
Semua orang yang ada di sana tergesa-gesa menghampiri ziah yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"foto plat nomor mobil itu agar memudahkan pencarian orang yang menabrak bu ziah" ucap salah seorang warga, yang mengenali ziah.
"panggil para guru, terutama pak adit" ucap nya lagi.
Salah seorang warga pun masuk tergesa menuju ruang guru.
"permisi pak, bu"ucapnya dengan mimik muka yang sangat panik.
"iya bu, ada apa ya?" salah satu di antara mereka menjawab.
"i-itu bu, b-bu ziah kecelakaan" dengan susah payah ia berkata, semua yang ada di sana melebarkan matanya.
"bu, ibu jangan becanda ya,mana mungkin ziah kecelakaan orang baru aja di pamit mau ke toilet" adit tak terima dengan perkataan wanita tersebut, karna saat ziah keluar ia bilang pada adit ingin ke toilet sebentar.
"be-benar pak,bu ziah di tabrak lari" ujarnya dengan gemetar, saat semua guru sedang bersitegang tak percaya, bahwa ziah ada yang menabrak lari, tiba-tiba saja vano datang.
"ada apa ini? Kok kaya panik gitu?" vano bertanya pada semua orang yang ada di sana, karna vano baru saja balik ke pondok karna ada barang yang tertinggal, jadi ia tidak tahu apa yang terjadi.
" van, kata si ibu ini ziah di tabrak lari" ucap adit.
"kalian jangan becanda ya, tadi sebelum saya pergi saya liat bu ziah masih ada ruangan ini" dengan lantang vano membantah nya.
"sebaiknya bapak kesana saja dulu, karna bu ziah harus segera di tangani ia tak sadarkan diri" wanita tersebut kembali berujar.
Tanpa basa basi vano berlari menuju tempat kejadian di sana sudah banyak orang yang melihatnya.
"Minggiir" vano menyingkirkan beberapa orang yang ada di sana.
Dunia vano terasa runtuh, ternyata benar orang yang terkulai lemas tak sadarkan diri adalah ziah, orang yang selama ini ia sayangi. Adit menyusul vano, begitu pun dengan agung, tak bisa di pungkiri ia pun merasa khawatir dan takut jika ziah kenapa-napa, namun ia harus bisa memendam rasa khawatirnya demi menghargai istrinya zahra.
"van...." lirih adit, ia berjongkok dan mengusap punggung vano yang sedang memeluk ziah bersimbah darah.
"diit. Ziah.." vano tergugu menangis
"siapa yang berani menabrak ziah, ia akan berurusan dengan saya, akan saya cari orang yang telah membuat ziah terluka" gertak vano.
"sebaiknya kita telpon ambulan, agar ziah segera di tangani van" adit pun menelpon ambulan, sembari sesakali berbisik pada ziah
'kamu kuat zi,kamu harus bertahan sebentar lagi ambulan datang' lirih adit, jujur saja hatinya terasa sakit melihat ziah seperti itu.
Namun siapa sangka yang sedari tadi diam tak bersuara, ia pun membuka mulutnya dan berkata lantang.
"iinii semua gara-gara anda, semenjak ziah mengenal anda, hidup ziah tak pernah mendapatkan ketenangan.. Ini semua salah andaaa!!!" dengan penuh amarah dan menhadiah sebuah bogeman pada vano, agung berkata demikian.
Semua orang yang ada di sana terkejut termasuk adit dan zahra.
__ADS_1
"kenapa anda menyalahkan saya? Hah kenapa? Kalo saya bisa menggantikan posisi ziah saat ini, saya bersedia menggantikan nya, saya sudah berusaha untuk melindungi ziah" vano bangkit dengan penuh amarah. Agung menyunggingkan senyum nya.
"berusaha? Mana buktinya, anda lihat sekarang ziah lemah tak berdaya" tandasnya.
"kenapa anda begitu menyalahkan saya? Dan sepertinya anda tidak suka melihat kedekatan saya dengan ziah? Oooohh apa mungkin anda adalah lelaki yang tega meninggalkan ziah? Di saat ziah begitu menyayangi?" vano tak bisa mengontrol emosinya, begitu pun dengan agung,lagi-lagi agung ingin melayangkan sebuah bogeman pada vano, namun adit menahanya.
"kalian mikir gak? Sekarang itu ke adaan ziah sedang darurat, jangan berlaku seperti bocah kecil. Dan ini itu musibah, kita gak tau kapan musibah itu akan datang, kalo kalian mau ribut jangan di sini, lebih baik kalian pergiiiii!!! " amarah adit membuncah, ketika melihat vano dan agung beradu mulut, vano tak habis fikir pada kedua lelaki tersebut, bisa-bisa ia beradu mulut di saat situasi seperti ini.
Sedangkan zahra masih diam membisu, hanya air mata yang mengalir di pelupuk matanya,ia tak sanggup melihat ziah seperti itu, dan zahra pun mencerna setiap ucapan demi ucapan yang lontarkan oleh vano.
Apakah benar yang di katakan vano,bahwa ziah adalah manta kekasih agung? Zahra terus bertanya-tanya akan hal itu, dan zahra pun tak menyangka bahwa agung akan semarah itu pada vano.
"a..." panggil zahra dengan gemetar, agung pun menoleh ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan begitu saja meninggal zahra.
Zahra terdiam mematung, air matanya berdesakan ingin keluar. Adit hanya menghela nafas kasar dan menggelengkan kepala nya.
' gung.. Gung, tanpa kamu sadari kamu melukai hati istrimu sendiri gung' gumam adit dalam hatinya.
"bu zahra, saya dan vano akan segera membawa ziah ke rumah sakit, karna ziah harus segera di tangani" adit mencoba memecahkan ketegangan, dengan cepat zahra menghapus air mata, ia berusaha tersenyum meski hatinya merasa tercabik-cabik.
"iya pak, semoga bu ziah baik-baik saja. Saya hanya bisa mendoakan dari sini untuk kesembuhan bu ziah" zahra berusaha memperlihatkan dirinya baik-baik saja, meski sebenarnya tidak.
'saya tau bu, hati ibu saat ini benar-benar kecewa oleh sikap agung' lirih adit dalam hatinya.
Ziah pun di larikan ke rumah sakit, vano tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
"ini semua salah aku dit, seharus nya aku harus bisa menjaga ziah dengan baik, aku yakin dit, semua ini ada kaitan nya dengan kamila" vano merasa gagal dalam menjaga ziah,
"van, saya mau pulang dulu ya sebentar untuk ngasih tau wafda,dan bundanya ziah" adit pamit pulang pada vano, untuk memberi tahu istri dan bunda ziah.
"iya dit, kamu hati-hati biar ziah aku yang jaga"ucap vano.
"kalo ada apa-apa segera kasih tau ya" adit mengusap pundak vano,tanda memberi kekuatan.
Adit pun pulang dengan prasaan campur aduk, ia bingung harus bagaimana cara menyampaikan pada bunda ziah, kalo anak kesayangan nya mengalami kecelekaan,
"ya allah bagaimana ini" gumam adit.
Sebelum menuju kerumah ziah, adit pulang terlebih dahulu, untuk mengganti pakaian yang sedikit terkena darah yang mengalir di kening ziah.
"assalamu'alaikum" ucap adit dengan lesu.
"wa'a....laikumsalam" wafda menjeda salam nya, karna melihat baju suaminya ada darah.
"maas. Kamu kenapa? Kamu gak kenapa-napakan? Mana teh ziah kok gak pulang bareng? apa dia bareng sama bang vano?" seperti biasa wafda selalu memberondongi pertanyaan pada suaminya itu.
"daaa,kamu tenang dulu ya, aku bakalan jelasin sama kamu, tapi kamu jangan khawatir ya, janji sama mas"
__ADS_1
"sebenarnya ada apa sih mas? Cepetan jelasin jangan buat aku panik gini dong"
"iya-iya, kamu tenang dulu biar enak ngobrolnya sambil duduk ya" ajak adit pada wafda. Wafda pun menurut.
"da, ziah kecelakaan, dia ada yang menabrak tapi yang orang tersebut tidak bertanggung jawab"
Wafda membekap mulutnya, dan air matanya luruh begitu saja.
"mas kamu jangan becanda deh" sambil menangis wafda berkata.
"mas gak becanda da, ziah sekarang ada di rumah sakit, tadi pas mas pulang ia belum sadarkan diri"
"terus teh ziah di sana sama siapa mas?" tanya ziah.
"ada vano, sekarang mas mau ganti baju dulu, setelah itu mas mau kerumah bundanya ziah" adit bangkit dari duduk nya, dan berlenggang pergi menuju ke dalam rumah.
"mas nanti aku ikut ke rumah sakit ya" pinta wafda, namun adit menggeleng cepat.
"kamu di rumah saja ya sayang, kasian hawa dia gak mungkin kita bawa ke rumah sakit, nanti kalo ada apa-apa mas pasti kabarin kamu"adit membelai rambut istrinya itu, wafda hanya mengangguk lemah, ada benarnya yang di katakan suami nya itu, hawa masih terlalu kecil kalo harus di bawa ke rumah sakit, karna rumah sakit tempatnya orang sakit.
Setelah adit membersihkan badan nya dan mengganti pakaian nya, ia pun bersiap ke rumah bunda nya ziah.
"mas pamit ya ke rumah bunda dulu" izin adit pada wafda.
"iya mas hati-hati ya"wafda mencium tangan suaminya dengan ta'dim.
Adit pun pergi dengan mengendarai mobil, karna tak mungkin ia membawa bunda nya ziah dengan menggunakan motor, akan berbaya. Ia takut bunda ziah tak kuat
Sesampai nya di halaman rumah ziah, adit menghela nafas dengan kasar, lalu ia mengayunkan kaki nya menuju pintu rumah ziah.
"assalamu'alaikum bun" adit mengucapkan salam
"waalaikumsalam, eehh kamu dit tumben jam segini udah pulang,ziah nya mana dit?" fatma melirik ke kana kiri, tapi ia tak melihat keberadaan putrinya.
"zi-ziah kecelekaan bu, sekarang dia ada di rumah sakit" dengan terbata adit berkata.
Fatma tersenyum kecut" dit kamu jangan becanda sama bunda, kamu bohongkan sama bundaa, ziah sedang mengajarkan di sekolah? Dia baik-baik aja kan dit?" fatma mengguncangkan tubuh adit, air mata keluar tanpa ia minta.
"maafkan adit bun, namun apa yang adit katakan benar adanya, tapi bunda tenang saja, ziah akan baik-baik saja, dia wanita kuat bun" adit mencoba menenangkan fatma, meski hati kecilnya merasa khawatir dengan ke adaan ziah, tapi dia harus pura-pura kuat.
"nggak dit, nggak mungkin dit gak mungkin" fatma menangis histeris, hingga tubuhnya pun terhuyung ke pangkuan adit.
"bun. Bunda bangun bun, bunda harus kuat demi ziah bun" adit memapah fatma yang tak sadarkan diri menuju ke dalam rumah.
Ia mencoba mengoles-koles kayu putis di kening nya,dan di hidung fatma.
"bun bangun, aku tau ini sangat berat bagi bunda, karna ziah putri satu-satunya kesayangan bunda, tapi bunda harus yakin bahwa ziah akan baik-baik saja" lirih adit, tak terasa butiran bening membasahi pipinya.
__ADS_1
"sekuat apapun kita memegangnya, dan sejauh apapun kita menjaganya, jika itu bukan milik kita, ia akan lepas dan pergi"
"manusia hanya bisa berencana, tapi hanya allah lah yang maha sebaik-baiknya yang mengatur rencana"