
Setelah wafda menerima lamaran adit, wafda pulang ke rumah nya, ia meminta pada adit jika adit bersungguh-sungguh mencintainya. Wafda ingin adit datang langsung ke rumahnya untuk melamarnya pada orangtua wafda.
"jika bapak serius ingin menikahi saya, datang lah ke rumah saya, saya akan izin untuk pulang dulu kerumah" ucap wafda kala itu pada adit.
"baiklah akan saya lalukan jika itu keinganan mu" ucap adit mantap,
"saya titip hawa," ucap wafda, sebenarnya sangat berat sekali wafda meninggal bocah mungil tersebut.
"kamu tenang saja, hawa ada yang menjaga nya, bu ziah pun bersedia menjaga hawa" ucap adit, adit sudah menganggap ziah seperti adiknya sendiri, jika ia memiliki masalah, tak jarang ia bercerita pada ziah, termasuk hal lamaran ini, ia akan bercerita pada ziaahh.
"maafkan mas dek, namun perlu kamu ketahui namamu selalu tersimpan di hati mas, mas berjanji tak akan ada satu orang pun yang bisa melukai hawa, mas memilih wafda, karna wafda sangat menyayangi hawa, kamu pasti sudah bahagiakan di syurga nya allah?" lirih adit, tak terasa air matanya menetes. Ia tak cerobah dalam melamar wafda, ia melaksanakan sholat malam, ia meminta petunjuk pada alla,mana jalan yang harus ia tempuh, tetap bertahan sendiri dalam membesarkan hawa, atau memiliki pedamping hidup, untuk membesarkan hawa bersama-sama? Adit menghapus jejak air matanya.
"zi,boleh gak nanti sepulang sekolah kita makan di luar" chat adit pada ziah, sekarang adit memeng menyebut ziah dengan nama, tanpa embel-embel bu,kecuali di sekolah.
"tentu saja bang, tumben ngajak makan" ledek ziah. Adit dan ziah memang sedang ada di sekolah, tapi adit tak mungkin berbicara langsung pada ziah,terlebih melihat sikap agung pada adit, jika agung melihat adit dengan ziah, pasti saja agung akan bersikap dingin dan tiba-tiba saja jeles, apakah agung masih mencintai ziah? Bagai mana perasaan nya terhadap zahra yang sudah hampir satu tahun menemaninya?
Sepulang sekolah mereka janjian makan di lesehan tempat favorit almh. Rinayah,ziah tahu tempat tersebut sangat di gemarinya sahabatnya itu, bukan hanya makanan nya saja yang lezat, namun di sajikan juga pemandangan yang sangat indah.
" apa bang adit ingin membicarakan sesuatu?" tanya ziah to the point. Adit menganggukan kepalanya.
"tentang?"
"masa depan hawa?" jawab adit.
"masa depan hawa?" ulang ziah
"iya zi, saya berniat ingin menikahi wafda" ucap adit tanpa basa basi,membuat ziah tersedak.
"apaaa?" tanya ziah terkejut.
"kenapa? Apa kamu tidak setuju? Kamu tenang saja zi, aku gak sembarangan ngambil keputusan kok, lagi pula kita juga udah liat kan bagai mana sayang nya wafda sangat menyayangi hawa?" tanya adit, sambil menatap ziah, ziah memberhentikan makan nya, lalu menghela nafas.
"kalo menurut abang itu baik, lakukan saja, asal jangan sampai hawa terlantar, aku gak mau sampai itu terjadi, karna aku juga sangat menyayangi hawa" ucap ziah, sebenarnya ziah sedikit keberatan karna adit ingin menikahi wafda, ziah berfikir kalau adit tak mencitai lagi rinayah.
"kamu tenang saja, saya tidak akan pernah melupan rinayah, rinayah selalu tersimpan dalam hati saya, kamu jangan khawatir, saya akan sering menengoki rinayah," seakan tau apa yang ada di fikiran ziah, adit berucap demikian.
"dan bang adit harus janji sama ziah, bang adit gak boleh bawa hawa kemana-kemana" ucap ziah dengan gemetar karna menahan tangisnya.
"emangnya mau di bawa kemana hawa sama saya? Disini masih ada nenek-neneknya,yang menyayangi nya zi" ucap adit.
"kamu gak usah takut, saya gak akan pernah pisahin hawa dari kalian" adit berucap kembali untuk meyakin kan hati ziah. Ziah mengangguk.
"jadi rencana abang kapan mau lamar teh wafda?" tanya ziah
"minggu ini saja zi, kamu mau kan anter saya? Nanti ketemu sama vano di sana" goda adit, ziah mendelik kan matanya.
"urusan pak vano dengan saya apa pak?" tanya ziah geram.
"jangan jutek-jutek amat jadi cewe gak baik, nanti kalo jodoh gimana coba?" ucap adit sambil tertawa karna gemas melihat ziah yang merajuk padanya.
__ADS_1
"tau ah, pulang hayu. Tapi sebelum pulang kita ke makam dulu teh rin yah" ajak ziah, adit menyetujuinya, karna ia pun berniat akan ke makam mediang istrinya.
"ayo, saya juga udah ada niatan mau ke makamnya, jadi kita bareng saja," ucap adit.
Mereka pun pergi menuju ke makam almarhumah rinayah.
"teh aku datang lagi kesini, teteh pasti bahagiakan disana? Semenjak kepergian teteh, hidup zi semakin terasa sepi, zi gak punya tempat untuk bercerita lagi, zi kangen sama teh rin" ucap ziah lirih, ia tak bisa menahan air matanya nya. Ia menangis tersedu, mengingat masalalu nya bersama rinayah. Ziah menghapus air matanya yang berjatuhan di pipinya.
" tapi kan sekarang teh rin udah gak sakit lagi ya, teteh udah senang di sana, oh iya hawa udah makin besar lho, dia tumbuh menjadi anak yang cantik dan cerdas, sama sepertimu" ucap ziah kembali, adit yang melihat hal tersebut merasa sedih. Dan terharu, begitu kuatnya persahabatan mereka.
Kini giliran adit yang bercerita pada mediang istrinya.
"dek, mas datang mas datang kesini minta restu darimu, insya allah mas minggu ini akan melamar seorang wanita, yang begitu menyayangi hawa,tapi kamu tenang saja, mas akan sering datang kesini, seperti biasanya. Kamu tenang aja ya hawa di kelilingi orang-orang baik." ucap adit sambil menabur kan bungan di pekarangan makam rinayah.
Setelah mengirim doa untuk rinayah mereka pun pulang, karna hari sudah semakin sore.
"zi mau langsung pulang?" tanya adit.
"kaya nya iyah bang takut bunda khawatir, besok saja aku mampir melihat hawa"
"iya kamu tenang saja,lagi pula di sana ada ibuku dan ibu mertuaku" ibu rinayah datang ke rumah adit atas permintaan adit, dan untuk meminta restu padanya, ia sudah berjanji akan menjaga kedua wanita hebat tersebut.
" ibu untuk sementara tinggal disini saja ya, sampai acaranya selesai" ucap adit pada ibu rinayah kala itu.
"apa ibu tidak merepotkan mu?" tanya ibu rinayah.
"sama sekali tidak bu, nanti biar yang beres-beres rumah biar tetangga kita aja yang biasa nyetrika."
Hari yang di tunggu-tunggu pun tlah tiba,sanak keluarga yang ingin mengantar adit pun sudah siap.
"gimana sudah siap semuanya?" tanya paman adit.
"siaaapp" ucap serempak. Hawa tidak ingin jauh dari pangkuan ziah, dengan senang hati ziah menggendong hawa.
"nak sekarang kita ketemu mamah wafda ya sayang" ucap ziah sambil menjawil pipi gemoy hawa. Di sepanjang perjalan hawa tidak rewel ia sangat anteng, dan tertidur pulas.
Namun sesampainya di kediam wafda tiba-tiba saja hawa menangis, mungkin karna ia kepanasan dan baru bangun tidur, ziah mencoba menang hawa.
" cupp. Cupp.. Cupp nak, jangan nangis ya sayang ya" ucap ziah ia pun pergi sedikit menjauh dari kerumunan banyak orang, ziah takut hawa menangis karna kaget melihat banyak orang. Ia pun singgah di salah satu rumah.
"permisi pak bu, numpang singgah di rumah nya sebentar" ucap ziah ramah, meskipun tau di sana tak ada orang. Fikir ziah.
Namun tiba-tiba saja pintu rumah terbuka, dan alangkah terkejut nya ziah, karna yang keluar ada vano.
"lho bu ziah ikut juga?"
"ya"
"ini anak pak adit kenapa kok nangis gini?" tanya vano kembali.
__ADS_1
"mungkin ia kaget karna bangun tidur banyak orang" ucap ziah jutek.
"biar saya bantu, saya gendong hawa ya bu, sepertinya ibu sudah kelehan, tapi nanti saya ambil dulu minum untuk bu ziah ya" tanpa minta persetujuan dari ziah, vano pun pergi.
Vano kembali menemui ziah dengan membawa sebotol minum dan menyodorkan pad ziah.
"biar hawa sama saya dulu bu ziah minum dulu" ucap vano, namun ziah menolak..
"gak perlu" ucap nya
"bu apa ibu gak kasian sama hawa nangis kaya gitu?" tanya vano, ziah sudah mencoba menenangkan hawa dengan beberapa macam termasuk memberinya susu, namun hawa tetep menolak, hingga akhirnya ziah pun luluh dan memberikan hawa pada vano.
"hawa sayang sama om yuk" ajak vano pada hawa sambil melentangkan tangan nya. Dan hawa pun mau, tangisnya sedikit mereda, vano terus saja mengajak ngobrol hawa, sesekali becanda dan hawa kembali tersenyum. Melihat hal tersebut ziah merasa aneh, kok bisa hawa mau dengan orang asing, biasanya ia selalu menolak.
"kenapa liatin saya seperti itu?" tanya vano, dengan cepat ziah mengalihkan pandanganya.
"baru tau ya kalo saya tampan" goda vano kembali. Hal tersebut membuat ziah membulatkan matanya, dan adit pun tersenyum.
"ayo kita kesana, acara nya udah mau selesai" ajak vano, hawa menangis memang cukup lama, hingga akhirnya bisa tenang, dan ziah pun tak langsung membawanya di kerumanan banyak orang karna takut tak nyaman.
"apa hawa tidak akan menangis lagi?" tanya ziah ragu.
"insya allah nggak, hawa udah jauh lebih tenang" ucap adit meyakin kan.
Mereka pun pergi ke tempat kediaman wafda, namun acara lamaran sudah selesai, dan segelintir orang sedang menikmati jamuan dari empunya rumah, namun saat mereka datang sebagian mata tertuju pada ziah dan pada.
"Waaaahh bentar lagi mah bakal nganter yang lamaran nih" ucap salah satu keluarga vano. Serempak mereka tertawa renyah.
Hal tersebut membuat vano dan ziah, salah tingkah.
"ini siapa no?" tanya seorang ibu-ibu pada vano.
"ini temen vano bun, beliau mengajar di tempat vano mengajar" ucap vano pada ibu-ibu tersebut.
" awas asal nya temen jadi demen deh" ucap sodara vano kembali.
"eehh udah atuh jangan becanda mulu kasian si neng nya atuh,jadi gak nyaman dianya, maaf ya neng" ucap ibu-ibu tersebut yang vano sebut dengan sebutan bun.
" nggak papa bu"ucap ziah pada ibu-ibu tersebut yang ia yakini bahwa itu adalah ibunya vano. Ibu tersebut melirik ke arah vano. Dan vano langsung mengerti.
"ini anak pak adit bun, calon anak wafda" ucap vano, sang ibu menganggukan kepala.
"neng cantik ayo kedalam atuh, makan dulu, kamu kan dari tadi belum makan ya?" ajak ibu vano.
"tidak bu tidak usah, saya di sini saja" ucap ziah ramah.
Ketika ziah sedang asyik bercengkrama dengan keluarga vano ada sepasang mata yang merasa cemburu dan tidak suka,ia adalah agung, ya agung pun ikut menghadiri acara lamaran adit, karna permintaan adit. Ziah tak sengaja melirik ke arah agung,ia dapat melihat dari sorot matanya,bahwa agung sedang cemburu terhadap nya. Dan ziah pun menggukan kesempatan itu, dan mendekati vano.
"sakit bukan, melihat seseorang yang pernah kau sayangi bersama orang lain? Dulu juga aku merasakan hal tersebut, namun sekarang tidak, aku sudah mengubur namamu dalam-dalam" lirih ziah dalam hati...
__ADS_1
" mohon dukungan nya terus ya man temaan "🤗🤗☺☺☺