Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
47. Ketakutan


__ADS_3

Setelah seorang pria tersebut pergi, ziah bertanya dengan gemetar.


"apakah wanita yang di maksud orang tersebut adalah saya?" ziah menatap vano


"bisa jadi, jadi kamu harus lebih hati-hati lagi, sebaiknya bu ziah tak membawa motor sendiri" ucap vano.


"tapi apa salah saya? Prasaan selama saya hidup saya tak memiliki musuh, apakah ada orang yang tak menyukai saya? Atau bahkan membenci saya?" ziah sangat ketakutan, ia tak tahu bahwa keselamatan akan mengancamnya, semua itu adalah ulah kamila..


"bu ziah tenang dulu ya, semua akan baik-baik saja percaya pada saya ya bu" vano mencoba menenangkan ziah, yang tengah ketakutan, sebenarnya vano ingin sekali berbicara semua ini adalah rencana busuk kamila, namun vano takut ziah menjauhi vano, jika ziah menjauhi vano, tentu saja vano tak bisa memperhatikan ziah dari dekat. Semua itu akan membuat aksi kamila lebih mudah.


"sekarang kita pulang dulu ya bu, lebih cepat sampai rumah lebih baik, kalo bisa kalo ibu mau pergi kemana-mana jangan sendiri ya bu" pesan vano, ziah hanya mengangguk saja. Vano dan ziah pun melanjutkan perjalanan nya menuju rumah ziah. Di sepanjang perjalanan ziah tak hentinya menangis, ia kefikiran dengan pria tersebut, ziah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa orang tersebut, dengan alasan apa dia mengikuti nya? Itulah yang saat ini yang berkecamuk di fikiran ziah.


Sesampainya di rumah, ziah masuk memanggil-manggil bundanya, ketika sang bunda menghampirinya. Ziah langsung menghambur kepelukan sang bunda.


"lho zi, kenapa kamu kok tangan kamu dingin gini, kenapa kamu kaya ketakutan gini, ada apa nak?" sang bunda panik melihat putrinya seperti yang ketakutan.


"ziah takut bund, tapi ada orang yang memata-matai ziah,sampai-sampai dia mengikuti ziah, untung saja pak vano mengantar ziah pulang, kalo nggak. Gak tau ziah harus gimana bund" ziah masih terisak di pelukan ibunya.


"memata-matai maksud kamu apa nak? Prasaan selama ini kamu gak punya musuh, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang yang memata-matai mu, apa tujuan nya?" sang bunda merasa khawatir, ia takut terjadi apa-apa sama putri kesayangannya itu.


"bunda tenang aja, bunda gak usah khawatir bu ziah akan baik-baik saja, asalkan kalo bisa jangan biarkan bu ziah keluar sendirian ya bund" vano mencoba menenangkan situasi yang cukup menegangkan itu, sebenarnya hatinya pun merasa khawatir pada keselematan ziah, namun ia berusaha tenang. Vano harus bisa menyelamatkan ziah dari ancaman kamila, karna vano yakin 100% bahwa itu ulah kamila, jadi vano harus berhati-hati pada kamila yang memiliki sifat licik itu.


"terus kalo ziah mau pergi kemana-kemana harus di dampingi siapa? Sedang ayah dan kakak nya selalu sibuk, terlebih kakak nya yang sangat jarang sekali di rumah nak vano" ucap bu fatma pada vano.


"bunda tenang saja, saya bersedia mengantar ziah, kemana pun ziah mau pergi, bu ziah maupun bunda bisa menghubungi saya, kalo ada perlu apa-apa" tanpa berfikir panjang vano berkata demikian, ia tak ingin terjadi apa-apa pada ziah,karna tak di pungkiri ini semua kesalahan ziah, kalo saja vano tak mengajak ziah untuk menemui kamila, mungkin ziah tak akan terancam seperti ini. Jadi vano harus bertanggung jawab, tapi ia tak ingin ziah mengetahui nya, karna bisa saja ziah menjauhi vano, bahkan bisa jadi sampai membencinya, vano tak ingin itu semua terjadi karna vano tak ingin kehilangan ziah.


"sebelumnya makasih nak,tapi apa tidak merepotkan?" tanya fatma ragu dan tak enak hati.

__ADS_1


"sama sekali tidak bund,emmmhh kalo begitu saya pamit pulang dulu bund, biarkan bu ziah menenangkan hatinya, bu ziah jangan terus difikirkan ya,nanti ibu sakit. Ibu istirahat saja ya, kalo ada apa-apa langsung hubungi saya ya bu" pesan vano pada ziah. Ziah hanya menganggukan kepalanya dengan lemah,ziah takut karna seumur hidup nya, baru kali ini hidup merasa tidak aman.


Vano pun pergi pulang,namun ia tak langsung pulang, vano singgah terlebih dahulu kerumah wafda dan adit, vano akan menceritakan semuanya, sekaligus meminta tolong pada adit.


"assalamu'alaikum" sapa vano dari luar


"waalaikumsalam, eh bang. Tumben kesini lagi,praaan baru kemarin abang kesini" ucap wafda pada abangnya itu.


"kamu gak suka abang sering datang kesini?" dengan muka masam vano bertanya.


"eeehh bukan gitu bang, baperan amatlah punya abang" ucap wafda. Wafda melihat abang, ia menyadari sesuatu dari abangnya itu.


"abang kenapa? Abang ada masalah? Kok mukanya masam gitu sih ada apa bang?" tanpa jeda wafda bertanya. Vano menghela nafas berat.


"ziah terancam da, ini semua gara-gara abang" lirih vano


"kamila menyuruh anak buah nya untuk memata-matai ziah,sepulang sekolah tadi anak buah kamila terus mengikuti ziah, sampai-sampai ziah ketakutan da" dengan berat vano menceritakan nya pada wafda.


"terus kenapa abang bisa tahu kalo orang itu sedang mengintai teh ziah, dan kenapa abang tau kalo itu anak buah mila" wafda masih heran dengan apa yang abangnya katakan.


"karna abang tadi mengantarkan pulang ziah, sedari awal mula di sekolah hati abang sudah tak enak da, jadi abang memaksa ziah agar ia mau abang antar akhirnya dia mau, dan firasat abang tak salah, ternyata anak buah kamila sedang memata-matai ziah, soal abang bagaimana bisa tahu kalo abang bisa yakin bahwa itu anak buah mila, karna pas abang main ke rumah mila, orang tersebut berada di rumah mila da, abang takut ziah kenapa-napa, kalo saja waktu itu abang tidak egois dan tidak mengajak ziah untuk menemui mila, mungkin ini semua tidak akan terjadi da" vano sungguh menyesel dengan perbuatan nya,ia tak berfikir panjang. Yang saat itu ia fikirkan adalah ia bisa membuktikan pada kamila bahwa vano sudah benar-benar melupakan kamila.


Saat mereka berdua sedang mengobrol, adit datang dengan membawa hawa. Karna menunggu sang istri tak kunjung juga masuk ke dalam rumah, akhrinya adit menyusul wafda keluar.


"lho ada vano, kenapa gak di ajak ke dalam da? Van kenapa kamu?" adit bertanya pada vano, karna wajah vano terlihat sendu. Adit memang menyebut vano dengan sebutan nama tanpa ada embel-embel pak atau pun bang, karna itu permintaan vano, tanpa kecuali sedang berada di lingkungan sekolah.


"duduk dulu mas, biar hawa saya gendong" wafda bangkit dari duduknya dan ia mempersilahkan suaminya untuk duduk di kursi teras depan rumahnya.

__ADS_1


"makasih da" adit memberikan hawa pada wafda, wafda pun izin pamit masuk kedalam,untuk membuatkan mereka minum.


"ada apa van? Kenapa muka kamu masam gitu? Prasaan pas tadi di sekolah kamu keliatan seneng banget deh!" tanya adit bingung.


"ziah, dit" hanya itu yang keluar dari mulut vano.


"ziah? Ziah kenapa van, ziah baik-baik aja kan? Bukan nya tadi dia pulang di antar kamu? Adit mencecar vano dengan pertanyaan-pertanyaan nya.


"ziah sedang tidak baik-baik saja dit, tadi sepulang sekolahh.... " vano menceritakan dengan detail pada adit, tentang kejadian barusan. Adit mendengarkan nya dengan seksama, sesakali adit mendesah, adit tak menyangka kalo itu semua akan berakibat fatal untuk ziah. Ziah yang niatnya ingin membantu malah di ambang bahaya.


"saya harus bagaimana dit? Sedangkan saya tidak bisa ada di setiap saat untuk ziah, mengingat saya berada di lingkungan pondok, saya merasa tidak enak hati, kalo terlalu sering keluar masuk pondok dit" vano merasa prustasi, padahal ia sudah janji akan ada setiap saat pada saat ziah membutuhkan bantuanya.


"kamu tenang saja van, kan ada saya,biarkan untuk beberapa hari ini saya akan mengantar jemput ziah van,kamu gak usah khawatir" adit menepuk-nepuk pundak vano.


"ini semua salah saya dit,kalo saja saya tidak meminta bantuan pada ziah untuk berpura-pura menjadi pacar saya bahkan saya berkata bahwa ziah adalah tunangan saya, mungkin semuanya tidak akan terjadi mungkin sekarang ziah tidak merasa ketakutan dit, saya kasihan melihat ziah seperti yang sangat ketakutan dit" vano sungguh sangat menyesali perbuatan bodohnya itu.


"wajar saja ziah seperti itu, karna setau saya dia tidak pernah memiliki musuh, bahkan ziah adalah orang yang pemaaf dan bukan orang yang bisa menyimpan dendam, jadi banyak orang yang sangat menyayangi ziah, pasti dia akan merasa ketakutan" adit berkata demikian karna, mediang istrinya selalu bercerita tentang ziah, tak ada keburukan sedikitpun yang mediang istrinya ceritakan tentang ziah, semua yang rinayah cerita tentang kebaikan ziah.


"jadi saya harus gimana dit?" vano menatap adit.


"kita harus berhati-hati dan mejaga ziah, karna dia bisa kapan saja datang menemui ziah, bahkan mungkin ia berani untuk mencelakai ziah, van" ujar adit.


"memang itu tujuan kamila, ia tidak akan merasa puas, kalo orang yang ia incar masih terlihat baik-baik saja dit" dengan gusar vano berkata.


"kita bedo'a saja, semoga semuanya cepat selesai, dan mantan mu itu bisa menyadarinya bahwa perbutan buruk nya itu sama sekali tidak akan menguntungkan bahkan hanya akan merugikan nya" adit mencoba menenangkan vano, adit tau apa yang kini vano rasakan, merasa bersalah? Ya tentu saja!. Merasa khawatir itu yang saat ini vano rasakaan, marah, khawatir, merasa bersalah, semua berkecamuk dalam otaknya.


"***balas dendam yang indah itu,dengan berbuat kebaikan" ***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya man teman-teman suport terus cerita receh ku ini 🤗🤗🤗🤗🤗☺☺☺


__ADS_2