
Setelah beberapa menit vano dan ziah mengobrol, tak ada tanda-tanda adit akan kembali ke kantin.
"bang adit ketoilet apa pingsan sih, lama banget" gerutu ziah dalam hati. Vano yang terus memerhatikan ziah yang terlihat gelisah akhirnya vano bersuara.
" bagaimana kalau kita ke ruangan duluan saja bu?" ajak vano. Ziah pun menyetujuinya, Karna sudah cukup lama mereka ada di kantin dan lagipula makanan nya sudah hampir habis.
Di sepanjang perjalanan menuju ruang guru, vano terus saja mengajak ngobrol ziah, jujur saja vano ingin secepatnya dekat dengam ziah, karna vano merasa nyaman sekali dengan ziah.
"ternyata kamu asyik juga ya kalo di ajak ngobrol" gumam vano dalam hati. Mata vano tak berhenti menatap wajah cantik ziah. Bahkan saat sedang jalan sekalipun,menurutnya itu adalah kesempatan emas baginya, karna baru kali ini vano dekat sekali dengan ziah.
Namun ada sepasang mata yang merasa hatinya terbakar cemburu, meskipun ia berkata ikhlas, namun tidak dengan hati kecilnya, ia belum bisa 100% bisa melupakan ziah dalam hatinya.
"a kamu liatin apa sih?" regur zahra pada agung.
"eehhh neng eng-enggak liatin apa-apa kok" jawab agung glagap. Zahra hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"tahukah kamu zi, sakit hati ini melihat mu tersenyum bersama orang lain, dulu senyum manis mu tersemat untuk ku, kini tak ada lagi senyuman manis mu untuk ku, mungkin yang ada sekarang hanyalah kebencian" lirih agung dalam hatinya.
Jujur saja agung sangat tidak suka melihat kedekatan ziah dengan vano.. Ziah yang sadar akan kecemburuan agung, ziah bersikap acuh tak acuh, ziah pun heran pada pemikiran agung, kenapa ia memilih menikah dengan zahra kalau ia masih mencintai ziah?
Aahh ntahlah, ziah tak ingin memikirkan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Lagipula ziah sudah benar-benar melupakan agung, ziah sudah menghapus nama agung di hatinya.
Ketika ziah melamun dan tak berkata apapun pada vano tiba-tiba vano bertanya.
"bu, kenapa pak agung liatin bu ziah seperti itu ya?" tanya vano heran.
"seperti itu gimana pak?" ziah pura-pura tak mengerti.
"ya seperti nya pak agung cemburu gitu kalau liat bu ziah dekat dengan saya,padahal kan ada istrinya bu zahra," celetuk vano
" ya allah pak, cemburu apasih? Udahlah pak, gausah balik di liatin nanti bu zahra heran liat kalian saling tatap-tatapan" ucap ziah ngasal.
"apa kalian pernah dekat?" tebak vano, seketika ziah terdiam.
"de-dekat? Maksud bapak dekat gimana?" tanya ziah.
"kok bu ziah kaya gugup gitu sih?" vano terus saja memancing ziah.
"iisshh bak vano lama-lama kaya cewek ya, nanya mulu, kepo banget sih" ketus ziah, ia sangat kesal pada vano. Vano terkekeh, bukan nya takut vano malah merasa lucu pada ziah.
"iya maaf-maaf bu, jadi cewek ngambekan amat, cepet tua nanti bu" celetuk vano, ziah tak menggubris ucap vano,ia terus berjalan mendahului vano.
Sesampainya di ruang guru adit sedang mengobrol ringan dengan guru yang lain. Namun saat sedang asyik mengobrol adit menengok ke arah daun pintu ruang guru. Adit tersenyum,namun ziah mendelikan matanya.
"pak adit katanya mau ke toilet, ternyata di sini" ucap ziah geram. Adit menggaruk-garukan kepala yang tidak gatal itu.
"ma-maaf saya kan memberi kesempatan pada kalian supaya bisa lebih dekat lagi" ucap adit jujur.
"tapi saya tidak suka pak" ucap ziah
"iya-iya maaf" ucap adit.
"kali ini saya maafkan tapi awas aja kalau di ulangin lagi kaya gitu" ucap ziah. Adit menggukan kepalanya.
__ADS_1
Salah seorang guru yang mendengar perdebatan adit dan ziah pun bersuara.
"tapi bener juga bu zi, kata pak adit kalian cocok loh" ucap guru tersebut sambil melirik ke arah ziah dan vano. Ziah hanya tersenyum.
"pak vano wanita itu butuh bukti bukan hanya janji, pak vano harus bisa membuktikan pada bu ziah ka pak vano beneran serius sama bu ziah,kami dukung bener gak semuanya?" ucap lagi guru tersebut yang di dengar oleh banyak orang, termasuk agung. Ada rasa nyeri di hati agung ketika guru tersebut berkata demikian, agung merasa tersindir dengan ucapan nya.
"setuju" ucap serempak, tanpa kecuali agung, dia hanya diam. Vano adalah orang yang humoris dan suka guyon ia menanggapi nya dengan guyonan pula.
" tenang pak, kalo udah waktu nya saya akan buktikan doakan saja" ucap vano enteng,seketika mata ziah menatap tajam vano. Jam sekolah pun sudah usai semua guru dan murid tlah pulang.
Ketika sedang berjalan menuju parkiran adit menghadang ziah.
"jadi gak zi ketemu hawa?" tanya adit
"jadi" ucap ziah singkat, ziah masih kesal pada adit.
"udah dong marahnya zi,"ucap adit memelas. Ziah tak menanggapi ucapan adit ia menuju berjalan menuju motornya.
"mau pulang dulu apa langsung ke rumah?" tanya lagi adit.
"pulang dulu"
"zi gak boleh gitu lah, lagian vano itu beneran serius kok sama kamu" ucap adit.
"abang tau dari mana? Kalau kaya yang udah-udah gimana?" tanya ziah.
"gak mungkin zi" ucap adit meyakin kan ziah.
"dahlah bang aku belum kefikiran kesana" ucap ziah.
"gak, enggak pokoknya kamu gak boleh baper lagi zi" ucap ziah pada dirinya sendiri.
Namun ziah sedikit demi sedikit bisa menerima kehadiran adit, ia kini sering merespon jika vano mengajak nya mengobrol.
Sesampainya di rumah ziah mengucapkan salam pada ibu nya itu.
"assalamu'alaikum bun" ucap ziah.
"waalaikumsalam" ucap sang ibu di dalam rumah.
"lho bukan nya kamu mau mampir ke rumah hawa kok nggak?" tanya sang bunda,karna tadi sebelum berangkat ziah pamit pulang sore karna akan berkunjung ke rumah hawa.
"iya bun, ziah pulang dulu. Mau mandi dulu aja gerah, ini bun tadi ziah mampir ke mini market buat beli jajan hawa, sekalian aja buat bunda" ziah menyodorkan kantong plastik pada bundanya.
"wah makasih ya nak" ucap sang bunda ziah menganggukan kepala, dan pamit untuk ke kamar untuk membersihkan badan, lalu berangkat lagi ke rumah hawa.
Ziah pun sudah siap,dan ia akan berangkat ke rumah hawa, karna ziah sudah sangat rindu pada hawa.
"bun, aku berangkat ya" ucap ziah
"iya nak, hati-hati ya, salam buat semua yang ada di sana" ucap sang bunda. Ziah menganggukan kepala.
Ziah pun pergi menuju ke rumah hawa, karna kebetulan memang rumah nya tidak terlalu jauh. Namun saat sampai di pekarang rumah adit hawa di buat bingung, karna ada sebuah motor yang tak ia kenali terparkir di halaman rumah adit.
__ADS_1
"asslamu'alaikum" sapa ziah.
"waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam.
"ehh teh ziaaahh, sehaat?" ucap wafda dan bersalaman lalu cepaka cepiki dengan ziah.
"kabar baik teh, gimana kabar teh wafda baik?" tanya ziah kembali.
"alhamdulillah baik teh" ucap wafda sambil tersenyum.
" eemmhh ada tamu ya teh?" tanya ziah
"bukan siapa-siapa kok,bang vano katanya kangen sama hawa" ucap wafda. Ziah sedikit kaget, kenapa vano bisa datang kesini?
"ya udah atuh teh ayo masuk" ajak wafda, ziah menganguk. Ziah dan wafda pun masuk ke dalam rumah di sana sudah ada adit dan vano sedang mengobrol.
" eehh zi sudah datang?" tanya adit.
"iya bang baru aja sampe, hawa dimana bang?" tanya ziah basa basi.
"hawa di kamar tadi abis main sama vano dia seneng banget zi" ucap adit.
"biar saya bawa hawa kesini ya teh" ucap wafda lembut,ziah mengangguk.
Wafda pun membawa hawa kepangkuan nya. Dan memberikan hawa pada ziah, hawa begitu senang saat bertemu ziah.
"sayang makin gemoy aja deh" puji ziah sambil menjawil pipi hawa.
"mas di dapur udah gak ada bahan masakan, bisa anter saya ke depan?" tanya wafda.
"tentu saja, ayok" dengan senang hati adit mengantar wafda, dan ini kesempatan vano untuk lebih jauh mendekati ziah.
"teh titip hawa sebentar ya" ucap wafda.
"ok teh, tenang aja biar hawa sama saya" ucap ziah.
"bang tunggu dulu sebentar ya" ucap lagi wafda.
"iya da, santai aja" ucap vano
Adit dan wafda pun pergi, tinggal lah di rumah hanya ada vano, ziah dan hawa, karna bu nilam sudah pulang ke rumahnya, karna rumah yang di tempati adit adalah rumah untuk rinayah. Namun nilam tinggal di rumah adit karna waktu kemarin gak ada yang menjaga hawa.
"hawa mau main apa sayang?"tanya ziah pada hawa, vano terus memandang ziah. Ziah sungguh sudah membuat hati vano terkagum-kagum pada ziah.
"om vano ikutan ya main nya" tiba-tiba vano menghampiri ziah dan hawa.
Dengan senang hati hawa menganggukan kepalanya.
"boleh kan bu ziah?"
"tentu saja pak" ucap ziah lembut.
"akhirnya zi, kamu udah mulai merespon, saya. Semoga kedepan nya lebih baik ya" lirih vano dalam hati.
__ADS_1
Jujur saja vano sangat kagum pada ziah, ziah memang bukan hanya cantik, tapi dia juga penyayang. Hal tersebut semakin membuat vano mengagumi ziah. Ziah adalah wanita yang sangat lemah lembut, dan baik terhadap siapapun.
"kalau kamu di takdirkan menjadi milikku, aku berjanji pada diriku sendiri, tak akan pernah saya membuat mu kecewa, aku akan berusaha membahagiakan mu zi" lirih vano dalam hati, sambil menatap ziah dengan penuh kasih sayang.