Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
58. Pengakuan


__ADS_3

Setelah urusan zahra dan agung selesai, kini tinggal vano yang saat ini hatinya di landa gelisah, ia bingung harus berkata apa pada ziah, ziah dan keluarga nya pasti akan marah besar pada nya.


"kenapa kamila bisa senekad itu sih?" gumam vano. Vano menyugar rambut nya dengan kasar."arrrrggghhh"


Bagaimana caranya untuk menjelaskan pada ziah, vano merasa kalo kecelakaan yang di alami oleh ziah itu karna nya.


"andai saja aku tidak pernah mengenalkan kamu sama kamila zi, mungkin sampe sekarang kamu baik-baik saja" lirih vano


Sedangkan di tempat lain ada ziah yang sedang berjuang sembuh, ia terus berusaha berjalan, ziah sudah sangat penat berdiam diri terus di rumah.


"zi, istirahat dulu nak, kamu jangan terlalu memaksakan dokter juga kan sudah bilang, kamu jangan terlalu kelelahan" sang bunda mengingatkan


"iyaa bund, tapi kan ziah harus berjuang bund,oh iya bund bukan nya yang nabrak ziah udah di tangkap polisi ya?" tanya ziah sambil mendudukan pantat nya di kursi. Ziah memang sudah melupakan kejadian itu, tapi ziah merasa penasaran saja sama penabrak tersebut.


"bunda juga belum sempat ke kantor polisi zi, jadi bunda belum tau, tapi bunda tanya sama adit, katanya penabrak nya seorang perempuan.


"perempuan?" lirih ziah


Adit memang tidak menceritakan semua nya pada keluarga ziah, adit hanya bilang bahwa yang menabrak ziah sudah di tangkap dan seorang wanita, yang tak lain dan bukan adalah kamila.


Adit tidak menceritakan nya karna itu semua permintaan vano, vano tak ingin ziah meninggalkan vano.


***


Ziah masih termenung memikirkan si pelaku,


"seorang perempuan, apa ini ada sangkutan nya dengan orang yang memberi pesan chat pada ku ya" ziah terus menerka-nerka


"namun apa tujuan nya? Apa dia memiliki dendam pada ku? Tanya ziah pada dirinya sendiri.


"bang adiitt" gumam nya, ia mengambil hp yang berada di atas nakas dengan susah payah.


Tut... Tuuutt... Handpone adit terus berdering.


"ziah?" gumam adit, adit pun mengangkat sambungan telpon dari ziah.


{ halo zi ada apa? Kamu baik-baik aja kan}


{iya bang aku baik-baik aja si, tapi aku mau nanya sesuatu sama abang}


{sesuatu apa zi}


{ soal orang yang nabrak aku bang}


Adit tertegun mendengar pertanyaan ziah, harus menjawab apa adit pada ziah perihal ini,


{haloo bang, BANG HALOOO} ziah terus memanggil-manggil adit


{ha-halo zi, aduuhh zi ma-maaf sinyal jelek, tadi kamu ngomong apa? Gak kedengeran zi} adit beralibi, lalu mematikan sambungan telpon nya.


"lho kok mati siihh" dengkus ziah dengan kesal. Saat ziah sedang uring-uringan ada sebuah notif masuk ke aplikasi hijau nya.


{ zi maaf jaringan nya jelek banget, nanti abang telpon lagi ya} adit memberi pesan pada ziah.


Ziah tak membalas pesan adit,ia masih kesal dengan adit.


"kenapa coba pas aku mau nanya hal cukup penting malah tiba-tiba gak ada jaringan" omel ziah.


Sang bunda melihat ziah yang terus mengomel pun menghampiri putrinya itu.

__ADS_1


"anak cantik bunda kenapa, kok ngomel-ngomel?" tanya sang bunda sambil menjawil dagu ziah.


"ini lho bund, tadi kan ziah telpon bang adit mau tanya siapa nama wanita yang udah nabrak ziah, kan bang adit udah ke kantor polisi sama vano, tapi tiba-tiba sambungan telpon nya jelek, katanya nya di sana jaringan jelek bund, ziah kan jadi kesel bund" adu ziah pada sang bunda.


"naakk, kamu gak usah mikirin hal itu, biar itu menjadi urusan nak vano dan adit, kamu fokus aja sama tujuan kamu, yaitu untuk sembuh dan kembali mengajar lagi, katanya anak-anak udah kangeen sama guru cantik nya itu" sang bunda menggoda ziah dan mencubit pipinya.


"iiiihh bunda" rengek ziah, fatma sang bunda hanya terkekeh.


***


"van" panggil adit


"ya!" vano melirik ke arah adit


"kemarin ziah nelpon sama saya"


"terus?"


"ziah menanyakan soal kecelakaan yang ia alami, dia menanyakan siapa nama wanita tersebut"


"yang bener dit, aduhh gimana ini dit? Saya belum siap untuk kehilangan ziah, di saya takut ziah meninggalkan saya"


" saya juga gak tau van, tapi cepat atau lambat ziah akan mengetahui nya, menurut ku, lebih baik kamu jujur dari sekarang van, tooh kamu tidak bersalah," saran adit pada vano.


"tapi ziah tau kalo kamila mantan saya dit, gimana kalo ia berfikir kalo dia deket-dekat dengan saya hanya akan mencelakai dirinya sendiri" vano masih di landa ketakutan.


"ziah bukan orang seperti itu van"


"tapi bagaimana dengan keluarga nya dit?" adit pun terdiam sejenak.


"ziah tidak mungkin menceritakan hal ini pada keluarga nya van" adit berusaha meyakin kan vano, adit tak ingin ziah mengetahui hal ini dengan sendiri nya, hal tersebut akan membuat ziah semakin marah, bukan hanya pada vano tapi pada dirinya juga, karna ikut menutup-nutupi nya.


"nah gittuu dong, kalo beneran sayang, harus di perjuangkan van," adit menepuk-nepuk punggung vano..


***


Sesui dengan janji vano tadi pagi sore ini ia akan berkunjung ke rumah ziah.


"bismillah,semoga saja ziah tidak marah" gumam vano. Ia pun pergi dengan mengunakan motor nya, namun sebelum ia pergi, terlebih ia izin dulu pada ayah zahra, karna takut ayah zahra mencari nya...


"assalamu'alaikum" sambil mengetuk pintu rumah ayah zahra, tak berselang lama salam dari nya pun di jawab.


"eehh nak vano, ada apa? Tumben sore-sore kesini" tanya ibu zahra.


"ngapunten eteh, saya mau pamit izin pergi sebentar"


"mau kemana van?"


"mau melihat ke adaan ziah teh" jawab vano jujur.


"oalaahh, iya nak silah kan, titip salam sama ziah dan keluarga nya nak, semoga nak ziah segera sembuh, agar bisa mengajar kembali" dengan ramah ibu zahra memberi izin.


Setelah mendapatkan izin, vano bisa pergi dengan tenang..


Tak lupa di jalan ia membeli buah tangan untuk di berikan pada ziah.


Sesampainya di depan rumah ziah, hati vano berdebar tak karuan, keringat dingin membasahi kening dan tangan nya.


"aduhh van, ayolah jangan gini" gerutu vano pada dirinya sendiri, vano pun menghela nafas,dan menghembuskan nya perlahan.

__ADS_1


Vano pun mengetuk pintu rumah ziah, tak lupa ia mengucapkan salam.


"waalaikumsalam eehh nak vano, ayo masuk nak" dengan lemah lembut bunda ziah berkata


"tidak usah bund, saya di sini saja,ziah bagaimana keadaan nya bund?"


"alhamdulillah semakin membaik nak,sekarang dia sudah belajar jalan, katanya bosen duduk di kursi roda mulu" sambil terkekeh bunda ziah menjawab.


"eemmmhh kalo begitu silahkan duduk nak, bunda panggil dulu ziah nya," vano hanya mengangguk, tak lama kemudian fatma keluar bersama ziah, ziah di papah oleh sang bunda.


" bu ziah, bagaimana ke adaan nya?"


"alhamdulillah pak, seperti yang bapak lihat sekarang" jawab ziah ia duduk di kursi yang bersampingan dengan vano.


"ya sudah, di lanjut ngobrol nya,bunda mau ke dalam dulu ya, bunda mau masak" fatma tak ingin mengganggu ataupun menguping obrolan ziah dan vano, karna menurutnya mereka pun memiliki privasi masing-masing.


"buk.... Pak" ucap mereka barengan, dan mereka pun saling berpandangan.


"silahkan bu ziah dulu" ucap vano.


"jangan panggil saya ibu, bukan kah pak vano juga meminta saya jangan memanggil bapak dengan sebutan pak?"


"tapi bu ziah masih memanggil saya dengan sebutan pak,trus saya harus memanggil ibu dengan sebutan apa?"


"nama saja"


"saya pun begitu"


"ada yang ingin saya takan sama kamu" ziah masih merasa canggung jika harus menyebutnya nama.


"tentang?"


"orang yang menabrak saya,bukan kah a vano sudah tau pelaku nya? Begitu pun dengan bang adit!" sengaja ziah memanggil vano dengan sebutan a, agar terdengar lebih sopan


"jika kamu tau orang yang tlah menabrak mu, apa kamu akan meninggalkan saya? Apa kamu akan membenci saya zi? Jujur saya tidak akan sanggup jika harus di benci sama orang yang tlah membuat hati saya nyaman zi" vano menatap ziah, ntah kenapa ketika vano menatap ziah, hati ziah serasa ingin copot dari tempatnya.


"dengan alasan apa saya harus membenci mu?" ziah pun menatap vano, vano pun sama hal nya seperti ziah, hati nya berdebar-debar.


"kamu harus janji sama saya, kamu akan selalu ada untuk saya zi" pinta vano


"saya tidak bisa berjanji akan hal itu, karna saya takut sewaktu-waktu saya tidak bisa menepati nya"


"tapi kamu tidak akan marah atau pun membenci saya kan?"


"untuk apa saya marah pada orang yang tidak bersalah? A vano selama ini selalu menjaga saya, tidak mungkin bukan orang tersebut bersangkutan dengan a vano?"


"orang yang menabrak mu adalah KAMILA, dan orang terus mengikuti mu adalah suruhan kamila!"


"ka-kamila?" dengan suara tergagap ziah berkata.


"dengan alasan apa kamila berbuat seperti itu?" ziah masih tak percaya dengan perbuatan kamila yang begitu nekad.


"kamila meminta saya untuk kembali dengan nya, namun saya tidak sudi jika harus jatuh ke lubang yang sama, karna saya telah menata hati saya untuk seseorang yang membuat saya nyaman, jadi saya mohon sama kamu, jangan pernah pergi meninggalkan saya, atau sampai membenci saya, maafkan saya,gara-gara saya kamu jadi celaka seperti ini" dengan suara gemetar karna menahan tangis vano memohon.


"a vano tak salah,kamila yang terlalu berobsesi dengan a vano, dengan cara apapun dan bagaimana pun akan ia lakukan asal apa yang ia inginkan terwujud a, jadi a vano tak perlu menyalahkan diri a vano seperti ini, karna a vano sudah berusaha menjaga saya" dengan bijak sana ziah menjawab, vano tak menyangka bahwa ziah bisa berfikir sedewasa itu, dan ia tak marah sedikit pun, mungkin kalo orang lain pasti akan marah.


Melihat ziah seperti itu, vano semakin mengagumi ziah,bukan hanya cantik tapi dia juga bijaksana dalam menyikapi masalah.


"semoga saja allah menjawab semua do'a-doa ku,untuk mendapatkan mu zi" gumam vano

__ADS_1


__ADS_2