
Sepulang dari rumah hawa, ntah kenapa vano semakin kefikiran ziah,wajah ziah yang cantik dan teduh itu selalu saja menari-nari di otak dan fikiran nya.
"aahhhh ziii, pandai sekali kau membuat orang jatuh hati pada mu" gumam vano sambil menjatuhkan badan nya kasur. Vano terus saja tersenyum sendiri. Namun suara notif pada hp nya mengganngu nya.
"siapa sih? Gak tau apa orang lagi ngehayal" dumel vano kesal, namun dahi vano mengerut. Karna chat yang masuk ke hp nya adalah no baru.
"siapa sih?" gumam vano. Ia tak mengenali no tersebut.
"hay van apa kabar?" isi pesan chat yang masuk ke HP vano. Vano mengerutkan dahi nya, ia terus bertanya-tanya siapa yang chat dia dengan no baru, tanpa ada fotonya.
"siapa ini?" tanya vano tanpa basa basi, namun balasan vano hanya centang 2 biru, tanpa ada balasan dari orang tersebut. Dan tiba-tiba saja handpone vano berdering, dan seseorang yang chat vano menelpon nya, vano segera mengangkat nya, karna ia penasaran siapa pemilik nomor itu. Vano pun segera mengangkat sambungan telpon tersebut.
"halo siapa ini? Kenapa anda bisa tau nama saya dan no saya?" tanya vano tanpa basa basi. Seseorang yang di sebrang telpon sana pun terkekeh.
" kamu masih sama seperti dulu ya van, masih saja bersikap seperti itu" ucap nya. Vano seketika tertegun, ia sangat mengenali seorang penelpon itu.
"kamu, dari mana kamu dapat nomor saya?" tanya vano geram, padahal ia sudah melupakan orang tersebut dengan susah payah, setelah vano bisa melupakan nya, dengan mudah orang itu hadir kembali, bahkan di saat hati nya sudah menyukai wanita lain, yang tak bukan adalah ziah.
"santai dong, saya tau kamu belum bisa melupakan saya kan?" dengan percaya diri wanita tersebut berkata demikian. Vano semakin geram di buatnya.
"ingat ya kamila, sudah dari sejak dulu saya melupakan mu, apa kamu fikir saya tak bisa hidup tanpa mu? Maaf kamila yang terhormat saya bukan laki-laki yang lemah" vano menekan setiap ucapan nya.
" pandai sekali kau berbohong,bukan kah dulu kau sangat tergila-gila pada ku, vano?" dengan percaya diri wanita tersebut berkata demikian. Namun vano tak menggubris ucapan kamila.
"ada perlu apa kamu sama saya? Oohh apa kamu sudah tidak berbuhubungan lagi dengan selingkuhan mu itu? Tanya vano dengan suara meledek. "maaf kamila, nama mu sudah tidak ada dalam daftran hati saya, karna sekarang saya sudah memiliki wanita yang lebih baik darimu, bahkan lebih cantik dan istimewa" lanjut vano, mendengar perkataan vano tentu saja kamila emosi bukan main, namun kamila tak percaya begitu saja dengan ucapan vano.
"betulkah itu? Kalau memang kamu sudah memiliki kekasih, bawalah dia kehadapan ku?" tangtang kamila pada vano, tanpa berfikir panjang vano menyetujui.
"baiklah, jika itu mau mu, akan saya bawa wanita yang kini tlah mengisi hati saya sekaligus mengobati luka di hati saya,yang kamu torehkan" lagi-lagi vano menekan kan setiap ucapan nya. Kamila semakin tersulut emosi dan amarah, bagai mana mungkin vano bisa melupakan nya, bahkan saat kamila memilih meninggal vano. Vano begitu sangat terpukul bahkan seperti orang yang kehilangan akalnya.
"saya tunggu vano" ucap kamila dengan emosi, ia mematikan sambungan telpon nya, dan melempar ponsel ke sembarangan tempaatt
" AAAARRRRGGGHHHHH" kamila menjerit dan mengobrak abrik isi kamar nya, ia tak terima jika ada wanita lain yang masuk kedalam kehidupan vano selain dirinya.
"lihat saja saya tidak akan tinggal diam vano, saya akan mendapatkan mu kembali" racau kamila.
***
Sedangkan vano masih tertegun, bagai mana mungkin kamila bisa hadir kembali di kehidupan nya, 1 tahun lalu. Kamila yang vano damba-dambakan bahkan vano sangaat mencintai kamila, bahkan vano sudah berniat akan mempersunting kamila.
__ADS_1
Namun sayang seribu sayang, kamila berselingkuh dengan pria lain, bahkan kamila meninggalkan vano begitu saja, kamila lebih memilih selingkuhan nya itu, pada saat itu pula dunia vano terasa hancur. Bahkan vano lebih sering mengurung diri di kamar. Sang ibu pun sudah bingung harus berbuat apa.
Untung saja pada saat itu di sisi vano ada wafda adit sepupunya yang selalu memberi suport. Bahkan wafda memberikan nasihat pada vano.
"bang, abang yang wafda kenal gak lemah kaya gini, abang kenapa seperti kehilangan semangat hidup hanya karna wanita itu, seharusnya abang bisa bangkit, jangan nyaman dalam zona keterpurukan gini, yang ada kamila merasa menang, karna abang tak bisa bersemangat hidup tanpa dia, dia akan semena-mena pada abang, ayolah bang, abang harus bisaa bangkit" kala itu wafda terus saja memberi suport pada abang sepupunya itu.
"tapi itu tidak mudah da,tidak semudah membalikan telapak tangan ini da, abang sudah menentang ayah dan bunda, tak ingin menerima perjodohan yang mereka rencanakan, hanya karna untuk satu wanita yang abang cintai da. Tapi kenapa bisa seperti ini daa,kenapaa? " tanya vano pada wafda sambil mengguncangkan tubuh wafda.
"lalu kalau abang terus seperti ini apa abang bisa mengulang kembali? Menerima perjodohan itu? Dan sedangkan wanita yang akan di jodohkan dengan abang pun sudah bahagia dengan wanita lain bang, abang jangan membodohi diri mu sendiri hanya karna wanita itu" ucap wafda. Vano hanya terdiam ia menyugar rambutnya dengan kasar.
Vano tersadar dari lamunan nya, ia tersenyum kecut.
"jangan harap aku akan kembali dengan mu wanita murahan" ucap vano dengan dada memburu menahan amarah. Vano saat ini sangat benci pada kamila, bukan hanya meninggalkan nya saja, tapi dengan mudah kamila memberikan mahkota berharganya pada pria yang jelas-jelas bukan suaminya.
"apa kau fikir saya bodoh kamila, setelah kau tlah memberikan mahkota berharga dalam tubuh wanita pada pria yang bukan mahrom mu, dan dengan mudah kau tiba-tiba saja datang kembali pada saya? Jangan harap kau bisa mendapatkan hati saya kembali kamila" vano terus saja berbicara sendiri. Bukan cinta lagi yang hinggap dalam hati vano, namun sebuah kebencian yang kini menyelimuti hatinya.
Setelah beberapa hari lalu vano mendapatkan pesan chat dari mantan nya kamila, vano hati nya semakin gelisah, ia harus mencari cara agar ziah mau di ajak dinner oleh vano, sekaligus untuk membuktikan, bahwa vano sudah move on dari kamila.
"tapi bagai mana caranya?" vano berfikir keras.
"aaaahhh iyaa, wafda dan adit,mungkin mereka bisa bantu saya" gumam, vano memiliki ide,ia akan meminta bantuan pada wafda dan suaminya, yang tak lain adalah adit.
[ da bisa ketemu gak?] tanya vano. Lama vano menunggu balasan dari wafda, akhirnya wafda membalas.
[ kalau abang mau ketemu aku, ke rumah aja bang, aku gak bisa keluar di tambah hawa lagi demam] balas wafda. Vano membaca pesan dari wafda.
[ok nanti abang ke rumah] balas vano
[ok di tunggu bang] balas wafda, namun vano hanya membaca pesan dari wafda.
***
Vano pun berkunjung kerumah wafda dan adit, tak lupa ia selalu membawa buah tangan untuk hawa.
"assalamu'!alaikum" ucap adit
"waalaikumsalam, eh bang ayok masuk" ucap wafda, vano pun membuntuti wafda dari belakang.
"nih buat hawa" vano menyodorkan kantong plastik pada wafda.
__ADS_1
"wah repot-repot bang, makasih ya" ucap wafda. Vano hanya mengangguk
"tumben bang ngajak ketemu ada apa?" wafda menatap abang sepupunya itu. Vano menghela nafas berat.
"kamila" ucap vano dengan berat. Wafda menautkan kedua alis nya.
"kamila mantan abang yang selingkuh dan menyebalkan itu?" cecar wafda. Wafda memang tak menyukai kamali sedari sejak vano dan mila menjalin hubungan, wafda tak menyukai mila karna sifat dan tak memiliki sopan santun.
Mendengar perkataan wafda vano mengangguk.
" kapan abang ketemu sama dia?" tanya wafda dengan nada tak suka.
"nggak da, abang belum ketemu sama dia. Dia ngechat abang," ucap vano
"lalu abang membalas nya?" wafda menatap vano.
"iya karna abang gak tau kalo itu mila, setelah itu dia menelpon abang dan....." vano menggantung ucapan nya.
" dan apa?" tanya wafda penasaran
"dan dia menyangka kalau abang belum bisa move on dari nya, dia dengan besar kepala dan dengan percaya diri kalau abang mau kembali padanya, karna dia tahu pada saat abang di tinggalkan mila, abang seperti orang yang kehilangan akal sehat, tapi percaya lah da, abang sudah tak ada rasa sedikit pun pada dia, malah abang ilfil dan benci pada nya" ucap vano panjang lebar.
"dan mila menantang abang, kalau abang sudah move on dari nya dan sudah memiliki kekasih, ia meminta abang untuk menemuinya, bersama kekasih abang"
"maksud abang, abang ngomong sama dia kalau abang sudah memiliki kekasih?" lagi-lagi vano mengangguk.
" apakah abang menyukai teh ziah?" tebak wafda, wafda tahu betul watak abang nya itu.
"sejak abang mengajar di sekolah, ntah kenapa da,kalau liat muka ziah rasanya nyaman dan bikin teduh" ucap vano jujur.
"tapi kenapa abang tak berbicara pada pada teh ziah kalau abang menyukainya?"tanya wafda sedikit kesal.
"abang takut ziah tak menyukai abang, tapi abang berjanji pada diri abang sendiri abang akan berjuang untuk mendapatkan hati ziah, jadi tolong bantu abang, da" ucap vano dengan penuh harap.
" aku harus bagaimana bang, aku juga setuju bangeet kalau abang sama teh ziah, dia itu wanita baik-baik dan sholehah" ucap wafda memuji ke anggunan ziah.
"tanyakan pada suamimu da,dan yang paling penting sekarang abang harap ziah mau abang ajak dinner sekalian buat ketemu sama mila, untuk membuktikan bahwa abang sudah benar-benar melupakan nya" ucap vano dengan menggebu-gebu.
"akan ku coba bang, aku dukung abang semangaat abang" wafda menyemangati vano. Vano pun tersenyum, vano berharap semoga saja wafda bisa membantunya.
__ADS_1
" waktu semua hanya soal waktu, hitam atau putih, baik atau buruk, sedih maupun bahagia, semua akan berlalu begitu saja, tak ada yang abadi"