Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali

Bukan Perpisahan Yang Ku Tangisi Tetapi Pertemuan Yang Ku Sesali
46. Amarah


__ADS_3

Kamila saat ini benar-benar marah pada vano,berani-rani nya ia mempermalukan nya di depan banyak orang.


"akan saya buat perhitungan pada mu vano, jangan harap kamu bisa hidup tenang, dengan kekasih baru mu itu" ucap kamila berapi-api.


"Arrrggghhhhhhhhhhh" kamila menggebrak meja dengan kencang.


"bagai mana mungkin vano bisa melupakan begitu saja, sedangkan pada saat aku meninggalkan ia seperti orang tak ingin hidup, namun setelah kehadiran wanita sialan itu, dengan mudah dia melupakan ku?" kamila terus saja meracau berbicara sendiri, ia tak terima jika vano bahagia bersama orang lain.


Namun bukan kamila namanya, jika keinginan nya tidak terlaksana, ia punya banyak uang untuk melakukan apa yang ia inginkan.


"tolong kamu cari tau, perempuan itu berasal dari mana, cari tahu sampai dapat, akan saya beri imbalan berapa pun yang kamu mau, asal temukan alamat wanita itu, dan bekerja dimana dia" titah kamila pada salah seorang anak buahnya


"baik bu, saya akan melaksanakan nya, ibu gak usah khawatir kita akan terus mencari tahu sampai dapat" ucap anak buah kamila


"bagus" kamila menyunggingkan senyum jahatnya.


Sedangkan di tempat lain, ziah dan vano semakin dekat, ziah sudah mulai bisa menerima kehadiran vano, tanpa mereka sadara ziah di ambang bahaya.


"makasih ya bu, sudah bersedia membantu saya, saya sangat senang karna mila menanggung malu" vano semuringah, tanpa dia berfikir panjang, bahwa kelakuan nya tempi hari, membayahakan diri ziah.


ziah tersenyum" iya pak sama-sama, tapi kaya nya mantan bapak masih sangat mencintai bapak ya?" tanya ziah


"tapi saya tidak, karna sudah ada nama wanita lain di hati saya" vano menatap ziah sekilas. Ziah di buat salah tingkah oleh vano


"bisa gak pak liat nya gak gitu, serem banget" ujar ziah, padahal setiap kali vano menatap ziah hati ziah selalu saja berdetak tak karuan.


"tapi seneng kan?" goda vano, membuat ziah semakin salah tingkah.


" saya mau ke ruangan duluan" ziah berdiri dari duduk nya, namun tangan ziah di tahan oleh vano, ziah langsung menoleh ke arah vano.


"kamu makin cantik kalo lagi salah tingkah gitu, tangan kamu dingin banget kenapa?" ziah di buat kesal oleh vano. Vano belakang ini selalu membuat sport jantung ziah,


"pak bisa gak sih gak usah pegang-pegang" ziah menepis tangan vano.


"udah tau orang lagi deg-degan sampe keringatan dingin gini, masih aja di tanya kenapa, ini kan ulah dia memang laki-laki itu gak peka" gerutu ziah dalam hati. Ziah malah melamun, bukan nya pergi ia malah terpaku di depan vano.


"katanya mau ke ruangan, kok malah melamun" ledek vano


"lepasin dong tangan nya" padahal sedari tadi vano sudah tidak memegang tangan ziah.


"bu, ibu ini kenapa? Dari tadi saya sudah melepaskan pegangan nya," vano terkekeh, ziah pun melirik ke bawah tangan, ziah semakin malu, pipinya semakin merah merona, dengan cepat kilat ziah pergi dari hadapan vano. Ziah terus merutuki diri nya sendiri.


" aduh zii, kenapa si kamu seneng banget bikin diri sendiri maluu" rutuk ziah. Ziah berjalan terbirit-birit membuat nafas nya tak beraturan, sesampainya di ruangan ziah menghirup nafas dalam-dalam, lalu ia hembusakan perlahan.


"zi kamu kenapa? Kaya yang udah di uber setan, gitu?" bisik adit pada ziah. Ziah mendelik.


"gak usah kepo" ziah menjawab dengan jutek.

__ADS_1


" bukan kepo pengen tau aja kalii" dengan santai adit menjawab. Ziah tak menjawab perkataan adit.


Adit pun melanjutkan aktifitas nya yaitu memeriksa hasil ulangan muridnya, sedang ziah masih sibuk mengatur perasaan nya yang tak terkontrol itu, saat yang lain sibuk dengan kegitan nya masing-masing vano datang dengan santai. Dan menyapa orang yang ada di ruangan.


" pak vano bukan nya tadi pak vano ke kantin sama bu ziah ya? Tapi kenapa bu ziah datang sendiri dan tergesa-gesa seperti di kejar setan ya pak?" tanya adit pada vano saat vano menjatuhkan bokong nya di kursi miliknya.


"benarkah itu pak?" vano melirik ke arah ziah


"iya saya abis di kejar setan" jawab ziah ngasal dan menatap tajam vano. Vano hanya terkekeh menanggapi tatapan tajam ziah.


"sepertinya kalian makin dekat saja ya?" adit terus saja memancing vano dan ziah, bagi vano itu tidak masalah, karna vano memang sudah menyukai ziah sejak lama,namun bagi ziah. Itu masalah baginya karna ziah ingin berhati-hati dalam memilih pasangan.


"semoga kalian berjodoh ya melihat nasib kalian yang sama, sepertinya kalian cocok" bisik adit pada vano, tentu saja vano meng aamiinkan ucapab adit.


Jam pelajaran sekolah pun tlah usai, semua guru bersiap untuk pulang, namun entah kenapa saat ziah akan pulang lagi-lagi vano mencekal tangan ziah.


"saya antar pulang ya bu" ajak vano, ntah kenapa perasaan vano tidak enak saat ini.


"bapak kan tau saya itu bawa motor pak,jangan ngadi-ngadi deh" ucap ziah kesal.


"iya saya tau, tapi saya mau anterin kamu pulang" vano tetap kekeh,ia ingin mengantarkn ziah pulang.


"nggak" ziah pun kekeh dengan pendirian nya.


"pokoknya harus mau titik" vano menyambar kunci motor di tangan ziah.


"pulang sama saya ya bu" ajak vano lembut, tak ada pilihan lain, dari pada harus lama-lama berdebat dan ziah pasti akan kalah, akhirnya ziah pun menuruti kemauan vano,.


" terus motor saya gimana pak?" tanya ziah


"bu ziah tenang saja, saya akan menyuruh salah satu santri putra untuk mengantarkan motor nya bu ziah ke rumah dengan selamat" vano masih dengan wajah santainya menjawab.


"ya udah ayok pulang, mau lama-lama berduan sama saya disini?" tanya vano.


"ogaaahh" ziah pun pergi menuju parkiran dengan wajah masamnya.


"ayok naik" ajak vano, ziah pun naik motor daan di boncengi vano. Ada rasa bahagian di hati vano karna akhirnya ia bisa lagi boncengan sama ziah.


Saat kedua nya menikmati perjalanan yang masih asri karna banyak sawah-sawah dan pepohonan yang berjajar membuat suasana semakin sejuk. Namun tiba-tiba saja mata vano tertuju pada seorang pria pemotor yang berhenti di pinggir jalan, yang menurutnya tidak asing lagi namun ia lupa dimana ia pernah ketemu, pria tersebut telihat mencurigakan, saat vano melewatinya, pria itu seperti mengikutinya dari belakang, namun beda dengan ziah, ia tak menyadari hal tersebut. Mungkin di fikiran ziah pemotor itu pun menuju arah yang sama dengan nya.


"siapa pria tersebut, sangat terlihat mencurigakan sekali, dimana kita pernah bertemu?" vano terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dan terus mengingat-ngingat dimana mereka pernah bertemu.


"pak pelan-pelan bawa motornya bisa gak sih?" gerutu ziah, namun vano tak mengindahkan ucapan ziah. Vano melirik ke arah kaca spion motornya, ternyata si pemotor tersebut sama mempercepat laju motonya.


"ada yang gak beres ini, orang tersebut memang mengikuti kita"gumam vano


"bapak ngomong apa?" ziah bertanya pada vano.

__ADS_1


"eng-enggak kok" jawab vano, sambil melajukan motornya, vano terus berfikir keras siapa orang tersebut, hingga akhirnya vano mengingatnya.


"dia adalah anak buah mila,ya kita pernah bertemu pada saat saya berkunjung ke rumah kamila, kenapa dia mengikuti kami, lebih tepat nya mengikuti ziah, rencana apa yang mila susun" saat vano menyadarinya bahwa itu adalah anak buah mila, vano langsung berbelok ke arah yang berbeda, lebih tepatnya bukan ke arah rumah ziah.


"loh-loh pak, kan belokan rumah saya bukan kesini!" ucap ziah.


"saya tau kamu diem aja, kan kamu pegangan yang kenceng ya" ucap vano, ziah yang tak ingin ambil pusing akhirnya mengeratkan pegangan nya vano, namun bukan wanita namanya jika tak kepo.


"sebenarnya ada apa sih pak? Pelan-pelan aja bahaya lho pak" ucap ziah kembali.


"kamu diem aja dulu ya, kamu nurut aja sama perkataan saya" ucap vano masih dengan terus memantau pemotor yang ada di belakang nya.


Namun sepertinya anak buah kamila cukup tertinggal jauh oleh vano, vano menggunakan kesepampatan itu, ia berbelok ke arah rumah orang lain yang bertengger ada pagarnya,ia memasukan motornya.


"loh pak, ini rumah orang gak sopan banget sih, emang nya kenapa sih?" kali ini ziah nampak kesal di buatnya.


"kamu diem dulu aja jangan berisik,nanti juga kamu tau" pada saat berdebat sang empunya rumah keluar dari rumah nya,karna mendengar ada suara berisik di luar rumahnya.


"loh kalian siapa? Mau ngapain di rumah saya?" tanya ibu-ibu sang punya rumah. Vano dan ziah melirik.


"sebelumnya saya minta maaf bu, sudah sembarangan masuk kerumah ibu, kami ini suami istri bu, kami sedang di kejar-kejar penjahat bu" dengan asal vano menjawab.


"kok bisa? Sekarang dimana penjahat itu?" sang punya rumah merasa heran.


"sebentar lagi, beliau lewat bu, kalo orang itu sudah lewat saya akan pergi dari rumah ibu," jawab vano.


"yasudah terserah kalian say lagi masak, jadi saya mau masuk dulu" tak ingin ambil pusing dengan 2 sejoli itu, akhirnya si ibu pemilik rumah pun pergi.


"bapak apa-apaan ngaku-ngaku kita pasangan suami istri segala, cepetan saya mau pulang" ziah merasa jengkel dengan kelakuan vano,


" iya sabar dulu,tunggu dulu orang itu lewat kamu jangan berisik mulu" vano menyimpan terlunjuk tangan pada bibir ziah, dengan cepat ziah menepisnya.


Hingga beberapa menit kemudian, orang yang di tunggu-tunggu pun lewat,namun sialnya ia berhenti tepat di depan pager itu. Dan seperti nya ia menelpon bos nya.


"hallo bu, saya gagal mengikuti perempuan tersebut, karna dia di bonceng oleh seorang pria" lapor orang tersebut pada bosnya yang tak lain adalah kamila. Sepertinya kamila marah, karna terlihat pria tersebut seperti ketakutan.


Setelah mengakhiri sambungan telpon tersebut pria itu akhirnya pergi, berputar arah menuju rumah sang bos.


Sesampainya di rumah kamila. Kamila marah besar pada pria tersebut.


"dasar laki-laki bodoh di suruh begitu saja kau tak becus, tak berguna kau" amarah kamila memuncak.


"ma-af bu, tadi perempuan itu tidak sendiri bu, dia di bonceng sama pria lain, saya janji nanti saya akan dapatakan wanita tersebut." ucap pria tersebut dengan ketakutan.


"persetanan, kali saya maafkan tapi jangan harap kau akan mendapatkan upah dari saya hari ini,cari sampai dapat wanita itu" ucap kamila dengan menekan kan setiap kalimatnya, lalu ia pergi meninggalkan pria tersebut.


Bukan kamila namanya kalau ia tak sebengis itu, meskipun ia wanita, tapi dengan banyak uang,akan banyak orang yang tunduk padanya.

__ADS_1


__ADS_2