Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
48. Semua mengkhawatirkan ziah


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari lalu, ziah di ikuti dengan orang misterius. Semua orang harap-harap cemas terhadap ziah, mereka takut terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan.


"mas gimana kalo, kamila nekat ingin mencelakai teh ziah?" wafda tak kalah cemas, ia takut ziah kenapa-napa, karna wafda telah menganggap ziah seperti kakak nya sendiri.


"kamu tenang aja da, kamu berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja" ucap adit, sebenarnya, yang di takutkan oleh istrinya, sama hal nya dengan yang adit takutkan, namun adit harus berusaha tenang.


" kamila dari dulu memang licik, apa saja yang ia inginkan harus ia dapatkan sekalipun harus melenyapkan nyawa orang!" dengan geram wafda berucap. Adit mengerutkan keningnya.


"sepertinya kamu sangat tidak suka pada mila? Kenapa? Bukan kah vano cukup lama menjalin hubungan dengan kamila?" adit merasa aneh pada istrinya, karna setau adit apa yang vano lakukan wafda akan selalu mendukung selagi itu semua tentang kebaikan.


"dulu itu bang vano di butakan oleh cinta, mau aja pacaran sama cewek kaya gitu, mana udah gak perawan lagi, awas aja kalo sampe bang vano jatuh cinta lagi sama si kamila, aku gak akan pernah anggap bang vano sodara" wafda tak bisa menahan amarahnya.


"udah-udah jangan marah-marah gitu, nanti cantiknya ilang lagi, lagipula mana mungkin vano mau balikan sama cewek bekas orang,kamu kan udah tau sekarang vano sedang berusaha mendekati ziah,vano sekarang sayang nya bukan sama si mila, tapi sama ziah" adit menjawil pipi wafda, adit baru tau kalo istrinya lagi marah, serem jugaa.


"iiisshh mas, aku lagi serius nih, kamu harus tetep stay jagain teh ziah ya, soalnya kan bang vano gak mungkin antar jemput tiap hari " rengek sang istri


"siaaapp bos, tuan putri tenang saja. Ziah akan baik-baik saja" adit mengangkat tangan nya seperti orang hormat.


"makasih ya maass" wafda memeluk suaminya.


"sama-sama sayang, kamu gak usah banyak fikiran, ziah kamu harus yakin ziah akan baik-baik saja" ucap adit. Wafda mengangguk, tapi hati nya tetap merasa cemas karna wafda tahu betul bagaimana taibat kamila.


"udah yuk kita tidur udah malem, kita bikin adek buat hawa" bisik adit dengan nakal, refleks wafda memukul adit.


"aaaawwwww sakit dong sayang" adit meringis.


"ya allah mass maaf-maaf aku gak sengaja" ucap wafda merasa bersalah.


"gak mau, mas gak mau maafin kecualii......" adit menggantung ucapan nya.


"kecuali apa?"


"kecuali kamu kasih jatah mass malam ini" tanpa basa basi adit membopong istrinya ke tempat tidur mereka, wafda hanya pasrah dengan perbuatan jahil suaminya itu.


**


Sedangkan di tempat lain, ziah sangat ketakutan dalam hatinya terus bertanya-tanya siapa gerangan yang mematai-matainya? Dengan tujuan apa dia melalakukan hal demikian?


"apakah ada seseorang yang membenci ku selama ini?" tanya ziah pada dirinya sendiri.


"dengan alasan apa dia membenciku?" dalam otak ziah terus menerus memikirkan hal tersebut. Saat ia sibuk dengan fikiran nya, tiba-tiba saja asa pesan chat masuk ke dalam hp ziah.

__ADS_1


" bu ziah, mulai besok bu ziah tidak boleh membawa motor sendiri,biar pak adit menjemput bu ziah" begitulah isi pesan chat yang masuk pada gambar hijau milik ziah.


"apa itu tidak terlalu berlebihan? Apakah saya tidak merepotkan banyak orang pak?" ziah merasa tidak enak karna ia sudah banyak merepotkan.


"ini demi keselamatan bu ziah, saya tidak ingin terjadi sesuatu pada bu ziah" balas vano


"tapi pak, belum tentu orang yang mengikuti saya itu akan mencelakai saya pak! Bapak jangan terlalu overthingking" meskipun hatinya pun merasa takut, tapi ziah berusaha membuat orang yang ada di sekelilingnya tidak terlalu mengkhawatirkan nya.


Melihat balasan chat dari ziah seperti itu, vano mendesah prustasi.


"karna saya tau zi, mereka akan mencelakai mu, jika orang di sekililing mu lengah saja, mereka akan melancarkan aksinya"lirih vano


"pokoknya untuk kali ini bu ziah tidak boleh membantah, biarkan pak adit atau pun saya mengantar jemput bu ziah kesekolah, tidak ada lagi penolakan apapun titik...." balas vano.


Ziah merasa geram,namun di sisi lain ia merasa terharu, ternyata masih ada segelintir orang-orang yang mengkhawatirkan nya.


"makasih ya allah, engkau telah memberikan orang-orang yang baik di sekelilingku" lirih ziah, tak terasa air matanya menetes.


"zi.." panggil sang bunda, ziah segera menghapus air matanya. Lalu melirik ke arah pintu kamarnya, ternyata sang bunda sudah berdiri di ambang pintu tersebut.


"bundaaa" ziah bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri sang bunda lalu, ia langsung memeluk sang bunda.


"kamu kenapa nak? Kok nangis?" sang bunda melerai pelukan putrinya.


"kamu gak lagi mikirin soal, orang yang ngikutin kamu itu kan?" selidik sang bunda. Ziah terdiam


"zi, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, nanti kamu sakit nak, bunda gak mau liat kamu sakit" ucap sang bunda, meskipun dalam hati kecilnya pun ia merasa takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan terjadi pada putrinya itu.


"ziah berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut bund, tapi tetep aja kefikiran bu" lirih ziah.


"kamu tenang aja, kan ada vano sama adit, dia bersedia kan mengantar jemput kamu, selagi situasi masih belum membaik, bunda takut dia akan datang lagi mengikuti mu nak" akhirnya sang bunda pun mengungkapan ketakutan nya itu.


"iya bund, besok ziah ke sekolah bareng sama bang adit, nanti ziah ke rumah bang adit dan berangkat sama dia" ucap ziah.


"yasudah kalo begitu kamu akan aman nak, sekarang kamu istirahat, takut besok kesiangan" sang bunda mengecup putri kesayangan nya itu.


"bunda pergi ke kamar bunda ya nak, kamu tidur ya sayang" ucap sang bunda kembali, ziah hanya mengangguk, lalu sang bunda pergi meninggalkan ziah sendiri, setelah sang bunda sudah benar-benar pergi, ziah pun menutup pintu kamarnya.


Ziah melirik jam di dingding kamarnya, ternyata waktu sudah menunjukan jam 9.


"ya allah udah jam 9, aku belum sholat is'ya, saking kefikiran nya sama orang misterius itu sampe lupa aku belum sholat, astagfirullah ya allah" lirih ziah. Ziah pun bangkin lagi dari duduk nya, lalu menuju kamar mandi, yang menyatu dengan kamar tidurnya itu. Setelah selesai wudhu ziah pun melaksanakan sholat.

__ADS_1


Setelah selesai sholat, ziah mengambil al-quran ia mengaji. Setelah selesai mengaji, ia mengadahkan kedua tangan nya.


"ya allah ampuni segala dosa perdosaan hamba, tolong jauhkan orang-orang yang ingin mencelakai hamba, beri ia kesadaran, jikapun saya membuat kesalahan pada orang tersebut, izinkan hamba bertemu dengan nya, dan menyelesaikan masalah dengan baik-baik, hamba tak ingin orang-orang yang ada di sekililing hamba merasa khawatir" lirih ziah di sela do'a nya.


Pagi hari yang cerah pun menyambut ziah, namun berbeda dengan hati ziah. Hatinya di penuhi dengan ras was-was dan takut.


"pagi bunda, ayah" sapa ziah pada kedua orang tua yang sudah menunggunya di meja makan.


"pagii.." ucap mereka serempak.


"zi hari ini biar ayah yang antar kamu ya nak" sang ayah takut anak nya kenapa-napa, karna fatma sang istri sudah menceritakan semua kejadian kemarin pada suaminya itu.


"nggak usah yah, lagian ziah berangkat sama bang adit kok kesekolahnya, ziah bawa motor cuma nyampe rumah bang adit yah" tolak ziah halus.


"bener? Kamu gak bohongin ayahkan?" selidik sang ayah.


"enggak kok yah, kalo gak percaya telpon aja bang aditnya yah" ucap ziah.


"kalo begitu ayah akan merasa lebih tenang, emang sebaiknya kamu jangan bawa motor sendiri dulu" sang ayah merasa sedikit lega, karna putrinya ada yang menjaga.


Setelah selesai makan ziah pun pamit berangkat, ia berangkat dengan menggunakan motornya, namun hanya sampai rumah adit, sesampainya di sana seperti biasa ziah akan di sambut hangat oleh wafda dan hawaa.


" tehh ziaahh," wafda langsung memeluk ziah. Ziah hanya tersenyum ia merasa sangat bahagia, setelah kepergian rinayah, wafda hadir menggantikan rinayah. Ziah pun membalas pelukan wafda.


"haayyy sayang onty" sapa ziah pada hawa yang berada di gendongan ayahnya.


"maafin aku ya! Jadi ngerepotin terus deh" ziah merasa tidak enak pada wafda.


" nggak ada yang ngerepotin kok, lagian kan kalian tujuan nya sama, ini juga kan demi kebaikan teh ziah, bang vano khawatir kalo teh ziah berangkat sendiri" ucap wafda, ziah tak menyangka ternyata vano bercerita pada adik sepupunya itu, membuat ziah malu.


"iiiisshh tu cowok bikin malu aja" gerutu ziah dalam hati.


"bang vano itu beneran sayang lho sama teh ziah" bisik wafda membuat wajah ziah memerah bak kepiting rebus.


"iiisssh apaan sih teh, gak jelas deh" ziah terlihat salah tingkah, wafda dan adit terkekeh.


"kita ngedukung banget kalo kalian sampe pelaminan" seloroh adit berujar.


"iish bang adit, udah ah ayo berangkat nanti kesiangan lagi" ziah tak menanggapi perkataan dua sejoli itu, entah kenapa setiap mendengar nama vano, belakangan ini hati ziah selalu berdebar-debar tak menentu.


"apa mungkin aku tlah menyukai laki-laki tersebut?" gumam ziah dalan hati.

__ADS_1


"***SEANDAINYA"***


"skenario hidup bisa aku baca terlebih dahulu, sudah pasti akan ku hapus bagian cerita, yang tak ingin aku perankan"


__ADS_2