
Sepulang dari sekolah, ziah berniat ingin berkunjung ke rumah sahabatnya rinayah, ziah mendengar kalo sahabat nya sedang sakit.
"Pak adit, saya mau ketemu teh rinayah, kira-kira saya ganggu gak?" tanya ziah pada adit. Adit terkekeh "Kenapa harus mengganggu, malahan rinayah bakal seneng, kamu datang menemui beliau," ucap adit
"Ya sudah sekarang saya mau ke rumah bapak ya, saya kangeeen banget sama teh rinayah, baru juga beberapa hari gak ketemu" ziah merasa sedih, karna sahabat sekaligus ia anggap kakak itu sudah tidak mengajar,
"Datanglah, rinayah juga butuh suport dari orang-orang terdekatnya" ucap adit dengan nada sedih, hal tersebut membuat ziah heran,ada sebenarnya dengan sahabatnya itu.
"Emang nya teh rinayah sakit apa si pak? Jangan buat saya khawatir" tanya ziah dengan wajah cemas.
Adit menghela nafas berat,sebenarnya ia tak sanggup mengatakan nya, jika ingat akan hal penyakit yang di alami oleh istrinya membuat adit takut,rasa takut itu setiap hari menghantui adit.
"pak adit kok ngelamun, jangan buat saya semakin khawatir dong pak, ada apa sebenarnya?" tanya ziahh kembali.
"Bu ziah sebenar nya rinayah memiliki penyakit yang cukup serius" ucap adit.
Ziah tertegun, penyakit serius? Kenapa selama ini dia tidak tahu?,pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di fikiran ziah.
"Maksud bapak apa? Teh rinayah punya penyakit yang cukup serius? Maksud bapak parah? Pertanyaan demi pertanyaan ziah lontarkan pada adit, adit hanya mengangguk lemah. Dan menjawab
"Beliau memiliki kanker staudium 4".
DUUUUUUAAAAARRR,
Bagaikan di sambar petir di siang hari. Air mata ziah luruh begitu saja.
"Pak, bapak bohong kan? Ini semua gak bener kan pak? Teh rinayah baik-baik saja kan pak?" tanya ziah gemetar ia, belum bisa menerima jika sahabatnya itu memiliki penyakit separah itu.
Lagi-lagi agung hanya mengangguk.
"Saya akan pergi ke rumah teh rinayah,saya akan pastikan teh rinayah baik-baik saja, ia tidak memiliki penyakit itu, mana mungkin ia sakit, ia kan sedang mengandung pak,dan sebentar lagi akan melahirkan. Saya minta sama bapak, jangan becanda sama saya pak" ziah tersenyum, namun air matanya terus saja menetes membasahi pipi cantik nya.
"Tidak bu, saya tidak berbohong, bahkan saya pun mengetahui penyakit rinayah baru-baru ini dia merahasia kan ini dari kita semua,termasuk orang tuanya." jawab adit dengan suara parau,
"Lantas bagai mana bisa bapak tahu sekarang?" tanya ziah.
Adit menghela nafas berat dan ia menceritakan nya, kenapa ia bisa mengetahui penyakit istrinya itu..
"Pada saat itu" ucaapp adit menatap dengan tatapan kosong.
Flashback on
"Dek kok kamu belum siap-siap udah siang lho ini" tanya adit pada sang istri rinayah. Tidak seperti biasa nya rinayah begitu, rinayah orang yang sangan di siplin, bahkan jika suami nya belum siap-siap ia akan terus saja mengoceh.
"Kaya nya aku mau izin dulu gak masuk mas, aku agak sedikit gak enak badan" ucap rinayah yang masih berbaring di atas kasur.
"kamu sakit? Kenapa kamu gak ngomong sama mas, yasudah mas bawa kamu ke dokter ya?" ajak adit, adit tidak tahu kalo istrinya sakit,karna semalam dia baik- baik saja.
Rinayah tersenyum " nggak perlu mas, aku cuman butuh istirahat" ucap rinayah, sambil batuk-batuk.
" Itu kamu batuk- batuk gitu dek, kasian dede bayi kita, kalo ummah nya sakit" ucap adit merasa sangat khawatir.
" Nggak perlu mas" ucap rinayah dengan suara lemass, dan tiba-tiba saja keluar cairan merah, dari hidung rinayah. Tentu saja membuat adit semakin panik.
__ADS_1
"Dek hidung kamu mimisan,sebaiknya kita ke dokter ya" ajak adit memaksa, namun rinayah tetap kekeuh, bahwa ia baik-baik saja.
Hingga akhirnya pertahanan nya runtuh, saat ia hendak ingin bangun dari tidur nya, tiba-tiba saja kepala rinayah sangat sakit dan pusing, hingga akhirnya rinayah jatuh pingsan.
Tentu saja membuat adit sangat panik, dan segera membawa istrinya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit agung membawa sang istri ke UGD, dan akan segera di tangani oleh dokter.
"Bapak tunggu di sini saja ya pak" ucap sang perawat pada adit saat adit hendak masuk ke dalam ruangan tempat di periksanya sang istri.
"istri saya kenapa sus?" tnya adit panik.
"Dokter sedang memeriksa istri bapak, nanti bapak akan tau, istri bapak sakit apa" jawab perawat ramah.
Setelah beberapa menit di periksa, akhirnya dokter pun keluar dengan wajah sedikit sedih.
"Apakah bapak istri bu rinayah?" tanya sang dokter wanita tersebut, adit mengangguk cepat. Namun dalam hati adit bertanya-tanya, kenapa dokter tersebut mengenali istrinya, sedang adit pun tidak mengenali dokter tersebut.
"Bapak pasti heran kenapa saya bisa kenal dengan istri bapak ya?, beliau adalah pasien ssya, setiap sebulan, atau 2 minggu sekali beliau datang kesini" ucap dokter tersebut ramah. Hal tersebut membuat adit semakin heran.
"Sebenarnya istri saya sakit apa dok? Bagaimana mungkin dia sering bolak balik ke rumah sakit?" tanya adit, karna memang sebelum ia tidak mengetahui hal tersebut, karna tidak ada kejanggalan pada diri rinayah, dan adit merasa setiap waktu ia selalu bersama, bahkan pulang pergi sekolah pun selalu bersama, kecuali ada jam pelajaran tambahan, kadang pulang masing-masing.
Sang dokter tersenyum ramah " sebaiknya bapak ikut ke ruangan saya langsung ya pak" ajak sang dokter. Adit menyetujuinya.
"Silahkan masuk pak" ucap dokter tersebut.
"Apakah bapak sudah tau tentang penyakit yang di derita istri anda?" tanya sang dokter, adit menggelengkan kepala. Dokter tersebut menghela nafas berat.
"Istri saya sakit apa dok? Apa bisa di sembuhkan?"
"hanya sedikit kemungkinan istri bapak bisa sembuhh karna penyakit istri bapak...." sang dokter menggantung ucapan nya. Ia tak sanggup mengatakan hal tersebut, karna sudah pasti akan menyakiti hati adit, namun adit berhak tahu.
Dokter tersebut tidak menjawab, ia hanya menyodorkan kecarik kertas kepada adit.
"Ini hasil pemeriksaan bu rinayah minggu lalu, dan memang seharusnya beliau kesini hari ini" hanya itu yang keluar dari mulut sang dokter.
Adit memgambil kertas tersebut dan membukanya dengan tangan sedikit gemetar,setelah ia baca, air mata nya lolos begitu saja"
"Kan-kanker sta-stadium 4 dok? dokter jangan bohongi saya, istri saya selama ini baik-baik saja dok." ucap adit sambil menangis.
"Bu rinayah sudah lama mengidap penyakit ini pak" ucap dokter tersebut.
"Kanker staudium 4, kemungkinan kecil bisa sembuh pak, tapi kita serahkan semua nya kepada allah, kamu semua tim medis di sini akan berusaha sebisa mungkin, namun kembali lagi kepada allah ya pak" ucap dokter tersebut. Adit tak bisa lagi berkata-kata ia hanya mengangguk pasrah, dan pmit untuk pergi ke ruangan tempat sang istri di rawat.
Melihat sang istri terbaring lemaah, membuat hati adit semakin hancur dan rapuh, ia tak bisa membunyikan kesedihan nya.
"Kenapa kamu gak cerita sama mas, dek kenapa? Kenapa kamu pendam sendiri rasa sakit mu ini, maafkan mas, mas gak bisa jadi suami yang baik buat kamu, seharus nya mas tahu, tanpa kamu memberi tahu, kamu pandai sekali dalam menyembunyikan segala hal, termasuk penyakitmu, kamu seperti terlihat baik-baik saja,padahal kamu nahan sakit de" gumam adit lirih, ia terus menciumi tangan istrinya, dan mengelus-ngelus perut buncit sang istri.
"Kamu harus sembuh ya de, kamu kan udah janji sama mas, kalo kita bakal besarin anak kita sama-sama" lirih agung. Mata rinayah perlahan terbuka, meskipun ia sedang tidak baik-baik saja, ia tetap tersenyum pada suaminya itu.
"Laki-laki gak boleh nangiss, aku gak papa kok, nanti juga sembuh" ucap rinayah lemas, ia masih saja berusaha menyembunyikan penyakitnya itu.
"Kenapa kamu bohongi mas de?" tanya adit.
__ADS_1
"aku berbohong apa mas?"
"Kamu tlah menyembunyikan penyakit mu dari ku dan keluarga kita, kenapa dek? Kenapa? Kamu janji sama mas gak akan ada yang di tutupi, tapi nyatanya,kamu berjuang sendiri melawan rasa sakit mu dek. Harusnya kita berjuang sama-sama dek" ucap adit, rinayah tersenyum tapi air matanya berjatuhan.
"Aku akan baik-baik saja mas, mas janji sama aku, mas gak boleh sedih, mas gak boleh kasih tau sama siapapun, termasuk orang tua kita, dan ziah pun jangan sampai tau, aku gak mau bikin dia makin sedih, hati dia sedang tidak baik-baik saja mas" rinayah meminta adit untuk merahasiakan nya.
"Tapi semua orang harus tau dek, kamu gak boleh hadapin semuanya sendirian" ucap adit.
"kalo sudah waktunya, mereka juga akan tau mas,tapi ini belum saatnya" jawab rinayah, agung hanya mengangguk, dan terus mencium tangan dan perut istrinya.
"Nak kita berjuang sama-sama ya sayang" bisik agung pada perut rinayah.
***Flashback off***
Setelah adit menceritakan semuanya, ziah baru sadar, ia pernah memergoki sahabatnya itu di toilet, pada saat itu hidung rinayah mimisan.
"Ya allah, aku kira itu hanya mimisan biasa" gumam ziah.
" pak sekarang saya mau ketemu teh rinayah, bapak mau pulang sekarang?" tanya ziah.
"Saya masih ada urusan,kamu duluan saja, sebentar lagi juga selesai" ucap adit, ziah menganggukan kepala, dan pamit pada adit untuk pergi.
Di sepanjang perjalanan ziah tak fokus,fikiran nya berkelana kemana-mana,
"aku belum siap kehilangan sahabatku ya rob" ucap ziah..
Ziah pun sudah sampai di depan halaman rumah rinayah, ziah turun dari motor dan mengetuk pintu rumah rinayah.
Tokk.. Tookk. Tookk
"Assalamu'alaikum" sapa ziah
"waalaikumsalam" jawab seseorang dari dalam yang suara nya sangat di kenali ziah. Rinaya membuka pintu. Saat pintu terbuka, tanpa basa basi ziah langsung memeluk sahabatnya itu, dan menangis sejadi-jadinya.
" Lho. Lho kenapa ini? Ada apa? Kamu kenapa lagi teh?" tanya rinayah panik.
"Teh rinayah kenapa teh rinayah gak pernah cerita apa-apa sama ziah?" tanya ziah tiba-tiba, membuat rinayah kebingungan,
"udah jangan nangis ayok masuk dulu" ajak rinayah, ziah pun menurut.
"Maksud kamu aku gak cerita apa teh?" tanya rinayah benar-benar tidak mengerti.
"Soal penyakit teteh" ucap ziah, rinayah tertegun. Namun ia berusaha tersenyum
"saya baik-baik saja, kamu liat sendirikan, saya tidak kenapa-napa? Kamu gak usah khawatir, aku gak cerita sama kamu, karna aku tau kamu sedang banyak masalah" ucap rinayah.
"Udah jangan nangis,kamu harus janji sama aku, kamu harus tetap bahagia ya,jangan pernah bersedih lagi, kalo nanti aku udah gak ada, aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya rinayah,
" sesuatu apa? Teteh gak boleh ngomong yang nggak-nggak teteh pasti sembuh, bentar lagi dede bayi mau louncing, semua nya harus pada sehat" ziah masih terisak, rinayah sangat beruntung memiliki sahabat seperti ziah, melihat ziah menangis rinayah pun tak kuasa menahan tangisnya, yang awal nya ia akan berusaha tegar, agar sahabatnya tidak khawatir ternyata rinayah tak bisaa.
"jika suatu saat nanti aku gak ada, kamu mau kan jagain anak aku? Kamu jagain dia sperti anak mu sendiri, dan kamu harus berjanji jangan pernah kamu menangis lagi, kamu harus bahagia, sudah cukup luka mu sampai disini" ucap rinayah, ziah tak bisa berkata-kata hanya air mata saja yang terus mengalir. Rinayah memeluk ziah dengan eraatt.
"Semua nya akan baik-baik saja" bisik rinayah.
__ADS_1