
Sebelum membaca jangan lupa like vote and red bintang lima ok..
Selamat membaca.
******
"Tidak, kakak harus di obati, kakak terluka dan pasti banyak kehilangan darah dan juga banyak luka gores di tubuh kakak."
"Zeno, kakak...?
"Tidak ada penolakan, kalini kakak harus nurut sama zeno." desak Zeno.
" baikalah, kakak ikuti mau mu,"
Dengan sedikit paksaan Hira menuruti kamauwan Zeno untuk pergi ke ruamah sakit dan mendapat pengobatan untuk tangan dan kaki nya.
Di ruamah sakit.
"Nona tidak Apa-apa, luka ditangan anda tidak terlalu dalam, dan kaki anda hanya terkilir." pungkas dokter tampan yang mengobati Hira denga nama tek di jas kebesarnya tertukis Dokter Aditia.
Hira terkejut melihat dokter itu. "Kak Tia, jadi kakak dokter?" tanya Hira.
" Iya, aku dokter sekaligus pemilik ruamah sakit ini." pungaks Aditia.
"Oh, terus, kalau tidak apa-apa aku boleh pulang kan?.
"Emang kalau aku bilang tidak boleh kamu akan tetap tinggal?. Dokter Aditia balik bertanya.
"Hehehe engga sih," jawab nya sembari cengengesan.
"Terus kenapa nayak," jawab nya.
"Ya sudah aku tidak akan nayak lagi, anda baca saja pikiran ku terus." jawab Hira ketus.
"Permisi dok, bagai mana keadaan kakak ku? tanya Zeno yang belum mengenali Aditia. " Kak Aditia, ternyata kakak dokter, aku kira kakak se-orang peresedir di perusahan?" tanaya Zeno yang terkejut melihat Aditia.
" Bukan aku dokter dan pemilik ruamha sakit ini." jawab Aditia.
"Terusas bagian mana dengan keadaan kakak ku?
"Dia baik-baik saja, dia sudah boleh pulang, seharusnya belum dia harus dia rawat selama satu bulan di sini"
"Ha! satu bulan? jagan ngacok kamua ka Tia, engga separah itu luka di tangan ku, itu mah akal-akalan mu saja." protes Hira.
"Iya, biar kamua aku rawat setiapa hari, biara kamu tidak pergi ke pusat militer." Jawab aditia.
"Apa kakak mau pergi kepusat militer lagi!, kenapa harus kesana kakak?, nanati Zen tidak bisa bertemu dengan kakak lagi."protes Zeno sedikit merajuk.
"Itu sudah jadi kepu....?
__ADS_1
"Ah sudah lah, kakak emang keras kepala, kalau sudah menjadi ke hendak tidak bisa di cegah." meyela ucapan Hira, lalu pergi meninggalkan kedua nya.
"Satu,dua, tiga, empat, lim..?
"Ka Tia, kenapa berhitung?
"Di hitungan sepuluh Zeno kembali, enam,tujuh,delapan,.sembilan, sepuluh, pintu terbuka," benar juga Zeno kembali. namuam langsung masuk ke dalam kamar mandi. tak lama dia kekuar dan langsung pergi lagi.
"Dia balik cuama ke toilet? tanya Hira tak percaya dengan kelakuan Zeno.
"Iya,
"Kayak engga ada toilet umum saja." gerutu Hira.
"Kamu mau pulang kemana, ke apartemen kakak kamu atau ke drom?.
"Ke apartemen Kakak saja."
"Kenapa?, lagi males melihat mereka?.
"Hemmm, tidak perlu aku jelasin kakak pastu tau sendiri."
"Ya sudah kamu pulang ke apartemen ku saja." ajak Aditia.
"Jangan macem kamu kakak, enak aja ngajakin pulang ke aparteman kamu" protes Hira.
"otak mu mintak di beri asupan, biar tidak mikir macem-macem." protes Aditia balik.
"Zahira Bagas Adipura, aparteman ku dengan apartemen kakak kamu masih satu gedung, Jadi...?
"O begiti, yasudah yuk pulang" menyela ucapan Aditia.
"Yuk, bisa jalan tidak? apa mau aku gendong?"
"Kayak nya bisa, cuma terkilir sedikit." baru berapa langkah Hira hampir terjatuh, dengan sigap Aditia menagkap nya, tampa sadar padangan mereka bertemu dan dunia mereka seakan berhenti. setelah mereka sadar Aditia dan Hira mengalihkan pandangan nya kesembarang arah, sedikit terjadi kecanggungan diantara mereka. namun Aditia berusah seakan tidak terjadi apa-apa denga mengendong Hira.
"Sepertinya kaki kamu tidak kuat, biarkan aku mengendong mu." Hira hanya bisa diam menuruti kemauwan Aditia.
" Aku jadi merepotkan mu, seharusnya tudak perlu, aku bisa mengobati diri ku kalau tadi aku langsung di bawa kerumah." ucap Hira sedikit canggung.
"Mungkin kita ditakdirkan untuk bertemu." jawab Aditia.
"Mungkin."
Di saat Aditia mengendong Hira berjalan di lobi rumah sakit menuju parkiran, Ada seseorang yang meperhatikan mereka dari jauh, terpancar perasaan cemburu dan emosi yang tertahan. ingin ranya pemuda itu mengahpiri mereka dan menghajar laki-laki yang mengendong Hira dan membawa paksa hira pulang. namun Dia urungkan karena menyadari siapa dirinya.
Karena tidak tahan melihat semua itu pemuda misterius itu pergi meninggalkan mereka mengunakan motor sport.
Di drom.
__ADS_1
"Zeno, kamu sudah pulang, kemana Bagas, apa dia harus di rawat? tanya Gavin dengan cemas.
"Tidak, di tidak dirawa."
"Terus di mana dia? kenapa tidak pulang bersama mu? tanya gavin lagi.
Zeno tak menjawab dan berlalu meningalkan mereka, setelah berjalan melewati mereka Zeno menoleh kembali karena tidak tega melihat mereka yang sudah kawatir dengam keadaan Hira sedari tadi siang.
" Kalian tenag saja, kakak ku baik-baik saja, luka di telapak tangan nya tidak parah, dan kaki nya juga cuama terkilir, jadi jangan kewatir. kemungkinan malam ini dia tidak pulang ke drom," jelas Zeno
"Lalu kemana? Tanya Rey.
Zeno mengakat kedua bahunya tandak tidak tahu. " kemungkaran ada tiga, pulang ke aparteman presedir, ke rumaha peresedir atau pulang ke tempat tinggal Kak Aditia, Dokte sekaligus pemilik ruamah sakit tempat dia rawat." jelas Zeno lagi.
"Aditia?,siapa dia? kenapa dia pulang kesan, kenapa tidak pulang ke drom?" tanya Gavin.
" kita bisa ko merewat Bagas." imbuh Erza.
" Emanga bagas mau di rawat sama kalian?, lagian Kak aditia adalah teman dan sekaligus orang yang telah merekomendasikan dirinya menajadi bodyguar kalian" jelas zeno. " sudahlah kalian istirahat" pinta Zeno. saat Zeno akan melangakah masuk ke dalam kamar nya dia kembalih menoleh.
"Kemana Han?, apa dia sudah tidur? "
"Kita tidak tau Zen, semenjak pulang tadi dia tidak ada, kami sudah mencari nya tapi tidak ketemu kita hubungi via telfon katanya dia baik-baik saja." Jelas Kenzo.
"Apa!!, kenapa kalain tidak menghubungi ku!, jawab Han dengan tegas.
"Kita sudah menyruh staf mencari tapi tidak ketemu, Aku ragu menghubungi mu, karena kamu masih sibuk mengurus Bagas," Jelas Bora.
"Keselamatan dan keberadaan kalain tanggung jawab ku, maka kalau kalian pergi atau salah satu dari kalain tidak ada segera lapor kepada ku, aku tidak mau disalahkan bila terjadi apa-apa dengan kalian!!" tegas Zeno.
Baru saja Zeno berbicara demikian, Han datang dan langsung duduk di sova namun tak berbicara sepat kata pun, tak lama dia bengkit dan pergi masuk ke dalam kamar.
"Kenpa tuh anak, pulang-pulang mukanya di teguk gitu? tanya Rey pensaran, lalu mereka lekas menyusul Han bersama yang lain ingin masuk kedalam kamar Han namu terkunci.
"Lah kenapa dikuci, kenapa Han? tanya Rey lagi.
*****
Terimakasih sudah membaca, tunggu kelanjutannya yah..
Jangan lupa mampir di karya autho yang lain
-Arabella.
\- Rahasia Si Cupu.
__ADS_1
-Langait dan Bumi.
Terimakasih