Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
32. Hawa nyaman dengan wafda


__ADS_3

Setelah mengantarkan wafda, vano pamit kepada semua orang yang ada disini untuk kembali ke pondok.


"Kalo begitu saya pamit untuk pulang, karna tugas saya membawa wafda sudah saya lakukan, saya titip sodara saya ya pak !" ucap vano. Lalu melirik ke arah sodara perempuan nya itu. " Da jaga diri baik-baik, kalo kamu butuh apa-apa tinggal bilang ya ke aa" pesan vano pada wafda, wafda adalah anak bibi darivano yaitu anak dari adik ibu nya, namun vano sangaat menyayangi wafda, karna vano anak tunggal, tidak memiliki sodara kandung, oleh karna itu vano menyayangi wafda. Dulu vano memang memiliki adik, namun allah lebih sayang pada adiknya itu, adik vano sudah terlebih pulang ke pangkuan allah, karna pada saat itu adik vano mengalami sakit keras..


"Iyaa a, lagian kan aku udah besar a, aku bisa lakuin nya sendiri, kecuali kalo emang aku benar-benar butuh bantuan aa" ucap wafda, wafda memang gadis yang sangat mandiri. Selagi ia masih bisa dan mampu akan ia jalan.


Wafda memang terbilang terlahir dari keluarga cukup mampu, namun sebagai anak sulung ia tak ingin membebani orang tua nya, karna ia memiliki 2 orang adik yang masih sekolah. Sang ibu pun sempat bertanya pada putri sulung nya itu.


"Neng apa bener kamu gak mau lanjutin kuliah mu? Mamah dan bapak masih mampu kok nak" tanya sang ibu lembut kala itu.


"nggak mah, gak usah, kalaupun wafda ingin kuliah, biarkan wafda mencari biaya kuliah sendiri mah, mamah fokus aja sama adik-adik wafda" wafda tetap kekeuh pada pendirian nya itu, mungkin bukan hal yang sulit bagi wafda untuk masuk kerja ke tempat yang lebih besar gajinya, namun wafda tidak terlalu terobsesi dengan hal tersebut ia lebih memilih dengan keinginan mengasuh anak, karna wafda termasuk gadis yang sangaat menyukai anak kecil.


" ya sudah kalo memang itu keinginan mu, mamah gak bisa memaksa, lagi pulang kamu bisa agak sering pulang ke rumah, karna tempat sekarang kamu kerja gak terlalu jauh hanya beda desa saja. " ucap sang ibu.


"iya mah, lagian kan ada a vano, jadi wafda bisa minta anterin sama a vano kalo wafda mau pulang" ucap wafda, sang ibu hanya mengangguk pasrah, jika wafda sudah mengambil keputusan, tak ada satu orang pun yang bisa melarang nya.


**


Wafda dengan telaten mengasuh hawa, hal tersebut tidak membuat sang nenek cemas.


" Ayo nak makan ya banyak ya sayang, biar cepet gede aaaa.." ucap wafda pada hawa, wafda sedang memberi makan hawa, hawa makan dengan lahap, melihat hal tersebut adit dan sang ibu merasa bahagia.


"wafda memang benar-benar pilihan yang tepat dit, ia sangat telaten pada putrimu" ucap sang ibu, adit dan ibu nya sedang mengintip wafda, ia ingin tahu bagaimana cara mengasuh hawa saat tak di awasi oleh adit dan sang ibu.


" iya bu semoga saja hawa nyaman dengan wafda" adit berharap anaknya itu bisa seterus nya seperti itu, karna mencari pengasuh itu tidak gampang,


"Hawa udah mamam, sekarang kita mandi dulu ya nak, biar wangi, nanti setelah mandi hawa bobo ya sayang" ucap wafda dengan lembut. Wafda pun menggendong hawa dan hendak memandikan nya, namun sebelum ia memandikan hawa, ia bertanya terlebih dahulu pada sang empunya rumah, apakah hawa sudah biasa mandi air dingin atau hangat.

__ADS_1


" maaf pak, apa hawa sudah terbiasa mandi air dingin?" tanya wafda.


"eemmhh sebenarnya hawa belum pernah mandi air dingin mbak, karna saya tidak tega,ia suka menangis." jawab adit jujur.


"sebenarnya gak terlalu baik sih pak, jika anK terlalu sering mandi air hangat, dan takutnya nanti kebiasaan, ia jadi gak mau mandi air dingin"ucap wafda hati-hati, karna ia takut ucapan nya tak di terima dengan baik oleh adit, mendengar penuturan wafda adit sangat setuju, seharus nya anak perempuanya itu harus belajar mandi air dingin.


"Yasudah kalo begitu sekarang mandiin aja pake air dingin" ucap adit antusias, namun wafda menggeleng dengan cepat.


"tidak pak, sebaiknya besok pagi saja,kalo sekarang takut hawa masuk angin, karna belum terbiasa" ucap wafda. Wafda menitipkan hawa pada ayah nya, ia akan memanas air untuk mandi hawa.


"kalo begitu saya titip dulu hawa sama bapak,saya akan memanaskan dulu airnya" ucap wafda, adit mengangguk, lalu wafda berjalan menuju arah dapur. Ia segera menyalakan kompor karna takut hari semakin sore, wafda takut hawa masuk angin karna mandi terlalu sore.


Setelah air sudah siap, dengan sigap wafda mengambil hawa dari pangkuan adit. Adit melihat wafda memandikan hawa dengan penuh kasih sayang,tiba-tiba saja ia teringat pada mediang istrinya " kalo kamu masih ada,pasti kamu pun akan sangat telaten mengurus anak kita dek" lirih adit dalam hati.


"pakkk." panggil wafda, namun adit tak menjawab.


"ya allah mbak, bisa kali manggil nya biasa saja." ucap adit kesal.


"ni cewe baru juga sehari kenal udah kek kanal lama deh" gumam adit dalam hati.


"dari tadi saya manggil bapak, tapi bapak tak menjawab, bapak lagian ngelamun di deket pintu kamar mandi, saya mau lewat. Kasian hawa takut kedinginan" mendengar wafda berkata panjang lebar membuat adit kikuk dan salah tingkah,


"I-iya maaf mbak," hanya itu saja yang keluar dari mulut adit, wafda menggelengkan kepala.


Lalu wafda membawa hawa menuju kamar, namun saja tiba di depan pintu kamar, wafda terdiam.


"kenapa?" tanya adit heran.

__ADS_1


"kamarnya dimana pak,? Tanya wafda.


"dia tidur dengan saya di kamar saya" ucapnya, adit pun masuk kedalam kamarnya lalu di ikuti wafda dari belakang.


"silahkan pilih saja baju untuk hawa," ucap adit menunjukan lemari hawa.


Wafda pun membuka lemari hawa, ketika ia buka alangkah terkejutnya wafda melihat pakaian hawa tak berarturan, wafda hanya bisa menghela nafas.


"setelah hawa tidur, saya izin membereskan pakaian hawa" ucap wafda tanpa menoleh ke arah adit. Adit pun menoleh. Dan hanya di jawab dengan anggukan kepala.


Setelah selesai memakaikan pakaian pada hawa lalu,wafda menimang-nimang hawa agar tidur. Tak butuh waktu lama akhirnya hawa tertidur dengan pulas.


Balik ke tujuan awal wafda berniat untuk membereskan pakaian hawa, namun wafda tidak enak jika masih ada adit.


Adit pun menyadari ketidak nyamanan wafda pun pamit untuk keluar kamar.


"dari tadi kek, jadi cowo kok gak peka" dumel wafda, ketika sedang asyik membereskan pakaian hawa, mata wafda tiba-tiba saja tertuju pada foto perempuan, yang wafda yakini ialah istrinya adit.


"pantas saja hawa sangat cantik, ternyata sang ibu pun sang cantik" gumam wafda.


Wafda pun melanjutkan membereskan pakaian hawa, setelah beberapa menit akhirnya pakaian hawa beres.


"alhamdulillah" ucap wafda. Namun saat wafda berdiri akan keluar kamar tiba-tiba saja hawa bangun.


Hawa tersenyum manis ke arah wafda


"Anak pinterr bangun bobok nggak nangis ya nak, kok bobo nya benar sayang" ucap wafda sambil mencolek hidung hawa. Hawa pun tertawa riang.

__ADS_1


Melihat pemandangan indah itu, aditt mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam kamar,ia terus mengintip hawa dan wafda. "Senyaman itukah kamu nak bersama mbak wafda?" gumam adit, sambil tersenyum.


__ADS_2