Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
59. Bertemu kamila.


__ADS_3

"kamu janji kan gak bakalan tinggalin aku zi" ucap vano kembali.


"a, aku kan udah bilang aku gak bisa janji sama aa"


"tapi kamu gak benci kan sama aku?"


Ziah pun terkekeh" kalo aku benci sama aa, dari tadi aku tinggalin kamu sendirian a"


Vano di buat salah tingkah oleh ziah,


"kamu bukan cuman cantik wajah nya saja ya, tapi hatinya juga" puji vano.


Wajah ziah berubah menjadi merah merona bak seperti kepiting rebus.


"ciieee wajah nya merah gituu, makin cantik deh" godaa vano, vano sangat gemas melihat ziah salah tingkah.


"apaan sih iiisshhh" ziah berusaha menetralkan kembali dirinya.


"a.."


"iya ada apa? Kamu mau sesuatu?"


"aku pengen ketemu mila a"


Mendengar perkataan ziah, seketika vano diam tertegun.


"untuk?"


"ya pengen ketemu aja, aku fikir-fikir kasian mila a" ziah merasa iba pada kamila


" zi, kamu itu jadi orang jangan gak tegaan mulu deh" ketus vano.


" a, dia melakukan itu semua itu, agar semua keinginan dia tercapai, ia tak memikir kan resiko nya, mungkin dengan cara itu kamila berfikir kalo kamu bakalan kembali lagi sama kamu"


"tapi aku gak s*di, kembali lagi sama dia zi, kalo inget masa lalu ilfil aku, karna pernah menjalin hubungan sama dia,pantas saja wafda sangat marah sama aku dan ngelarang-larang ku buat jadian sama dia, ternyata begitu sikap asli nya" keluh vano.


"jangan ngomong gitu,mau bagaimana pun juga dia pernah mengisi ruang hati mu, pernah membuat mu bahagia bukan?"


Vano pun termenung, ada benarnya apa yang di katakan ziah, bahwa kamila pernah menjadi ratu di hatinya, tapi entah kenapa setelah vano tau bahwa pelaku tabrak lari ziah adalah kamila, vano sangat membenci kamila.


"iya kamu benar, tapi tetep saja sekarang aku sangat benci sama dia, dia sudah berani membuat celaka orang yang aku sayang" sambil menatap ziah vano berkata, hal tersebut membuat ziah salang tingkah, dan wajah nya lagi-lagi kembali merah merona.


"kamu beneran sayang sama aku? Jika kamu benar sayang sama aku buktikan, bawa orang tua mu kerumahku!" entah keberanian dari mana ziah berkata demikian.


"kamu serius zi? Kamu gak lagi becanda kan?" tanya vano tak percaya, ziah yang ia kenal orang yang pendiam,dan tak banyak bicara, bisa menantang vano seperti itu.


"tentu saja, aku udah gak butuh janji-janji dan harapan palsu,kenapa? Kamu heran? Gak percaya, karna ziah yang kamu kenal lugu dan pendiam?" ziah mengintimidasi vano.


"aku akan bawa orang tua ku kesini" dengan semangat 45, vano berkata.


Ziah pun tak kalah kaget mendengar jawaban vano, ziah fikir vano akan menjawab belum siap atau apa, seperti yang sudah-sudah.


"kamu benaran a, mau serius sama ziah?"


"apa kamu menganggap aku seorang pembohong, aku tidak akan seperti mantan mu yang tidak tau diri, ia sudah menyia-nyiakan berlian zi" tandas vano.


JLLEEEEBBBB, ntah kenapa hati ziah merasa sakit,apa karna ziah masih menyimpan rasa untuk agung?


"dia sudah memilih dengan pilihan yang tepat, wanita yang ia pilihlah berlian nya, dan aku hanya batu krikilnya" ziah menyunggingkan senyum.


"apakah seistimewa itu? Ingin tau aku!" gumam vano, sampe sekarang vano belum tau kalo mantan ziah adalah agung.

__ADS_1


"tentu saja, sangaattt- sangaaattt istimewaa" vano melirik ke arah ziah, ternyata ucapan nya terdengar oleh ziah.


"emang siapa mantan mu?"


" mau tau aja apa mau tau bangeett?" ziah menggoda vano.


"nanti juga kamu tau sendiri a" ucap ziah kembali.


"aku akan terus mencari tau zi" balas vano.


"aku pengen ketemu mila" ucap ziah tiba-tiba


"mau ngapain zi?" tanya vano heran.


"ya mau liat keadaan dia aja" dengan santai ziah menjawab.


"ENGGGAKKKK BOLEH" dengan tegas vano berkata.


"aku gak mau kamu kenapa-napa lagi, udah cukup zi, kamu kemarin bikin aku khawatir "


"ya allah a, mana mungkin kamila berani mencelakai aku? Dia kan sedang berada di lapas" ziah pun terkekeh, dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ziah sangat gemas melihat vano seperti itu.


"POKOKNYA ENGGAK, AKU BILANG ENGGAK YANG ENGGAK" tandas vano.


"a, aku kesana nya kan sama kamu, mana mungkin dia berani macem-macem sama aku a" ziah pun kekeuh ingin bertemu kamila.


"memang ya wanita selalu ingin menang, dan tak mau kalah" dengan pasrah vano menganggukan kepalanya.


"nah gitu donggg" dengan smuringah ziah berkata.


"kapan" tanya ziah lagi


"iiiiisssshh seriusss" ziah merajuk


"besok deh besok, udah dong jangan marah-marah terus,nanti cepet tua lho" vano mencolek hidung ziah.


Ziah pun menepis tangan vano" bukan muhrim" ucapnya.


"mau gak segera di halalin?" vano menaik turun kan alisnya..


Saat mereka sedang asyik becanda, tiba-tiba bunda ziah datang menghampiri keduanya.


"udahan dulu becanda nya, asyik banget kayanya! Sekarang kita makan dulu ya,udah bunda siapin" ajak fatma pada putrinya dan vano.


"enggak usah bund, lagian saya mau pulang" vano menolak dengan halus, walau sebenarnya ia ingin sekali makan bersama keluarga ziah, agar bisa lebih dekat lagi.


"eehh gak papa, sekali-kali makan bersama, agar bisa lebih deket gitu nak" bunda ziah,mengedipkan matanya.


"iiiihhh bunda genit dehhh" ucap ziah.


"gak papa zi, genit sama calon mantu ini" guyon fatma,


Vano semakin kikuk, tapi ia sangat bahagia melihat keluarga ziah yang pada akur.


"udah ah ayok, nanti keburu dingin masakan bunda, jadi gak enak deh".


Akhirnya vano pun ikut makan bersama keluarga ziah,makanan yang cukup sederhana, namun sangat nik'mat.


"maaf ya nak vano makan seadanya,bunda belum sempat belanja soalnya" ucap fatma


"nggak papa bund,ini juga sudah cukup, maaf merepotkan" ucap adit sungkan.

__ADS_1


"nggak papa nak" ucap fatma.


"udah dong jangan di ajak ngobrol terus vano nya bund, kapan dia mau makan nya" celetuk ayah ziah,


"iya-iya yah" jawab fatma.


***


Setelah selesai makan vano pun izin pamit pulang,karna hari sudah semakin sore.


" bunda, ayah, vano izin pamit insya allah besok vano kesini lagi"dengan sopan vano izin.


"kenapa buru-buru nak,?" protes ayah ziah


"karna nanti ba'da magrib vano harus mengajar anak-anak di pondok yah, takut akang mencari vano" karna memang vano untuk saat ini di tugaskan mengajar di pondok pesantren milik ayah zahra.


"calon mantu idaman ini bund" ucap ayah ziah pada istrinya nya.


"betuull banget yah"


Vano semakin di buat salah tingkah oleh keluarga ziah, ingin sekali ia menyelam air agar wajah nya tak terlihat memerah seperti udang rebus.


****


Sesuai janji vano, hari ini ia akan menjemput ziah,kedua nya akan pergi melihat kamila di lapas.


"kamu serius mau pergi zi?" hati vano sejujur nya sangat cemas.


"kamu gak usau khawatir kan kamu selalu ada di samping aku, mana mungkin kamila berani berbuat macam-macam" ziah tau apa yang vano khawatirkan.


"jangan lama-lama ya" pinta vano.


"iyaa, gak lama kok! Nanti sepulang dari sana kita ke rumah bang adit ya, aku kangen banget sama hawa." setelah ziah kecelakaan dan tidak bisa berjalan memang ziah tak sering bertemu hawa, mungkin hanya sesekali saja ketika adit berkunjung ke rumah nya.


"siap tuan putri, ini juga kan pake mobil adit" ucap vano.


Tak berselang lama,akhirnya mereka sampai juga di kantor polisi, dimana tempat kamila di tahan.. Ziah dan vano menunggu kamila di tempat besuk.


Tak lama kemudian kamila pun datang dengan keadaan menghawatirkan,ziah menatap mila tak percaya,terakhir ia bertemu mila, ia sangat terlihat cantik dan modis.


"miill" panggil ziah. Bukan nya memintaa maaf kamila malah menajam kan mata nya menatap nyalang ziah.


"LO PUAS KAN LIAT GUE DI PENJARA HAH?" bentak kamila.


"JAGA UCAPAN KAMU KAMILA, ZIAH KESINI INGIN MELIHAT KEADAAN MU, LIHAT ZIAH MEMBAWA KAN KAMU MAKANAN, KURANG BAIK APA ZIAH SAMA KAMU HAH?" vano tak terima melihat ziah di bentak, ia pun kembali membentak ziah.


"GUE GAK BUTUH MAKANAN DARI LO!, KENAPA LO GAK MATI AJA ZIAH PERS*TANAN" kamila melempar makanan yang di bawa ziah, ia seperti orang kerusupan, meracau, mengucapkan sumpah serapah. Polisi pun langsung membawa kamila masuk ke dalam penjara


Melihat kejadian tersebut ziah sangat ketakutan. Vano memegang tangan ziah dengan erat.


"kamu tenang ya, sekarang kita pergi dari sini" vano memapah ziah, karna memang ziah belum bisa jalan sempurna. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


"minum dulu" vano menyodorkan sebotol minum pada ziah, ziah pun mengambil nya dan meminumnya hingga tandas.


"ini yang aku takutkan zi" lirih vano,


Namun ziah masih berusaha tetap tenang dan tersenyum." tadi kamila hanya terbawa emosi a" jawab nya santai.


"ya allah zi, terbuat dari apa hati kamu? Saat orang membenci mu bahkan mengucapkan sumpah serapah pada, kamu masih bisa memaafkan nya?" lirih vano dalam hati, vano menatap ziah lama, keinginan nya untuk memiliki ziah semakin besar,tak akan ia lepaskan ziah..


"secepatnya aku akan membawa orang tua ku zi" lirih vano......

__ADS_1


__ADS_2