
" A nanti sepulang sekolah jadi kan ke rumah abbi dan ummi?" tanya zahra pada suaminya
"Eemmhh kayak nya gak jadi deh, soalnya ada urusan mendadak" ucap agung dengan nada lemass, padahal ia sedang mengerjai istrinya.
" Oh gitu yaa, ya udah gapapa" ucap zahra pasrah, padahal dalam hati ia sudah rindu sekali pada kedua orang tuanya itu.
Agung tak dapat menahan tawa nya, zahra merasa makin kesal pada suaminya itu.
"Kenapa kok ketawa" tanya zahra sinis.
"Sini amat siihh sama suami sendiri" agung terus saja menggoda istrinya itu.
Tanpa mereka sadari di sisi lain ada seseorang yang harus berperang dengan hati nya sendiri harus melawan rasa sakit yang ia rasakan.
"Ibu ziah" sapa adit, ziah pun menoleh dan mengulas senyum, walau dengan terpaksa.
" Gak ada teh rinayah, sepi bangett pak, saya jadi makan di kantin sendiri deh" ucap ziah tiba-tiba sambil tersenyum kecut.
Adit tahu bahwa, sahabat istrinya itu sedang tidak baik-baik saja,kalau saja ada rinayah pasti ziah tidak akan serapuh ini, karna rinayah selalu memberi suport pada ziah.
Adit pun melirik ke arah agung dan zahra, mereka berdua sedang asyik becanda,
"Lucu banget siiih istri aa ini, kalo lagi ngambek" ucap agung sambil mengelus kepala yang di balut kerudung berwana coklay senada dengan baju yang di kenakan nya.
" apaan sih a?" tanya ziah masih dengan nada kecewa.
"Aa becandaa sayaang, iyaa pulang sekolah nanti kita langsung ke rumah umi dan abi,malahan kita nginep" ucap agung, zahra pun seketika kembali ceria dan sedikiit bersorak.
"Yeeeeeee. Beneraan a? " tanya zahra, takut nya agung kembali ngeprang.
"Iya beneran, kalo gak mau yaudah" jawab agung.
"Mau.. Mau a, mau bangeeetttt,makasih ya a" refleks zahra memeluk suaminya itu.
Banyak sepasang mata melihat kemesraaan mereka, membuat mereka yang ada di sana semakin baperr.
Berbeda dengan ziah, ia masih belum bisa melupan agung sepenuh nya. "yaa zii,mau sampai kapan kamu kaya gini, bahkan sekarang kamu akan setiap hari bertemu mereka, kamu harus terlihat bahagia di depan agung, jangan sampai agung mengira kalo kamu belum bisa ngelupain dia,wlau nyatanya begitu" ziah terus saja merutuki hatinya.
Adit yang merasa kasihan pada sahabat istrinya itu. Dan adit juga merasa jengah melihat kelakuan agung pada zahra, ia mengerti bahwa saat ini dua sejoli itu sedang di mabuk asmara, namun tidak harus di depan ziah bukan??.
"Gung bisa ngobrol sebentar" ucap adit, agung menoleh.
"Mau ngobrol apa dit? Disini aja lah" jawab agung, adit melirik ke arah zahra.
"ini urusan laki-laki, kita harus ngobrol ber 2, boleh kan bu" izin adit pada zahra. Zahra mengganggukan kepala " silahkan pa,lagi pula sebentar lagi saya masuk kelas,bukan nya aa sekarang gak masuk kelas " tanya zahra.
"yasudah kamu ke kantor duluan ya, aa di sini dulu sama adit" ucap agung.
Zahra pun pamit untuk pergi ke ruang guru, dan saat sedang berjalan agung melihat ziah berjalan gontai, zahra memanggil ziah.
"Bu ziaaahh" panggil zahra,zahra pun menoleh, ziah segera mengusap air mata yang dari tadi ia tahan,
Ziah pun menghentikan jalan nya.
__ADS_1
"Eeeh bu zahra" sapa ziah.
"Lho bu ziah nangis ya? Kenapa?" tanya zahra sedikit cemas.
"Eemmhh, eng-enggak ko bu, ini tadi saya kelilipan, jadi kaya nangis deh" ziah beralibi,padahal sedari tadi pagi ia menhan tangis nya, hingga akhirnya tanpa bisa di larang air mata nya keluar begitu saja " Kamu terlalu naif zi, menangisi seseorang yang sudah jelas mebuat hati mu retak" gumam ziah.
"Kirain saya,bu ziah nangis" ucap zahra sambil terkekeh. Ziah hanya tersenyum, mereka pun berjalan bareng menuju ruang guru.
Di kantin adit dan agung sedang mengobrol, adit mengeluarkan kejengkelan nya kepada sahabatnya itu.
"Gung kamu kalo di sekolah, harus bisa jaga perasaan ziah dong, jangan terlalu mesra sama zahra, saya tau kamu pengantin baru, saya pun pernah merasakan bucin-bucin nya sama istri, tapi kamu harus mengerti dengan perasaan ziah gung" papar adit panjang lebar.
Agung menghela nafas panjang, dan mengusap mukanya dengan gusar.
"Ya allah dit, kenapa aku sampe gak sadar, kalo saya terlalu bucin sama zahra, akan melukai hati ziah. Kenapa aku bisa seceroboh ini ya dit,aku kembali menoreh luka pada hati ziah" ucap agung dengan di penuhi rasa bersalah.
"Makanya gung kamu, harus bisa menghargai ziah, dia bisa tersenyum, dia bisa berkata ikhlas, tapi tidak dengan hatinya gung" nasehat adit,tentu saja sangat agung terima dengan baik, dan agung mengakui kesalahan nya. Adit menepuk pundak sahabatnya itu.
"Kalo kamu gak bisa bikin ziah bahagis, setidak nya hargai ziah," ucap adit lalu pergi dari hadapan agung.
Jam pelajaran sekolah pun tlah usai, semua murid tlah pulang, ada sebagian guru pun sudah pulang, tinggal lah hanya beberapa orang saja.
"A udah beres?" tanya zahra pada suaminya.
"Udah ayok" ucap agung mereka pamit pada guru lain untuk pulang terlebih dahulu.
"Bu ziah duluan ya" ucap zahra, ziah memberhentikan aktifitas nya, dan tersenyum dengan ramah pada zahra.
"Iya silahkan bu" ucap ziah, tanpa dengan sengaja agung dan ziah betetapan, sedetik kemudian ziah menundukan kepala nya dan beristighfar.
"Yasudah, zahra duluan ya" zahra pun pergi menuju ke parkiran, sedangkan agung menunggu ziah.
Yang di tunggu-tunggu pun akhirnya ada, sesegera mungkin agung memengang tangan ziah, tentu saja hal tersebut membuat ziah terkejut.
"Bu ziaah" ucap agung. Ziah menatap agung dengan tajam, dan melepaskan pegangan agung pada nya.
"lepasan kan saya,apa bapak tidak takut ini semua akan menjadi fitnah jika ada orang yang melihat?" tanya ziah dengan sorot mata yang sulit di artikan. Agung pun melepaskan pegangan nya.
" Bu ziah saya hanya ingin meminta maaf pada bu ziah, saya tahu hati bu ziah kemabali terluka karna sikap saya" ucap agung, ziah tersenyum sini.
"Apa bapak bilang? Terluka? Apa saya tidak salah dengar? Untuk apa saya terluka, sudah sedari dulu saya melupakan bapak, mengikhlasan bapak, untuk apa saya terluka oleh orang yang telah membuat hati saya hancur dan kembali rapuh?" tanya ziah dengan menekan kan suaranya.
JLLEEEEEBBBB
Entah kenapa, mendengar perkataan ziah membuat hati agung tiba-tiba terasa nyeri. Ziah pergi dari hadapan agung yang masih mematung.
" Bu ziah" sapa zahra
"eh bu zahra" jawab ziah dengan wajah gusar, ziah takut zahra melihat kejadian barusan, dan hal tersebut tentu akan menjadi salah faham.
"Belum pulang bu?" tanya ziah basa basi,
"Belum bu nunggu suami saya katanya mau ke toilet" ucap zahra, ziah hanya menggangukan kepala " maafkan saya bu zahra,"lirih ziah, ziah merasa bersalah, karna agung membohongi istrinya sendiri, padahal agung ingin menemui ziah,seharus nya agung yang merasa bersalah bukan?.
__ADS_1
Agung pun sudah di parkiran, ketika melihat agung menuju parkiran ziah cepat-cepat pamit pada zahra.
"Bu saya duluan ya" pamit ziah
"Iya bu silahkan, hati-hati bu" ucap zahra, ziah menggukan kepala, agung yang melihat dari kejauhan merasa bersalah pada kedua wanita tersebut.
"Maafkan saya zah, saya tidak bermaksud membohongi mu, nggak seharusnya saya berbohong, namun saya juga perlu meminta maaf pada orang yang sangat terluka, karna pernikahan kita" gumam agung dalam hati.
" A kok malah ngelamun, ayo cepetan panas tau" zahra merajuk.
" EEHH iy-iyaa maaf sayang" ucap agung.
Mereka pun pergi menuju rumah orang tua zahra tidak memakan waktu lama mungkin hanya 5 menit saja, sudah sampai rumah.
"Assalamu'alaikum" ucap zahra.
"Waaliakum salam" jawab seseorang orang yang ada di dalam rumah, dan menuju pintu.
Ketika membuka pintu sang ibu langsung memeluk putrinya itu.
"Ya allah nak, kenapa gak bilang sama ummi kalo kamu mau mampir " tanya sang ibu, karna memang dari awal zahra berniat tidak akan memberi tahu orang tuanya, karna ingin memberi kejutan.
Zahra tersenyum, dan meraih tangan sang ibu dan mencium nya dengan ta'dim.
"Zahra ingin memberi kejutan dong mii,abi dimana mi?" tanya zahra karna tak melihat sosok ayah nya itu.
"Abi mu masih di mesjid nak" ucap sang ibu,
"gung sehat?" tanya sang ibu kembali, agung tersenyum dan bersalaman pada mertuanya itu.
"Alhamdulillah sehat mii, kalo gitu agung juga mau ke mesjid dulu ya mi, teh, mau sholat dulu" pamit agung pada istri dan mertuanya.
"Yasudah nanti pulang bareng dengan abi ya a" ucap zahra, agung mengangguk. Lalu pergi menuju mesjid.
Sedangkan zahra dan sang ibu sedang mengobrol ringan.
"Untung tadi umi udah masak" ucap sang ibu
"ummi masak apa? Zahra rindu masakan umi" ucap zahra.
"Masak semur ayam sama tempe goreng sambel goreng, dan lain-lain lah,tapi nanti tunggu dulu abi dan suami mu datang baru makan" ucap sang ibu.
Zahra tersenyum dan lagi-lagi ia memeluk sang ibu.
"Baru juga beberapa hari kamu gak ketemu sama umi, biasa nya juga jarang ketemu apalagi dulu beda negara" goda sang ibu
"iyaa mi, zahra juga gak ngerti kenapa ya setelah menikah,bawaan nya zahra kangeeen terus sama umi dan abii" ucap zahra.
Sang ibu terkekeh " memang suka begitu zah,ummi juga dulu gitu, zah apakah kamu betah tinggal sama ibu mertua mu? " sang ibu merasa khawatir karna sang anak takut tidak betah.
Zahra tersenyum.
"Sangaaaattt. Saaanggaatt betah mi, di sana zahra di sambut dengan baik, di perlakukan dengan baik, ibu a agung sangat baik dan perhatian sama zahra, awalnya zahra takut tinggal serumah dengan mertua karna banyak dengar gosip-gosip tentang mertua, tapi tidak dengan zahra, zahra nyaman bangettt tinggal di sana" zahra bercerita tentang banyak hal, selama ia tinggal di rumah mertuanya itu, mendengar penuturan zahra, membuat sang ibu merasa tenang dan tidak khawatir, karna zahra berada di tengah-tengah keluarga yang tepat.
__ADS_1
"syukur alhamdulillah, itu yang ummi harapkan nak" ucap sang ibu dan mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.