Blue Scandal

Blue Scandal
08 - Sisi gelap


__ADS_3

Suasana sekolah masih ramai meski sudah ada beberapa siswa yang pulang. Beberapa anggota osis masih membereskan sisa acara class meeting yang berlangsung meriah itu.


Lilia tampak celingukan mencari seseorang. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.


“Doorr!”


Lilia membalikan badannya dan menemukan Reza sedang tersenyum lebar. Mata gadis itu fokus ke sudut bibir Reza yang terluka.


“Tumben lil nyariin gue di sekolah,” ucap Reza sambil tersenyum.


“Itu, perlu plester nggak?” tanya Lilia sambil menunjuk ke arah sudut bibir Reza.


Reza tampak terkejut lalu tertawa. “Perlu mungkin? Kalau dikasih plester nanti ku pakai.”


Lilia tampak kesal. “Bersihin lukanya, obat di UKS.”


Reza tertawa lagi. “Apa nih, kamu khawatir?”


‘Hahhh, lagi-lagi cara bicaranya berubah…’ ucap Lilia dalam hati.


Lilia menatap Reza dengan ekspresi kesal. “Kamu dari dulu dikhawatirin nggak pernah ngerasa ya?”


Reza tertawa lagi. “Lili, kan udah ku kasih tau jangan baik begitu ke cowok, nanti bisa ge er.”


Lilia diam lalu meraih tangan Reza dan memberikan plester luka. Gadis bermata coklat itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


Reza hanya menghela nafas panjang sambil tersenyum geli.


‘Kenapa sih malah muncul terus? Kan gue jadi ngarep lebih…’ Ucap Reza dalam hati.


Drrtttt


Klik


“Dimana lu Za?”


“Mau ke UKS.”


“Lah sakit lu tumben?


“Nggak, pengen ke UKS aja hehe.”


“Yaudah kalau gitu gue duluan ke -Melon- ya.”


Reza tak menjawab dan langsung mematikan ponselnya. Ekspresinya berubah seolah baru menyadari sesuatu. Ia menghela nafas panjang seolah merasa ada beban yang tiba-tiba mengganggu pikirannya.


Dengan hati-hati Reza menyelipkan plester luka itu dibalik casing ponselnya. Laki-laki bermata hitam itu pun menuju ruang UKS dengan ekspresi getir.


...◇◇◇...


 


Saat kembali ke kelas, Lilia melihat Fani dan Gavin tak saling mengobrol dan malah sibuk dengan ponselnya masing-masing.


“Fan, balik sekarang yuk, tapi pengen mampir beli jajan di Indoapril.”


“Oke deh, lagian dah selesai semua kan. Sisanya yang ngurus anak osis hehe,” ucap Fani riang.


“Kamu masih ada urusan di sekolah Gav?” tanya Lilia.


Gavin mematikan ponselnya dan memasukkanya ke dalam tas.


“Masih disuruh nata kelas buat pengambilan raport senin nanti.”


“Oh yaudah. Btw Gav, jaket lu gue bawa dulu ya,” ucap Fani sambil tertawa.


Gavin mengiyakan. Kedua gadis itu pun segera meninggalkan ruang kelas itu setelah membereskan bawaannya.


Tak lama setelah itu pengurus kelas datang dan mulai menata ruangan.


 


... ◇◇◇...


Reza melangkah dengan rasa malas ke dalam tempat nongkrong yang disebut dengan -Melon- itu.


-Melon- adalah sebutan sebuah tempat nongkrong seperti café tradisional dengan dinding yang terbuat dari anyaman rotan.


Café itu terletak diatas perbukitan tak jauh dari pusat kecamatan. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 10 menit jika naik motor dari alun-alun kecamatan.


Nama -Melon- itu diadaptasi dari kisah percintaan pemilik café itu. Dari cerita yang beredar menyebut bahwa orang yang disukai pemilik tempat itu menyukai buah melon.

__ADS_1


“Baru dateng lu Za?” sapa seorang remaja seusia Reza yang sedang duduk sambil menata kartu r*mi.


Reza mengambil posisi duduk paling pinggir setelah basa basi menyapa teman-temannya.


“Eh gue denger lu tadi ke UKS ngapain? Sakit lagi lu?”


“Nggak, Cuma ngobatin ini,” ucap Reza sambil menunjuk sudut bibirnya.


“Oh ya katanya lu dipukul kakak kelas ya? Wkwkw” ucap Rion sambil tertawa.


“Biasalah,” jawab Reza malas.


Tak lama kemudian datang beberapa remaja lainnya. Suasana café bagian ujung tempat mereka berkumpul sangat ramai. Ada sekitar 15 remaja laki-laki yang datang.


“Yo Reza,” sapa Gio sambil tersenyum meledek.


Reza hanya menanggapi singkat. Kali ini ia merasa tak nyaman dalam perkumpulan dengan temannya yang sudah berlangsung sejak SMP ini.


“Weh gue denger lu dihajar kakak kelas sampai sobek mulutnya wkkwkw. Nggak bisa minum dong lu?” ucap Gio sambil tertawa.


“Gue skip dulu.”


“Cih nggak asik.”


“Eh c*k, ono barang neh opo ora minggu iki?” (eh *** ada barang lagi nggak minggu ini?) tanya salah satu remaja yang memakai kaos abu-abu.


“Santai, ngko pak botak mrene,” (santai, nanti pak botak kesini) ucap Rion dengan riang.


Semua remaja itu tampak menikmati kegiatan sore itu. Bau asap rokok yang segera terbawa angin, aroma minuman keras yang menyengat dan suara tawa remaja itu meramaikan senja yang sebentar lagi tiba.


Kartu yang berpindah dari tangan ke tangan dan tumpukan uang di bagian tengah menghiasi meja besar itu.


Hanya beberapa remaja yang sedang bermain. Yang lainnya hanya menonton dan meneguk minuman keras yang dituang di gelas-gelas kecil.


Reza memilih menjauh dari kerumunan itu dan mendekat ke bagian tengah café itu.


Desain café yang terletak di perbukitan itu cukup unik. Pada bagian depan akan terlihat seperti café biasa ala pemandangan desa.


Pada bagian barat, ada lagi tempat duduk lesehan dengan meja yang besar dan dinding dari anyaman bambu yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.


Pada bagian tengah terdapat meja dan kursi yang ditata menyerupai bar kecil. Tempat inilah yang sering jadi tempat duduk pengunjung yang datang sendirian.


“Nggak ikut kumpul lagi, Za?” tanya pemilik café sekaligus barista di tempat itu.


Laki-laki gondrong itu tertawa mendengar alasan Reza. Ia tau itu hanya alasan karena jika memang Reza ingin minum, ia akan tetap meminumnya dengan berbagai cara seperti memakai sedotan.


“Galau lagi Za? Masalah rumah?”


“Wah mas, aku udah lupa malahan sekarang diingetin.”


“Lho piye tah? Sekarang udah ada masalah baru lainnya? Bagus berarti ada variasi,” ucap laki-laki itu sambil tertawa.


Reza tak menanggapi dan malah bertanya hal lain.


“Mas, gimana caranya ngerelain orang yang Mas Nino suka?”


Laki-laki gondrong itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Reza.


“Ya relain, pikirin dan pertimbangin hal baik yang bakal dia dapet kalau gue deketin atau gue jauhin.”


“Bisa mas jauhin?”


Laki-laki yang dipanggil Nino itu menghela nafas panjang. “Ya nggak lah hehe.”


Reza ikut tertawa kecil tanpa bertanya lagi.


“Jadi Reza nih lagi suka orang tah?” tanya Nino penasaran.


Reza tersenyum mengingat Lilia. “Ya, tapi nggak usah bilang ke temen-temen ku mas.”


“Aman.” Nino baru pertama kali melihat ekspresi Reza yang seperti itu.


“Sebenernya udah dari SMP sih mas, tapi aku ngerasa nggak pantes aja,” ucap Reza dengan suara lirih.


Nino cukup mengerti maksud dari perkataan Reza. Laki-laki gondrong itu mengenal Reza sejak kecil.


Percakapan mereka pun berlanjut sampai kemudian pak botak yang disebut remaja-remaja tadi datang.


Reza tetap di tempatnya dan tak ikut kembali ke teman-temannya yang masih berkumpul.


“Suwe nemen pak barange lagi teko neh,” (Lama amat pak barangnya baru datang lagi) ucap Rion protes.

__ADS_1


“Sabar, p*lisi sing biasane ngawal malah dipindah tugas. Golek pengaman anyar rodo suwe.”


(Sabar, p*lisi yang biasanya mengawal malah dipindahtugaskan. Mencari pengaman baru agak lama).


“Halah kari ngomong bapak ku,” (Halah tinggal ngomong bapak ku), ucap Rion sambil tertawa terbahak-bahak.


“Bapak mu saiki main aman, dadi aku kudu golek dewe.”


(Bapak mu sekarang lagi main aman, jadi aku harus nyari sendiri).


“Yowislah piro iki kabeh?”


(Yaudah berapa ini semua?)


Pak botak itupun menyebutkan nominalnya lalu segera dibayar oleh Rion.


“Aku dino iki menangan loh pak.” (Aku hari ini sering menang loh, pak) ucap Rion sambil tertawa.


Pak botak hanya menanggapi seperlunya lalu segera pamit pergi.


Reza masih bersantai sambil makan camilan di hadapannya. Ia menghela nafas berkali-kali.


Awalnya Reza kaget mengetahui fakta mengejutkan dari daerah yang ia tinggali ini. Lebih mengejutkan lagi saat mengetahui remaja tanggung yang sudah mengonsumsi ob*t-obatan terlarang dan alk*hol sejak SMP.


Tentu masyarakat umum tak akan mengetahui hal tersebut. Orang-orang pasti berpikir bahwa siswa sekolah kegiatannya hanya sekolah dan sesekali jalan-jalan. Namun kenyataannya jauh berbeda.


Pergaulan remaja yang semakin menuju ke arah negatif disebabkan banyak faktor. Reza memahami itu karena dia sendiri juga tak jauh berbeda dengan teman-teman setongkrongannya.


Permasalahan orang tua yang berimbas kepada sang anak dan pencarian jati diri tanpa pendampingan dari orang dewasa membuat seorang anak memilih jalan secara sembarangan.


Reza menghela nafas panjang, alunan musik pelan itu semakin membuat dadanya terasa sesak.


Tempat yang seperti café ini sebenarnya sering menjadi tempat transaksi ob*t-obatan terlarang yang biasa dibeli anak dibawah umur.


Kenyataan itu tetap tersembunyi dengan baik dan tak ada satupun pengunjung biasa yang curiga.


Café tersebut memang sudah mendapatkan perlindungan khusus dari oknum p*lisi yang bertugas memeriksa café yang berizin khusus.


Meski terbilang cukup rahasia, sebenarnya banyak yang sudah mengetahui beberapa oknum penegak hukum justru bermain-main dengan hukum dan hal tersebut cukup diketahui banyak orang terutama anak-anak muda.


Reza dan pak botak itu sebenarnya saling mengenal, hanya saja keduanya sepakat untuk pura-pura tak mengenal satu sama lain karena keduanya memiliki rahasia masing-masing yang ingin dijaga.


Pak botak itu adalah salah satu ‘kurir’ di salah satu usaha gelap yang dimiliki kakeknya.


Tentu saja kakek Reza tak mengetahui jika cucunya tahu bisnis gelap yang dijalankannya.


Sebenarnya dalam bisnis obat-obatan terlarang itu, kakek Reza mempunyai aturan yang melarang ‘kurir’ menjual obat-obatan tersebut ke anak dibawah umur. Hanya saja hal tersebut tentu sering dilanggar oleh sebagian besar dari mereka.


Hukuman dari pelanggaran itu tentu saja adalah hukuman negara yang diatur sedemikian rupa oleh para petinggi alias bandar yang memegang suatu wilayah. Namun tentu saja banyak ‘kurir’ yang bermain dengan aman.


Reza segera menghabiskan camilannya ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.00.


“Bro, gue balik duluan ya,” ucap Reza kepada teman-temannya yang masih bermain kartu.


“Yah anak mama dah balik aja masih sore,” ucap Rion sambil tertawa.


Reza mengacungkan jari tengahnya tanpa ekspresi.


“Hati-hati di jalan bro,” ucap Gio tanpa menoleh.


Reza langsung pergi meninggalkan café itu dan segera menuju rumahnya.


Suasana malam yang ramai itu terasa beda begitu Reza sampai di rumahnya.


Mengetahui ada motor yang ia kenal sedang terpakir, Reza menyalakan motornya lagi. Ia masih merasa tak nyaman bertemu ayahnya meski kejadian itu sudah berlalu hampir satu tahun lamanya.


Ayahnya memang telah meminta maaf dan sudah bersikap baik, namun terkadang sikap ayahnya memburuk lagi jika sedang dipengaruhi minuman keras.


Reza akan lebih memilih menginap di tempat kakeknya atau di rumah salah satu temannya saat sang ayah sedang ada di rumah.


Reza sebenarnya ingin meninggalkan rumah itu dan mengikuti kakeknya saja agar kehidupannya lebih terjamin. Hanya saja Reza masih mengkhawatirkan ibunya yang tak juga mau berpisah dengan suaminya itu.


Perasaan Reza menjadi berat mengingat keadaan keluarganya yang berantakan. Oleh karena hal itu Reza merasa tidak memiliki hak untuk menyukai Lilia yang hidup dengan baik bersama keluarganya yang juga baik-baik.


Reza ingin mendekat, laki-laki bermata hitam itu merasa nyaman saat di dekat Lilia. Hanya saja di waktu yang sama ia takut Lilia mengetahui sisi gelapnya dan menjadi benci kepadanya.


Hanya saja meski berusaha untuk tak semakin mendekat, perasaan rindu yang selalu ingin melihat Lilia itu justru semakin menguat.


Meski merencanakan untuk menjauh, yang dilakukan Reza justru sebaliknya. Ya, perasaan manusia itu ketika sedang tumbuh seperti kendaraan yang rusak remnya. Laki-laki bermata hitam itu tak tau caranya berhenti menyukai Lilia.


 

__ADS_1


...◆◇◆◇◆...


 


__ADS_2