Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
53. Bukti-bukti pelaku


__ADS_3

Akhirnya fatma pun sadar dari pingsan nya, ia kembali menangis tergugu.


"dit bagaimana mungkin ziah bisa kecelakaan?" tanya fatma di sela tangisnya..


"adit pun tak tahu bund, ntah siapa yang menabrak ziah, karna si penabrak itu kabur begitu saja bu"ucap adit jujur


"biasa nya ziah tak pernah lepas dari pengawasan kamu dan vano dit" fatma menatap lekat adit... Adit pun terdiam


"maaf bund, pada saat kejadian adit tidak sedang bersama ziah, karna pada saat ziah keluar dari ruangan guru, ziah bilang sama adit katanya mau ke toilet," ucap adit dalam hatinya merasa bersalah, kenapa dia percaya begitu saja sama ziah.


"sudahlah, ini sudah terjadi. Lebih baik kita segera ke rumah sakit saja, bunda ingin lihat ke adaan ziah" fatma berusaha tenang, percuma saja jika saat ini ia harus terus menerus menangis, karna tak akan bisa mengembalikan ziah seperti sedia kala.


"maafkan adit bund" lirih adit.


Fatma pun tersenyum dan mengusap pundak adit" ini semua bukan salah mu, kamu sudah berusaha menjaga ziah, ini sudah takdir dit, kita berdo'a saja untuk kesembuhan ziah ya!" fatma memang seseorang yang bijak sana, ia tak akan pernah menyalahkan orang, selagi belum ada bukti kuat, untuk menyalahkan.


Sifat ziah yang yang bijak sana dan berhati lemah lembut di turunkan dari bundanya yang tak lain adalah fatma.


"iya bun, tapi bunda gak marahkan sama adit?" adit masih merasa bersalah atas insiden kecelakaan ziah.


"kenapa bunda harus marah sama adit? Adit kan bukan pelaku nya, jadi tak seharusnya bunda marah sama adit" senyum fatma membuat hati adit lega. Meski sebenarnya hati fatma sangat gelisah memikirkan putri kesayangan nya itu, namun fatma harus tersenyum di depan adit, agar adit tak di selimuti rasa bersalah.


"ayo dit kita berangkat, ziah pasti membutuhkan bunda di sampingnya" ajak fatma pada adit, adit pun menurut dan menganggukan kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit fatma berjalan tergesa menuju rawat inap putrinya, di sana ada vano yang setia menunggu ziah sadar, karna sampai saat ini ziah belum juga sadar.


"bund...." lirih vano, ia menundukan kepalanya, dalam fikiran vano, fatma akan marah besar pada vano karna vano tak bisa menjaga ziah dengan baik.


"nak vano.." fatma mengusap pundak vano, tanda memberi kekuatan. Vano pun mendongkak menatap fatma.


"maafkan vano bund, ini semua salah saya kalo saja saya selalu siaga menjaga ziah mungkin ini tak akan terjadi pada ziah bund.."vano menyalahkan dirinya sendiri, ia tersedu menangis. Hatinya sakit melihat orang ia sayang terbaring lemah.


"sudaahh.. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salah mu, dan adit. Kalian sudah berusaha menjaga ziah dengan baik, tapi ini semua takdir, kita tidak bisa menyalahkan ketetapan allah, sekarang kita sama-sama berdo'a, agar ziah segera sadar ya" lagi-lagi fatma berkata demikian, ia memberi kekuatan pada 2 lelaki yang ada di hadapan nya, walau sejujurnya hatinya ingin sekali menjerit, menangis,karna melihat putri nya terbaring lemah.


Adit dan vano hanya bisa mengangguk, dan keduanya pun pamit izin, pergi ke mesjid terdeka di area rumah sakit untuk menunaikan sholat dzuhur.


"van baju kamu ada banyak darahnya, kebetulan saya bawa ganti buat kamu, kamu ganti dulu ya" adit menyodorkan paperbag yang di pegangnya.


"makasih dit" vano mengambil pakaian tersebut dari tangan adit.


"dit saya yakin, ini semua ada sangkut pautnya sama kamila" ucap vano tiba-tiba.


"kita tidak bisa menyalahkan begitu saja van, meskipun saya tau bahwa kamila memang ingin membuat ziah celaka, tapi kita tak bisa menyalahkan nya begitu saja, kan kata orang-orang yang melihat, ziah di tabrak mobil,ooohh iya. Dan katanya ada orang yang berhasil mengambil foto plat no mobilnya" ujar adit menjelaskan.


"benarkah? Kita harus segera ke kantor polisi dit, kita usut semua nya sampai tuntas, saya ingin orang yang menabrak ziah harus mendekam di penjara" ucap vano berapi-api.


"sabar dulu van,kita harus mendapatkan bukti-buktinya dulu, agar lebih mudah" adit mencoba menenangkan vano,meskipun ia pun ingin sekali menemukan pelaku tersebut.


Vano pun menyetujui perkataan adit,karna memang ada benarnya juga perkataan adit


"kalo sampe memang benar kamila pelaku nya, saya pastikan dia tak akan bisa bebas" tekan vano dengan penuh amarah.


Setelah selesai melaksakan sholat keduanya kembali menemui fatma, dan mereka berharap semoga ziah sudah sadar.


"bund.." panggil adit, fatma menoleh dan ia pun mengusap sisa-sisa bulir bening yang berjatuhan di pipinya.

__ADS_1


"eehh kalian, udah selesai sholatnya?" tanya fatma.


"sudah bund, bunda mau sholat? Kalau bunda mau sholat disini saja bun, semoga saja ziah segera sadar bund" saran adit pada fatma.


"iya dit,bunda mau sholat disini saja" ucapnya, saat mereka sedang mengobrol. Seorang dokter memasuki ruangan di mana ziah di rawat.


"kebetulan sekali, ibu dan bapak ada di sini, saya ingin menyampaikan prihal kondisi pasien, namun agar lebih enak saya ingin mengobrol di ruangan saya.."


"biar saya saja dok,saya yang akan keruangan dokter" dengan cepat adit menjawab.


"bunda di sini saja ya bersama vano, kita berdoa saja semoga tidak ada hal yang begiti fatal" ucap adit mayakin kan.


"bapak ini siapa nya pasien? Suaminya?"


"bukan saya kakanya pasieun dan ini bunda saya. Dan ini calon suaminya" ujar adit..


Dokter pun mengajakan adit menuju ruangan nya."sliahkan duduk pak" dokter pria yang masih muda pun mempersilahkan adit duduk.


"terimakasih"


"jadi begini pak, insiden kecelakaan yang di alami bu ziah.. Sekarang bu ziah mengalami..." dokter tersebut seperti tidak sanggup untuk mengucapkan perkataan nya.


"mengalami apa dok?.." tanya adit dengan prasaan campur aduk..


"mengalami patah tulang belakang."


"pa-patah tulang belakang dok?" tanya ulang adit.


"ya pak betul, karna benturan yang di alami bu ziah cukup keras, jadi kemungkinan untuk beberapa minggu ke depan, bu ziah tidak bisa berjalan dulu, jadi untuk sementara bu ziah bisa di bantu dengan kursi roda" tutur dokter tersebut menjelaskan.


"yaa allah, bagaimana cara saya untuk menjelaskan ini semua pada bunda dan ziahh" lirih adit, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"assalamu'alaikum" ucap adit.


"waalaikumsalam" ucap serempak, adit berjalan mengahampiri mereka..


"bund, ziah belum sadar juga?" tanya adit


"alhamdulillah tadi sudah siuman dit, tapi katanya kepala nya pusing dan badan nya sakit-sakit semua, ia kembali tertidur" tutur fatma, karna adit mengobrol dengan dokter cukup lama.


"oh iya bund, apakah ayah dan abang ziah sudah di beri tahu?" tanya adit.


"sudah dit, mereka sedang menuju kesini, oh iya dit, apa yang dokter katakan? Apakah ziah baik-baik saja?" tanya fatma penasaran.


"zi-ziah...." adit tak sanggup untuk mengatakan hal tersebut.


"ziah kenapa dit? Apakah dia baik-baik saja kan? Gak ada hal fatal kan dit?" tanya fatma khawatir.


"ziah mengalami patah tulang bund.." fatma dan vano menatap adit, fatma menangis tersedu, dunia nya seakan hancur mendengar penuturan adit...


"tapi bunda tenang aja,ziah pasti sembuh bun,ziah kuat ziah pasti bisa melewati semua ini bun" ucap adit.. Fatma mengangguk, namun air mata di pipinya tak kunjung berhenti.


"bund, adit pamit keluar dulu ya, nanti adit kesini lagi" izin adiit, karna sedari tadi ponsel yang ada di sakunya terus bergetar, vano pun mengikuti adiit..


Dreeetttt..... Dreeettt.. Ponsel adit trus berdering.

__ADS_1


"siapa dit?" tanya vano


"satpam sekolah van" adit pun mengangkat telpon tersebut, mereka pun mengobrol cukup lama, hingga akhirnya sambungan telpon pun terputus.


"ada apa dit? Kayanya serius?" vano penasaran dengan apa yang adit obrolkan lewat sambungan telpon..


" vann, alhamdulillah kebikan berpihak pada kita, ternyata benar ada orang yang memoto plat nomor mobil tersebut,saya meminta orang tersebut untuk datang ke kantor polisi dan kita akan bertemu disana, dan katanya handpone ziah pun tadi tertinggal, jadi sekalian mau ia bawa" ucap adit dengan penuh semangat.


" semoga saja kita juga dapat bukti dari handpone ziah" adit mengerenyitkan dahinya.


" bukti dari hp ziah? Maksud mu van?" adit tak mengerti apa yang vano ucapkan.


"dit coba kamu fikir, nggak biasanya kan ziah keluar gerbang sekolah? Ia selalu makan di kantin sekolah gak pernah dia keluar, kecuali ada kepentingan, ia kan? Dan tadi kenapa tiba-tiba ziah keluar gerbang? Pasti ada sesuatu di balik semua ini" ujar vano..


**


Adit dan vano menuju kantor polisi untuk melaporkan orang yang tlah menabrak ziah dengan di sertai bukti-bukti yang mereka pegang.


"kita tunggu dulu orang tersebut di sini, karna dia juga bersedia menjadi saksi" ucap adit..


Tak berselang lama orang yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang.


"maaf pak sudah menunggu lama" ucap pria tersebut.


"tidak masalah pak, yang penting bapak datang"


"kalo begitu lebih baik kita masuk saja ya pak, bapak bersediakan kan menjadi saksi atas kecelakaan bu ziah?" adit menatap laki-laki tersebut, dan beliau menganggukan kepalanya.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan kantor polisi, dan pria tersebut di mintai keterangan beserta bukti yang ia dapat... Hingga bebepa menit pria tersebut di intogasi adit dan vano pun menunggu dengan harap-harap cemas,terlebih vano yang tak bisa diam seperti setrikaan yang maju mundur terus.


"van, kamu bisa diem gak sih? Pusing aku liatnya" omel adit, vano pun memberhentikan langkahnya.


"hehehe maaf dit, aku belum bisa tenang," katanya, adit menghela nafas kasar.


" sama van, aku juga tapi kita harus yakin dengan bukti tersebut bisa memudahkan pencarian sang pelaku" saat adit dan vano mengobrol tiba-tiba saja pria tersebut keluar.


"pak bagaimana ? Apa bapak bisa menjawab nya?" saat pria tersebut keluar vano mencecar pertanyaan demi pertanyaan oleh nya.


" van tenang dulu lah, baru juga si bapak di dalam di introgasi, masa mau di introgasi lagi sama kamu van, kasian lah si bapak nya udah capek ngomong mulu" adit menggeleng-gelengkan kepalanya. Vano pun cengengesan.


"nggak papa kok pak, saya mengerti dengan khawatiran bapak, tapi bapak tenang saja dengan bukti tersebut, pihak polisi akan lebih mudah dan cepat menemukan pelaku tersebut, semoga saja ke baikan selalu berpihak pada bu ziah, karna bu ziah orang yang baik" tutur pria tersebut dengan tulus.


"ohh iyaa pak, hampir saja saya lupa, ini hp nya bu ziah tadi tertinggal dan hp nya dari tadi berdering terus" pria tersebut menyodorkan hp milik ziah.


"sekali lagi terima kasih ya pak,ini ada sedikit rezeki untuk bapak tolong terima ya" adit menyalami pria tersebut dan memberikan beberapa lembar uang sebagai tanda terima kasih.


"tidak perlu pak, saya sangaatt ikhlas membantuu kalian" tolaknya, namun adit tetap memaksa, dan akhirnya pria tersebut pun mengambilnya dengan sedikit tidak enak.


"kalo begitu saya pamit pak,terimakasih atas rizki yang bapak berikan untuk saya, semoga bu ziah segera lekas sembuh ya pak" ujar pria tersebut.


"aaamiiin" jawab adit dan vano serempak..


"semoga semua nya di mudahkan ya dit,oh iya boleh kah aku meminjam hp ziah?" izin vano, adit pun menyodorkan hp ziah, dan kebetulan hp ziah tak di beri kata sandi apapun.. Pada saat vano memeriksa hp ziah, alangkah terkejutnya adit saat melihat isin pesan ziah.. Ternyata benar dugaan vano ziah di jebak, dan ziah masuk kedalam jebakan kamila, hingga akhirnya ziah celaka..


" diitt...." lirih vano....

__ADS_1


__ADS_2