
Sepulang sekolah zahra dan keluarga nya pun berniat untuk menengok sekaligus bersilaturahmi ke rumah ziah.
"pak vano jadi kan ke rumah nya bu ziah?" tanya zahra yang kebetulan zahra berpapasan dengan vano.
"iya bu insya allah jadi, ibu dan keluarga juga jadi kan?" vano balik bertanya pada zahra
"iya pak, ummi dan abi pun jadi" sembari mengulas senyum manisnya zahra menjawab.
Zahra dan keluarga nya pun pergi menuju rumah ziah, bersama vano.
"ummi,abi zahra pergi nya bareng sama umi dan abi saja ya"
"lho kenapa zah? Bukan nya kamu paling seneng kalo naik motor?"
"sekarang zahra mau naik mobil saja mi, bolehkan?"
" tapi bagaimana dengan suami mu? Bareng sama kita apa mengendarai motor sendiri?" tanya sang ibu pada zahra, sang ibu tau hubungan putri nya dengan suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
"sebaiknya kalian naik motor saja, umi sama abi lagi pengen berduaan" seloroh sang ayah, ia pun tau, putri dan menantunya itu memiliki masalah, namun sebagai orang tua mereka tidak berhak tau atas masalah rumah tangga nya. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Itulah perinsip orang tua zahra.
"ta-tapii bi..."
"nggak ada tapi-tapian kalian naik motor saja!" perintah sang ayah, jika itu sudah menjadi keputusan nya tidak ada satupun yang bisa menolak.
Akhirnya zahra pun pergi bersama agung dengan mengendarai motornya.
"neng...." panggil agung
"ya"
"ya allah neng jangan gitu atuh, aa teh gak bisa di cuekin terus neng, maafin aa neng" dengan wajah memelas agung memohon
" bukan kah ini semua aa yang memulainya duluan?" tandas zahra.
"saya itu cuman putus penjelasan a,ada hubungan apa sebenarnya aa sama bu ziah?"
" a-aa..."
"sudah lah lupakan saya tau jawaban aa, pasti akan akan menjawab bahwa kalian tidak memiliki hubungan apa-apa kan? Lebih baik kita pergi sekarang, kasian umi dan abi sudah menunggu" tanpa ingin mendengar penjelasan agung, zahra pergi begitu saja meninggalkan agung.
Agung mendesah dan menyugar rambutnya dengan kasar " aarrgghhh" agung menjambak rambutnya sendiri.
"maafkan aa, zah bukan nya aa tak ingin jujur tapi aa takut kamu semakin marah sama aa zah, tapi perlu kamu ketahui zah, saat ini di hati aa hanya terpatri nama mu, tidak ada wanita lain zah" lirih agung.
__ADS_1
Cukup lama zahra menunggu agung keluar dari kamarnya, namun tak kunjung keluar, akhirnya zahra pun menyusul agung ke kamar, namun saat zahra akan memanggil orang yang bergelar suami itu, terdiam tertegun melihat agung seperti orang yang sangat prustasi.
"maafkan zahra a,zahra hanya butuh kejujuran dari aa, zahra yakin aa memiliki masa lalu dengan bu ziah a" gumam zahra.
"umi dan abi sudah menunggu" zahra membuyarkan lamun agung.
"o-oh i-iya maaf" hanya itu yang keluar dari mulut agung. Agung pun pergi ke luar menyusul zahra. Dan di sana sudah ada orang tua zahra menunggu.
"maaf mi,bi menunggu lama" dengan sungkan agung berujar.
"sudah tidak apa-apa gung, lebih baik kita segera berangkat, karna takut hari semakin mejelang sore" ajak sang ayah mertua, semua yang ada di sana mengangguk setuju.
Mereka pun berangkat dengan kendaraan mereka masing-masing. Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun di antara agung dan zahra.
"neng sepulang dari rumah bu ziah, kita mampir dulu di rumah makan lesehan yuk! Di sana tempat nya adem dan nyaman lho" agung mencoba memecahkan keheningan.
"gimana nanti saja" zahra masih enggan menjawab pertakataan agung.
"mau sampai kapan kamu cuekin aa? Buat hati aa hancur karna sikap mu neng?"
"sampai aa jujur sama zahra, aa fikir zahra tidak hancur a, hati zahra pun hancur a, aa ingat waktu bu ziah kecelaan, secara terang-terangan aa membentak zahra A" tandas zahra, jujur saja pada saat itu hati zahra sangat perih karna sikap agung.
" aa minta maaf neng, aa nggak ada maksud buat bikin kamu sakit hati"
"aa pasti bakal jujur sama neng, tapi aa mencari waktu yang tepat neng" agung tak sanggup di diamkan oleh zahra terlalu lama, namun untuk jujur pun rasa nya sangat sulit bagi agung.
Zahra tak menjawab perkataan agung, ia malah sibuk menikmati pemandangan indah di kampung ziah.
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan yakni rumah ziah, di sana sudah ada beberapa sanak saudara ziah.
"assalamu'alaikum.." sapa ayah zahra pada beberapa orang yang ada di sana.
"waalaikum salam, kang" ucap serempak, siapa yang tidak mengenal beliau, beliau cukup di kenal oleh kalangan masyarat-masyakat di dalam atau pun di luar maupun di dalam daerah.
"neng ziah gimana sekarang keadaan nya?" tanya ayah zahra.
"alhamdulillah kang, sekarang udah lebih baik" zuah mengulas senyum
"alhamdulillah" ucap serempak
"buu" lirih zahra
"bu zahra, terimakasih sudah datang bu"
__ADS_1
"sama-sama bu, alhamdulillah bu ziah baik-baik saja, saya sangat khawatir bu ziah kenapa-napa" sembari memegang tangan ziah, zahra berkata dengan tulus.
"terimakasih telah menghawatirkan saya bu" ucap ziah sambil mengulas senyum.
Agung yang menyaksikan saling peduli antara ziah dan zahra pun,membuat hati agung semakin merasa bersalah.
"aa, akan jujur sama kamu zah, aa akan menjelaskan semuanya, aa merasa sangat teriksa melihat sikap mu seperti ini zah" lirih agung dalam hatinya..
***
Keluarga zahra sudah pulang kembali, di sepanjang perjalanan sama seperti tadi,tak ada percakapan apapun, sebenarnya agung sangat rindu dengan dengan celotehan manja zahra.
"neng mau sampe kapan kamu menyiksa aa dengan cara mendiamkan aa neng?" tanya agung ketika sudah sampai di depan halaman rumah.
"sampe aa menjawab jujur semuanya" zahra meninggalkan agung di luar begitu saja.
Namun dengan cepat agung menahan zahra, lalu memeluk zahra dengan erat.
"Aa akan jujur tentang semua masa lalu aa paada kamu, asal kamu janji setelah ini kamu tidak mendiamkan aa!" pinta agung pada zahra. Zahra diam tak bersuara hanya deru nafas zahra saja yang terdengar di telinga agung.
"Jelaskan sekarang juga!" tandas zahra, agung mengangguk cepat. Lalu melepaskan pelukan nya.
"ada hubungan apa aa sama bu ziah di masa lalu?" tanpa menatap agung zahra bertanya.
"Aa......." agung pun menjelaskan secara inci semua tentang masa lalu nya dengan ziah.. Meskipun hati zahra sedikit nyeri dengan semua pengakuan agung, namun zahra berusaha tegar dan menyimak semua pengakuan agung..
Setelah agung selesai menceritakan semua nya, agung pun memegang kedua tangan zahra dengan erat.
"apakah kamu masih marah sama aa?" agung menatap lekat wajah istrinya.
" apakah aa, masih mencintai ziah? Apakah aa merasa terpaksa dan tersiksa menikah dengan zahra? Kenapa aa tidak bilang sama abi, kalo aa sudah memiliki kekasih pada saat itu, saya pun tidak akan pernah mesaksa a agung untuk menikahi saya, saya telah mendzolimi wanita sebaik ziah" tanpa menjawab pertanyaaan agung, zahra menangis tersedu.
"Demi allah neng, aa tidak pernah merasa tersiksa dengan pernikahan ini,aa sangat bahagia neng, aa memilih menikahi neng itu dengan hati yang ikhlas karna aa tidak bisa menamfik bahwa aa pun mencitai neng..." dengan jujur agung berkata, meskipun awal-awalnya agung merasa tidak ikhlas melihat ziah dekat dengan lelaki lain, namun sekarang agung sudah ikhlas sepenuh hati.
"bukan kamu yang mendzolimi ziah, tapi aa sendiri neng"
"Tapi zahra juga sudah membuat hati teh ziah terluka a, teh ziah memang wanita tangguh dan hebat, ia bisa menutupi semua nya dengan senyuman, meskipun sekarang zahra tahu bahwa di balik senyun manisnya itu, tersimpan beribu-ribu luka" zahra menyunggingkan senyumnya
"Maafkan aa neng, ini semua salah aa"
"Sekarang tidak ada yang perlu di sesali, zahra sudah memaafkan aa, kita doakan saja semua teh ziah segera menemukan kebahagian" dengan berhati legowo zahra memaafkan agung, dan mendoakan kebahagian ziah.
"kamu beneran gak marah sama aa?"
__ADS_1
"Zahra tidak marah hanya saja sedikit kecewa"