
Hari bulan telah wafda lewati dengan baik,wafda mengurus hawa dengan penuh kasih sayang, hawa sama seperti anak pada umum kadang ia juga suka tantrum. Namun dengan kesabaran wafda, wafda bisa menenangkan hawa tanpa harus membentak ataupun marah-marah, wafda akan membiarkan hawa menangis, setelah ia lelah, ia pun akan berhenti menangis, dan setelah emosi hawa reda. Wafda akan bertanya, kenapa ia menangis? Apakah ia ingin sesuatu namun wafda tidak mengerti? Tak jarang wafda sering meminta maaf pada hawa, karna belum sepenuhnya mengerti apa yang ia mau.
"Maafkan mbak ya nak, kalau kamu mau apa-apa, jangan nangis seperti itu ya sayang,mbak sayang sekali sama hawa" ucap wafda lalu mengecup kening hawa.
Wafda tau jika hawa belum pandai berbicara, mungkin semua anak seusia hawa pun akan menangis jika menginginkan sesuatu namun kita tak faham, wafda sangat mengerti itu, namun wafda pun merasa kasihan melihat hawa harus menangis seperti itu.
Setelah puas menangis wafda akan menidurkan hawa, menangis pun menguras energi dan tenaga bukan?. Setelah memastikan hawa tidur, wafda pun keluar dari kamarnya, ia akan menggangkat jemuran di luar. Namun saat ia berada di ambang pintu ia di buat kaget dengan kehadiran sosok adit.
"astaghfirullah" ucap wafda sambil memegang dada.
"bapak ngapain di depan pintu kamar saya?" tanya wafda.
"nggak saya cuman mau tanya, hawa tantrum lagi ya? Maafkan karna belakangan ini hawa agak sering menangis, kamu pasti lelah" ucap adit, ia merasa kasihan pada wafda,karna terlihat sekali wajahnya sangat lelah.
"tidak pak, wajar saja anak seusia hawa memang sedang di fase itu, lagipula hawa lebih banyak antengnya kok pak, ke timbang nangisnya" jawab wafda.
"terimakasih untuk semua nya" ucap adit.
" sudah berapa kali bapak berterimakasih pada saya? Bisa-bisa bapak dapet hadiah piring dari saya" jawab wafda sambil terkekeh.
Adit pun tertawa " ternyata kamu bisa becanda jugaa ya, nggak nyangka saya" ucap adit jujur. Ia fikir wanita seserius wafda tidak bisa becanda.
"saya juga manusia pak, masa lempeng-lempeng aja pak, tak kira robot" jawab kembali wafda, lagi-lagi adit tertawa.
"pak saya permisi dulu angkat jemuran, kalo kita ngobrol terus kapan saya angkat jemuran nya, lagian juga emang bapak gak pegel diri gitu?" tanya wafda, lagi-lagi adit di buat tertohok dengan pertanya wafda.
" ya-yasudah silahkan, saya juga mau ke kamar" adit pergi begitu saja, membuat wafda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wafda pun menuju pintu depan, dan mengangkat jemuran, ia tak betah jika pakaian harus lama-lama di tumpuk. Wafda langsung melipat pakaian nya.
Saat wafda melihat pakaian wafda teringat sesuatu." Ini tanggal berapa ya?" tanya wafda pada dirinya sendiri. Lalu ia membuka penda pipihnya itu untuk melihat tanggal.
Saat di lihat ternyata sudah tanggal 21 juli." 3 hari lagi hawa ulang tahun" gumam wafda. Wafds berniat ingin merayakan ulang tahun hawa, meskipun hanya sederhana,"sebaiknya saya bicarakan niat saya pada pak adit dan bu nilam" gumam wafda. Nilam adalah orang tua adit.
Meskipun hawa bukan darah daging wafda, namun wafda sangat menyayangi hawa, tidak ada sedikitpun hari-hari yang terlewatkan dengan hawa.
Dalam hati terdalam wafda sudah berjanji akan menjaga hawa," selagi aku bisa aku mampu, dan aku kuat, aku akan menjaga wafda, aku sangat menyayangi anak kecil itu" gumam wafda.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan pakaian, wafda menyimpan nya di dalam lemari, setelah itu. Ia berniat akan memasak. " Masak apa ya hari ini" gumam wafda. Wafda pun pergi ke dapur, untuk melihat ada bahan makanan apa saja yang ia bisa masak hari ini, namun saat hendak ia membuka kulkas ternyata kosong.
"Yah ternyata kosong, mana tadi nggak belanja lagi, tak kira masih ada bahan makanan" desah wafda. Adit melihat wafda terlihat sedang kebingungan.
"kenapa?" tanya adit, lagi-lagi wafda di buat sport jantung oleh adit.
"Ya allah pak, bisa gak sih gak usah bikin saya kaget terus, bisa jantungan lama-lama saya disini" oceh wafda. Adit yang mendengar ocehan wafda merasa lucu. Dan ntah kenapa ia merasa gemas pada sikap wafda,
"kamu terlihat sedang kebingungan makanya saya tanya kenapa, prasaan saya nanya biasa aja deh" ucap adit.
"ini lho pak, bahan makanan di rumah sudah habis, mau kepasar udah siang pasti panas, dan di tambah hawa tidur takut dia bangun" ucap wafda prustasi.
"kalo begitu saya antar saja ya, biar cepat kalo pake motor" adit newarkan dirinya untuk mengantar wafda.
"emang saya tidak merepotkan?" tanya wafda.
"sama sekali tidak, ayo kita pergi sekarang, biar hawa kita titipkan pada ibu saja" ucap adit, tak ada pilihan lain, dari pada harus naik angkot lebih baik naik motor, karna bisa lebih cepat.
"ya sudah ayok, saya ambil dulu tas" ucap wafda. Adit menunggu wafda di depan teras rumah.
"mau saya antar?" tanya adit menatap lekat wajah wafda.
"tidak perlu saya bisa sendiri" ucap wafda menolak adit hanya menganggukan kepala. Wafda pun masuk ke dalam pasar dengan perasaan tak karuan, kenapa hatinya dag dig dug, saat adit memegang tangan wafda. Namun secepat mungkin wafda berisitighfar" astagfirullah ya allah" lirih wafda
Wafda pun memilih-milih bahan makanan yang akan hendak ia beli.. Setelah merasa cukup wafda kembali ke parkiran. Wafda belanja cukup untuk 3 hari kedepan. Dan tak lupa wafda belanja bahan-bahan untuk membuat kue, karna kebetulan ia cukup mahir dalam membuat kue.
"banyak sekali belanjanya" ucap adit.
"biar gak belanja-belanja pak untuk 3 hari ke depan" balas wafda. Adit pun mengangguk.
"ayo pak kita pulang, saya takut hawa kebangun nangis kasian ibu" ucap wafda, wafda khawatir kalo hawa bangun dan tiba-tiba saja menangis mencari keberadaan nya.
"ya allah segitu sayang nya kamu sama hawa"lirih adit dalam hati.
Sesampai nya di rumah wafda tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, ternyata benar saja hawa sudah bangun dan sepertinya ia sudah menangis.
"ya allah nak, sayang maafin mbak ya," ucap wafda menciumi pipi hawa.
__ADS_1
"pak boleh saya bertanya?" ucap wafda tiba-tiba.
"tentang?"
"hawa"
"ada apa dengan hawa?"
"bapak ingat ini tanggal berapa?"
"tanggal 22"
"betul sekali"
"lalu?"
"hawa sebentar lagi ulang tahun pak, tanggal 24 hawa ulang tahun, apa bapak tidak berniat untuk merayakan nya? Walaupun hanya acara kecil-kecilan?" tanya wafda panjang lebar
"ya allah, astaghfirullah, saya hampir saja melupakan hari ulang tahun anak saya" ucap adit memepuk kening nya.
" saya ingin merayakan momen 1 tahun hawa meskipun sederhana" ucap wafda.
"yasudah kamu atur saja, saya setuju apapun yang kamu lakukan" ucap adit. Wafda mengangguk.
Wafda pun menyiapan perlengkapan untuk acara ulang tahun hawa, karna ini terbilang dadakan, adit dan keluarga nya hanya mengundang tetangga, dan sodaranya saja.
"bagai mana pak? Bapak suka dengan dekorasinya?" tanya wafda.
"sangaaattt. Sangaat suka, kamu hebat sekali bisa mensulap mejadi indah seperti ini, dan ini kue nya cantik sekali apa kamu yang buat?" tanya adit bertele-tele.
"iya pak,masih belajar" ucap wafda.
"wah ini sudah bagus lho ba" ucap adit memuji. Wafda hanya tersenyum
Acara ulang tahun hawa pun di rayakan dengan sederhana,hanya segelintir keluarga dan tetangga saja yang datang,tapi tak mengurangi kebahagian hawa. Ia tertawa riang tak kala tahu di rumah ada cukup banyak orang, semua mengucapkan selamat pada hawa, termasuk ziah.
"selamat ulang tahun kesayangan onty, makin sholihah, di gampangkan rizkinya, di sehatnya, makin cerdas ya nak" doa hawa mengecup kening hawa. Hawa tersenyum dan memeluk ziah. Tiba-tiba saja air mata hawa menetes. " teh rinayah, anak mu sudah 1 tahun, berarti kamu sudah 1 tahun ninggalin kami, ziah kangen teh" lirih ziah terisak. Ziah mengeratkan pelukan nya pada hawa.
__ADS_1