
Dari semenjak kejadian hari itu, ziah lebih banyak diam pada agung, ziah acuh tak acuh pada agung, bahkan pesan chat dari agung pun hanya ziah lihat saja.
"zi apa kamu masih marah sama agung?" tanya sang bunda.
"ziah kecewa bun sama a agung, kenapa dia seperti tidak mengganggap kehadiran ziah, semenjak adanya teh zahra?" ucap ziah. Sang bunda dapat merasakan apa yang saat ini putrinya rasakan. bahkan sang bunda pun merasa khawatir akan kegagalan cinta sang putri, namun sebisa mungkin sang bunda bersikap tenang.
"kamu gak boleh gitu nak, berdoa saja pada allah, meminta jalan yang terbaik, kalo memang kalian berjodoh,sekeras apapun rintangan nya, kalian akan tetap bersama, kalo kalian tidak berjodoh,sekuat apapun kamu mempertahan kan nya, jika dia bukan jodohmu, maka ia akan pergi zi" ucap sang bunda menasehati.
"tapi bun, a agung udah berjanji sama ziah gak bakalan buat ziah kecewa" ucap ziah, menangis,
"ingaat zi, manusia hanya bisa berencana, namun allah lah yang menentukan rencana, menurut kita baik, belum tentu di mata allah itu baik zi" ucap sang bunda, sembari memeluk putrinya itu. Ziah dapat mencerna perkataan sang bunda, ia pun berprinsip jika ia takan terlalu berharap pada agung.
Di tempat lain, agung trus berusaha menghubungi ziah,agung trus mondar mandir, menunggu jawaban dari ziah, namun nihil. Ziah tidak menganggakat telpon atau membalas pesan chat agung.
"ya allah zi semarah itukah kamu pada saya" lirih agung, agung tidak ada maksud untuk melukai hati ziah, agung sangat menyayangi ziah, ia tak sanggup kalo ziah marah seperti ini padanya,karna baru kali ini ziah semarah ini pada agung.
Sedengkan ziah, ia menangis tersedu,ia sangaat kecewa pada agung, bukan hari ini saja ia membuat ziah kecewa, tapi dari semenjak kedatangan zahra, agung selalu membuat hati ziah kecewa,hal itu membuat ziah sangaat sakit, marah, semua menjadi satu.
"mana janji kamu a, katanya aa gak bakal bikin ziah kecewa, tapi kenyataan nya?" ucap ziah, semakin membuat ia sesakk.. Air mata nya tak berhenti menetes,semua pesan chat, telpon dari agung tidak ziah respon, karna hal itu akan lebih menyakitkan bagi ziah, hingga akhirnya ziah pun terlelap tidur, mungkin karna ia pun lelah menangis.
**
Pagi hari yang cerah pun menyambut ziah, namun hati ziah tidak secerah hari ini, mata ziah sembab karna selaman ia menangis, hingga akhirnya tertidur.
" bodoh sekali kamu zi, menangis seorang lelaki, yang sudah membuat kecewa," gumam ziah, sambil tersenyum kecut.
"ayok zi, kamu bisa, biarkan lah agung seperti itu,kamu harus bersikap baik-baik saja zi, bisa yuk zi" gumam ziah kembali, menyemangati dirinya sendiri.
Ziah pun keluar dari kamarnya, ia menuju meja makan, di sana sudah ada ayah dan bunda nya.
__ADS_1
"kamu kenapa zi kok mata kamu sembab gitu, abis nangis?" ucap yusuf ayah ziah, ziah pun glagapan harus menjawab apa.
"tuhkan zi orang-orang jadi tau kamu nangis"ucap ziah dalam hati.
"eng-enggak nangis kok yah, mungkin ziah kurang tidur karna memeriksa tugas sekolah anak-anak di sekolah" ucap ziah berbohong,
"jangan terlalu sering bergadang zi, nggak baik buat kesehatan kamu" ucap kembali sang ayah, ziah hanya mengganggukan kepala, namun berbeda dengan sang bunda, fatma mengetahui bahwa anaknya itu selaman menangis,namun fatma cukup diam. Fatma berfikir, mungkin dengan cara menangis sang anak bisa sedikit legaa..
makan pun selesai ziah pun bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, namun di saat ziah hendak memakai sepatu, ada suara deru motor yang tak asing di telinganya, ziah pun menoleh,benar saja yang datang adalah agung. Agung pun turun dari motornya, dan medekati ziah.
" zi maafkan aa,kemaren aa nggak izin dulu sama kamu,aa nggak bisa nolak zi, kalo itu permintaan nya guru aa" ucap agung dengan nada merasa bersalah. Ziah masih diam seribu bahasa ia tak menggubris ucapan agung.
"zi jangan kaya gini dong,a nggak bisa liat kamu marah gini" ucap agung memelas, namun tetap saja ziah tidak bersuara, hingga akhirnya sang bunda keluar, karna mendengar ada suara motor, ia fikir siapa ternyata agung.
"eeehh ada nak agung, tumben pagi-pagi kesini, gak langsung ke sekolah nak?" tanya fatma basa basi,agung pun sedikit glagapan untuk mejawab pertanyaan bundanya ziah itu.
"oohh begitu, mau masuk dulu nak?" tawar sang bunda.
"tidak usah bun, bentar lagi juga berangkat" ucap agung
"ya sudah atuh ya, bunda masuk ke dalam dulu mau bersih-bersih rumah." pamit fatma,
"iya bun silahkan" ucap agung, fatma pun pergi ke dalam,ia tak ingin mengganggu mereka, fatma tau, bahwa mereka butuh waktu berdua,
"zi kita berangkat bareng yah" ajak agung, berharap ziah mau.
"gak usah, saya punya motor sendiri" ucap ziah, sembari menaiki motornya, dan bersiap untuk pergi.
"tunggu zi, beri saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya zi" ucap agung memohon.
__ADS_1
"pak agung yang terhormat, hari sudah semakin siang, nanti saya bisa kesiangan ke sekolah" ucap ziah dingin, lalu ia menyalakan motor nya, dan pergi bergitu saja meninggalkan agung,
Agung menyugar rambutnya, ia merasa prustasi, ia terus saja merutuki dirinya sendiri, coba saja kalo kemarin ia ngomong dulu sama ziah,pasti semua nya tidak akan begini,
Ziah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, yang membuat ziah sangat kecewa adalah, ketika mereka mengobrol, sangat terlihat mereka sama-sama nyaman,bahkan agung sampai tidak menyadari akan kehadiran nya ziah, hal itu yang membuat ziah sangat sakit, namun agung tidak menyadarinya.
**
Sesampainya di sekolah, ziah tergesa-gesa menuju ruangan guru, ia tidak memberi celah pada agung untuk menjelaskan semuanya, ziah masih butuh waktu. Setibanya di ruang guru, ziah langsung menghambur ke pelukan rinayah, ziah kembali menangis. Hal tersebut tentu saja membuat rinayah kaget dan panik.
"ya allah teh kenapa? Ada apa? Kok tiba-tiba nangis" tanya rinayah bingung. Bukan nya menjawab ziah semakin tersedu.
"teh ziah tenang dulu ya, coba jelasin sebenarnya ada apa?" tanya rinayah, ia mencoba menenangkan sahabatnya itu.
akhirnya ziah pun melepaskan pelukan nya, namun ia masih tetap menangis, untung saja di ruang guru belum ada siapa-siapa, kalo ada guru lain, pasti sudah bertanya-tanya ada apa dengan ziah?
"teh kaya nya ziah mau mengakhiri hubungan ziah" ucap ziah tiba-tiba, tentu saja rinayah terkejut, ada apa sebenarnya.
"lho kenapa? Bukan nya hubungan kalian baik-baik saja?" tanya rinayah, ziah pun menggelengkan kepala.
" hubungan kami tidak baik-baik saja teh, a agung berubah sekarang teh, semenjak ada kehadiran teh zahra, a agung sepetri tidak menganggap ziah" ucap ziah,jujur saja rinayah pun merasa begitu,memang agung sedikit berbeda,rinayah memang cukup lama mengenal agung, tapi tidak dengan masa lalunya. Rinayah pun kefikiran akan menanyakan hal tersebut pada suaminya, ada hubungan apa agung dan ziah dulu, hingga sekarang pun masih terlihat akrab dan saling nyaman..
"teh ziah jangan begini atuh, teh ziah harus kuat, belum tentu mereka memiliki kenangan indah di masa lalu nya, mungkin agung hanya menghargai teh zahra sebagai anak AKANG" ucap rinayah, agar ziah sedikit tenang, dan tidak berfikir yang aneh-aneh.
"teh maafin saya, sungguh saya tidak bermaksud menyakiti hati teh ziah, saya sangat menyayangi teh ziah, tolong beri saya kesempatan teh" ucap agung memelas, ziah pun menghapus air matanya. Dan menatap agung
" kali ini saya maafkan, tapi jika pak agung masih bersikap seperti itu, saya pergi pak" ucap ziah.
"terimakasih karna telah memaafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama" ucap agung.
__ADS_1