Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
36. Mulai membuka hati


__ADS_3

Setelah kejadian wafda masuk rumah sakit, adit dan wafda semakin dekat, namun adit tetap bersikap dingin pada wafda, wafda tahu kalo adit belum bisa membuka hatinya untuk siapapun, karna rinayah sangat berarti dalam hidup adit.


"jangan lupa obatnya di habiskan," pesan adit pada wafda.


"saya sudah sehat pak, jadi tidak perlu di minum lagi obatnya" ucap wafda,adit menghela nafas.


"kamu tau gak, masuk rumah sakit itu bayar, obatnya pun bayar tidak gratis, kalo mau sembuh total habiskan obatnya" ucap adit dingin, wafda tertegun mendengar ucapan adit, apakah adit merasa di rugikan karna sudah membayar biaya rumah sakitnya, dalam hati wafda bertanya-tanya kenapa adit berbicara demikian?


"bapak tenang saja, setelah nanti saya gajian saya akan bayar semua biaya rumah sakit bekas saya" ucap wafda, adit pun kaget mendengar penuturan wafda,apakah ia berbicara salah? Padahal niat adit baik, agar dia benar-benar sembuh.


"kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya adit menatap wafda.


"bukan kah bapak tadi bicara kalo masuk rumah sakit itu tidak gratis?" tanya wafda. Adit menggeleng cepat..


"Mak-maksud saya, bukan berarti kamu harus bayar biaya nya, saya berbicara demikian karna saya tidak mau kamu sakit lagi, saya tidak tega melihat kamu sakit, kamu tidak lihat kemarin hawa sangat sedih melihat kamu sakit?" adit mencoba menjelaskan dan melarat perkataan nya, ia tak tau kalo ucapan adit akan menyakiti hati wafda.


"maafkan saya" ucap adit kembali, wafda tak menggubris ucapan adit, wafda pergi ke dapur dan akan memasak untuk makan hawa. Adit terus membuntuti hawa. Dan terus meminta maaf pada wafda. Namun wafda tetap saja cuek. Wafda benar-benar merasa sakit hati karna ucapan adit barusan, ia pun tak meminta adit untuk membawa nya ke rumah sakit.


"mbak saya nggak bermaksud buat mbak sakit hati, saya cuman kasihan sama hawa mba" ucap adit memohon.


"pak, bapak bisa nggak, gak halangin saya kaya gini, saya itu lagi masak pak" ucap wafda jutek, di tambah lagi, hari ini wafda sedang datang bulan, jadi wajar saja mood nya kurang bersahabat.


"iya maaf-maaf tapi kamu jangan salah faham sama saya ya" ucap adit memelas.


"sebaiknya bapak bersiap-siap karna bentar lagi bapak harus berangkat, nanti saya siapkan sarapan untuk bapak" alih-alih menjawab permintaan maaf adit, wafda cuek dan tak menggubris.


"baik kalo kamu emang belum bisaa maafin saya, saya siap-siap dulu" ucap adit,lalu pergi dari hadapan wafda.


"Aaaaahhh akhirnya" wafda membuang nafas. Jujur saja sedari tadi adit membuntuti wafda, membuat hati wafda berdebar-debar, dan hampir saja membuat hati nya copot dari tempatnya. Melihat tingkah adit seperti itu, membuat wafda senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"cowok sedingin kamu ternyata lucu juga kalo lagi kaya gitu" gumam wafda. Nilam yang mendengar ucapan wafda merasa gemas dan lucu.


" memang adit berubah menjadi sedingin itu setelah almarhumah istrinya meninggal" ucap nilam tiba-tiba, membuat wafda terlonjak kanget.


"I-ibu" ucap wafda gugup. Bu nilam pun tersenyum..


"hadir nya kamu di tengah-tengah kami yang saat ini kami sangat-sangat merasa terpukul karna kepergian rinayah, kamu hadir membawa sinar di dalam kehidupan keluarga kami, termasuk hawa. Ia seperti menemukan sosok seorang ibu pada diri mu," ucap nilam dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia melanjutkan perkataan nya.


"dulu adit adalah seseorang yang humoris, periang, seneng banget becanda, namun ketika rinayah meninggalkan kami untuk selama nya, adit berubah 100%. Ia seakan hilang semangat semangat untuk hidup, meskipun hawa ada di kehidupan kami, itu semua tak mengobati rasa kehilangan adit, bahkan kamu tahu sendiri, selama adit disini, jarang sekali ia berbicara, baru kali ini ibu melihat adit seperti itu lagi, yang seperti anak kecil merengek meminta jajan, namun beda nya ia meminta maaf pada mu" ucap nilam panjang lebar.


"jadi ibu sudah melihat semuanya?" tanya wafda, ia merasa sangat malu dan merasa bersalah akan sikap nya pada adit. Bu nilam menganggukan kepalanya.


"apakah makanan untuk adit sudah siap?" tanya bu nilam mengalihkan pembicaraan, agar wafda tak terlalu gugup dan kikuk.


"sudah bu" jawab wafda. Bu nilam pun memanggil putranya untuk sarapan bersama dengan nya.


"terimakasih tlah merubah adit, sedikit demi sedikit kini ibu menemukan adit yang dulu, ibu sangat merindukan itu" ucap nilam.


" tidak perlu meminta maaf,mungkin memang perkataan adit tadi membuat mu kecewa, namun percayalah, di balik semua perkataan itu, terselip rasa perhatian, namun ia gengsi untuk mengatakan hal-hal romantis. Ibu tidak membela siapapun, tapi yang di katakan adit ada benarnya, jika kamu sakit pasti hawa akan sedih, sama seperti kemarin, seharian ia rewel menangis dan selalu memanggil mbak" ucap nilam, wafda memandang bu nilam,apakah benar seharian kemarin hawa menangis dan memanggilnya. Jika benar, wafda sangat merasa berdosa pada anak kecil itu.


"apa yang ibu katakan benar?" tanya wafda.


"kalo kamu gak percaya silahkan tanya pada tetangga kita" ucap bu nilam. Wafda tak menyangka kalo hawa akan menangis dan mencari-carinya.


"kalo sekira nya badan mu belum benar-benar sehat, istirahat dulu yang cukup habiskan obatnya, jangan sampai membuat hawa khawatir" ucap nilam. Meskipun tidak sedarah, namun hati hawa sangat sensitif jika menyangkut tentang wafda, mungkin karna wafda dengan tulus menyayangi hawa.


"baik bu saya akan minum obat nya, saya harus sembuh demi hawa" ucap wafda mantap. Bu nilam mengangguk lalu tersenyum.


Sepulang dari sekolah adit menuju menemui hawa putrinya.

__ADS_1


"anakk ayaah" sapa adit. Hawa pun tertawa giraah.


"yayah" ucap hawa dengan cadel khas nya anak bayi. Saat hendak adit akan menggendong hawa, wafda bersuara.


"cuci tangan dulu, kan habis dari luar" ucap hawa acuh tak acuh. Lagi-lagi adit merasa tak enak hati karna sikap wafda.


"Mbak masih marah sama saya?" tanya adit. Wafda tak menjawab.


"yasudahlah,minta maaf sudah, di maafkan atau nggak nya terserah ajalah" ucap adit langsung meninggal mereka.


"emang semua cowok gak peka" ucap wafda, membuat adit menoleh.


"apa kamu bilang?" tanya adit mendekati wafda.


"apa sih? Emang saya ngomong apa?" tanya wafda salah tingkah. Adit menggeleng-gelengkan kepalanya.


"emang wanita selalu ingin benar" balas adit sambil pergi. Saat adit pergi wafda menepuk-nepuk bibirnya.


"Aduh waf, kamu itu kenapa sih bisa ngomong kaya gituu, dia kan majikan kamu bukan siapa-siapa kamuh waf" gumam wafda menyesali perkataan nya.


Saat adit ingin menuju dapur karna perut keroncongan adit terus ngedumel.


"emang ya dasar cewek, udah bilang minta maaf udah ini udah itu, tapi tetep aja cowok selalu salah di mata wanita." dumel adit, adit tak menyadari keberadaan ibu nya.


"pake cara lain nak" ucap sang ibu tiba-tiba, adit terjingkat kaget mendengar suara ibu nya.


" i-ibu,sejak kapan ibu disini?" tanya adit terkejut.


"sedari tadi kamu ngedumel" jawab sang ibu santai. Adit jadi salah tingkah. Sang ibu tersenyum.

__ADS_1


"spertinya kamu sudah mulai membuka hati mu untuk wanita lain nak" ucap sang ibu. Adit pun tak mengerti dengan prasaan nya saat ini, namun belakang ini, jika adit berada di dekat wafda hatinya merasa sangat nyaman, seperti dulu saat berada di dekat rinayah.


"ajaklah dia jalan-jalan untuk menghilangkan penat nya, biar hawa jadi urusan ibu" ucap sang ibu.


__ADS_2