
Setelah beberapa kali bertemu dan bertatap muka secara langsung. Vano semakin mengagumi ke cantikan ziah, meski pun ia sering bertemu di sekolah tempatnya mengajar, tapi vano tak bisa mendekati ziah, karna ziah selalu menghindar atau bersikap acuh tak acuh terhadap vano.
"ternyata kamu bukan hanya cantik zi, tapi hatimu sebaik malaikat, sungguh bodoh pria yang menghiatimu" gumam vano dalam hatinya.
Vano sangat bahagia saat ini, karna kesempatan vano untuk mendekati ziah semakin gampang, ia sering bertanya pada sodara nya wafda, tentang ziah. Karna wafda berkata bahwa ziah sering berkunjung ke rumah adit untuk menemui hawa.
"da, menurut kamu ziah orang nya baik gak sih?" tanya vano pada wafda,pada saat ia sedang berdua.
"bang vano suka ya sama teh ziah?" tanya wafda.
"iisshh apaan sih da, emang kalo abang pengen tau tentang ziah kenapa? Bukan berarti abang suka dong da" kilah vano.
"rata-rata sih begitu bang, kalau kita suka sama seseorang, pasti kita akan cari tau tentang dia" ucap wafda santai.
"tapi tidak dengan abang da" kilah vano kembali.
"jangan munafik bang!. Kalau suka sama teh ziah yang deketin,jangan sampai nyesel kalo teh ziah keburu ada yang deketin" ucap wafda, vano tertegun, vano berfikir ada benarnya juga yang di katakan adik sepupunya itu, kalau kita menginginkan sesuatu kita harus berjuang bukan?
"kamu benar da" lirih vano, wafda pun tergelak tertawa
"tuh kan beneran suka sama teh ziah" ledek wafda.
"kamu itu yah emang comel deh jadi cewek,berisik da nanti orang rumah pada denger" ucap wafda jengkel.
Setelah lama mengborol dengan wafda akhirnya vano pulang ke rumahnya.
"udah sana tidur, calon pengantin jangan gadang mulu" ledek vano
"siaapp komandaa" ucap wafda dan mengacungkan jempolnya.
"tidur yang nyenyak abang ku sayang,semogan mimpi indah, dan semoga teh ziah hadir di mimpi abang" ledek wafda. Vano mengdengkus kesal.
__ADS_1
Semakin hari vano selalu memikirkan ziah, ziah selalu menari-nari di fikiran nya.
"apa aku benar-benar menyukai wanita jutek itu?" tanya vano pada dirinya sendiri. Apalagi ketika melihat ziah di pernikahan sodarannya wafda, ziah begitu terlihat sangat cantik dan begitu anggun.
"aahhh ziah pandai sekali kau membuat orang jatuh hati padamu, padahal kamu wanita yang sangat jutek, apalagi kalau kamu gak jutek. Pasti banyak pria yang mendekati mu, eeemmmh tapi kalau banyak yang menyukainya, bakal banyak saingan nya dong?" vano berbicara terus pada dirinya sendiri, ntah kenapa setelah mengenal ziah, vano agak sedikit bucin.
Vano sudah kembali ke pondok, ia tinggal di sana, karna kalau beliau berangkat di rumah akan memakan waktu yang cukup lama, hampir 1 jam, jadi lebih baik vano memilih untuk tinggal di pondok milik teman ayahnya itu, yang tak lain dan tak bukan adalah ayah zahra.
Bahkan vano sempat di jodohkan dengan zahra, namun zahra menolaknya dengan secara baik-baik,karna zahra sangat mengagumi agung sekaligus mencintai agung sudah sejak lama. Untung saja vano tidak terlalu tertarik dengan perjodohan itu, jadi vano tidak terlalu sakit hati.
Ayah dan ibu vano berniat menjodohkan vano pada zahra agar vano dapat melupakan mantan kekasih nya, yang telah menghianatinya, kekasih vano berselingkuh saat sedang menjalin hubungan dengan vano, nasib vano dan ziah hampir sama, keduanya sama-sama di tinggalkan. Namu ziah lebih menyakitkan karna ziah langsung di tinggal menikah.
Saat vano sedang berada di sekolah, ia sering kali ikut gabung bersama adit dan ziah, memang ziah sekarang lebih akrab dengan adit setelah kepergian rinayah. Kadang pulang mereka berempat, zahra beserta agung pun tak jarang berkumpul, namun ziah merasa tidak nyaman jika ada di dekat agung, kecuali jika berdua saja dengan zahra, ziah lebih leluasa. Dan tidak canggung.
"bu ziah ke mau ke kantin gak?" tanya adit. Karna memang kalau di dalam ruangan adit memanggil ziah dengan sebutan "bu" begitu pun dengan ziah.
"iya pak" jawab ziah sambil berdiri, saat ziah dan adit hendak berjalan tiba-tiba saja vano berkata.
" boleh saya ikut, pak bu?" tanya vano basa basi.
"terimakasih pak" ucap vano, ziah hanya diam sebenarnya ia kesal pada adit kenapa ia memperbolehkan vano bergabung dengan nya.
"zi ingat kata saya, jangan jutek-jutek gak baik" bisik adit pada ziah
"iya-iya" jawab ziah kesal.
Sesampainya di kantin mereka memesan berupa cemilan minuman.DLL
" bagaimana kabar wafda pak?" tanya vano basa basi,karna memang setelah menikah wafda langsung adit boyong ke rumahnya dengan alasan kasihan hawa di tinggal lama-lama.
"alhamdulillah kabar baik, main lah ke rumah, sekarang kan kita udah sodara, masa gak mau main ke rumah sodara sendiri" ujar adit sambil tersenyum.
__ADS_1
"in sya allah pak, nanti saya kesana sekalian pengen ketemu hawa" ucap vano, sementara ziah hanya menjadi pendengar setia adit dan vano, setelah lama bercengkrama,adit pun berpura-pura ingin buang air kecil, padahal ia ingin melihat vano dan ziah lebih akrab. Terlebih agar ziah tidak bersika acuh tak acuh pada laki-laki termasuk pada vano, adit tau bahwa vano benar-benar serius pada ziah, adit tahu itu semua karna wafda sang istri tlah bercerita pada adit.
"eemmhhh zii, abang ka toilet dulu ya bentar, kamu sama pak vano dulu ya bentar" ujar adit
Ziah menghela nafas.
"aku ke ruang guru aja bang" ujar ziah
"eehh jangan nanti abang kesini lagi, bentar doang kok" paksa adit, agar ziah tetep berdiam di kantin bersama vano. Akhirnya mau tak mau, ziah menuruti perkataan adit.
Setelah adit pergi meninggalkan mereka berdua. Vano memberanikan diri untuk memulai percakapan.
" udah lama bu ngajar disini?" tanya vano basa basi.
"lumayan" jawab ziah, sambil mengaduk-aduk minuman nya dengan sedotan. Vano menganggukan-anggukan kepala.
"kaya nya, bu ziah sangat dekat dengan keluarga pak adit" ucapnya lagi, vano akan terus memancing ziah agar ziah mau berbicara dengan nya,meskipun hanya 1 kata itu membuat vano bahagia.
"lumayan" jawab nya lagi dengan jawaban ya sama.
" dulu katanya istri pak adit sangat cantik ya bu, sama seperti hawa sekarang, dan bu ziah pun katanya sangat dekat dengan mediang istri pak adit." ucap vano, mendengar ucapan vano tiba-tiba saja ziah merasa sangat merindukan rinayah,ingin mengingat masa lalu saat berada di kantin, banyak sekali hal-hal yang ziah ceritakan pada rinayah, begitupun dengan rinayah. Tiba-tiba saja mata ziah terasa memanas. Air matanya tak bisa ia bendung, ziah memang terbilang cengeng jika melibatkan seseorang terkasih nya.
"bu-bu ziah kok nangis? Kenapa bu, apa saya salah bicara bu?" tanya vano panik karna melihat ziah menangis. Ziah mengusap air matanya dan tersenyum.
"maaf, tidak ada yang salah dengan ucapan bapak, mungkin karna saya rindung pada teh rinayah" ucap ziah, vano terkesima melihat senyuman manis ziah, dan baru kali ini ziah berbicara dengan kata yang banyak.
"saya mengerti bu, memang menyakitkan bukan di tinggal orang yang kita sayang" ujar vano, yang sangat mengerti dengan persaan ziah. Ziah hanya menganggukan kepalanya.
"ini baru awal pendekatan, saya akan terus berjuang untuk membuat mu merasa nyaman dengan saya zi, lagi nangis saja kamu sangat terlihat cantik, apalagi tersenyum seperti barusan" gumam vano dalam hatinya dan matanya tak lepas memandang ziah.
"***Hidup ini seperti sungai, kamu tidak dapat menyentuh air yang sama dua kali. Karena air yang mengalir tidak akan pernah kembali. Jadi nikmatilah dengan cara selalu bersyukur ***
__ADS_1
Di setiap saat dalam hidup"
" ***al habib umar bin hafidz***"