
Beberapa hari ini, setiap sepulang mengajar ziah selalu menyempatkan diri untuk singgah ke rumah rinayah, ia ingin memberi semangat sahabatnya itu, ia berjanji akan selalu ada di samping rinayah.
"Teh rin, harus sembuh yaaa" ucap ziah.
"Aku tidak bisa berjanji akan hal itu,kemungkin untuk sembuh hanya sedikit" ucap rinayah, ia tersenyum, dengan wajah nya semakin hari teelihat semakin pucat. Namun tak menghilangkan kharimas kecantikan nya.
"tapi aku yakin teh rin akan sembuh" ucap ziah yakin, sebenarnya hatinya pun tak yakin akan ke sembuhan sahabatnya itu, namun ia harus tetap tegar dan selalu mensuport rinayah agar ia bisa bangkit. Ingin rasanya hati ziah menjerit melihat sahabatnya harus berperang dengan penyakit nya itu. Rinayah memang orang yang kuat, tegar, lemah lembut, dan selalu berfikiran dewasa, itu sebabnya yang membuat ziah takut kehilangan rinayah.
"Iya doakan saja yaa" ucap rinayah.
"ziah selalu mendoakan yang terbaik untuk teh rin" ziah memeluk rinayah..
**
2 minggu kemudian rinayah merasakan kontraksi pada perut nya itu,
"Mas kok perut aku sakit ya" ujar rinayah sambil meringis menahan sakit.
"Ya allah dek, apa mungkin kamu mau lahiran dek?" tanya adit panik.
"Gak tau mas, tapi perut aku sakit banget mas, mules banget " rinayah memengang tangan suaminya dengan kuat, ia terus mengatur nafasnya.
" Ya allah dek sabar yaa, mas panggil dulu mamah" ujar adit, lalu meninggalkan istrinya yang sedang sakit.
Tok.. Tok.. Adit mengetuk pintu kamar ibu mertua nya, yang tak lain adalah ibu rinayah.
"Ada apa dit?" tanya sang ibu mertua, merasa heran, karna tidak seperti biasanya menantunya mengetuk pintu kamarnya.
" Rinayah mah, rinayah perut nya sakit mah" ucap adit panik.
"ya allah dit, mungkin istri mu mau lahiran, sebaik nya kita segera bawa saja istrimu ke bidan ya" ujar sang ibu mertua tak kalah panik, dan berbegas memasuki kamar anaknya itu.
"Sakiitt maah" ujar rinayah, sambil menangis mehan sakit nya.
"Sabar ya nak,istighfar sayang" ucap sang ibu menenangkan. Rinayah tak henti-hentinya beristighfar, di sela-sela ringisan nya, ia selalu menyebut asma allah..
"Bertahan lah sayang, sebentar lagi kita sampai" ujar adit menengkan istrinya. Rinayah mengangguk lemah, sambil sesekali meringis menahan sakit.
Di tempat lain, ziah sedari tadi malam tidak enak hati selalu ingat pada sahabat nya rinayah. " Kamu kemana sih teh, tlpn aku kenapa gak di angkat, pak adit juga, semoga kamu baik-baik saja teh." gumam ziah.
Fatma sang ibunda menghampiri anak nya ziah, sang ibu melihat ziah seperti orang yang sedang gelisah.
"Zi kamu kenapa kok kaya gelisah gitu" ucap sang bunda, membuat ziah terjingkat kaget.
"Ya allah bun, bikin ziah jantungan aja deh" ucap ziah, sambil memegang dada nya.
"Bunda nggak bikin kamu kaget kok, kamu nya aja yang dari tadi ngelamun terus" sang ibu duduk di samping putrinya " ada apa zi?" tanya sang ibu.
"Ziah merasa gak enak hati bun, ziah kefikiran terus teh rinayah" ziah menahan tangis nya,ziah memang orang yang terbilang jarang menangis. Akan tetapi jika menyangkut orang-orang yang ia sayang, ziah akan menjadi seorang wanita yang lemah,dan cengeng.
" Rinayah akan baik-baik saja, dia wanita kuat,seperti mu" ucap sang bunda menenangkan,agar sang anak tidak terlalu cemas.
"Tapi bun,kemungkinan sembuh untuk teh rin sangatlah kecil"
"Allah yang maha mengetahui semuanya zi,kita hidup di dunia ini hanya sementara, jodoh, reziki, maut, semua sudah allah atur sedemikian rupa, kita hanya cukup menjalankan tugas dari allah, serahkan semuanya pada allah zi" nasehat sang bunda,
"tapi ziah belum siap untuk kehilangan sahabat ziah bu" air mata ziah luruh begitu saja, sang bunda memeluk putrinya.
"Jika rinayah, bertahan hidup dan ia harus terus menerus menahan rasa sakitnya apakah kamu tidak kasihan pada dia?" ziah tertegun. Tak menjawab pertanyaan sang bunda.
__ADS_1
**
"assalamu'alaikum bu"ucap adit, sambil mengetuk pintu rumah sang bidan.
"waalaikum salam, ya allah bu rinayah," bidan panik melihat rinayah yang terlihat sangat pucat,dan menahan sakit.
"ayok pak bawa bu rinayah masuk" adit mambawa rinayah masuk kedalam, dan di baringkan istrinya di brankar yang ada di rumah bidan,
"sejak kapan dia merasakan kontraksi"
" belum lama bu, karna saya langsung membawa istri saya kesini"
" sepertinya istri,bapak tidak akan mampu jika harus melahirkan normal, karna sangat terlihat sekali bu rinayah lemah,dan sangat pucat, akan beresiko tinggi jika kita mamaksakan nya untuk lahiran normal, untuk bernafas pun ia terlihat kesulitan pak, sebaiknya kita langsung saja bawa bu rinaayah ke rumah sakit pak" ucap sang bidan, karna merasa khawatir dengan ke adaan rinayah. Tak ada pilihan lain, akhirnya semua keluarga menyetujuinya, rinayah di bawa ke rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan rinayah terus menggenggam tangan suami nya dengan eraat, dan terus meringis menahan sakit, yang makin kesini, makin terasa sakitnya.
"Sabar ya dek, bentar lagi kita sampai," ucap adit dan terus menghujani ciuman di tangan istrinya itu..
Sesampainya di rumah sakit, rinayah langsung di tangani oleh beberapa dokter,dan akan segera melakukan oprasi caeesar. Di dal ruangan oprasi sana rinayah sedang berjuang untuk sang buah hati, adit dan keluarga menunggu dengan cemas,mereka trus berdo'a agar kedua nya selamat.
"Kamu bisa ya dek, kamu harus kuat" lirih agung, sedari tadi ia terus saja menangis karna takut kehilangan istri tercinta nya itu.
Di dalam sana terdengar suara tangis bayi yang nyaring,semua yang ada di luar mengucap syukur kepada allah SWT.
Namun berbeda dengan para dokter dan perawat yang ada di dalam ruangaan sana, tiba-tiba saja rinayah terliahat semakin melemah, dan detak jantung nya pun melemah, semua tim dokter berusaha tenang dan berusaha memberikan yang terbaik untuk rinayah, namun nihil usaha nya tidak berhasil, rinayah pingsan, dan kondisinya sangat kritis,
Meskipun berat untuk menyampaikan nya, namun keluarga harus tau,akhirnya para dokter pun keluar dari ruangan.
"dok bagai mana dengan istri dan anak saya? Apakah mereka baik-baik saja? meraka selamatkan dok" tanya adit tanpa jeda kepa sang dokter, sang dokter menarik nafas berat.
"Anak bapak alhamdulillah sehat, namun sang ibu mengalami kritis pak" ucap sang dokter.
"bapaak berdoa kepada allah, semoga ada keajaiban untuk istri bapak" ucap sang dokter menepuk bahu adit. Adit terkulai lemaas, ia tak sanggup untuk menopang hidup, dunia nya seakan runtuh, melihat sang istri tidak sadarkan diri.
"Maaf pak, bayi bu rinayah belum di adzani," ucap salah satu perawat, mendengar bayi nya di sebut adit bangkit dengan susah payah.
"saya ayah nya," ucap adit gemetar, perawat pun mengajak adik masuk kedalam ruangan bayi, adit mengadzani bayi nya dengan mulut gemetar, dan air mata yang jatuh bertumpahan pada pipinya. Seusai mengadzani sang bayi, agung berbisik " doakan mamah mu nak, agar ia sehat, dan dapat berkumpul dengan kita" ucap adit lirih.
Adit keluar dari dalam ruangan bayi, menuju kamar dimana rinayah di rawat.
"Dek banguunn, mas gak sanggup liat kamu seperti ini, kamu bangun ya dek, kamu kan udah janji sama mas, anak kita udah lahir, dia sangaat cantik, sama seperti mu." ucap adit. Namun tak ada jawaban apapun dari bibir manis nya.
Agung tersenyum pahit " Mas tau kamu pasti capek ya, jadi kamu mau istirahat dulu, ya sudah mas tungguin ya sampe nanti adek bangun" ucap adit kembali.
Di tempat lain ziah masih saja terus cemas dan memikirkan rinayah.
"pak adit kemana ya,kok gak masuk sekolah, di tlpn kok gak di angkat-angkat sih, sebaiknya sepulang sekolah aku mampir dulu ke rumah teh rin" gumam ziah sendiri.
Di setiap pelajaran ziah tak fokus, fikiran nya berkelana kemana-mana,
" sepertinya aku gak bisa nunggu lama lebih baik aku titipin anak-anak ke bu rini saja" ziah pun keluar dari kelasnya menuju ruangan guru, dan kebetulan bu rini ada.
" bu boleh saya nitip anak-anak?" tanya ziah.
"lho memang nya bu ziah mau kemana? Tanya nya heran.
"dari semalam saya kefikiran bu rinayah, di tlponin gak di angkat-angkat, saya jadi gak fokus ngajar anak-anak, jadi saya mau mastiin kalo beliau baik-baik saja" ucap ziah.
"yasudah bu, gapapa, titip salam ya sama rinayah, kangen saya sama dia" ucap bu rini,
__ADS_1
Ziah pun pergi menuju rumah rinayah, namun sesampainya di rumah rinayah, rumah terlihat sepi, berulang-ulang ziah mengucap salam namun nihil tak ada jawaban.
Akhirnya ziah pun memberanikan diri bertanya pada tetangga sahabatnya itu.
"permisi bu, maaf saya mengganggu, saya ingin bertanya, apakah ibu tau, teh rinayah dan keluarga nya pada kemana ya?" tanya ziah dengan sopan dan lemah lembut.
" teh rinayah kan mau lahiran neng,ia di bawa kerumah sakit, tadi ada ayah nya pulang sebentar katanya mau bawa baju ganti untuk menantu dan istrinya,karna yang saya dengar katanya teh rinayah sekarang sedang koma" ucap salah soerang ibu-ibu yang berbadan gemuk.
"Ko-koma bu?" ucap ziah terbata, sang ibu hanya mengangguk, ziah pun segera pamit pada ibu-ibu tersebut dan berniat menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan ziah terus menangis.
Sesampainya di rumah sakit, ziah mencari ke adaan keluarga rinayah dan akhirnya bertemu.
"Buuu" ucap ziah dan menghambur ke pelukan ibu rinayah.
" neng kenapa kamu bisa ada di sini, bukan kah ini masih jam pelajaran sekolah" tanya ibu rinayah dengan suara parau.
"dari semalam aku gak tenang bu,mikirin teh rinayah, ziah izin pulang terlebih dahulu dari sekolah" ucap ziah, ziah pun bertanya bagai mana keadaan sahabatnya saat ini, dan ia meminta izin untuk melihat sahabatnya itu.
"masuk lah, di dalam ada adit, semoga saja ia dapat mendengar mu, dan ia bangun" ucap ibu rinayah, ia masuk namun hanya sebentar karna tak sanggup melihat anak kesayangan nya terbaring tak berdaya.
Ziah pun masuk kedalam, ia membekap mulut nya menahan tangisnya,ia tak sanggup melihat sahabatnya seperti itu.
"pak adit" ujar ziah dengan gemetar, adit pun menoleh, matanya sembab dan bengkak, mungkin karna dari semalam ia mengis.
"Bu ziah, rinayah bu" ucap adit terisak.
Ziah mendekati sahabatnya itu, dan memegang tangan shabatnya.
"Teh bangun yuukk, kita semua nunggu teteh, apalagi anak teteh, dia butuh teteh, teteh kan kuat, bangun yuk teh" ucap ziah dengan gemetar. Ziah terus menggenggam tangan sahabatnya itu. Tiba-tida saja ada respon dari rinayah tangannya bergerak.
Ziah menghapus air matanya.
"pak lihat, teh rin mendengar kita" ucap ziah senang, sama hal nya dengan adit. Perlahaan mata rinayah terbuka, dan ia mengulas senyum. Tentu saja hal tersebut membuat adit dan ziah senang.
"Sayang kamu udah bangun? Apa yang sakit?" tanya adit lembut,
" a-ku gak papa mas,ka-mu ja-jangan na-ngis ya, jaga a-anak kita rawat dia dengan penuh kasih sayang, a-ku me-menyayangi mu mas" ucap rinayah lemah dan terbata-bata. Rinayah menoleh ke arah ziah.
"Ka-kamu wanita hebat,kamu jangan cengeng,ka-kamu harus bahagia, aku titip anak ku pada mu, tolong jaga dia, ikhlaskan aku,agar aku bisa pergi dengan tenang" ucap rinayah dengan suara lemah, ziah menggeleng cepat.
"Teh rin harus bertahan teh rin harus sembuh," ucap ziah menangis.
Rinayah menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Mas ikhlaskan aku, aku udah gak kuat, aku sayang pada mu, pada anak kita jaga dia, jangan sakiti dia" ucap rinayah dengan nafas tersenggal dan menghembuskan nya, di hembusan nafas terakhirnya rinayah menyebut nama allah.
"Teh rinaaaaaaayaaaaahhhh" jerit ziahh,
"dek bangun dek bangun " agung mengguncang tubuh istrinya.
Orang-orang di luar yang mendengar jeritan ziah pun tersontak kaget.
"pah ada apa dengan rinayah,cepat panggil dokter" perintah ibu riinayah pada suaminya.
Sang dokterpun segera masuk kedalam ruangan dimana rinayah di rawat, ia memeriksa ke adaan rinayah, setelah di periksa memang nyawa rinayah sudah tidak ada.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, bapak dan keluarga yang tabah, saya turut berduka cita" ucap sang dokter lalu pergi meninggalkan keluarga rinayah.
"Paah anak kitaa paahh"ucap ibu rinayah sang suami memeluk istrinya dengan erat ia memberi kekuatan pada istrinya walaupun dirinya sendiri pun rapuhh.
__ADS_1