
Seusai membaca surat dari mediang istrtinya adit memeluk kertas tersebut, ia kembali menangis.
"Nama mu akan selalu di hati mas dek,maafkan mas yang belum bisa buat kamu bahagia, mas berjanji akan selalu menjaga anak kita,"lirih adit di sela tangisnya.
Setelah puas menangis adit memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya, yang sempat tertunda karna membaca surat dari istrinya.
"Nak ayah mandi dulu ya,kamu yang anteng ya sayang" bisik adit pada putri semata wayang nya itu. Putrinya tertidur sangaat pulas, mungkin karna dia lelah sedari tadi tak berhenti menangis.
Setelah selesai mandi, adit kembali ke kamar nya, lagi-lagi ia di buat sangat rindu oleh mediang istrinya.
"Biasanya kalo aku udah mandi, kamu udah siapin baju ganti untuk ku, dan kalo mas naro handuk sembarangan kamu pasti akan mengomel, tapi kamu juga yang jemur handuknya, aku rindu dek" gumam adit, ia tersenyum pahit, baru juga satu hari ia di tinggalkan istrinya, hatinya sudah sangat merindukan sosok mediang istrinya.
"Apa aku akan sanggup dek menjalani hari-hari ku tanpa mu?" tanya adit pada dirinya sendiri. Lalu ia melirik pada putrinya.
"Aku harus kuat demi anak ku, karna sekarang dialah sumber kekuatan untuk ku" gumam adit. Adit pun mengambil pakaian dari lemarinya, sebenarnya adit sangat tidak sangguup mengahadapi semua nya, apalagi jika ia berlama-lama di dalam kamar nya, itu akan semakin membuat adit terluka.
"Wangi baju mu masih terasa sangat harum aroma parfum milik mu dek" adit trus menciumi baju mediang istrinya. Saat adit sedang menikmati harum aroma pakaian mediang istri nya, tiba-tiba saja putrinya menangis dengan kencang, membuat adit terkejut.
"Ya allah nak, kenapa kamu sayang? Kamu mau mimik nak?" tanya adit panik, tangis nya tak juga reda, adit memangku putrinya itu, berharap tangis nya akan mereda namun nihil, adit tak mampu meredakan tangis putrinya itu.
Sang ibu pun menghampiri putra nya,dan bertanya" kenapa anak mu dit?"
"Adit juga gak tau bu, tiba-tiba saja dia menangis" jawab adit.
"mungkin dia lapar dit pengen mimi,"
"dia menolak bu, ketika adit kasih dot nya, sama sekali dia tak ingin meminumnya."
"sini biar ibu bantu mencoba menangkanya" sang ibu mengambil cucu nya dari pangkuan adit. Namun sama ketika sang nenek gendong pun, bayi tak kunjung reda, hingga banyak sanak keluarga yang mengulurkan tangan nya untuk membantu menangkan bayi tersebut namun sama hasilnya, bayi tersebut tak kunjung berhenti dari tangisnya.
__ADS_1
"Mungkin dia merindukan ibunya" ucap ibu mertua adit. " lebih baik kamu segera hubungi ziah, suruh dia kesini, sampaikan pada ziah, jika anak mu menangis, tak kunjung berhenti" usul ibu rinayah, yang di setujui oleh semua yang ada di sana.
Sebenarnya adit tidak enak harus mengganggu ziah, karna diapun pasti lelah, namun tak ada pilihan lain, adit tak tega melihat putrinya nangis seperti itu, akhirnya adit pun menghubungi ziahh.
Tuutt.. Tuttt. Tuuttt. Handpone ziah berdering, baru saja ia akan memejamkan matanya untuk istirahat. Ketika ziah melihat nama yang tertampang di layar Hp nya, ziah segera menganggkat nya.
"Assalamu'alaikum pak," sapa ziah
"Waalaikum salam bu, maaf saya mengganggu" jawab adit di sebrang sana, dengan prasaan canggung.
"tidak masalah pak, ada apa ya? . Lho sebentar pak, saya kok denger ada suara tangisan bayi, apakah itu bayi bapak? Dia kenapa pak, apa dia baik-baik saja?" tanya ziah panik.
"I-iya bu, itu suara tangis bayi saya, sudah hampir setengah jam dia menangis, tak ada yang mampu menenangkan nya." ujar adit.
"saya kesana sekarang," jawab ziah, lalu menutup sambungan telpon nya, lalu ia pergi dengan tergesa.
"zi, mau kemana ini sudah malam nak" tanya sang ibu khawatir.
Sesampainya di sana ziah langsung menemui bayi sahabatnya itu.
" mah, izin kan saya menggendong nya" pinta ziah pada ibu rinayah. Ibu rinayah pun memberikan bayi tersebut pada ziah.
"Nak. Cup. Cup. Cup, jangan nangis ya sayang, di sini ada onty, kamu tenang saja nak, semua orang yang ada di sekeliling mu, sangat menyayangi mu" bisik ziah, sambil menimang-nimang bayi tersebut. Seakan mengerti apa yang di ucapkan ziah, bayi tersebut pun perlahan berhenti menangis, dengan sigap ziah memberikan susu pada bayi tersebut. Bayi tersebut kembali memejamkan matanya,mungkin karna lelah menangis.
Semua orang yang menyaksikan merasa terharu, dan begitu bangga pada ziah, ziah memang benar-benar sahabat terbaik rinayah,sampai-sampai anaknya pun merasa nyaman jika berada di dekat ziah.
"makasih ya bu, ibu sudah menolong saya" ucap adit dengan bersunguh-sungguh.
"Tidak masalah pak, kalo ada papa tolong beri tahu saya " pinta ziah,adit hanya mengangguk.
__ADS_1
"dit apa kamu sudah menyiapkan nama anak mu?" tanya sang ibu mertua.
"sudah bu, adit akan memberi dia nama hawa ziya azkanida," ucap adit. Semua setuju dengan nama bayi itu, nama yang cantik secantik wajah nya itu.
***
Satu bulan tlah berlalu rinayah meninggalkan semua orang, namun rasa kehilangan itu masih trasa, apalagi ketika melihat hawa putri semata wayang adit, yang semakin besar semakin mirip mediang sang bunda.
"Kamu sudah besar nak, coba kalo bunda kamu masih ada pasti dia sangat senang dan bahagia melihat tumbuh kembang mu yang sangat sehat" lirih adit. Hari demi hari adit lewati masa-masa sulitnya untuk mengikhlaskan seseorang yang sangatt ia cintai semasa hidupnya, adit sudah iklhas, namun nama mediang istrinya selalu tersimpan di hatinya.
"Dit, apa nggak sabaik nya kamu memcarikan baby sister untuk hawa?" tanya sang ibu. Adit berfikir sejenak. Banyak ketakutan di fikiran adit ketika ia mencarikan baby sister untuk putrinya itu, ia takut putrinya tidak di jaga dengan baik dan tidak di sayangi.
"nanti adit fikirkan bu" ucap adit. Sang ibu mengerti apa yang adit takutkan, namun tidak semua yang adit fikirkan itu benar.
"yasudah, ibu hanya memberi saran saja,karna tidak semua yang kamu takutkan akan terjadi pada putri mu dit" ucap sang ibu seakan mengerti apa yang putranya fikirkan.
Ziah selalu mendatangi hawa, setiap sepulang sekolah. Ia selalu menyempatkan waktu, sekalipun ia sibuk, tak ada waktu yang terlewatkan untuk ziah melihat tumbuh kembang anak mediang sahabatnya itu.
" assalamu'alaikum" sapa ziah dari luar
"waalaikumsalam, eehh nak ziah. Ayo nak sini masuk" ucap ibu adit. Adit untuk sementara memang tinggal di rumah ibunya, kadang juga di rumah mertua nya, adit ingin berlalu adil terhadap ibu dan mertuanya, seperti janji nya kepada mediang istrinya bahwa ia akan menyayangi ibu nya.
"terimakasih bu" ziah pun masuk dan menemui hawa.
Ketika melihat wajah hawa, hati ziah akan semakin rindu pada sahabatnya itu. Ziah mengambil hawa dari tempat tidurnya dan memangkunya.
" terimakasih nak, kamu tlah hadir di tengah-tengah kita semua, kamu mengobati kerinduan kami pada mediang ibumu, semoga ahklaq mu pun sama seperti ibu nak, kamu sumber kekuatan bagi kita semua" ziah terus menghujani ciuman pada bayi mungil tersebut.
"hawa ziya azkanida"
__ADS_1
"wanita pertama yang membawa cahaya sangat terang,dan taat pada agama"