Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
31. Datangnya pengasuh hawa


__ADS_3

Setelah vano dan adit, telah selesai berbincang, mereka pun memutuskan masuk ke dalam ruangan.


"Pak" vano memanggil adit, adit pun menoleh


"ya ada apa lagi pak? Masih ingin bertanya soal bu ziah?" adit menebak-nebak. Vano pun mengangguk malu.


"apakah bapak tau kenapa bu ziah bisa sedingin itu sekarang?


"tentu saja. Mediang istri saya selalu bercerita tentang bu ziah, yang saya tahu ia tak percaya lagi dengan omongan janji manis para lelaki" ucap adit to the point.


"maksud bapak? " tanya vano bingung, adit pun terkekeh.


" bapak bisa melihat bukan? Kalo bu ziah itu wanita yang sangat cantik?" tanya adit


"ya tentu saja,saya dapat melihatnya, bahkan mungkin bukan hanya wajahnya saja yang cantik tapi hatinya juga, buktinya anak bapak bisa senyaman itu dengan bu ziah, itu tandanya bu ziah tulus menyayangi anak bapak" jawab vano jujur.


"ya anda benar, tapi sayang ia selalu gagal dalam menjalin hubungan, ia selalu di khianati, bahkaan sampai di tinggal nikah sekalipun" ucap adit, mendengar penuturan adit membuat vano sedikit terkejut, bagaimana mungkin wanita sebaik dan sacantik ziah bisa di khianati?. Dalam hati vano terus bertanya-tanya.


" apakah bapak berbicara serius?" tanya vano meyakin kan.


"tentu saja, setiap kali bu ziah menjalin hubungan pasti akan kandas." ucap adit.


"hanya orang-orang bodoh yang berani menghianati wanita secantik dan sebaik dia" ucap vano menekan ucapan nya. Adit hanya terkekeh.


"apa anda menyukainya?" tanya adit, vano glagapan. Melihat eksperesi vano seperti itu membuat adit semakin yakin bahwa vano menyukai ziah.


"aaahh lupakan saja, mari kita ke ruangan"ucap adit, ia tau bahwa vano tidak akan jujur padanya. Vano hanya mengangguk.


Sepulang sekolah seperti biasa ziah menyempatkan waktu, untuk datang ke rumah adit. Ziah sudah berjanji akan menemani tumbuh kembah hawa. Meskipun hanya seminggu sekali atau pun bahkan satu bulan sekali, yang terpenting adalah, ia hanya ingin memastikan bahwa hawa baik-baik saja.


"Pak hari ini saya akan menemui hawa" ucap ziah di parkiran.


"dengan senang hati bu, hawa pun pasti akan senang"ucap adit semuringah.


Bukan nya tak ingin ziah datang setiap waktu menemui hawa, namun ziah takut ada fitnah di antara mereka, bukan kah semua manusia tidak sama? Ada yang pro dan ada juga kontra. Ziah menjauhi akan hal-hal yang tidak enak tersebut.


Sesampai di rumah adit,ziah selalu di sambut hangat oleh keluarga adit, keluarga adit merasa senang, karna ziah selalu memperhatikan hawa.


"nak ziah,ibu kangen sekali sama kamu nak" sapa ibu adit pada ziah.


"sama bu ziah juga kangen" balas ziah merekapun berpelukan.

__ADS_1


"hawa sayaang, kamu makin gemoy aja nak, cantik lagi, sama seperti mamah mu nak" lirih ziah, setiap melihat hawa rindu ziah sedikit trobati, karna wajah hawa sangat mirip dengan mediang rinayah.


Hawa trus saja melambaik-lambai tangan nya,ia ingin segera perpindah pada pangkuan ziah,dengan senang hati ziah mengambil hawa dari pangkuan ibu adit.


"kamu mau main nak sama onty ya?" tanya ziah dengan gemaass.


Mereka pun asyik bermain, hingga tak terasa waktu sudah sore, dengan berat hati ziah harus meninggalkan hawa.


"nak onty pulang dulu ya,nanti onty janji bakal kesini lagi" ucap ziah, seakan mengerti yang di ucapkan ziah, hawa menangis kencang. Melihat hal tersebut ziah tidak tega, hingga akhirnya ziah menidurkan hawa terlebih dahulu.


Setelah hawa tidur, ziah berbicara pada adit.


"pak seperti hawa memang benar-benar butuh pengasuh, sebaiknya suruh pak vano bawa saja segera keponakan nya" mendengan ucapan ziah adit sedikit terkejut, bukan nya tadi pagi dia yang melarang nya menerima tawaran vano karna takut, tapi ziah juga yang meminta agar sodara vano segera menemuinya.


Ziah menyadari perubahan wajah adit langsung berkata " ya daripada kita harus susah nyari pak, mending kita lihat saja dulu sodara pak vano, apakah hawa nyaman jika di bawah asuhan nya" ucap ziah, adit mengangguk-nganggukan kepalanya.


Setelah berbicara demikian ziah pun pamit untuk pulang karna hari sudah semakin sore. Ziah takut ayah dan bundanya khawatir.


"kalo begitu saya pamit pulang dulu pak" pamit ziah.


"terimakasih atas waktunya bu ziah, hati-hati di jalan" ucap adit.


Ziah pun meninggalkan pekarangan rumah adit. Setelah ziah sudah benar-benar pergi adit kembali ke dalam rumah dan hendak menemui putri semata wayang nya itu.


"iya bu, adit mau bersih-bersih badan dulu" ucap adit. Sang ibu pun mengangguk. Adit tidak langsung membersihkan diri namun ia menelpon zevano, ia ingin memastikan apakah benar ia memiliki sodara yang bersedia untuk menjadi pengasuh anaknya itu.


Tuutt. Tuutt. Tutttt. Sambungan telpon pun terhubung.


"assalamu'alaikum pak" sapa vano di sebrang sana


"waalaikumsalam, maaf pak saya mengggangu waktu bapak" adit merasa sungkan.


"Oh sama sskali tidak mengganggu pak,saya sedang bersantai ringan, ngomong-ngomong ada apa ya pak? Tumben nelpon" ucap vano basa basi.


"jadi begini pak, saya ingin memastikan soal yang tadi sempat kita bicarakan di sekolah"


"Oohh iya-iya, soal pengasuh itu ya pak?"


"Ah iya pak betul sekali, apakah bisa sodara bapak secepatnya menemui saya?"


"eemmmhh bagai mana ya, sebenarnya bisa saja pak,namun harus saya jemput, mungkin besok sore saya izin dulu ke akag untuk pulang menjemput sodara saya, bagai mana pak? "

__ADS_1


"Apakah saya tidak terlalu merepotkan bapak?" adit merasa tidak enak hati.


"Sama sekali tidak pak"


"yasudah kalo begitu besok saya tunggu ya pak, kalo begitu saya tutup dulu telpon nya ya pak, sekali lagi maaf saya sudah mengganggu,assalamu'alaikum"


"waalaikumsalam" sambungan telpon pun di tutup, vano membantu adit dengan ikhlas, namun ada sedikit tujuan yakni ia ingin mencari tau lebih dalam tentang ziah, karna vano yakin adit tau banyak tentang masa lalu ziah.


"Tidak ada salahnya bukan menyelam sambil minum air" gumam vano tersenyum manis.


**


Hari yang di tunggu pun tlah tiba, vano menepati janji nya untuk membawakan pengasuh yang tak lain dan bukan adalah sodara nya sendiri untuk hawa, anak semata wayang adit.


Adit sudah memberikan alamat rumah nya terlebih dahulu pada vano, jadi vano tak terlalu sulit memcari rumah adit.


Sesampainya di rumah adit, vano mengetuk pintu rumah adit, ketika tahu siapa yang membuka pintu membuat vano sedikit salah tingkah,


"assalamu'alaikum bu ziah" sapa vano


"waalaikum salam pak, teh" jawab ziah,lalu tersenyum ramah pada perempuan yang ada di sebelah vano, senyuman ziah semakin membuat vano kagum padanya.


"sebentar saya panggil dulu pak adit nya ya" ucap ziah kembali, mereka mengangguk. Tak butuh waktu lama adit dan ibunya beserta hawa yang ada di pangkuan adit pun keluar.


"pak adit" ucap vano sembari menjabat tangan satu sama lain begitu pun dengan sang ibu.


"saya menepati janji saya pak, bahwa sore ini saya membawa sodara saya kesini" ucap vano sambil melirik ke arah sodaranya. Perempuan tersebut menganggukan kepalanya dan tersenyum ramah.


"Da, silahkan perkenalkan namamu, dan anak perempuan yang di pangkuan pak adit adalah anak yang akan kamu asuh." ucap vano menjelaskan.


"pak, buk, teh, perkenalkan nama saya wafda mikhayla rosyada, hai adik maniss, sini sama mba yuk" wafda memang seseorang yang cepet akrab denga siapapun, ia sangat menyukai anak kecil, ketika wafda mengulurkan tangan pada hawa dengan semuringah hawa ingin di gendong,


Hawa termasuk anak yang sulit untuk di gendong oleh orang yang menurutnya asing, sekalipun itu saudaranya, jadi melihat hawa yang antusias ingin di gendong wafda,membuat semua yang ada di sana terheran-heran.


"anak cantik anak maniss, siapa nama mu nak?" ucap hawa yang memperlagakan suara bayi. Sambil mencubit pipi gembul nya dengan gemasss.


Wafda tahu bahwa hawa belum pandai berbicara, karna ia masih berusia 8 bulan, namun itulah cara agar anak merasa nyaman dengan kita, wafda mengajak hawa mengobrol becanda, tak jarang hawa tertawa riang, melihat hal tersebut hati adit semakin yakin bahwa wafda adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pengasuh hawa.


Begitu pun dengan ziah dan ibu adit, mereka merasa bahagia karna melihat hawa begitu terlihat nyaman dengan wafda.


"Wafda mikhayla rosyada"

__ADS_1


"anak perempuan pemberian allah yang membawa keberentungan dan yang menunjukan kebenaran"


__ADS_2