Blue Scandal

Blue Scandal
34 - Fall


__ADS_3

10 hari kemudian...


.


.


Usai ulangan tengah semester, kegiatan pembelajaran kembali normal. Pekan Olahraga juga baru saja selesai satu hari lalu. Gavin dan Fani dan Lilia sudah tidak begitu sibuk seperti sebelumnya. Ketiganya kembali pada rutinitas OSIS seperti biasa.


Seperti yang diminta Julio kepada penanggungjawab ekstrakurikuler, lima siswa yang diberi ‘hukuman’ mulai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler setiap hari Rabu dan Sabtu.


Reza, Rion, Farhan, Reno dan Dion mengikuti ekskul yang berbeda.


Reza dan Dion masuk ekskul bulu tangkis mengikuti Gio yang telah ikut ekskul sejak awal semester. Sedangkan Rion, Farhan dan Reno masuk ke ekskul voli.


Julio sesekali datang untuk mengawasi siswa yang hadir. Meski sudah mendapatkan laporan presensi dari Gavin, guru muda itu tetap memeriksa langsung sesekali, seperti hari itu.


Lapangan itu tampak ramai oleh siswa yang mengikuti ekskul dan siswa lain yang hanya menonton. Tidak seperti biasanya, hari itu Lilia datang untuk memberikan semangat ke teman-teman OSIS yang masih menjalani kegiatan hingga sore.


Julio yang melihat Lilia duduk di tepi lapangan itu langsung mengurungkan niatnya dan ingin kembali ke ruangannya. Namun Gavin sudah terlanjur memanggil guru muda itu.


“Pak Julio.”


Lilia menoleh ke arah yang sedang dilihat Gavin. Gadis bermata coklat itu mengernyitkan keningnya. Sudah seminggu ini ia memang hampir tidak pernah melihat pak Julio secara langsung.


Bahkan kelas yang seharusnya diajar oleh guru muda itu digantikan oleh bu Endah.


Julio menghela nafas panjang, mengatur ekspresinya lalu mendekat ke arah pinggir lapangan.


“Hadir semua Gav?”


“Iya pak, kayaknya bener ucapan anda, mereka juga sepertinya merasa senang mengikuti kegiatan,” ucap Gavin puas.


Gavin mulai menaruh rasa hormat kepada guru muda itu. Ia bahkan lupa dengan permintaan Reza untuk mengawasi Julio.


Julio mengangguk mengerti. “Oke kalau gitu saya balik duluan ya.”


“Loh kok tumben pak? Biasanya disini sampai sore?” tanya Gavin heran.


“Masih ada pekerjaan lain,” jawab Julio beralasan.


Gavin mengangguk mengerti dan membiarkan guru itu pergi. Lilia hanya menyaksikan hal itu dari kejauhan dengan ekspresi bingung.


Lilia memeriksa ponselnya. Sudah seminggu ia mengirim pesan kepada guru itu untuk mengembalikan jaket yang dipinjamnya, namun Julio tak membalasnya. Lilia berpikir mungkin saja ponsel guru muda itu rusak.


Lilia juga sempat berpikir guru itu sedang cuti atau ada pekerjaan lain karena tak pernah melihat Julio selama seminggu terakhir ini. Namun ternyata guru itu tetap hadir memeriksa daftar hadir ekskul.


Gadis bermata coklat itu merasa dejavu. Ia mencoba mengingat karena merasa pernah mengalami hal yang mirip.


“Lil, balik yuk, gue laper,” ucap Fani yang datang dari lapangan.


“Oke.”


“Lu mikir apa tumben ekspresi lu kayak gitu?” tanya Fani penasaran.


“Gitu gimana?”


“Kayak orang bingung tapi jengkel?”


Lilia diam sejenak. “Udah yuk balik.”


Lilia pun langsung bangkit dan menenteng tasnya.


“Oi Gav, gue sama Lilia balik dulu ya,” teriak Fani dengan suara keras.


Gavin mengacungkan jempolnya dan mencoba tetap fokus dengan raket di tangan.


...◇◇◇...


Julio diam mematung di ruangannya. Kali ini ia mengumpat kepada dirinya sendiri yang bertindak impulsif tanpa ia sadari.


‘Inget Jun, dia itu bukan Nina…’ ucap Julio dalam hati.


Drttt


To: Jun


Hasil tes nya udah keluar, lu mau lihat langsung atau gue fotoin?


 


^^^To: Elena^^^


^^^Gue nanti kesana, bentar lagi gue balik^^^


 


To: Jun


Okay


 


Julio menghela nafas panjang. Ia tau harus memperbaiki sikapnya agar tidak ada masalah dalam misinya kali ini. Namun kehadiran gadis yang mirip Nina itu benar-benar mengganggu fokusnya.


Julio memeriksa beberapa agenda yang harus diselesaikan minggu ini. Timnya telah bekerja dengan baik, ia tidak ingin semuanya kacau hanya karena hal pribadi yang telah berlalu.


Julio berjanji kepada dirinya jika hasil tes tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan darah dengan Nina, Julio akan berusaha lebih fokus.


 

__ADS_1


...Namun seperti biasa, apa yang diharapkan manusia, selalu berbeda dengan kenyataan yang ada…...


Jun membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas. Ia langsung mengendarai motornya secepat mungkin Laki-laki bermata coklat terang itu langsung menuju kota T dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di salah satu bar yang ada di kota T, Julio langsung masuk dengan memakai topi hitam dan masker.


Elena sudah duduk di bagian ujung ruangan dengan memakai kacamata hitam. Julio langsung duduk di seberang wanita itu.


“Lu nggak sabaran amat. Ganti baju dulu kek. Kalau ada yang liat lu gimana coba?” ucap Elena kesal.


“Makanya gue pake topi sama masker,” ucap Julio dengan tatapan mata dingin.


Elena menyerahkan hasil tes DNA itu. Julio langsung membukanya dan membacanya.


Mata laki-laki itu terbelalak. Ia memandang bergantian antara kertas itu dan Elena yang tampak ikut merasa bingung dengan hasil tes itu.


Julio membeku di tempatnya. Elena membiarkan rekannya berdiam diri, dia fokus dengan minuman yang ada di meja.


“Lu kasih tau ‘ayah’ nggak soal ini?”


Elena diam, menghela nafas panjang. “Gue nggak kasih tau, tapi ayah tau itu… .”


Ekspresi Julio berubah. Ia bingung harus apa. Laki-laki bermata coklat terang itu tidak pernah memikirkan akan ada variabel lain dalam misinya kali ini.


“Gue dapet kabar buruk lain… ,” ucap Elena ragu.


“Apa lagi?”


“Semua ‘kurir’ yang langgar peraturan udah mati.”


“Apa?” tanya Jun dengan ekspresi yang semakin kaget.


“Tadi pagi kelima orang itu mayatnya ditemuin di dermaga kota ini. Mereka kayaknya tau rencana kita, gue kira mereka bakal bela, ternyata malah jadi bumerang buat kita.”


Jun diam dengan ekspresi marah. “Udah nemu siapa mata-mata mereka?”


“Gue udah cek, dari Notus bersih semua… Kemungkinan dari orangnya Styx,” ucap Elena menjalaskan.


Brakkk


Jun menghantam meja itu keras. Semua orang yang ada di bar itu sempat menoleh namun beberapa detik kemudian kembali ke kegiatan masing-masing.


“Untungnya ‘ayah’ udah laporin kejadian ini duluan sejak ada kecurigaan waktu pemeriksaan pusat. Tapi ya, walau Notus nggak dapet dampak apapun, Styx yang berhubungan langsung pasti kena dampak gede,” ucap Elena lagi.


“B*ngsat! Padahal tinggal selangkah lagi,” ucap Jun dengan amarah yang meluap.


“ ‘Ayah’ minta semua kumpul di Semarang besok minggu.”


Jun diam, mencoba meredakan emosinya. Seharusnya ia bisa membongkar peredaran n*rkoba yang menyasar anak di bawah umur. Namun semuanya berantakan.


Elena sebenarnya masih ingin menyampaikan satu hal lagi. Namun melihat Jun yang sedang banyak pikiran membuat Elena memilih diam.


...◇◇◇...


 


.


.


“C*k, ono berita heboh,” (c*k, ada berita heboh) ucap Reno yang baru saja datang.


Semua yang sedang bermain r*mi hanya menoleh sekilas dan menganggap Reno sedang bercanda.


“Tenan lho rungokno aku, pak botak mati c*k,” (Beneran ini loh dengerin aku, pak botak mat c*k,) ucap Reno dengan ekspresi cemas.


“Hah?” ucap semua remaja yang sedang bermain r*mi itu.


Rion juga tampak kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bercanda lu?”


“Ora yon, sumpah tenan, iki lho berita ne,” (nggak yon, sumpah beneran, ini loh beritanya) ucap Reno sambil memberikan ponselnya.


Rion membaca berita itu sekilas. Secara bergantian ponsel itu berpindah dari tangan ke tangan teman lainnya.


“Lu gak tau Yon?” tanya Gio dengan ekspresi bingung.


Semua yang ada disana juga bertanya-tanya karena selama ini yang menjadi penghubung antara mereka dan pak botak adalah Rion.


“Gak tau gue… ,” jawab Rion jujur. Ia sama sekali tak mendapat informasi apapun. Hanya saja ayahnya beberapa waktu lalu memintanya untuk bersiap.


Saat itu Rion berpikir maksudnya adalah bersiap untuk menyebarkan j*di sl*t yang sedang dia lakukan akhir-akhir ini.


“Terus gimana Yon? Ada kenalan kurir lagi nggak?” tanya pemuda berjaket hitam.


“Gampanglah itu, nanti. Tapi sementara jangan pesan apapun dulu karena kayaknya p*lisi lagi nyelidikin. Kalau kalian tetap transaksi di luar, gue gak mau bantuin,” ucap Rion dengan ekspresi serius.


Semua yang ada di tempat itu terdiam. Tak lama kemudian Reza datang, Melihat suasana aneh di tempat itu membuat Reza bingung.


“Pada kenapa kalian?” tanya Reza sambil meletakkan bingkisan berisi jajanan yang sangat banyak.


“Ada kabar pak botak mati Za,” jawab Gio cepat.


Reza juga tempak terkejut. “Serius lu?”


Reno menyodorkan ponselnya. Reza mengernyitkan keningnya. Setau ia, pak botak adalah salah satu ‘kurir’ di Styx.


“Za, ini makanan buat kita?” tanya pemuda berjaket abu.


“Iya, buat kalian.”

__ADS_1


“Asik, kalau udah kerja enak ya, tapi lu traktirannya kenapa jajanan kayak gini dah? Traktir b*r yang mahal atau tembakau Ga* lah,” ucap pemuda berkaus hitam sambil tertawa.


“Itu gue dikasih dari tempat kerja gue, kalau nggak mau sini gue bawa pulang aja,” ucap Reza dengan ekspresi malas.


“Bercanda bro, santuy lah,” sahut yang lainnya.


Reza mengembalikan ponsel itu ke Reno. Rasa penasarannya semakin memuncak. “Gue balik duluan lah kalau gitu.”


“Lah c*k baru dateng dah mau balik aja,” ucap Reno.


“Dia jadi anak alim sekarang,” ucap Rion sambil tertawa.


Reza hanya mengacungkan jari tengahnya dan berlalu pergi. Ia tak begitu peduli lagi dengan kegiatan berkumpul teman-temannya itu.


Reza langsung mengemudikan motornya menuju rumah kakeknya. Meski harus kembali menempuh perjalanan yang cukup panjang, laki-laki bermata hitam itu merasa sudah tak bisa menahan diri untuk bertanya.


Sesampainya di rumah mewah itu, Reza langsung menuju ke ruang kerja kakeknya.


Tok..tok..


“Kek, ini Reza… .”


Beberapa detik kemudian Adhi menjawab. “Oh Reza? Masuk aja.”


Reza memasuki ruang kerja dengan interior dominan menggunakan kayu Jati itu.


“Duduk disitu dulu. Tumben kamu malem-malem kesini,” tanya kakek sambil tetap fokus memeriksa berkas di hadapannya.


Reza diam sejenak, mengatur nafasnya. “Ada yang mau Reza tannyain.”


“Kayaknya penting banget sampe kamu kesini malem-malem?”


“Sebenarnya Reza udah tau usaha gelap milik kakek… ,” ucap Reza membuka suara.


Klotak…


Bolpoin yang sedang digunakan kakek, terjatuh. Reza diam tak menoleh, ia tak ingin melihat ekspresi kakeknya.


Kakek tua itu bangkit lalu duduk di seberang Reza dengan ekspresi tak nyaman. “Sejauh mana yang kamu tau?”


“Nggak jauh, taunya baru soal kakek punya usaha gelap dan pak botak salah satu kurirnya… .”


Tangan kakek tua itu menggenggam erat. Sebisa mungkin ia ingin cucunya hidup normal dan jauh dari dunia hitam yang ada pada kehidupannya.


“Ya benar, jadi apa yang ingin kamu tanyakan?” ucap kakek Reza setelah menghela nafas panjang.


“Banyak, tapi untuk sekarang Reza mau tau soal pak botak, dia mati, apa itu karena keputusan kakek?”


Adhi diam sejenak, mengambil jeda waktu untuk menyusun kalimat.


“Bukan… Beberapa kurir memang melanggar, tapi kakek tidak pernah memberi instruksi untuk membunuh seseorang… .”


Reza menghela nafas panjang, kekhawatirannya berkurang sebagian, “Apa kakek tau siapa yang bunuh mereka?”


Adhi diam, ia tampak ragu. “Kakek tidak bisa mengatakannya karena ini berhubungan dengan informasi yang diberikan pihak lain.”


Reza memandang kakeknya dengan ekspresi bingung. Ia memang tak tau tentang dunia gelap seperti yang disebutkan, tapi satu informasi kecil begitu bukankah hal yang tidak sepenting itu?


“Lalu bagaimana? Bukannya para kurir itu bawahan kakek? Reza denger p*olisi udah mulai lakuin penyelidikan.”


“Penyelidikan itu akan dihentikan.”


“Apa?”


Adhi menatap cucunya dengan penuh rasa bersalah.


Mendengar apa yang dikatakan kakeknya. Reza bisa mengambil kesimpulan bahwa ada campur tangan dalam proses itu.


“Reza dengar jika ada kurir yang melanggar, maka ada hukuman, Reza kira hukumannya seperti ‘itu’… .” ucap Reza dengan ekspresi serius.


“Tidak, hukuman yang diberikan adalah hukuman negara bukan dengan mengambil nyawanya,” ucap Adhi menjelaskan.


Ekspresi Reza tidak bisa dijelaskan. “Memangnya bisa seperti itu?”


Adhi diam, ia enggan menegaskan hal yang sudah jelas tersebut. Reza juga diam selama beberapa waktu.


“Kamu jangan melakukan transaksi apapun dulu… Meski penyelidikan dihentikan, jika ada media yang melihat 1 celah kecil, semua bisa menjadi lebih kacau,” ucap kakek mengingatkan.


Reza diam, ia menggenggam tangannya menahan rasa takut. Laki-laki itu tidak tahu jika kakeknya mengetahui bahwa ia juga mengonsumsi *bat.


“Kakek tau sejak kapan?”


Adhi langsung memahami pertanyaan cucunya itu. “Belum lama ini… .”


Hening lagi… suasana di ruang itu tampak terasa berat.


“Apalagi yang ingin kamu tanyakan?”


Reza memandang ragu ke arah kakeknya. “Apa kakek bisa ceritain ke Reza soal kejadian dulu waktu ayah masuk penjara?”


Adhi diam selama beberapa waktu. “Kakek ingin menceritakan sejak lama, tapi jika kamu mendengar ini, sama saja kakek membukakan pintu kegelapan dan mungkin kamu akan terseret ke dalamnya… Kamu masih mau mendengar itu? Setelah mendengar cerita ini, mungkin kehidupan mu nggak akan kembali menjadi normal lagi… .“


Reza diam, dengan melihat ekspresi kakeknya yang tampak memendam banyak masalah itu membuat Reza cukup mengerti bahwa beban yang kini sedang dibawa kakeknya sangat besar.


Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul dalam hati laki-laki bermata hitam itu. Firasatnya mengatakan akan ada hal-hal yang lebih buruk lagi akan terjadi.


Reza ragu, peringatan keras dari kakeknya tentu saja bukanlah gertakan saja.


Adhi bangkit dari tempat duduknya. “Beritahu kakek jika kamu siap melepas kehidupan normal mu. Sekarang pulanglah, ibu mu pasti menunggu di rumah.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Adhi pergi dari ruang kerjanya sedangkan Reza diam mematung di tempatnya.


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2