
Setelah kejadian subuh itu, zahra jadi agak sedikit susah jalan. Karna merasakan sakit di bagian kewanitaan nya.
"masih sakit ya?" tanya agung dengan wajah merasa bersalah " maaf seharusnya tadi aa tidak terlalu memaksa" ucap agung kembali.
"nggak papa a, ntar juga hilang sakitnya," ucap zahra.
"kalo gitu kamu tiduran aja, hari ini nggak usah bantu ibu dulu,nggak tega aa liat kamu jalan kaya gitu" ucap agung. Zahra pun tersenyum " iya a hari ini zahra mau di kamar aja, takutnya ibu ngeliatin gerak gerik jalan zahra, bisa malu nanti zahra a" ucap zahra. Agung pun keluar kamar hendak menemui sang ibu,
"loh gung istri mu mana? Tumben dia belum keluar biasa abis sholat subuh udah keluar " tanya sang ibu, memang zahra selalu keluar kamar seusai sholat subuh namun dapur masih sepi karna sang ibu biasa mengerjakan rumah setengah enam pagi,
"eeemmmhh a-anu bu, zahra katanya lagi sedikit gak enak badan " ucap agung glagapan.
Sang ibu memberhentikan aktifitasnya dan menoleh pada anak laki-lakinya itu " lho sejak kapan gung? Kenapa kamu gak bilang sama ibu?" tanya sang ibu cemas, padahal agung hanya berkata kalo zahra hanya tidak enak badan.
"zahra cuman gak enak badan biasa kok bu" ucap agung,sang ibu menatap agung lalu mendekat pada putranya itu. " ini leher kamu kenapa gung kok merah gitu?" tanya sang ibu dengan polos, membuat agung salah tingkah. "I-ini gatel buu, agung garuk jadi merah gini deh" ucap agung sekena, dalam hati agung menggerutu, kenapa pula zahra memberi tanda merah di lehernya.
__ADS_1
"bisa gawat ini kalo ketahuan adit sama yang lain" gumam agung.
"bu agung ke kamar dulu ya " ucap agung, ia tak ingin terus di introgasi oleh ibunya itu.
"ya sudah sekalian aja bawa sarapan buat istri kamu,sekalian kasih obat, biar gak semakin parah, kalo nggsk brobat" ucap sang ibu, agung mengangguk saja. "nggak papa ko bu, ntar juga sembuh kan cuman gak enak badan" ucap agung.
Sesampai nya di kamar agung meletakan sarapan zahra di atas nakas,
" lho a kenapa bawa sarapan ke kamar?" tanya zahra heran.
" kamu ternyata agresif ya" ucap agung tiba-tiba, wajah zahra berubah menjadi merah merona
"lihat nih, gara-gara kamu, aa di tanya sama ibu, ini kenapa" tunjuk agung pada lehernya yang ada tanda merah.
zahrs tertawa" ya allah a maaf zahra gak sadar kalo zahra ngasih tanda merah, trus aa jawab apa sama ibu?" tanya zahra masih tertawa.
__ADS_1
"ya aa jawab ini gatel, aa garuk jadi merah" ucap agung, zahra pun tak henti tertawa, karna melihat suami nya itu merajuk.
"aa juga nih liat, aa mah banyak banget " ucap zahra sambil menunjukan lehernya.
agung pun tersenyum " kalo kamu mah bisa di tutup pake kerudung, kalo aa? Aduh bisa habis ini sama adit di ledekin kalo sampe dia liat" ucap agung.
" hehehe maaf a, zahra gak sadar, yaudah aa mandi dulu gih" ucap zahra, karna setelah berhubungan badan agung belum mandi, dengan alasan dingin, beda dengan zahra walaupun ia sudah mandi, setelah berhubungan ia langsung mandi.
"ntar aja teh agak siangan dikit, takut nya aa mau lagi" ucap agung menggoda sambil menaik turun kan alis tebal nya itu.
"issshh aa, mau zahra kasih tanda merah lagi biar lebih banyak kaya zahra" ucap zahra dengan nada meledek.
"jangan dong,kan besok aa mulai sekolah, bida brabe kalo banyak tanda nya " agung menggaruk-garuk kepala.
Zahra pun tersenyum ia merasa bahagia karna tlah memberikan hak nya pada suaminya itu, walau tanpa sadar zahra tlah memberi tanda merah pada leher suami nya itu.
__ADS_1