
Semua keluarga yang ada di ruangan tempat rinayah berbaring menangis pilu. Ia tak menyangka allah akan mengambil nya secepat ini.
"Kamu harus kuat nak, disini masih ada anak mu, yang membutuhkan mu" ucap ibu adit, kepada putra semata wayang nya itu, ia dapat merasakan kesedihan yang putranya rasakan, ia pun merasakan hal yang sama, ia sangat kehilangan sosok rinayah, yang selalu bersikap lemah lembut padanya.
"adit gak bisa hidup tanpa rinayah bu,kemana akan adit bawa hati ini, jika orang yang adit sayangi pergi meninggalkan adit selama-lamanya bu" isak tangis adit begitu pilu.
"kita semua di sini kehilangan nak, kamu harus ikhlas agar rinayah tenang" ucap sang aya mertua, meski hatinya sangat rapuh di tinggalkan putrinya yang sangat ia sayangi. Namun sebagai kepala keluarga ia harus tetap terlihat tegar, walau nyatanya tak bisa.
Sementara ziah masih saja menangis di pelukan ibu rinayah.
"bu teh rinayah udah ninggalin kita semua" lirih ziah dengan suara parau.
"Iya nak, kita harus mengikhlas kan rinayah nak, kita harus tegar, rinayah memberikan kita hadiah yang amat berharga dari apapun yaitu putrinya, kita harus sama-sama menjaga dia nak" jawab ibu di rinayah di sela tangisnya. Ziah menganggukan kepala "aku berjanji teh, akan menjaga anak teteh dengan baik" gumam ziah.
jenazah rinayah pun di bawa pulang ke rumah nya, semua keluarga, kerabat dan tetangga, tlah menunggu ke pulangan rinayah.
Berita menginggalnya rinayah telah sampai kemana-mana, kerabat rinayah pun banyak yang melayat, ke rumah duka. Banyak yang tidak menyangka rinayah akan pulang ke sisi allah secepat ini.
"Bu rinayah orang yang baik, ia tak pernah marah pada siapapun termasuk pada murid-muridnya,banyak sekali murrid yang menyayangi beliau" ucap salah seorang guru, di hadapan keluarga duka. Tak sedikit orang meneteskan air mata nya, saat melihat rinayah terkujur kaku, di selimuti kain jarik.
Banyak merasa sedih karna rinayah meninggalkan seorang anak bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Sedangkan adit masih belum bisa dengan ikhlas melepaskan rinayah, ia tak sanggup menghadapi hari-harinya tanpa rinayah. Agung sebagai sahabat merasakan apa yang adit rasakan.
"kamu harus kuat dit, anak mu masih membutuhkan mu, jika kamu begini terus bagai mana dengan nasib anak mu dit" ujar agung.
"Bagaimana mungkin aku bisa kuat dan tegar gung, sedangkan orang yang selalu membuat ku kuat dan tegar kini tlah pergi untuk selamanya,"
__ADS_1
"Saya tau kamu sangat kehilangan dit,tapi bukan hanya kamu saja,kita semua disini kehilangan rinayah dit, termasuk para guru dan anak didiknya" jawab agung. Adit semakin tersedu dalam tangis nya, agung memeluk sahabatnya itu, memberi kekuatan agar ia mampu menjalani nya.
"saya tau dit, kamu orang yang hebat" ujar agung menepuk bahu adit.
Jenazah sudah di mandikan, di sholatkan, dan akan segera di kebumikan.
"Tolong jangan bawa istrii saya kasihan dia sendiri di sana" racau adit, semua yang menyksikan merasa tidak tega pada adit, di tambah dengan suara tangis bayi yang menggema membuat semakin pilu, lagi-lagi banyak orang yang meneteskan air matanya.
Ziah berusaha menenangkan bayi yang baru berusia 1 hari itu.
"Kamu jangan takut ya nak,di sini ada onty ziah, ada ayah kamu, nenek, kakek, kamu akan menyayangi dan merawat mu dengan baik" bisik ziah, pada bayi mungil itu, seakan mengerti apa yang di ucapkan ziah, bayi tersebut berhenti menangis, dan memejamkan matanya.
Mata ziah kembali terasa memanas ketika melihat bayi mungil itu terlelap dalam tidurnya.
"Kasihan sekali kamu nak, kamu harus di tinggalkan ibu mu, untuk selama-lamanya, dan kamu pun tidak tahu bagaimna cantik dan sholehah nya ibu,onty janji, setelah kamu dewasa nanti, akan onty cerita semua tentang ibu mu" lirih ziah, air matanya kembali menetes.
Adit terus memeluk batu nisan istrinya. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
"aku ikhlas dek, aku ikhlas" lirih agung tubuh nya terguncang karna menangis, keluarga yang melihat pun merasa kasihan pada adit.
"Nak hari sudah semakin sore, sebaiknya kita pulang ya, kasian anak mu" ucap sang ibu, adit menggeleng.
"adit masih mau di sini mah temenin rinayah" ucap adit.
"Dit, istrimu sudah tenang di sana, dia sudah tidak merasakan sakit lagi" ucap sang ibu mertua. Akhirnya adit pun mau ikut pulang dengan mertua dan oramg tuanya, adit berjalan di papah oleh ayahnya.
Sesampai nya di rumah, adit langsung menghampiri putrinya, ia mengambil putrinya dari pangkuan rinayah.
__ADS_1
"Kamu perlu istirahat,biarkan saya yang menjaga dia" ucap adit dingin. Sejujurnya ziah sangat berat meninggalkan putri sahabatnya itu, namun apa boleh buat, benar apa yang di katakan adit, badan ziah memang terasa sangat lelah.
"baiklah, saya akan pulang, namun jika ada apa-apa dengan bayi bapak tolong segera hubungi saya" pinta ziah, adit hanya menganggukan kepala. Ziah pun pergi dari hadapan adit, ia pamit kepada keluarga sahabatnya itu.
"Mah ziah pamit pulang dulu ya, besok ziah kesini lagi" ucap ziah.
"Iya nak, kamu hati-hati ya, apa kamu bisa bawa kendaraan sendiri" tanya ibu rinayah, ia merasa was-was karna ke adaan ziah memang sedang tidak baik-baik saja.
"Insya allah ziah bisa mah" jawab ziah lembut.
Sesampainya di rumah sang bunda kembali memeluk putrinya itu.
"Bundaa" lirih ziah
"kamu harus ikhlas nak"
"kenapa, begitu cepat allah memanggilnya, kenapa kami harus di pisahkan dengan kematian bun?" tanya ziah.
"sssstttt, istighfar zi,kamu jangan pernah menyalahkan takdir, itu semua sudah menjadi titis tulis, dari allah, kita hanya pemeran di dunia ini, allah lah yang merangkai skenario nya, skenario allah selalu indah nak, allah mengambil rinayah, karna allah tau rinayah sudah cukup menahan sakit yang ia derita nya,dan sekarang rinayah sudah tidak merasakan sakit lagi, sebaiknya kamu mandi, dan ambil wudhu, yang rinayah butuhkan saat ini hanyalah untaian do'a" sang bunda menasehati putri nya, ziah beristighfar berkali-kali, dan ia pun memutuskan untuk bersih-bersih badan.
Setelah mengambil bayi nya dari pangkuan ziah, adit pun masuk ke dalam kamarnya. Hati nya kembali terasa nyeri tak kala ingat semua kenangan-kenangan bersama mediang istrinya di dalam kamar.
"Nak sekarang kamu lah yang menjadi alasan ayah harus kuat" lirih adit lalu mendekap bayi mungil yang sedang terlelap, adit menidurkan bayi di atas ranjang nya, ia bangkit hendak akan membersihkan diri, namun saat berdiri mata adit tertuju pada meja rias milik istrinya, di sana ada sebuah kertas yang di bingkai menggukan pita. Adit mendekati meja tersebut. Dan mengambil kertasnya yang bertulisan .
" untuk yang terkasih suamiku". Adit perlahan membuka kertas itu dan membacanya dengan penuh kasih sayang.
"Mas aku tulis surat ini dengan penuh kasih sayang, aku sangat , sangaaaatt mencintaimu. Terimakasih telah menjadi imam yang terbaik untuk ku, terimakasih selalu memberikan yang terbaik untuk ku. Aku sangat bahagia bisa hidup bersama mu, mas jika suatu saat nanti allah memanggilku, kamu jangan menangis ya, aku gak mau liat kamu sedih,ikhlaskan aku. Maaf karna selama ini aku merahasiakan penyakitku ini dari, aku takut kehilangan kamu mas, Tapi ternyata aku salah, meskipun aku sakit kamu malah semakin memanjakan ku, mensuport ku, agar aku bisa melewati semuanya, kamu sudah memberikan yang terbaik untuk ku, namun jika atuh sudah tidak ada itu berarti aku sudah lelah mas, jika nanti anak kita lahir. Kamu jaga baik-baik anak kita jangan sampai ia kehilangan kasih sayang, aku percaya kamu bisa mas, aku titip orang tua ku pada mu, jaga dia, lindungi dia. Aku sangat menyayangi mu, kenang selalu aku di hati mu mas, meskipun raga kita tak bersama lagi. Jaga diri baik-baik ya, jangan kamu menangisi ku terlalu berlarut-larut, aku tak ingin melihat mu seperti itu. Simpan lah namaku di hatimu mas."
__ADS_1