Blue Scandal

Blue Scandal
11 - Laki-laki misterius


__ADS_3

Kesibukan siswa kelas XI sudah semakin bertambah. Pengurus OSIS mulai menjalankan tugasnya masing-masing sehingga kadang Lilia, Fani dan Halina jarang bisa makan siang bersama.


Meski begitu biasanya ketiga siswa perempuan itu menyempatkan mengobrol sebentar sebelum pulang sekolah.


Tugas siswa kelas XI juga lebih banyak dari sebelumnya, ditambah dengan kegiatan ekstrakulikuler dan persiapan lomba maupun persiapan pekan olahraga hingga sore hari membuat anggota osis jarang bisa bersantai.


“Gila, capek banget. Gue nggak tau kalau kegiatan OSIS di sekolah ini padet banget,” ucap Fani menggerutu di ruang OSIS itu.


Lilia yang juga sedang di ruangan itu hanya bisa tersenyum pasrah sambil terus mengetik daftar kandidat siswa yang akan mengikuti lomba cerdas cermat.


“Pengen bolos…, btw, Gavin ada pertemuan ketua OSIS se-kabupaten ya?”


“Iya, katanya ada acara kolaborasi gitu di kabupaten buat bulan Oktober,” jawab Lilia tanpa menoleh.


“Gila…, pengen mundur aja gue nih jadi OSIS kayak kerja rodi.”


“Jangan mundur dulu, aku dapet bocoran katanya pembina OSISnya bakal ditambah lagi.”


“Hah? Serius?”


“Yups, nggak sengaja denger pas di ruang guru. Pak Julio bakal jadi pembina pendamping OSIS tahun ini.”


Ekspresi Fani yang semula malas akhirnya berubah menjadi bersemangat.


“Wah, bagus deh. Anak OSIS kan emang perlu penyemangat. Tapi kenapa bisa ada 2 pembina?”


“Pendamping pembina, jadi pak Julio bakal jadi asisten pak Darma gitu. Soalnya kan istri pak Darma hamil tua, jadi biar nggak terlalu berat jadi pembina OSIS, mungkin.”


“Dapet info darimana lu bisa lengkap gitu?”


Lilia tertawa dan tidak menyebutkan apapun. Gadis bermata coklat itu lanjut memeriksa berkas pendaftaran para siswa yang perlu diserahkan kepada pak Darma secepat mungkin.


Beberapa saat kemudian sebagian anggota OSIS lainnya datang. Semua nggota divisi memang sibuk akhir-akhir ini.


“Lilia, tadi pak Julio minta panggilin kamu,” ucap ketua divisi 3.


“Pak Julio? Bukan pak Darma?”


“Iya pak Julio yang tamvan itu,” ucap Mia sambil tertawa.


Lilia ikut tertawa dengan jawaban konyol temannya dari divisi lain itu. Gadis bermata coklat itupun segera membereskan berkas yang sudah disortir untuk sekalian diserahkan kepada pak Darma.


... ◇◇◇...


Lilia melihat ke sekeliling mencari pak Darma untuk memberikan berkas yang diminta, namun ia tak melihat pak Darma ada di ruangan guru itu.


“Lilia,” panggil Julio dari tempat duduknya.


Lilia pun menuju guru tersebut sambil tetap membawa berkas yang diminta pak Darma.


“Begini, istri pak Darma sedang melahirkan, jadi sementara saya yang akan mendampingi OSIS,” ucap Julio menjelaskan.


“Oh begitu, jadi berkas ini juga bapak yang akan mengurus?”


“Berkas pendaftaran lomba cerdas cermat ya?”


“Betul.”


“Taruh saja, oh ya, saya minta nomor telfon ketua OSIS, wakil dan masing-masing ketua divisi.”


“Nanti saya catatkan semua nomornya pak.”


Julio merobek secarik kertas lalu menuliskan sesuatu diatasnya.


Laki-laki bermata coklat terang itupun menyodorkan kertas bertuliskan nomor telfonnya.


“Langsung kirimkan kesini,” ucap Julio singkat.


Kedua pandang mata itu bertemu. “Oh, baik pak.”


Lilia pun segera bergegas pergi setelah menerima nomor itu. Perempuan berambut hitam itu kembali ke ruangan OSIS.


Dengan sigap tangannya menuliskan sesuatu di papan tulis putih yang terpasang di dinding.


“Wah? Pak Julio jadi pembina sementara?” tanya Fahmi yang baru saja selesai berdiskusi dengan Fani.


Fani yang mendengar itu pun langsung menoleh. “Serius?”


“Iya, istrinya pak Darma melahirkan katanya, jadi sementara kegiatan OSIS didampingi pak Julio,” jawab Lilia menjelaskan


Semua pengurus yang sedang ada di ruangan itu mengangguk mengerti.


Tak lama kemudian bel tanda jam masuk pelajaran berbunyi. Lilia mematikan komputer di ruangan OSIS itu lalu segera kembali ke kelas, begitupun dengan Fani dan anggota OSIS lainnya.


Saat tiba di kelas, Lilia tak melihat Reza maupun tas yang biasanya laki-laki itu gunakan.


Kebiasaan bolos Reza masih saja terus dilakukan. Meski begitu nilai ulangan maupun ujian kenaikan kelas selalu saja bagus.


Lilia menghela nafas panjang. Entah kenapa Lilia tiba-tiba teringat tatapan mata Julio yang tampak agak berbeda. Tatapan hangat yang seperti itu seperti menyeretnya masuk ke dalam perasaan aneh.


“Lilia, silahkan jawab pertanyaan nomor 3,” ucap guru matematika itu.


Lilia tergagap karena sedari tadi tak memperhatikan. Namun semalam ia telah belajar dan sudah mencoba mengerjakan beberapa soal. Perempuan bermata coklat itu pun dengan percaya diri mengerjakan soal yang diminta oleh pak Karni.

__ADS_1


Setelah meminta Lilia mengerjakan soal, pak Karni pun melanjutkan mengajar. Kali ini Lilia lolos dari perangkap pak Karni.


Halina hanya menahan tawa melihat Lilia yang hampir saja mendapatkan hukuman.


Setelah satu jam 30 menit, akhirnya jam pelajaran matematika itu selesai.


“Eh Lilia sebentar, tadi Reza nitip ini,” ucap Halina sambil menyodorkan tas kertas ukuran sedang yang ditutup rapat.


“Apa itu? Bukannya Reza nggak masuk? Emang kemana orangnya nggak ngasihin sendiri?”


“Nggak tau sih kemana tapi kayaknya buru-buru banget gitu makanya ini dititipin ke aku,” ucap Halina menjelaskan.


“Oh oke deh, thanks Halin.”


Lilia pun menerima bingkisan tas kertas berukuran sedang itu. Ia penasaran dengan isi bingkisan itu, hanya saja perempuan bermata coklat itu tak ingin ada yang mengetahui isi bingkisan itu.


Lilia pun langsung memasukkannya ke dalam tas agar tidak ada yang bertanya kepadanya, namun Halina tampak penasaran.


“Apaan tuh isinya? Aku kepo,” ucap Halina penasaran.


“Emm, buku catetan yang pernah dipinjem,” jawan Lilia asal.


“Wah…, tapi emang yah si Reza tuh walau sering berantem tapi termasuk rajin belajar. Aku pernah lihat dia beberapa kali di perpustakaan daerah,” ucap Halina dengan semangat.


Lilia yang mengetahui itu tampak takjub. “Oh ya? Wah rajin juga ya?”


Lilia tersenyum geli membayangkan Reza yang dengan tampang dinginnya itu sedang membaca di perpustakaan.


“Pfffttt.”


Halina tampak bingung melihat Lilia tertawa sendiri. “Kenapa Lilia?”


Lilia segera tersadar dari tingkah konyolnya.


“Ah nggak, cuma inget sesuatu yang lucu.”


Halina tampak penasaran namun tak bertanya lebih lanjut. Saat hendak melangkah keluar kelas menuju kelas Fani, tiba-tiba seorang siswa perempuan berpita biru mendekat.


“Anu, kak Lilia kan?” tanya gadis itu memastikan.


“Iya. Ada apa ya?”


“Saya disuruh menyampaikan, kak Lilia dipanggil pak Julio di ruang guru.”


Lilia dan Halina berpandangan lau menghela nafas panjang. Rencananya untuk makan bersama dengan teman-temannya lagi-lagi gagal.


“Yaudah kamu kesana aja Lilia, aku nanti makan bareng Fani aja.”


“Oke, sampaiin maaf ku ke Fani ya.”


Lilia pun segera menuju ruang guru untuk menghadap pak Julio.


Perempuan bermata coklat itu kadang merasa aneh karena dalam sebulan ini ia sering sekali diminta menghadap pak Julio.


Padahal jika ada sesuatu yang berkaitan dengan OSIS bukannya lebih baik jika langsung memanggil ketua OSIS atau wakilnya saja?


 


...◇◇◇...


 


Pada waktu istirahat di kantin…


Halina dan Fani makan nasi pecel kesukaan mereka sambil mengobrol. Gavin yang biasanya ikut tak bisa hadir karena harus menghadap kepala sekolah.


“Eh Hali, menurut lu aneh nggak sih?”


“Soal apa?”


“Lilia tuh sering banget dipanggil pak Julio,” ucap Fani sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Aku nggak tau banyak soal OSIS sih tapi kalau emang ada perlunya sama Lilia ya gimana? Dia kan ketua divisi yang tanggungjawab sama hal-hal berkaitan dengan prestasi akademik kan?”


“Iya sih… ,” jawab Fani ragu.


“Lagian katanya bentar lagi ada lomba cerdas cermat kan?”


“Emang sih.”


“Kamu juga ada tanggungjawab buat bantu divisinya Lilia kan, karena ada pekan olahraga juga?”


“Iya tapi bagian gue sepulang sekolah sih. Biasanya gue nganter Lilia pulang dulu. Mungkin karena jarang ketemu, gue jadi mikir kemana-mana.”


Mereka pun lanjut makan dan mengobrol. Keduanya tak sadar jika sedari tadi diseberang mejanya ada seorang laki-laki yang mendengarkan dengan ekspresi yang tampak tak senang.


Laki-laki bermata hitam itu pun bangkit dari tempat duduknya setelah menghabiskan makanannya.


...◇◇◇...


Ruangan guru yang ber-AC itu membuat aroma parfum yang dipakai guru menjadi bercampur, namun entah kenapa hidung Lilia lebih fokus pada aroma parfum yang dipakai Julio.


“Nanti tolong untuk keempat siswa ini sampaikan untuk menemui saya sepulang sekolah.”

__ADS_1


“Baik pak, lalu apa saya perlu juga mendampingi? Pak Darma waktu itu pernah meminta saya untuk ikut membimbing peserta yang akan mengikuti lomba.”


“Oh iya ya? Saya lupa kamu tahun lalu masuk tiga besar saat lomba cerdas cermat di kabupaten. Kalau kamu tidak keberatan saya akan minta bantuan mu.”


“Baik pak, lalu untuk ruangan yang perlu disiapkan?”


“Karena sepulang sekolah OSIS juga sedang sibuk menyiapkan pekan olahraga, saya pikir lebih baik menggunakan kelas biasa saja.”


“Baik, …”


Perbincangan itu terus berlanjut hingga hal-hal teknis.


Reza yang sedari tadi ada di luar ruang guru itu memutar otaknya agar bisa mempunyai alasan masuk ke ruangan guru


“Reza, kebetulan, sini bantu saya,” ucap bu Sri yang kali ini menjadi wali kelas Reza dan Lilia.


“Bantu apa ya bu?”


“Bantu cek hasil ulangan kelas 1, nilai kamu kan paling bagus di pelajaran biologi.”


Reza yang seperti mendapat kesempatan itupun akhirnya memutuskan membantu agar bisa masuk ruangan guru tersebut.


Sudut matanya melihat ke arah Lilia yang sedang duduk cukup dekat pak Julio.


“Kamu duduk sini, ini kamu yang kasih penilaian,” ucap bu Sri menjelaskan.


“Loh kok saya yang kasih nilai bu? Nanti kalau saya ngawur gimana?”


“Ya engga lah, saya tau walau kamu sering bolos dan berkelahi, kamu itu punya pemikiran yang cermat dalam menjawab atau menilai sesuatu,” ucap bu Sri menjelaskan.


Reza yang tak terbiasa dengan pujian pun menjadi merasa malu dan akhirnya menurut.


“Yaudah tolong ya Reza, saya mau makan dulu dari pagi nggak sempet sarapan.”


Guru lain yang ada di depan Reza pun tertawa ikut menimbrung. “Ya ampun bu Sri jam setengah 1 kok baru sarapan.”


“Biasalah orang sibuk,” ucap bu Sri sambil tertawa.


Reza mulai memeriksa kertas ulangan dari kelas 1 sambil sesekali melihat ke arah Lilia.


Meski sudah dijelaskan oleh sang kakek, Reza kembali merasa curgia dengan guru baru itu. Laki-laki misterius yang menatap Lilia dengan pandangan hangat itu mulai mengusik perasaan Reza.


Laki-laki bermata hitam itu sangat yakin bahwa guru tersebut memiliki ketertarikan khusus kepada Lilia. Apalagi setelah mendengar ucapan Fani dan Halina, Reza semakin yakin ada yang aneh dengan guru misterius tersebut.


...◇◇◇...


 


Sepulang sekolah, 4 siswa kelas X dan Lilia menemui pak Julio di ruang guru. Setelah itu kelima siswa itu diarahkan untuk memakai kelas yang paling dekat dengan ruang guru, yaitu kelas yang Lilia tempati.


Pak Julio dan Lilia bekerjasama untuk menyiapkan siswa yang akan lomba satu bulan lagi itu.


Sesekali Julio mencuri pandang ke arah Lilia yang tampak serius memberi penjelasan soal kepada adik kelasnya itu.


Latihan soal hari itu selesai pada pukul 3 sore. Keempat siswa itu pun langsung pulang.


“Lilia pulang bareng siapa? Setahu saya kamu biasanya bareng Fani, tapi Fani sepertinya masih melatih anak-anak yang ikut pekan olahraga,” ucap Julio dengan ekspresi tenang.


“Emmm…,” Lilia bingung harus menjawab apa karena sebenarnya hari ini ia juga tak tau apakah harus menunggu Fani atau tidak.


Mengetahui siswanya kebingungan, Julio pun menawarkan bantuan. “Kalau jam segini sepertinya bus juga sudah tidak ada ya? Apa mau bareng saya?”


Belum sempat menjawab, tiba-tiba Reza yang entah datang darimana itu menyahut.


“Lilia bareng saya pak,” ucap Reza menyela.


Lilia yang melihat kedatangan Reza agak tekejut.


“Oh bareng kamu? Loh kalian ini pacaran?” goda pak Julio.


“Bukan pak!” jawab Lilia dengan gugup, wajahnya memerah.


Reza langsung melepas jaketnya dan meleparkan ke arah Lilia sehingga wajah Lilia yang sedang malu itu tertutupi.


“Pakai, angin sore dingin,” ucap Reza beralasan.


Reza menatap dengan ekspresi tidak senang ke arah Julio. Guru itu hanya tersenyum geli melihat dua siswanya itu. Lilia pun langsung memakai jaket Reza. Mukanya semakin memerah karena aroma parfum di jaket itu.


Setelah melihat ke arah Lilia sebentar, Julio pun pamit pergi. “Hati-hati di jalan. Jangan mampir kemana-mana.”


Reza tak menjawab dan langsung menarik tangan Lilia.


“Za? Kamu tadi nungguin aku?”


Reza diam, laki-laki bermata hitam itu menyalakan motornya lalu meminta Lilia naik.


"Kamu tadi bukannya bolos? "


"Cuma males aja ikut pelajaran matematika, pak Karni kalau lihat aku biasanya sensi, males banget," ucap Reza menjelaskan.


Setelah percakapan tersebut, keduanya diam dalam perjalanan itu. Sinar matahari sore yang terhalang pohon-pohon dan hembusan angin sore itu membuat Lilia merasa sedang hanyut dalam sesuatu.


Ini pertama kalinya Reza mengantarnya pulang ke rumah. Meski tidak tau kenapa Reza tiba-tiba bersikap seperti itu, dalam hati Lilia ada sedikit rasa senang.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


__ADS_2