
Ziah siap membantu vano, karna ia merasa kasihan pada vano.
" kalo cuman bantu buat pura-pura gak ada salahnya bukan?" tanya ziah pada dirinya sendiri. Ziah agak sedikit terkejut tak kala mendengar apa yang di katakan adit, bagainama mungkin seorang vano bisa di khianati, fikirnya. Dan ziah semakin bingung, kenapa sekarang wanita yang selama ini meninggalkan vano tiba-tiba saja kembali?
"apa pak vano akan kembali pada wanita tersebut? tapi kenapa pak vano mengajak aku dinner dan pura-pura jadi pacarnya? Apa dia sudah enggan untuk kembali lagi karna sudah kecewa?" ziah terus saja menerka-nerka ucapan nya sendiri. Saat ziah sibuk dengan fikiran nya sendiri, hp ziah tiba-tiba bunyi.
Dreeettt.. Dreeetttt... Dreetttt. Hp ziah berdering. Ia pun mengambil ponsel nya yang ada di atas nakas. Lalu melihat siapa yang menelpon nya malam-malam begini..
"Pak vano" gumam ziah. Ziah mengangkat nya.
[ assalamu'alaikum pak, ada yang bisa saya bantu?] sapa ziah dari telpon, padahal ziah sudah bisa menebak, vano menelpon pasti akan membicarakan hal yang sama, seperti yang adit bicarakan.
[ waalaikum salam bu, maaf sudah mengganggu jam istirahat nya, namun saya hanya ingib memastikan, apakah benar yang di katakan pak adit kalo ibu bersedia membantu saya?] tanya vano tanpa basa basi kesana kemari.
[ iya] jawab ziah singkat. Vano malah makin senang jika ziah bersikap acuk tak acuh padanya, karna hal tersebut membuat vano semakin menyukai ziah. Vano mengagumi ziah, karna dia bukan tipe wanita yang tidak gembor sana sini, cari perhatian lawan jenisnya.
[sebelumnya terimakasih bu, karna bu ziah telah bersedia membantu saya, eemmmhh kira-kira ibu kapan memiliki waktu senggang?] tanya vano masih dengan lemah lembut
[minggu] ziah menjawab masih dengan sifat ambigu nya.
[ jadi minggu kalau minggu ini saya mengajak bu ziah menemui mantan saya dan berpura-pura menjadi kekasih saya bu ziah siap?] vano dengan bahagianya bertanya.
[ boleh saja] bukan tanpa alasan ziah bersikap demikian, ia takut hal yang tak ia inginkan terjadi lagi, jujur saja ziah tak menampik, bahwa ziah mengagumi vano. Vano terlihat sangat lembut dan penyayang terhadap siapa pun, dan ziah pun sedikit demi sedikit tlah merasa nyaman berada di dekat vano.
"jangan zi, kamu jangan gampang terbuai sama laki-laki yang seperti itu, kamu tidak tahu bagaimana hatinya" rutuk ziah dalam hati dirinya sendirii...
[minggu sore saya jemput ya bu] ajak vano.
[ya, pak udah kan gak ada lagi yang mau di bicarakan? Saya mau istirahat] ketus ziah, vano hanya terkekeh, merasa lucu pada ziah.
"kalau kamu deket udah aku cubit pipi mu zi] lirih vano dalam hati.
[ paakkk] panggil ziah, vano tersadar dari lamunan nya, ia malah asyik senyum-senyum sendiri, kalau ziah melihatnya pasti dia malu sendiri.
[ i-iya bu, maaf saya sudah mengganggu,kalau begitu saya tutup telpon nya bu, selamat malam bu, semoga mimpi indah, jangan lupa baca do'a bu] ucap adit, sebelum sambungan telpon nya terputus.
Setelah telpon di tutup ziah senyum-senyum sendiri.. Begitu pun dengan vano, mereka sibuk dengan fikiran nya masing-masing, merasa bingung dengan prasaan nya mereka sendiri, terlebih pada ziah. Hati ziah berkata ia nyaman dengan vano, namun ia takut akan terjadi lagi hal seperti itu.
"jangan sampai kamu terjatuh pada lubang yang sama zi, vano hanya meminta bantuan mu, untuk berpura-pura menjadi pacarnya,kamu jangan sampai baper ya zi" gumam ziah.
***
Hari minggu pun tiba, sesuai janji vano, ia akan menjemputnya ke rumah ziah, dan meminta izin pada orang tua ziah. Sedang ziah masih bingung memilah milih pakaian mana yang cocok ia kenakan.
__ADS_1
"aduuhh kok aku jadi deg-degan dan gak pede gini sih,biasa nya juga gak sampe lama aku milih baju, kok sekarang beda sih, padahal mau jalan sama orang lain bukan siapa-siapa, ayo dong zi, mohon kerja sama nya, kamu kan udah janji gak bakalan baperr" ziah mengetok-ngetok jidat nya dan merutuki dirinya sendiri.
Tokk. Tokk, " zi, di luar udah ada yang nungguin kamu lama banget sih zi" ucap sang bunda dari luar.
"i-iya bun bentarr" jawab ziah tergagap, akhirnya sang bunda pun masuk ke dalam kamar putrinya itu.
" ya allah zi, dari tadi kamu gonta ganti pakean, sampe baju yang di lemari keluar semua zi,biasa nya juga gak gitu" sang bunda heran dengan sikap putrinya itu.
"sssssttt bund, nanti kedengeran ke luar aku malu, ini aku udah beres,bagus gak, cocok gak?" tanya ziah.
"baguss dan cocok sekali, kamu makin cantik deh" puji sang bunda membuat ziah salah tingkah.
"aahh bundaa"
"udah ayo kasian teman mu lama nungguin" sang bunda menarik tangan ziah.
Saat tiba di ambang pintu luar hati ziah semakin berdetak tak beraturan.
"nakk" ucap fatma ibu zahra pada vano. Vano pun melirik ke arah fatma dan ziah. Mata vano tak berkedip sama sekali, ia memandang ziah, vano sangat terpesona dengan kecantikan ziah, yang di tambah dengan make up yang tipis natural.
"eeekkhhhhmmm" fatma berdehem, sedetik kemudian vano menyudahi pandangan nya pada ziah, ketika ziah di pandang begitu lama oleh vano, debaran jantung ziah semakin kencang, seakan-akan jantung nya akan lepas dari tempatnya.
"bun-bunda" vano malu dan salah tingkah.
"iya nak vano silahkan, ziah juga sudah izin sama bunda,tapi kalian hati-hati ya, vano tolong jagain ziah ya" pinta fatma.
"bundaaa ziah ini udah gede, ziah bisa jaga diri ziah sendiri bun" ziah menyela perkataan sang bunda.
"iya anak bunda udah gede,yasudah sana kalian berangkat, nanti keburu sore lagi" fatma menyuruh kedua untuk berangkat, keduanya pun pamit.. Berangkat, ziah di bonceng oleh vano.
"pegangan nanti jatoh" perintah vano
"gak" tolak ziah.
"ya sudah kalo jatoh bukan salah aku ya" ucap vano santai. Ziah masih dengan pendirian nya ,tidak berpegangan pada vano.
"bu, nanti di depan mila ibu, harus bersikap romantis ya, jangan judes-judes bisa ketahuan bohong saya, kalo ibu judes gitu" ucap vano
"heeemm" hanya itu yang ziah keluarkan dari mulut nya. Saat ziah sedang menikmati perjalanan yang sejuk karna di sore hari, tiba-tiba saja vano mengencangkan motornya, tanpa vano sadari di depan sana ada polisi tidur.
Jluuuugggggg. Refleks saja ziah langsung memeluk pinggang vano.
"aaaawwww, bisa pelan-pelan gak sih bawa motor nya,apa bapak lagi cari kesempatan dalam kesempitan ya?" omel ziah namun tangan nya masih memegang pinggang vano.
__ADS_1
"maaf bu saya gak liat" ucap vano jujur, memang ia tak tahu kalo di depan ada polisi tidur,tapi ada benarnya yang di katakan ziah, vano sangat bahagia pada saat ziah memeluknya, kapan lagi bisa seperti itu, fikir vano.
Setelah adu mulut gara-gara polisi tidur akhrinya mereka sampai di tempat tujuan yang tlah mila tentukan. Vano melirik kesana kemari ia tak melihat penampakan kamila.
"saya sudah sampai dengan kekasih baru saya, kamu masih di mana?" chat vano pada mila.
"tunggu sebentar lagi saya sampai" balas mila, vano hanya membaca isi pesan dari mila tanpa ada niatan membalas nya
"mana mantan mu itu? Belum datang?" ziah celingukan melihat orang-orang di sekitarnya.
"belum, ayo kita tunggu disana" vano mengajak ziah duduk di kursi yang masih kosong.
"kita pesen makanan dulu aja" ucap vano lalu memanggil salah satu pelayan di tempat ia singgah.
" kamu mau makan apa?"tanya vano melirik ke arah ziah.
"terserah deh, sama aja kaya kamu. Kita gak nunggu dulu mantan mu itu?" ziah menatap vano.
"gak males, nanti lapernya ilang gara-gara liat dia, kita kan mau dinner berdua, nanti juga kalau udah ketemu dan aku udah buktiin bahwa aku sudah melupakan nya kita langsung pergi aja" ucap vano enteng,
Akhirnya makanan yang vano pesan tlah datang, namun batang hidung kamila belum juga nampak terlihat, vano dan ziah sedang menikmati hidangan yang di sajikan oleh pelayan, hingga makanan nya tersisa setengah, akhirnya oranng yang mereka tunggu tiba.
"akhirnya kamu datang juga, saya kira kamu gak bakalan datang" tanpa basa basi vano berkata demikian dengan wajah sinis nya.
"aaa..." kamila hendak akan berbicara, namun vano tak memberi nya kesempatan, ia sudah enggan mendengar suara mila..
"oh iya,kenalin ini calon tunangan ku, katanya kamu mau tau kan? Terbuktikan dia lebih cantik dari anda?" vano menekan kan suaranya.
"bahkan dia lebih istimewa, jadi anda salah besar kalau mengira saya belum bisa melupakan anda, karna dia lebih dari segela nya dari pada anda" vano agak sedikit meninggikan suara nya,tentu saja hal tersebut mencuri perhatian pengunjung cafe, banyak sepasang mata yang menatap ke arah mereka.
"oohh apa mungkin anda yang belum bisaa melupakan saya? Setelah semua nya terjadi anda berhianat di belakang saya, ternyata anda belum melupakan saya? " tanya vano dengan tersenyum sini.
Kamila tak sedikit pun di beri kesempatan untuk berbicara, kamila fikir vano akan dengan mudah bisa kembali dengan nya,tentu saja tidak.
" maaf kamila, saya sudah cukup lama menunggu anda di sini,sekarang sudah waktunya kami pamit pergi, kamu hanya butuh bukti saja bukan,? Kalau saya sudah benar-benar melupakan anda?" tanpa basi basi vano menarik dan merangkul ziah, mereka melewati kamila begitu saja, wajah kamila merah padam menahan amarah pada vano.
"Vanooooooooooooo" teriak kamila membuat semua orang melihat kamila seperti orang kesurapan.
"lihat saja van, tak akan ku biarkan kau hidup bahagia, kau harus menjadi milik ku van" kamila mengepalkan tangan nya dengan erat hingga urat-urat di tangan nya pun nampak terlihat.
" ***HATI"***
"tetaplah berperasangka pada apapun yang terjadi,pada siapapun yang datang dan pergi. Jangan menyimpan dendam dan amarah pada keadaan, percayalah bahwa setiap ujian yang datang,hadir untuk menguatkan 💞💞"
__ADS_1