
Setelah perayaan ulang tahun hawa yang di laksanakan secara sederhana namun bermakna. Hawa semakin tidak ingin jauh-jauh dari wafda, kemana pun wafda pergi hawa harus ikut. Jika di tinggal sebentar saja, pasti hawa akan merajuk.
" maafkan hawa ya mbak, semakin hari hawa semakin nempel sama mbak, bahkan mbak susah sekali untuk bersantai sejenak, karna hawa" ucap bu nilam ibu adit pada wafda.
wafda tersenyum manis " itu sudah tugas saya bu,mungkin memang semua anak seusia hawa sedang di fase ini, tidak ingin jauh-jauh dari orang terdekat, trutama seorang ibu, saya sudah menganggap hawa seperti anak saya bu, jadi jangan pernah merasa tidak enak hati, karna hawa bersikap demikian pada saya" ucap wafda lemah lembut. Nilam sangat-sangat beruntung karna hawa berada di tangan yang tepat.
"mbak wafda terimakasih karna mbak wafda sangat menyayangi dan memperhatikan hawa, sampai-sampai hari ulang tahun hawa pun mbak yang ingatkan dan mbak yang mempersiapkan segalanya, mungkin kalo pengasuh lain belum tentu mbak" ucap nilam bersungguh-sungguh.
"nggak papa, kan ibu dan pak adit juga membantu semuanya, lagi pula dana nya pun dari pak adit, saya hanya menyiapkan saja bu" ucap wafda lemah lembut.
"sekali lagi terimakasih ya nak" bu nilam memeluk wafda.
setelah acara selesai wafda pun sibuk membersihkan rumah nya, ia mengerjakan nya sendirian.
" mbak biar kita nyuruh tetangga aja beresih rumah nya, mbak pasti capek," ucap adit.
"tidak perlu pak, lagi pula ini tidak terlalu berat, saya bisa kerjakan ini sendiri" ucap wafda, adit berniat untuk menyuruh tetangga nya itu, karna merasa kasihan melihat wafda yang terlihat lelah sekali.
" benar mbak tidak butuh bantuan orang, untuk mengerjakan ini semua?" tanya adit bersungguh-sungguh, ia rela membayar tetangga, agar ia tidak terlalu lelah. Namun wafda tetap kekeuh, ia tak mau.
"yasudah, tamu kamu jangan terlalu kecapean,ya" pesan adit.
"siiap pak" ucap wafda mengacungkan jempol nya.
Wafda membersihkan semua ruangan rumah hingga rapi, hingga semuanya selesai.
"alhamdulillah beres,tinggal satu lagi cuci piring" gumam wafda. Saat wafda akan kedapur tiba-tiba saja kepala wafda pusing, ia terus memegang kepalanya,jalan pun sempoyongan hingga ia tak kuat lagi, matanya berkunang-kunang.
BBRRUUUKKKKKK
Wafda pun terjatuh pingsan, adit dan bu nilam yang mendengar suara itu langsung kaget.
"ada apa ya bu? " tanya adit,nilam menggelengkan kepalanya.
"kita lihat dit,suara dari arah dapur" ucap nilam.. Mereka pun menuju dapur. Alangkah terkejutnya mereka berdua, karna melihat wafda sudah tidak sadarkan diri.
"yaa allah mbak wafda" ucap nilam. Adit pun segera berjongkok dan menepuk-nepuk pipi wafda agar sadar.
"Mbak... Bangun bakk" adit mencoba membangunkan wafda, namun hasil nya nihil, wafda tak kunjung bangun.
"sebaik nya kita bawa wafda ke dokter saja dit" usul bu nilam.
"yasudah bu, ibu tolong ambilkan kunci mobilnya ya, ibu tunggu saja di rumah biar adit yang bawa hawa, kalo ibu ikut kasian hawa sama siap" sang ibu pun mengangguk.
"tapi kalo ada apa-apa kasih tahu ibu ya dit" ucap nilam.
__ADS_1
"ibu tenang saja, wafda akan baik-baik saja bu" adit mencoba menenangkan ibunya itu.
Adit pun pergi menuju ke rumah sakit untuk membawa wafda,
"kamu itu, sudah tau pekerjaan nya lumayan banyak, tapi masih aja tetap kekeuh mau kerjain nya sendiri, bahkan ibu pun tak boleh membantu" gumam adit. Wafda memang agak keras kepala, kalo ia bilang tidak ya tidak.
Sesampainya di rumah sakit wafda langsung di periksa. Ternyata wafda dehidrasi.
"Pak istri bapak kecapeann, sepertinya istri bapak dari pada belum makan apa-apa" ucap sang dokter, adit tertegun saat sang dokter menyangka kalo wafda adalah istrinya.
"Ta.. Tapi pak.." ucap adit terputus.
"tenang istri bapak hanya kelelahan,tidak akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" ucap sang dokter, belum juga adit selesai berbicara dokter tersebut telah menyela, dan terua saja menyangka kalo wafda adalah istrinya.
"Kalo begitu terimakasih pak" ucap adit akhirnya.
"saya tinggal dulu ya pak, setelah istri bapak sadar, dan infusan nya habis. Istri bapak boleh pulang" ucap dokter tersebut, sebelum pamit ke luar. Adit pun duduk di kursi sambil menunggu wafda sambil memainkan ponsel nya. Saat adit sedang asyik memainkan gawainya, tiba-tiba saja tangan wafda bergerak-gerak dan perlahan mata terbuka.
"sa-saya ada dimana?" tanya wafda dengan suara lemah.
"rumah sakit" ucap adit dingin, jujur saja ia sangat jengkel dengan sikap keras kepalanya wafda.
"ru-rumah sakit? Bagaimana bisa? Terus hawa sama siapa? Saya harus segera pulang, saya takut hawa mencari saya, lagi pula di rumah pun belum selesai perkerjaan saya" ucap wafda tanpa jeda.
"udah bicaranya?" tanya adit sambil menatap wafda. Wafda tak menjawab.
"maafkan saya pak, saya sudah bikin bapak repot dan khawatir" ucap wafda.
"kali ini saya maafkan, tapi lain kali jangan kaya gini lagi, kasian hawa,stelah infusan nya habis,kita pulang" ucap nya, wafda mengangguk.
Hening,tak ada percakapan lagi, wafda terus saja memikirkan hawa.
"mau makan?" tanya adit lagi, wafda menggeleng, namun dalam hati wafda sangat lapar karna memang ia belum makan, namun saat wafda menggelengkan kepala tiba-tiba saja perut wafda berbunyi
"KRRREEWWUUUKKK"
Adit menggeleng-gelengkan kepala.
"kalo laper ya bicara saja laper biar saya carikan makan di luar" ucap adit, hawa menggigit bibir nya,ia merasa sangat malu, wajah yang putih kini berubah merah merona.
Saat adit hendak pergi ke luar mencari makan, wafda terus saja merutuki dirinya sendiri. " wafdaa kenapa sih kamu itu bikin malu teruuusss?" gumam wafda sambil memukul-mukul kening nya.
Tak lama kemudian adit dan dengan membawa nasi beserta minum nya.
"Nih makan dulu yang kenyang, biar perut nya gak bunyi" sindir adit, wafda hanya tertunduk, saat hendak wafda akan bangun dari tidur nya ia sangat kesusahan, dan adit membantu nya.
__ADS_1
Tak sengaja wajah mereka berdekatan hanya berjarak beberapa senti saja, mereka saling tatap namun tak lama kemudian adit membuang tatapan nya. Entah kenapa hati adit berdebar-bedar. Begitupun dengan wafda, kini kedua nya menjadi canggung,
Setelah wafda sudah benar-benar duduk dengan nyaman, adit pun memberikan makanan tersebut pada wafda.
"nih, saya mau keluar sebentar mengurus adminitrasinya dulu, karna setelah kamu makan kita pulang" ucap adit salah tingkah, lagi-lagi wafda hanya mengangguk.
"duuh ditt kenapa sih dengan hati muu, kok jadi gini sih?" adit bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit adit menengkan hatinya dari debaran, akhirnya adit kembali ke dalam kamar wafda, wafda pun tlah usai makan.
"sudah?" tanya adit.
"sudah pak mari kita pulang saya khawatir sama hawa, ini sudah hampir sore," ucap wafda.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit, di sepanjang perjalanan tak ada sedikitpun percakapan, hingga tak terasa akhirnya mereka sampai di depan rumah. Wafda pun turun dari mobil dengan tergesa,dan memanggil-manggil nama hawa.
"hawaa.. Nak ini mbak" panggil wafda, hawa pun keluar di gendong bu nilam, hawa terlihat sepertinya ia sudah menangis. Wafda langsung memangku hawa, dan menghujani ciuman.
"Maafin mbak ya nak, mbak janji gak bakalan tinggalin hawaa lagi nak" ucap wafda, adit dan bu nilam yang menyaksikan sangat terharu. Mereka tak menyangka sekali sesayang itu wafda pada hawa.
"mbak biar hari ini hawa tidur sama saya, mbak istirahat saja, sembuhkan dulu badan mbak ya" ucap bu nilam,dengan cepat wafda menggelengkan kepalanya.
"tidak perlu bu, biar hawa tidur dengan saya" ucapnya.
"kamu jangan keras kepala,kamu istirahat dulu saja hari ini, kalo kamu sakitnya lama dan sampai di rawat, apa kamu tidak kasihan pada hawa yang selalu merindukan mu?" tanya adit menatap wafda, mendengar perkataan adit, wafda berfikir, memang ada benar nya yang di ucapkan adit.
"baik lah tapi hanya malam ini saja ya pak bu" ucap wafda, jujur saja ia tidak ingin jauh-jauh dari hawa.
"sebaiknya kamu masuk kamar dan istirahat" titah adit, wafda pun menurut.
Di ruang keluarga hanya tinggalah mereka bertiga, bu nilam yang dari tadi melihat adit yang khawatir pada wafda merasa kalo hati adit kini sudah mulai terbuka untuk wanita lain,
" dit apa kamu gak kefiran buat menikah lagi?" tanya sang ibu tiba-tiba, adit menoleh.
"adit belum kefikiran kesana bu, di hati adit masih ada rinayah " ucap adit.
"ibu mengerti nak, tapi apa kamu tidak kasihan melihat hawa?"
"kan sekarang udah ada wafda bu"
"ada saat nya wafda pun menikah,dan akan meninggal kan hawa,dan ibu pun semakin sepuh dit" ucap nilam, mendengar ucapan nilam adit tertegun..
"bu adit mau istirahat sebentar ya" adit tak menjawab perkataan sang ibu ia pergi menuju kamarnya.
Ntah kenapa saat mendengar kata-kata wafda akan menikah ada sedikit nyeri di hati adit.
__ADS_1
"ada apa dengan hati ku ini yaa allah" lirih adit