Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
44. Meminta bantuan ziah


__ADS_3

Setelah vano menceritakan semua kejadian tersebut, wafda menceritakan hal tersebut pada suaminya adit.


"kita coba bicara sama ziah, mas juga dukung banget kalo sampe ziah dan vano berjodoh, semoga saja di awal yang baik" ucap adit pada wafda.


"tapi kalau teh ziah gak mau gimana mas? Keliatan nya teh ziah sama sekali tak menyukai bang vano" keluh wafda. Wafda kasihan pada abang nya itu, dan yang paling wafda takutkan vano akan terhasut oleh omongan-omongan wanita menyebalkan itu.


"kamu tenang saja da, mas pasti bisa bujuk ziah" adit merangkul wafda.


"janji ya mas, soalnya aku gak mau kalo sampe bang vano kembali lagi sama wanita menyebalkan dan tak punya sopan santun itu" wafda memang sangat tidak menyukai kamila, bahkan wafda sempat menentang hubungan vano dengan mila, namun vano tak mendengar ucapan sodaranya itu.


"kira-kira kapan mas akan bicara sama teh ziah?" tanya wafda penuh harap..


"besok pun bisa jadi,tapi kita harus membicarakan ini dengan santai, atau nggak kalau ziah main saja kesini" usul adit.


"eemmmmhhh boleh juga mas" ucap wafda.


Setelah lama mengobrol, mereka pun pergi menemui putrinya yang sekarang sudah semakin besar dan semakin anteng dan cerdas pula.


"anak mamah, anteng banget main nya nak, main apa saya?" wafda mengelus rambut hawa dengan lembut.


"ain keka mamah( main boneka mamah)" jawab hawa dengan gemas.


"hawa belum makan siang, kita makam dulu ya nak" ajak wafda, hawa hanya mengangguk,ia sangat asyik dengan mainan yang ayah nya belikan.


Wafda menyuapi hawa dengan dengan telaten, ia semakin lama semakin menyayangi hawa, adit yang menyaksikan hal tersebut sudah tidak perlu lagi merasa khawatir, bahkan hawa lebih dekat dengan ibu sambung nya dari pada dengan nya.


Namun ketika melihat kedekatan wafda dan hawa, selalu mengingatkan adit pada mediang istrinya.


"kalau kamu masih ada dek, pasti hawa akan lebih bahagia, karna di besarkan oleh ibu kandungnya sendiri, aaahh rasanya mas kangen sama kamu dek,nanti mas akan bawa hawa ke makam mu ya dek" lirih adit, ia menahan air matanya agar tidak lolos, ia segera menghapus jejak air matanya,dan menghampiri istri dan anaknya. Adit duduk bersama mereka.


"da,kamu mau kan pergi ke makam bundanya hawa lagi" tanya adit sambil menatap wafda, sebenarnya ada rasa nyeri ketika adit berkata demikian,wafda tahu kalau adit belum sepenuhnya bisa melupakan mediang istrinya itu.


"iya maas aku nau-mau saja" wafda mengulas senyum, hatinya memang sakit, namun wafda kembali berfikir jernih. Untuk apa dirinya merasa cemburu pada orang yang sudah tiada, wajar saja adit belum bisa melupakan rinayah.


"aku tau mas kamu belum bisa melupakan bundanya hawa, karna menurut banyak orang kalau istrimu itu sangat baik dan ramah, jika pun kalau aku di posisi mu, aku pun sama akan seperti itu mas" gumam wafda dalam hatinya. Adit terus menatap wafda, wafda yang tidak menyadarinya pun terus melamun, adit tahu wafda pasti kecewa padanya.


"kamu marah da sama mas,? Maafkan mas bukan maksud mas buat bikin kamu kecewa, tapi percayalah mas pun mencintai mu da, mas hanya tak ingin rinayah bersedih di sana karna mas tak menjenguk nya" adit memegang kedua tangan wafda mereka pun saling bertatapan.


"aku tidak pernah kecewa pada mu mas,justru aku bangga sama kamu mas,kamu bisa menepati janji mu pada mediang istri mu bahwa kamu akan sering berkunjung ke makamnya" ucap wafda, wafda memang orang yang sangat bijak,sama seperti rinayah, di sosok wafda, adit seperti menemukan rinayah.


"kamu gak marah dan cemburu kan?" tanya adit, wafda terkekeh.


"mas kenapa aku harus cemburu sama orang yang sudah tidak ada di dunia ini?" tanya wafda.


"aku bangga memiliki mu da, terimakasih" adit memeluk istrinya. Namun tiba-tiba saja hawa melerai nya.


"jangan mamah awa" hawa marah pada ayah nya.

__ADS_1


"iya sayang ini mamah hawa, sini nak ayah gendong, hawa besok kita berkunjung ke rumah bunda ya" ajak adit pada putrinya itu, namun hawa tampak kebingungan. Karna memang hawa sama sekali tidak mengenali bundanya, tapi pernah adit mengajak hawa ke makam bundanya.


" maksud ayah kita ke makam nya bunda hawa, bunda yang ada di foto itu" ucap wafda memberi arahan agar hawa mengerti, wafda bukan orang yang tega, dan berlaga ingin menguasai hawa, wafda selalu mengenalkan bunda nya, meskipun hanya dengan sebuah foto, hawa berhak tahu siapa ibu kandungnya, itu perinsip wafda. Hawa terlihat mengerti apa yang di katakan ibu sambungnya itu, dan hawa mengangguk.


**


Pagi hari adit, seperti biasa ia melakukan aktifitas paginya yaitu berangkat ke sekolah.


"nak ayah berangkat dulu ya,nanti ayah bakalan pulang lebih awal, kan kita mau nengokin bunda" adit mengecup kening putrinya.


"da mas berangkat dulu ya, nanti mas jemput kamu ya" begitu pun wafda, tak lupa adit mengecup kening wafda.


"iya mas, tapi kalau kamu males bolak balik biar aku pake ojek aja mas" ucap wafda, sambil mencium ta'dim tangan suaminya.


"nggak males kok, buat kamu apa sih yang bikin males" gombal adit, membuat pipi wafda merah merona.


"kalau pipinya merah makin cantik deh" godanya, ia sangat gemas pada istrinya itu.


"iiiiissshhh cepetan sana berangkat, nanti kesiangan" ucap wafda, adit pun pamit berangkat.


Sesampai di sekolah adit mencari keberadaan vano.


"zi pak vano belum kesini?" tanya adit


"keliatan nya?" ziah menjawab dengan malas


"ya allah zi,kamu kenapa sih sama vano, dia itu baik lho, kasian tau dia. Apa jangan-jangan dia sakit" pagi- pagi adit sudah menceramahi ziah.


"kenapa kok kamu keliatan khawatir gitu? Udah nyaman ya?" adit menaik turunkan alisnya.


"iiisshh bang,bisa diem gak sih?" ucap ziah, sedikit kesal.


"iya-iya, oh iya zi nanti ada yang mau aku obrolin sama kamu" ucap adit serius.


"soal?" tanya ziah penasaran.


"pak vano"


"emang kenapa sama pak vano bang? Beneran dia sakit?" tanya ziah. Memang hari ini vano tak masuk tapi bukan karna sakit, tapi vano di ajak ayah nya zahra untuk ziarah, karna ayah zahra mengajak orang tua vano juga.


" pak vano gak sakit, tapi dia ziarah bersama abi dan orang tuanya" agung tiba-tiba datang dan berkata demikian.


"lalu kenapa kamu gak ikut gung?" tanya adit.


"zahra lagi kurang sehat dit, saya tidak tega meninggalkan nya, hari ini saja dia tidak masuk, di tambah kalau banyak guru yang gak masuk kasian anak-anak jadi gak belajar" agung menjelaskan. Ziah hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa sepatah kata pun yang ziah keluarkan dari mulut nya, ia enggan berhadapan dengan agung bukan benci, tapi lebih ke menjaga jarak.


"oohh gitu, semoga lekas sembuh istrimu gung"

__ADS_1


"aaamiin, makasih dit" ucap agung,sekilas agung melirik ke arah ziah, namun ziah berpura-pura menyibukan dirinya dengan laptop yang di bawanya.


"zi mampir dulu ya ke rumah, sekalian mau ngobrolin yang tadi, eemmhh tapi aku mau ajak hawa ke makam bundanya dulu" ucap adit.


"yaudah bang aku ikut, aku juga kangen sama teh rin," ucap ziah.


"yaudah kita kerumah dulu ya,"


"iya bang" ucap ziah.


Mereka pun pergi dari pekaran parkiran sekolan, menuju rumah adit. Sesampai di rumah adit dan ziah di sambut hangat oelh wafda dan hawa, hawa langsung melambaikan tangan nya ingin cepat-cepat di gendong oleh ziah.


"anak sholehah makin gemoy aja nih, sehat sayang?" ziah terus menghujani pipi chubbi hawa.


"aik onty( baik onty)" jawab hawa dengan suara gemas nya.


"ooohh iya bang, tadi di sekolah mau ngobrolin apa soal pak vano?" tanya ziah, dia sudah penasaran dengan apa yang akan di ceritakan oleh adit.


"iya zi, aku sama wafda mau meminta bantuan sama kamu zi" ucap adit, adit pun menceritakan semuanya yang telah terjadi pada vano, ziah mendengarkan dengan serius, sekilas ia merasa iba pada vano. Tanpa ziah sadari ia melamun


"ternyata nasib vano beda tipis dengan ku, kasian juga dia apa aku bantu aja ya, kalau membantu kan gak ada salahnya" gumam ziah dalam hati.


"ziiiiiiii" panggil adit, ziah pun terlonjak kaget.


"ya allah bang, biasa aja kali manggil nya" omel ziah.


"lagian kamu orang cerita malah ngelamun, gimana mau bantu nggak?" tanya adit. Ziah tampak berfikir sejenak.


"terus gimana cara bantunya bang?" tanya ziah.


"ya kamu mau pergi dinner sama vano?"


"di-dinner? Berdua dong?" ucap ziah terbata.


"iyalah zi, inikan cuman boongan, supaya mantanya itu gak gangguin terus vano, tapi kalo beneran jadi juga, kita dukung kok" ucap adit, sesekali menggoda ziah.


" bang iissshh, yaudah deh gak jadi bantuin kalo gitu mah" ziah merajuk.


" eehh iya-iya maaf deh maaf, jadi kamu mau bantuin vano?" tanya adit, ziah refleks menganggukan kepala. Dia pun mengetok-ngetok kepalanya.


"aduh zi, kok bisa kamu ngangguk" gumam dalam hati dengan ziah kesal.


"sesama manusia harus saling bantu kan bang?" ucap ziah.


"naahh gitu dong, makasih ya, nanti abang kabarin vano, pasti dia senang, yaudah sekarang kita pergi ke makam rinayah saja ya, takut semakin siang, kasian hawa" ucap adit, ia merasa bahagia,karna adit merasa ziah sedikit demi sedikit telah membuka hatinya untuk orang lain.


Mereka pun pergi ke makam almarhumah rinayah, ziah pergi bareng dengan wafda dan hawa bersamaan di mobil adit, di sepanjang perjalanan, hawa sangat terlihat gembira, ziah dan hawa becanda riang, wafda dan adit pun merasa lucu pada tingkah mereka berdua..

__ADS_1


"ujian hari ini mungkin terasa berat, tapi akan terasa lebih berat ketika sudah ada di puncak tujuan, semakin tinggi pohon tumbuh,semakin terasa terpaan angin,"


" jangan lupa bersyukur, karena hanya ALLAH semata yang maha kuasa,mempermudah segalanya"


__ADS_2