


Reza tampak tak tenang lalu menyenderkan punggungnya di tembok. Matanya yang jernih itu memandangi Lilia dalam waktu lama.


“Hehe maaf,” ucap Reza sambil tersenyum.


“Maaf buat apa?” ucap Lilia dengan ekspresi serius.


“Kamu marah soal aku yang tawuran waktu itu?”


“Marah lah, kalau ada apa-apa sama kamu gimana? Kalau luka mu parah gimana? Kamu nggak tau kan gimana khawatirnya kau waktu itu?”


Reza terkejut dengan apa yang diucapkan Lilia.


“Nggak tau lah. Jangan ngasih minuman, makanan atau vitamin lagi.” Lilia ingin pergi dari tempat itu namun tangannya ditahan oleh Reza.


“Maaf… ,” ucap Reza sambil menggenggam tangan Lilia.


“Maaf aku sering bikin khawatir dan nggak mikirin kalau kamu khawatir… ,” ucap Reza sambil tersenyum.


Lilia menghela nafas panjang. “Apa kamu bakal ngilang lagi kayak dulu kalau nggak ngajak ngomong duluan?”


Keduanya berpandangan dalam waktu lama.


“Ehemm.”


Saat mendengar suara itu, Lilia langsung menarik tangannya yang sedang digenggam Reza. Perempuan bermata coklat itu menoleh ke arah sumber suara.


“Anak-anak tolong jangan pacaran di sekolahan,” ucap Julio sambil tersenyum geli.


Reza tak bereaksi dan hanya memandang Julio dengan ekspresi kesal sedangkan Lilia jadi salah tingkah.


“Apaan sih pak… Siapa pula yang pacaran,” ucap Lilia kesal.


“Aku balik dulu za,” ucap Lilia menambahkan tanpa menoleh dan langsung pergi.


Reza menyilangkan tangannya. “Anda ini nggak tau situasi ya pak?”


“Hahaha maafkan saya, tapi saya ingin menjaga lingkungan sekolah kondusif.”


Reza menatap Julio dengan ekspresi dingin. “Oh ya? Bukan karena anda tak suka melihat Lilia dekat laki-laki lain?”

__ADS_1


Setelah mengucap itu, Reza langsung pergi. Julio yang mendengar itu mematung ditempatnya karena terkejut dengan apa yang diucapkan Reza.


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2