Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
20. Membawa zahra ke rumah agung


__ADS_3

Setelah beberapa hari menikah, mereka belum masuk sekolah karna di beri cuti 1 minggu, jadi masih ada waktu untuk beristirahat sejenak.


Keseharian agung di rumah zahra hanya berdiam diri di kamar, ia akan keluar saat makan, ke mesjid, atau tidak bersinggah ke kobong para santri. Bukan tanpa alasan agung seperti itu, ia hanya masih merasa canggung,jika berhadapan dengan orang tua zahra. Bahkan agung tak pernah menyangka, bahwa gurunya itu akan menjadi mertuanya.


" a apa aa nggak jenuh di kamar terus, sekali-kali santai nya di ruang keluarga,atau di teras rumah gitu" ucap zahra yang sekarang bergelar menjadi istri.


" aa masih malu teh,aa juga bingung, diem di kamar mulu malu,keluar juga masih malu" ucap agung yang merasa serba salah " atau nggak kita ke rumah aa aja mau teh" sambung agung kembali.


Zahra berfikir sejenak, mungkin jika ia menginap di rumah agung,hal yang sama pun akan di rasakan nya.


"kalo nginep mah zahra mau a" ucap zahra


"teh apa teteh mau sebelum kita punya rumah, teteh tinggal dulu di rumah aa" ucap agung srius, kalo zahra tak mau sama saja seperti membantah suami, tapi ia belum mau jauh-jauh dari ayah dan ibunya, meskipun jarak rumah mereka tak terlalu jauh. Karna sudah lama zahra menantikan kebersamaan dengan ayah dan ibunya itu.


"yasudah a, terserah aa saja, tapi aa janjikan mau sering-sering ajak zahra ke rumah umi dan abi" ucap zahra, agung pun tersenyum,lalu meraih tangan istrinya itu, " kapan pun kamu mau ketemu orang tua mu, aa tidak akan pernah melarang" ucap agung.


Zahra terharu dan merasa bahagia karna memiliki suami seperti agung.


"makasih a" ucap zahra lalu memeluk agung, tentu saja pelukan itu agung balas dengan penuh kasih sayang.


Agung pun berniat untuk meminta izin kepada orang tua zahra, untuk membawa zahra ke rumah nya,


"bii.." ucap agung memberanikan diri


"iya gung ada apa?" tanya sang aya mertua "duduk dulu gung" ucap kembali sang ayah mertua. Agung pun duduk berhadapan dengan ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"agung mau meminta izin, untuk membawa zahra pulang ke rumah orang tua agung bi" ucap agung sambil menundukan kepalanya.


sang ayah mertua pun tersenyum " kamu mau bawa kemana pun zahra, abi gak bisa melarang, karna sekarang zahra sudah menjadi tanggung jawab mu" ucap sang guru.


"tapi abi minta kamu jangan lama-lama ya di sana, sekarang kamu punya tanggung jawab baru" agung mengerti, sekarang ia di tugaskan kembali mengajar di pondok,


"in sya allah bi," jawab agung, sebenarnya sebelum ia memiliki rumah sendiri, agung ingin zahra tinggal dulu di rumahnya. Setelah pamit pada orang tua zahra, agung dan zahra pun bersiap untuk berangkat ke rumah agung.


"abi ummi, zahra pamit dulu ya" ucap zahra


"iya nak hati-hati ya, jangan lama-lama di sana nya" jawab sang ibu.


Setelah pamit mereka pergi dari hadapan orang tua zahra, mereka pergi dengan di antar oleh mobil milik ayah zahra, karna motor agung di rumah.


"teh semoga betah ya tinggal di rumah aa" ucap agung. Zahra mengulas senyum, "in sya allah kemana pun aa pergi,zahra akan ikut, selagi ada aa zahra pasti betah" jawab zahra, meski hatinya tidak yakin. Zahra takut karna mendengar cerita-cerita yang sudah menikah, katanya kalo tinggal serumah dengan mertua itu tidak nyaman, dan pasti sedikit banyak nya, akan selalu ada masalah. " mudah-mudahan aku tidak mengalami hal tersebut ya allah" doa zahra dalam hatinya.


"sma-sama a" ucap si amang sopir " mau mampir dulu nggak mang" tanya agung. Dengan cepat si amang sopir menggelengkan kepalanya" nggak usah a, saya mau buru-buru balik lagi" ucap si amang sopir.


Setelah kepergian si amang, agung dan zahra berjalan menuju pintu rumah nya, saat hendak akan mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka, ternyata ada adit agung yang bontot hendak membuka pintu, tentu saja hal tersebut membuat adik bungsunya itu riang, dan berlari ke dalam memanggil ibunya " ibuu.. Aa dan teteh udah sampee" ucaap sahla adik agung riang,sang ibu pun tegesa-gesa menuju pintu utama.


"ya allah neng, mantu ibu yang cantikk, ayok sini masukk,maaf ya nak ibu abis dari dapur abis masak kesukaanya a agung" ucap sang ibu mertua sambil memeluk zahra,kedatangan zahra di sambut hangat oleh kelaurga agung, keluarga agung memang terkenal ramah oleh siapapun.


"kalian pasti capek ayok masuk dulu,mau makan dulu apa mau langsung istirhat saja?" padahal perjalanan dari rumah zahra ke rumah agung tidak memakan waktu berhari-hari hanya 30 menit saja, tapi saking perhatian nya ibu, sampai-sampai menyuruh mereka beristirahat.


"nggak papa bu, lagian perjalanan juga gak jauh, kita tidak mabok perjalanan kok bu" ucap zahra sambil tersenyum memperlihatkan gigi rapi nya itu.

__ADS_1


"ya sudah atuh mending kita makan dulu aja ya, kamu harus cobain masak ibu" ajak sang ibu mertua,perlakuan ibu agung pada zahra tentu saja membuat zahra nyamann.


"iya teh mending kita cobainn masakan ibu dulu,teteh pasti ke tagihan masakan ibu enak lho" ucap agung,sambil menggoda sang ibu, sang ibu pun tertawa," kamu itu ya gung bisa saja" ucap sang ibu. Zahra merasa bahagia karna di kelilingi keluarga sebaik keluarga agung.


"ya sudah atuh ayok kita makan" ajak sang ibu kembali, mereka pun membuntuti sang ibu dari belakang, di meja makan sudah ada ayah dan kedua adik agung.


" neng sehat ?" sapa sang ayah, zahra pun mengulurkan tangan kepada sang ayah mertua, "alhamdulillah sehat ayah, aya sendiri sehat?" tanya zahra


"alhamdulillah sehat neng, ayok kita makan dulu nanti di lanjut kan ngobrol nya setelah makan" ajak sang ayah, zahra lagi-lagi merasa senang karna sang ayah mertua pun begitu hangat menyambut kedatangan zahra.


"aa beruntung bangeet punya istri secantik teteh zahra, teh zahra kok mau sih sama a agung yang jelek" sahla kembali bersuara, ia mengejek sang kakak, emang sahla anak yang selalu usil pada kakak-kakak nya itu.


" eehh enak aja, orang ganteng gini di bilang jelek" elak agung.


"gantengan juga aku a" ucap rafli adik ke 2 agung, melihat itu zahra sangat senang " selain baik dan ramah ternyata keluarga suamiku humoris juga" gumam zahraa..


Sesudah makan, mereka kumpul di ruang tamu,


"semoga kamu betah ya neng tinggal sama ibu" ucap sang ibu mertua.


"in sya allah zahra betah kok bu" ucap zahra.


Mereka mengobrol kesana kesini, mencerita tentang pengalaman mereka masing-masing, suka duka mereka bercerita,mereka bercerita demikian agar zahra tak merasa canggung dan agar zahra merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.


"anggap saja ini rumah kamu sendiri ya neng, mau makan, mau masak, mau apapun terserah gak boleh ada rasa canggung" pesan sang ibu mertua pada zahra,

__ADS_1


"terimakasih bu, sudah menerima zahra dengan baik" ucap zahra, sang ibu pun mendekat ke arah zahra dan memeluk menantunya itu " itu sudah kewajiban kita nak, sekarang kamu tanggung jawab anak ibu, sudah semestinya keluarga ibu berlaku demikian, tapi maaf di rumah ibu tidak seperti di rumah mu" ucap sang ibu sambil membelai kepala zahra yang di balut dengan kerudung warna maroon. " zahra senang bu,saanggat senang, bagi zahra kemewahan bukan segalanya,tapi memiliki keluarga seperti ibu lah yang sangat berharga dalam hidup zahra" ucap zahra dengan tulus. Melihat hal tersebut agung merasa bahagia,karna zahra terlihat nyaman bersama keluarga nya itu.


__ADS_2