
Agung dan zahra pun berjalan ber iringan menuju rumah zahra,tak ada percakapan di antara mereka. Agung trus memikirkan ziah, agung tau ziah pasti marah padanya, namun apa boleh buat, agung tidak bisa menolak jika itu permintaan sang guru.
Bukanya agung tak memikirkan prasaan ziah,namun apa boleh buat, biarlah nanti agung akan menjelaskan semuanya pada ziah,agar ziah tak salah faham kepadanya.
"a agung kenapa keliatan nya kok kaya yang gelisah?" tanya zahra pada agung, walau sebenarnya ia malu. Agung melirik zahra
"tidak ada apa-apa teh" ucap agung berusaha tersenyum. Namun zahra tidak yakin kalau agung tidak kenapa-napa, akan tetapi zahra tidak ingin banyak bertanya pada agung,
Akhirny mereka pun sampai di rumah zahra, kebetulan sang guru sedang membaca kitab depan rumah. Sang ayah belum menyadari akan kehadiran putrinya beserta agung.
"assalamu'alaikum bii" ucap zahra, sang aya pun menoleh dan merasa heran mengapa agung ada di sini,zahra yang tau bahwa sang aya keheranan pun langsung kembali berkata.
"katanya tadi pagi abii ada keperluan sama a agung, tadi zahra udah bicara sama a agung akhirnya a agung kesini bi" ucap zahra, sang ayah pun merasa makin heran apa yang di maksud sang anak, prasaan sebelum zahra berangkat, ssng ayah tidak bicara apa-apa. Namun sang ayah tidak mau ambil pusing akan tingkah laku sang anak.
"waalaikumsalam. Sini gung duduk, bagai mana kabar mu?" tanya sang guru pada agung berbasa basi.
"alhamdulillah sehat kang" jawab agung samb il menundukan kepala.
__ADS_1
"sudah lama kamu tidak berkunjung ke pondok ini, mungkin anak-anak santri rindu pada mu gung," ucap sang guru, hal itu membuat agung kena mental, memang agung akhir-akhir ini jarang sekali berkunjung ke pondok,trakhir ia ke pondok 2 bulan lalu.
"ngapunten kang" hanya itu yang bisa agung jawab, agung tidak bisa berkata-kata jika sudah berhadapan dengan gurunya itu.
sang gurupun tersenyum dan memaklumi nya.
"nggak papa gung, akang juga ngerti kamu sibuk, tapi akang berharap kamu bisa tinggal lagi di pondok gung" sang guru berharap pada agung agar ia dapat kembali ke pondok ini, karna sang guru sangat-sangat mempercayai agung, meskipun sudah ada gantinya namun tidak lah seperti agung.
Setelah agung di perintahkan untuk mengajar di sekolah, agung memilih untuk pulang ke rumahnya, karna jarak rumah dan pondok nya tidak lah terlalu jauh, bukan tanpa alasan, agung memutuskan untuk pulang ke rumah, jika ia di pondok ia merasa tidak fokus, karna banyak waktu yang terbagi,hal itu membuat agung sedikit lelah, lagi pula agung berfikir,di sini juga banyak pengajarnya. Fikir agung kala itu.
" sering-seringlah berkunjung ke sini gung" ucap kembali sang guru.
"bagai mana tugas kamu di sekolah apakah ada hal yang membuat kamu tidak nyaman?"
"sama sekali tidak ada kendala apapun kang, saya betah mengajar disana" ucap agung
"alhamdulillah" ucap sang guru.
__ADS_1
Mereka pun berlarut dalam obrolan mereka, meski agung merasa cangung dan hatinya terus berdebar, namun sebisa mungkin agung untuk tetap tenang,
"bi ayok kita makan siang dulu, sekalian nak agung di ajak juga" ucap sang istri.
"ayuk gung kita makan siang disini," ajak sang guru pada murid kepercayaan nya itu
"ti-tidak usah kang, saya pamit pulang saja, insya allah besok saya kesini sekalian mau ketemu santri." ucap agung, bagai mana mungkin ia makan bareng bersama keluarga sang guru.
"nggak papa gung sekali-kali, kapan lagi kamu bisa makan bareng sama akang" ucap sang guru, sambil tersenyum. Karna sang guru terus saja memaksa akhirnya agung menurut. Tentu saja hal itu membuat zahra bahagia, karna ia bisa lebih lama bersama agung.
Mereka pun makan bersama,namun agung merasa tidak enak hati dan malu harus berhadapan dengan gurunya itu di saat makan,jujur saja walaupun agung sudah lama mengabdi pada sang guru, namun baru kali ini mereka makan bersama dan saling berhadapan,biasa nya agung suka makan bareng bersama sang jikalau sang guru di undang untuk berceramah di luar, namun agung makan tidak saling berhadap seperti saat ini.
"ayok atuh gung di makan gak usah malu-malu" ucap sang guru, beliau tau bahwa muridnya itu canggung, namun sebisa mungkin sang guru membuat agung agar tidak canggung.
" ya allah tampan sekali ciptaan mu, jika engkau meridhoi, ridhoi lah kami untuk bersama" gumam zahra dalam hati, dari awal makan hingga selesai zahra selalu mencuri-curi pandangan pada agung.
Zahra sangat berharap jika ia di takdirkan hidup bersama agung, karna sampai sekarang yang zahra tahu agung masih sendiri.
__ADS_1
"untukmu yang selalu ku sebut di sepertiga malam ku, semoga allah meridhoinya" gumam zahra, sembari tersenyum maniss.